Memutilasi Media

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 April 2016
Memutilasi Media

Saya sudah jengah.
Ini semua tentang kegelisahan saya sebagai seorang ibu, wanita, dan manusia. Kesenangan saya menonton berita akhir-akhir ini tidak lagi terasa menyenangkan. Pun demikian dengan rutinitas saya berselancar di portal-portal berita online yang biasa menemani saya (dan saya yakin banyak orang) saat perjalanan berangkat dan pulang bekerja, menjadi begitu mengerikan.
 
Berita-berita tentang kekerasan dan kejahatan, seperti menutrisi otak saya selaku konsumen media menjadi terselimuti kengerian yang luar biasa. Sekejam itukah dunia? Atau media yang justru memframing dirinya menjadi lebih kejam dibandingkan kenyataan yang sebenarnya terjadi.
 
Anak semata wayang saya, sedang berada pada masa tergila-gila pada kartun dan tayangan anak. Tapi, kegilaannya tidak akan abadi. Saya sadar itu, dan banyak orang tua di luar sana yang juga harusnya menyadari itu.
Dan saya bergidik, ketika seorang teman bercerita tentang anaknya.
"Ibu, apa itu mutilasi? Apa itu sodomi? Apa itu pemerkosaan?", tanya sang anak, yang membuat kengerian dalam kepala sang ibu, menjadi semakin nyata.
 
Astaga.
Dan saya sadar, akan ada masanya anak saya (dan anak-anak lain seangkatannya), melontarkan pertanyaan yang sama, pada saya, atau mencari tahu jawabannya seorang diri, di tengah belantara media yang kejam dan menyiksa.
 
Saya sudah jengah. Membatasi akses anak terhadap media ternyata bukan solusi yang efektif, pun sama halnya dengan selalu mendampingi anak dalam mengakses informasi, menjadi satu tindakan yang seakan sia-sia, minim pencapaian, selagi media tidak merasa bahwa prinsip "bad news is a good news", adalah sebuah dosa besar, dosa yang tak pernah bisa diampuni oleh orang tua layaknya saya dan (saya yakin) para ibu di luar sana.
 
Membayangkan narasi-narasi tegas tentang kekejaman manusia pada sesamanya melalui deretan redaksional pemberitaan yang tak henti berseliweran di portal-portal berita yang ada, layaknya membaca tutorial bagaimana menjadi pembunuh berdarah dingin.
 
"Sebelum memutilasi korbannya, A terlebih dulu memiting dan mematahkan kaki dan tangan korban, sampai akhirnya membuang bagian-bagian tubuh korban ke beberapa tempat".
 
Astaga.
Pesan moral seperti apa yang sebenarnya ingin disampaikan media atas narasi-narasi ini?? Karena kalau kengerian saja bisa memuncak di kepala saya setelah membaca statemen-statemen kejam tadi, apalagi di kepala anak-anak kita, yang setiap hari kita sebagai orang tua mendoktrinasi mereka dengan pesan-pesan layaknya : " disekolah ga boleh mukul teman ya".
 
Wahai media, sesungguhnya saya sudah semakin jengah dengan Anda, tapi sialnya, tidak bisa melindungi sepenuhnya anak-anak saya dari tayangan-tayangan Anda. Karena, sedikit kelalaian dalam pendampingan anak dalam mengkonsumsi media, sejatinya adalah awal dari teracuninya otak anak-anak dengan kandungan berbahaya media.
 
Kalau berita tentang Musa , seorang hafidz anak yang menjadi juara ketiga MTQ tingkat dunia di Mesir dinilai terlalu mainstrem (dan hanya dinilai layak diberitakan oleh media-media mainstream), kenapa media juga tidak lantas mempopulerkan kemenangan Sonny Dwi Kuncoro di Singapore Open, atau Khoirul Anwar sebagai penemu teknologi 4G LTE yang mendunia saat ini, atau pencapaian Rio Haryanto yang tidak hanya sekilas layaknya bagian dari "tim penggembira" ajang F1 yang luar biasa itu?
 
Mungkin benar pernyataan Peter Burke dalam bukunya, bahwa seringkali media mengaburkan banyak fakta yang ditampilkan karena beberapa alasan seperti pendidikan, ekonomi, dan budaya.
 
Pendidikan, karena pada setiap berita (dinilai) selalu ada nilai positif yang dapat mendidik konsumennya. Padahal, tidak pernah ada generalisasi atas tingkat kecerdasan konsumen media kita.
 
Ekonomi, sejatinya pada setiap informasi yang disediakan media, ada nilai ekonomis di dalamnya. Kejahatan, kedzoliman, keanehan dan beragam kondisi di luar batas dan di titik mainstream, adalah objek dagangan yang laris dijual dalam dunia media.
 
Dan budaya, konsep supply and demand, berlaku penuh di sana. Budaya masyarakat yang (dinilai) masih gemar bergunjing, kepo berlebihan, dan hobi dengan hal2 tabu dan menanantang, membuat alasan budaya menjadi semakin kuat membuat media kita merasa perlu memberitakan hal2 ekstrim dan di luar batas kewajaran.
 
Sungguh saya jengah dengan pemberitaan media2 kita, walau tidak semua media berjamaah menutrisi konsumennya dengan hal2 buruk yang entah tidak ada yang bisa memastikan kebenaran konten berita di dalamnya. Tapi yang jelas, (seringkali) media betah untuk berlama2 membahas kekejaman dan ketidakpantasan yang direpetisi dan secara tidak sadar dipatri di kepala kita, terlebih anak2 kita.
 
Tiba-tiba, saya teringat dengan serial kartun anak yang hari2 ini tengah disenangi anak laki2 saya: "Adit dan Sopo Jarwo".
 
