(Meski) Tak Harus Kartini

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 22 April 2016
(Meski) Tak Harus Kartini

Harsja Bachtiar dalam buku "Satu Abad Kartini" pernah menulis artikel berjudul "Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita".
Tulisan ini merupakan gugatan terhadap penokohan Kartini sebagai lambang emansipasi wanita Indonesia.

Dalam tulisannya, dengan gaya penulisan yang santun Harsja mengkritisi latar belakang Kartini yang kemudian menjelma menjadi representasi wanita Indonesia dan perjuangannya kala itu -yang pada banyak literatur, Kartini dideskripsikan sebagai wanita dari golongan priyayi, sehingga layak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan bersama kaum kolonial ketika itu, tepat di tengah-tengah kondisi bangsa indonesia yang serba dikekang oleh batasan kaum terjajah (apalagi wanita). Wanita priyayi yang tidak pernah ikut berjuang mengangkat senjata dengan berdarah-darah, keluar masuk hutan, kelaparan, dan sepanjang hidup dihantui kekhawatiran berkejar-kejaran dengan kematian dan penjajahan.
Bahkan, kemudian analisa sejarah berbicara bahwa sejatinya ada peranan kaum kolonial ketika itu yang berperan besar mencetak idiom penokohan "Pahlawan " kepada Sang Kartini.

Belakangan, saya (dan mungkin banyak orang) sepakat, berbekal bahan-bahan bacaan yang mulai banyak bertebaran di berbagai literatur, Kartini (seharusnya) memang bukan satu-satunya dijadikan tokoh wanita Indonesia yang dikultuskan, direpresentasikan, atau ditempatkan layaknya berada pada derajat paling tinggi di antara golongan wanita Indonesia yang pernah ada. "Penjernihan" kembali sejarah Indonesia khususnya terkait dengan perjuangan wanita-wanita terdahulu yang selama ini dilabelkan sebagai "pahlawan emansipasi", agaknya memang perlu secara bertahap dilakukan, agar bangsa ini tetap dapat mengedepankan prinsip hidup "Jas Merah"-nya, -Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah".

Terlepas dari kritikan dan perlunya pengkajian kembali tentang kelayakan kisah seorang Kartini, bagi saya yang menarik adalah berbicara tentang dukungan dan "Tim Publisitas" yang nyatanya menjadi garda terdepan di balik ketokohan dan kepopuleran seseorang yang kadang "no one -biasa-biasa saja", menjadi "someone -luar biasa".

Kartini sejatinya adalah wanita biasa yang dengan kepriyaiannya ditakdirkan memiliki hubungan istimewa dengan "teman-teman sepermainannya", yang merupakan kaum ordinat dan memiliki kuasa lebih ketika itu.
Kedekatannya Kartini dengan kolonial, berangsur menjelmakan Abendanon dan Snouck Hurgonje menjadi bagian terpenting dalam tim publisitas Kartini di tengah bangsa yang berabad-abad lamanya terjebak pada mental inlander -kaum jajahan.

Maka hebatnya seorang Kartini, adalah bagian dari penjelmaan tentang tak kalah hebatnya dukungan publisitas di belakangnya, dengan level pencapaian yang mungkin melebihi pencapaian sang tokoh Kartini sebenarnya. Dan kita, bangsa ini, harus berbesar hati untuk menerima, bahwa Kartini memang mengajarkan pelajaran lain dari sekadar penilaian layak tidaknya penokohannya dengan perannya sebagai seorang pahlawan wanita.

Menjadi besar dan dikenang, nyatanya tidak selalu dengan besarnya pencapaian dan keluarbiasaan pribadi di hadapan orang lain, tapi ada peranan publisitas dan dukungan orang lain di belakang sang tokoh yang dianggap luar biasa tersebut.

Belajar dari Kartini ini bagi saya, layaknya menonton kembali kisah Spiderman di chapter awal kemunculannya.
Tidak ada yang meragukan kekuatan Spiderman ketika itu sebagai tokoh pahlawan super (fiktif) yang selalu tiba-tiba muncul ketika terjadi serangan musuh di seluruh penjuru Amerika.
Tapi Spiderman, tidak akan menjadi begitu terkenal dan dikenal orang-orang seantero Amerika, sebelum akhirnya Peter Parker -fotografer freelance, mengcapture dan mempublikasikan foto-foto kehebatan dan aksi heroik Spiderman ke seluruh Manhattan lewat Daily Bugle.

Superhero tak hanya lahir dari kekuatan super dirinya, tapi ada andil besar dari kekuatan super dukungan tim yang mempublikasi dirinya.

Jadi jangan salahkan Kartini kalau dia menjadi begitu besar dan populer. Karena dukungan yang duduk di belakangnya, nyatanya masih digdaya menggerus kekuatan "manusia super" lain, yang tidak juga mendapat dukungan lebih besar dari bangsany, hingga saat ini.

 

 

GAmbar diambil dari : http://www.google.com/doodles/ra-kartinis-137th-birthday

  • view 94