ORIGINAL

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Januari 2016
ORIGINAL

Seorang teman hari ini mengeluh, ponsel miliknya selalu panas padahal sedang tidak aktif digunakan. Seorang teman lain ikut urun pendapat, kemungkinan ada program-program aktif yang secara tidak sadar terinstal di ponsel teman saya.
?
Singkat cerita, setelah beberapa kali pengecekan, akhirnya ditemukan masalah yg selama ini membuat "demam" ponsel teman saya tersebut, dan kemudian sang teman memutuskan untuk merestart ulang ponselnya.
"Biar jadi baru lagi. Original", alasannya polos, sepolos reaksinya pertama kali mendapati ponselnya menjadi seolah-olah benar-benar baru kembali. Original dan bersih. Dan polos mengungkapkan penyesalan dengan keputusan menginstal ulang ponselnya.
?
Original. Istilah yang biasanya saya korelasikan dengan rasa camilan renyah dan menggugah, kali ini mendadak saya korelasikan secara lebih luas.
?
Alkisah diceritakan bahwa konon otak orang Indonesia sangat digemari dan jadi rebutan di antara calon penerima donor otak manusia. Di bursa pasar gelap, harga otak manusia Indonesia dikabarkan paling tinggi dengan grafik permintaan yang selalu meningkat.
Orang-orang pun heran. Mengapa bukan otak orang Yahudi yg terkenal cerdas, atau otak orang Jepang yg canggih dan berteknologi tinggi atau orang Tionghoa yang lihai berbisnis yang seharusnya banyak dicari.
?
Ternyata, satu hal yang membuat otak orang indonesia laris dan memiliki nilai jual tinggi yaitu karena otak orang Indonesia masih mulus, original dan apa adanya layaknya pemberian awal Tuhan. Otak yg katanya jarang dipakai.
?
Saya (dan orang indonesia lain) mungkin tak berdaya dan harus menelan bulat-bulat anekdot itu, miris, teriris, dan tidak kuasa untuk menolak anekdot tersebut.
?
"Dipakai" atau "tidak dipakai", erat kaitannya dengan istilah "diberdayakan" dan "diperdayakan". Kenapa otak orang Indonesia dikatakan dominan original, saya pikir bukan karena tidak ada golongan orang-orang cerdas, berintelegen tinggi dengan kecerdasan luar biasa di antara jutaan orang Indonesia, tapi lebih pada kultur "otak" (sebagian orang indonesia yg dikatakan original tadi) yang terbiasa instan, menelan apapun dengan bulat2 tanpa analisis sebab akibatnya terlebih dulu.
?
Kalau kreativitas dan inovator menjadi salah satu indikator "dipakai" atau "tidaknya" otak seorang manusia, maka Indonesia bagi saya pribadi, sebenarnya tidak pernah kekurangan orang-orang yang berdaya guna intelegensinya karena kreativitas dan inovasi yang dihasilkannya.
?
Habibie mungkin salah satu sisa sejarah kejayaan peradaban orang Indonesia yg diakui dunia walau hingga saat ini sejarah itu belum juga lekang oleh waktu, diantara sejarah-sejarah lain yg mencetakan nama Indonesia di lingkup dunia. Tapi selalu mengkultuskan sejarah orang-orang hebat Indonesia terdahulu layaknya Habibie dan teman-teman hebat lain seangkatannya, agaknya menjadi suatu langkah "gagal move on" suatu bangsa dalam menghadapi potensi-potensi besar lain bangsanya yang sudah lama terlupa untuk disadari keberadaannya di depan mata.
?
Bangsa ini, seringkali takabur, lupa untuk bersyukur atas segala potensi luar biasa yang sebenarnya mulai dicetak oleh orang-orang dari bangsa yang katanya "original otaknya, karena jarang di pakai".
?
Inovasi (yg seolah terlihat) kecil, karena dinilai belum terstandarisasi dan lahir dari otak bangsa yang mungkin hanya lulusan sekolah dasar, SMP atau SMK, malah semakin dikerdilkan, bukannya didorong dan distimulus dengan suplemen yang dapat meningkatkan kualitas hasil-hasil inovasi tersebut.
Belum lagi inovasi lainnya yg keberadaannya tidak lantas dijadikan sebagai ajang pembelajaran dan best practice produk unggulan berbasis masyarakat, malah dijadikan kendaraan politik sekelompok orang tertentu untuk mendapatkan sebuah jabatan tertentu. Dan ketika pencapaian tertinggi dari jabatan tersebut telah didapatkan, produk inovasi tadi malah dibiarkan teronggok layaknya besi tua, termakan sejarah.
?
Indonesia, seringkali memang "gagal move on" dari kejayaan masa lalu, karena ekspektasi perjalanan bangsa yang seringkali juga terlalu tinggi tanpa menakar kemampuan yg dimiliki, dan melupakan bibit-bibit potensi yang sebenarnya sudah lama bersemi.
?
Jadi, jangan salahkan anekdot tadi, karena nyatanya, otak orang Indonesia dikatakan original bukan karena tidak pernah di pakai dan diberdayakan, tapi menjadi original karena mudah sekali diperdaya dengan egoisme dan sifat takabur, bahwa peradaban yang besar, pasti harus lahir dari orang-orang besar dan berkekuatan super. Bukan dari orang-orang kecil, yang punya mimpi super dengan langkah-langkah nyata yang besar.

  • view 194