1 dan 2 Mei

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Mei 2016
1 dan 2 Mei

Sejarah pernah mencatat bahwa pada tanggal 1 Mei tahun 1886, selama 4 hari, terjadi demonstrasi besar-besaran yang melibatkan sekitar 400ribuan buruh di Amerika Serikat yang menuntut pengurangan jam kerja yang sebelumnya sebanyak 20 jam menjadi (hanya) 8 jam sehari. Aksi ini berakhir anarkis dan menewaskan ratusan ribu orang buruh dan menangkap para pemimpin aksi yang kemudian dihukum mati oleh Pemerintah Amerika Serikat ketika itu.
Sejak tragedi tersebut, dunia memperingati setiap 1 Mei sebagai Hari Buruh Sedunia.

Sejarah berbeda mencatat, kelahiran seorang anak manusia bernama Ki Hajar Dewantara atau Raden Mas Soewardi Suryaningrat, membawa perubahan besar dalam masa depan Bangsa Indonesia. Tokoh yang muncul dari kalangan ningrat Jogjakarta ini, konon mengubah nama kecilnya demi melepaskan status ningratnya agar dapat leluasa berbaur dengan masyarakat kecil.
Ki Hajar adalah seorang wartawan sekaligus pegiat organisasi sosial dan politik, khususnya pada seksi propaganda Boedi Oetomo bertugas untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.
Tulisannya yang berjudul "Seandainya Aku Seorang Belanda" dan "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga", membawa Ki Hajar pada hukuman pengasingan ke Pulau Bangka, karena dianggap melawan pemerintah. Dalam kondisi inilah, Ki Hajar mendalami ilmu pendidikan dan pengajaran. Maka selepas dirinya menyelesaikan hukum pengasingan tersebut, Ki Hajar mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa, yaitu lembaga pendidikan yang menekankan nilai kebangsaan dan kesadaran akan kemerdekaan.
Atas jasa2 Ki Hajar, hari kelahirannya pada 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

1 dan 2 Mei, sejatinya bukan sekadar dua tanggal berdekatan yang dipertemukan karena sebuah kebetulan. Karena, sejatinya, ada korelasi (yang secara kebetulan) bertemu pada ruang bernama benih dan penghidupan. Benih dikorelasikan sebagai pendidikan, bahwa pendidikan adalah cikal bakal dari kehidupan kelompok manusia ke depan. Dan penghidupan dikorelasikan dengan pekerjaan dan kesejahteraan.

Kunci dari setiap penghidupan adalah benih pendidikan dimiliki seseorang sebagai dasar yang menentukan arah masa depan dna kesejahteraan seseorang tersebut -walau bukan satu2nya unsur yang menentukan.

Pada setiap peringatan Hari Buruh di 1 Mei, kekhawatiran jamak terjadi, dengan dasar prediksi akan terjadinya kekacauan layaknya peristiwa Haymarket menewaskan ratusan ribu demonstran yang merupakan kaum buruh. Berbagai tuntutan lahir dari setiap peringatan Hari Buruh tersebut, yang kisarannya tidak jauh dari masalah "perut" dan hak asasi. Disparitas antar kasta buruh dan pengusaha, seringkali menjadi pematik terjadinya kekacauan pada aksi solidaritas pada akhirnya di banyak negara menerapkan kebijakan libur nasional pada setiap 1 Mei.

Berbicara masalah "perut" dan hak asasi, layaknya adalah berbicara tentang lawan dan lawan. Tidak ada kawan di sana. Ibaratnya, "masalah uang, perut dan hak perseorangan itu, tidak ada saudaranya", super sensitif, dan ladang provokasi subur. Setiap orang merasa berhak memperjuangkan kepentingan "perutnya", dengan tanpa sadar, memperjuangkan hak2 lain sebenarnya bermuara pada masalah "perut" juga.

Ada menarik. Peningkatan Upah Minimum Regional, nyatanya menjadi poin wajib yang dituntut para buruh pada setiap aksinya di Hari Buruh tersebut. Upah buruh saat ini dinilai belum layak dan manusiawi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari2 semakin menggila.

Menariknya, yang tergambarkan saat ini adalah bahwa salah satu alasan penting mengapa politik upah murah cukup lama bertahan di negeri ini adalah karena kualitas buruh kita rendah, yang secara logis, kualitas rendah tersebut akan menghasilkan produktivitas rendah. Produktivitas tersebutlah yang sebenarnya menjadi dasar penentuan upah buruh selama ini selalu dan selalu (dan mungkin akan selalu) dinilai rendah.

Berbicara tentang Buruh, sejatinya adalah berbicara tentang banyak kelompok manusia. Tidak hanya Buruh yang dikorelasikan sebagai pekerja kasar, pekerja padat karya, pekerja swasta, bahkan pekerja pemerintahan - familier dengan istilah pegawai pun, sejatinya adalah kelompok buruh juga. Buruh pemerintah. Maka, artinya kualitas dinilai masih rendah tersebut, ruang lingkupnya menjadi semakin luas, baik "Pekerja Kerah Putih" ataupun "Pekerja Kerah Biru".

Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan bahwa : "Dengan ilmu, kita menuju kemuliaan". Dan saya rasa benar, walaupun di banyak sejarah pernah mencatat, tidak jarang para tokoh2 dunia yang berhasil mengukir sejarah dunia, berangkat dari orang2 putus sekolah. Karena ilmu, tak hanya bersumber pada satu muara bernama : Bangku Sekolah.

Ilmu yang diciptakan sebagai hasil dari proses bernama pendidikan, idealnya akan melahirkan golongan manusia cerdas menghadapi kehidupannya, tidak sekadar masalah "perut", kepuasan, hak pribadi dan materi semata. Paradigma berpikir bahwa hidup itu sejatinya adalah kumpulan kuasa dan kearifan Tuhan yang sangat patut disyukuri dan berjalan sesuai dengan garis tangan dan banyak nilai disemai saat ini. Bukan sekadar "kenyang", dengan menuntut banyak hal di luar batas kewajaran.

Korelasi menarik itu tercipta di setiap bulan Mei. Bulan yang terkenal sebagai Bulan Pendidikan dan Kebangkitan. Sifatnya bergerak ke belakang, bahwa apa2 diperjuangan di tanggal 2 -hari pendidikan, sejatinya adalah menentukan kualitas bangsa termanifes di tanggal 1 -hari buruh. Bahwa pendidikan berkualitas dan menyejahterakan, akan menjawab banyak poin rutin yang selalu "diratapi" kaum buruh di Indonesia, yang tidak jauh dari masalah kesejahteraan.

Menarik mengutip sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional hari ini:

"Bahwa kita, pengajar, tenaga kependidikan, orang tua atau pun sebagai bagian dari bangsa, berkewajiban untuk menyebarluaskan dampak pendidikan bagi bangsa ini dalam berbagai aspek dan peran kehidupan yang tengah kita jalani. Karena pendidikan adalah pelita kehidupan, yang meniscayakan cita-cita menjadi nyata".

Dan salah satu cita-cita itu adalah, pencapaian kesejahteraan kehidupan.

"Selamat Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional"

 

 

 

Gambar diambil dari : http://kuansingterkini.com/berita/detail/1006

  • view 75