Satu ketika, Adit dengan sepedanya dikejar2 oleh Sopo dan Jarwo karena dinilai nakal dan berbuat tidak menyenangkan bagi keduanya. Kemudian, tibalah Adit pada sebuah jalan buntu, yang hanya menyisakan jembatan kecil nan rapuh di depannya. Adit gamang, posisinya terjepit, hanya ada dua pilihan sulit, menyebrang dengan ketakutan, atau menyerah di tangan Sopo dan Jarwo.
 
Kemudian Adit memutuskan untuk menyebrangi jembatan kecil dan rapuh itu dengan sepedanya, dengan sugesti tinggi dalam kepalanya ketika itu, kalau Adit dapat menyebrangi sungai dengan baik2 saja, selamat sampai di seberang sungai. Dan Adit berhasil.
 
Tiba saatnya bagi Sopo dan Jarwo untuk melanjutkan pengejarannya kepada Adit yang sudah lebih dulu berada di seberang sungai. Jarwo yakin sepenuh hati dapat melalui jembatan kecil itu layaknya Adit.
 
Tapi tidak pada Sopo. Keyakinannya sirna, ketakutan merajalela di kepalanya.
"Sopo, kami harus yakin bisa melewati jembatan ini", desak Jarwo pada Sopo yang ketakutan.
Dan Sopo tidak bergeming, perasaannya takut luar biasa.
Kemudian Jarwo, mencoba untuk membangkitkan sugesti baik atas apa yang mereka hadapi ketika itu.
"Sopo, bayangin... ", dan Jarwo berhenti
 
"Bayangin apa, Bos?", tanya Sopo
 
"Bayangin....", Jarwo bingung, seketika ide sugesti di kepalanya hilang sudah.
 
Sopo terlalu bodoh, pikirnya.
Dan keduanya malah diam, sampai tiba2, jembatan yang mereka tapaki bergerak, patah, dan mereka berdua terjatuh ke sungai.
 
Belajar dari Adit, Sopo dan Jarwo, adalah belajar tentang kekuatan sugesti baik. Bahwa setiap nilai baik, seringkali harus dibayangkan karena sifatnya yang tidak selalu nyata.
 
Maka, kalau memang selalu ada nilai kebaikan dari sebuah berita tentang kejahatan, sekalipun bentuknya remah, kecil dan sangat kecil, maka bangkitkanlah. Populerkanlah nilai baik (yang tidak signifikan itu) untuk tergambarkan pada kepala konsumen media kita, untuk kemudian mensugesti pikiran mereka, bahwa dunia tidak sekejam, semengerikan dan menakutkan yang mereka kira.
 
Karena (sebagian) konsumen media kita, sejatinya adalah konsumen "bodoh", sekelas Sopo, yang menelan banyak hal dengan apa adanya, bulat-bulat.
 
Gambar diambil dari : www.mahanani.web.id


  • Diyan Nur Rakhmah
    Diyan Nur Rakhmah
    1 tahun yang lalu.
    Halo Mbak Shinta,

    terima kasih untuk komentar dan masukannya, meluruskan yang belum lurus, dan mematangkan yang baru setengah matang, bagi saya layaknya membuka framing berpikir saya dari banyak sudut.

    saya (dan mungkin kami) sebagai pemirsa, hanya bisa berharap, Mbak, dan teman2 di media, bisa tetap memagang teguh idealismenya. Karena kami, tidak punya banyak pilihan untuk mengakses banyak hal yang kami nilai sebagai sumber informasi dan hiburan.

    Tolong selalu membangkitkan nilai baik, even itu dari sebuat kekejaman dan kekejian. Kami percaya, Mbak dan teman2 piawai dalam mengangkat angle banyak berita dari sudut2 yang berbeda, sudut yang gak pernah terlihat sisi baiknya.

    (Masa depan) Pola Pikir anak2 Indonesia adalah tanggung jawab kita, tolong bantu saya, para orang tua, bahkan mungkin Mbak sendiri untuk sama2 menyelamatkan masa depan mereka, dengan tetap dapat berilmu, tapi tidak membatasi hak mereka mengakses banyak informasi hiburan di luar sana

    Harapannya, banyak jurnalis di luar sana (at least) berpikir seperti Mbak..

    Terima kasih sudah mampir dan mempromosikan tulisan saya

    • Lihat 2 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    ^_

  • Shinta Siluet Hitam Putih
    Shinta Siluet Hitam Putih
    1 tahun yang lalu.
    bukan hanya ibu-ibu, perempuan, wanita, dan manusia yang gelisah, bu...

    kami, para jurnalis sebenarnya juga punya kegelisahan yang sama...apalagi para pekerja media yang ada dibalik layar, kalo pemilik media sudah berkata A, sudah kami menurut saja...

    ditelisik lebih jauh, lebih ke dalam, ada kok bu beberapa pekerja media dan jurnalis yang masih pegang teguh kode etik...walaupun hanya segelintir, lainnya...ya itu tadi...disetir para pemilik media...kalo tidak begitu, mereka tidak bs beli beras buat anak2nya...

    aaahh, saya jadi curhat...maaf bu, saya hanya ingin meluruskan yg kurang lurus, saya juga masih awam kok di dunia jurnalis...tp tulisan ini serasa menampar kami bagi para pelaku media, seakan diingatkan kalau media seharusnya jadi watch dog...

    • Lihat 11 Respon

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Ternyata sama apa yg saya rasakan... JENGAH..!

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    ikut prihatin juga dengan diksi-diksi semacam itu

    analogi tentang Adit dan Sopo-Jarwonya keren mbaa