Akhir Jaman

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Mei 2016
Akhir Jaman

Dulu, sekitaran tahun 2003, saya pernah membaca buku berjudul "Huru Hara Akhir Jaman".
Saya lupa, siapa penulis buku tersebut, tahun terbit, pun sekadar gambar sampul buku tersebut. Yang saya ingat hanya buku yang saya pinjam dari perpustakaan SMA saya, dan judul yang tercetak besar-besar di depannya. Mengerikan dan menakutkan bagi saya, tapi justru menarik untuk membacanya lebih dalam.
 
Beberapa waktu lalu, saya mencoba googling, menelusuri keberadaan buku tersebut. Dan hasilnya, ada beberapa buku dengan judul yang sama yang muncul di mesin pencarian yang saya akses, tapi memori saya masih menolak, bukan buku-buku itu yang pernah saya baca ketika itu. Walau memang, buku sejenis, saat ini sudah sangat banyak beredar dan dapat diakses luas.
 
Saya ingat, saya membaca buku itu dengan imajinasi yang berlari-lari, membayangkan apa yang akan terjadi, bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun ke depan. Tentang dunia ini, masa depan, hari akhir, dan akhirat.
 
Pada satu pembahasannya, saya teringat, akan ada satu masa dimana kegamangan terjadi melingkupi seluruh umat manusia di bumi. Masa yang dikatakan sebagai fitnah akhir jaman, masa yang tidak saya bayangkan sebelumnya, masa yang saya kira akan terjadi nanti ketika saya sudah mati, meninggalkan dunia ini. Tapi ternyata, apa yang pernah terbayangkan dulu melalui buku itu, nyatanya masih bisa saya rasakan tepat ketika nyawa saya masih ada, tubuh saya sehat tanpa kekurangan satu apapun.
 
Seringkali saya bertanya, apakah huru-hara itu terlalu cepat datang? Atau umur saya sudah cukup terlalu panjang? Atau ketika membaca buku itu, nalar saya kurang "jalan", karena tidak membaca bahwa sesungguhnya tanda-tanda dari huru-hara tersebut sejatinya sudah mulai terlihat sejak itu, sejak buku itu ada di tangan saya.
Banyak hadist diriwayatkan, narasi ahli agama bertebaran, ayat Al Quran juga tidak terbantahkan, tentang masa penuh huru hara ini. Dan bagi saya, logika dan nalar saya saat ini sudah "semakin cerdas" membaca tanda--tanda yang pernah dinarasikan dengan mengerikan dalam buku tadi.
 
Perihal beragam kejadian kekerasan dan kejahatan dengan level kekejaman melebihi "kadar kewajaran" yang saat ini banyak terjadi secara massif dan seolah menjadi kejadian rutin di tengah masyarakat, menjadi rutinitas mengerikan yang layaknya menjadi berkurang derajat kengeriannya. Manusia layaknya nyamuk, mudah berkembang biak, mudah dimatikan dengan alasan "takdir dan jalan hidup".
Setiap orang memiliki cara bertahan hidup dan mempertahankan hidupnya masing-masing, yang seringkali sulit diduplikasi oleh manusia lainnya.
 
Fitnah, adu domba, abu-abu. Tiga kata yang juga saya ingat dari buku itu. Akan datang masa di mana, baik buruk, sulit dibedakan, apalagi dilacak keberadaannya. yang dominan adalah "abu-abu", yang untuk mengukur dominasi hitam atau putihnya, mengandalkan naluri manusia yang serba terbatas, prasangka yang seringkali miskin ilmu, dan prediksi logika yang tak jarang terombang ambing kepentingan.
Setiap orang merasa perlu menyelamatkan dirinya sendiri dengan kapasitas diri yang dimiliki tanpa pegangan, dan arahan.
 
Tokoh agama, ulama, para ahli ibadah, dan pemimpin yang sesungguhnya, perlahan dikurangi jumlahnya, memang tidak (atau belum) signifikan, tapi sangat menyesakan.
Manusia mulai ditinggalkan. Semakin kehilangan pegangan. Yang disisakan, para ahli agama da pemimpin yang malah (nyatanya seringkali) melahirkan banyak keragu-raguan, kegamangan, dan bahkan perpecahan. Warna abu-abu tadi, menjadi semakin pekat. Semakin sulit dicarikan dominasi warna dasarnya, entah putih, atau hitam.
 
Dari banyak penjelasan dalam buku tadi, yang juga saya ingat adalah penggambaran akan terjadinya situasi huru-hara yang akan banyak terjadi bahkan di waktu-waktu dan tempat-tempat suci yang benar-benar saat itu tidak pernah saya bayangkan bagaimana akan terjadinya.
Berbagai peristiwa menyesakkan terjadi bahkan di bulan suci, masa di mana katanya syetan dan kejahatan tengah dibelenggu. Dan kekacauan terjadi tidak hanya berbentuk bencana kemanusiaan, tapi juga bencana alam yang terjadi di banyak kota suci.
Dunia ini seperti sedang menunjukan kebenaran yang pernah banyak diprediksi hadist, al quran, atau riwayat para ahli agama, jauh berpuluh-puluh, berabad-abad yang lalu, masa di mana, logika manusia (layaknya) hanya selebar langkah kakinya sendiri.
 
Dan banyak lagi, dan akan banyak lagi yang mulai nampak dan terjadi, dan dulu pernah tidak terpikir, bahwa kita (khususnya saya), akan berada pada masa-masa ini.
 
Dan mungkin saja, kita, saya, anda, menjadi bagian dari huru-hara tadi, tanpa kita sadari. Menjadi umat terakhir, di jaman yang (segera) akan berakhir.

Gambar diambil dari : http://www.islamku.xyz/penggambaran-kedahsyatan-hari-kiamat-dalam-al-quran-311.html

  • view 66