"L'etat C'est Moi (Negara adalah Saya)"

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 April 2016

Kalau ada yang bertanya, apakah ada seorang pemimpin yang sanggup bertahan (dan mempertahankan) jabatannya dengan rentang waktu cukup lama dengan tetap menjaga kredibilitas diri dan stabilitas "rakyat" di bawahnya, maka saya lantang menjawab: ADA.
Atasan saya salah satu contoh nyata, dan tidak hanya saya saksi nyatanya, karena ada banyak pegawai yang saya yakin menjawab hal yang sama.

Satu ketika, Sang Bapak pernah bercerita perihal pengalamannya mengemban jabatan yang sama pada rentang waktu nyaris 15 tahun tanpa rotasi, perpindahan ataupun pergolakan dari pejabat di atasnya atau sejawat, dan bahkan para staf yang selama ini berada di bawah koordinasinya.
Kemampuan beradaptasi, fleksibel dan kebesaran hati menerima beragam karakter atasan dan staf yang ada dalam setiap periode tim kerja, menjadi 3 hal utama kunci stabilitas jabatan yang dimiliki Sang Bapak, hingga bertahan cukup lama dengan tingkat elektabilitas pegawai atas kepemimpinan Sang Bapak yang relatif tinggi.

Tidak, ini bukan perkara kolusi atau nepotisme yang masih disangkakan banyak pihak di luar sana jamak menjadi patologi dalam (nyaris) setiap sistem bernama birokrasi. Karena amanah yang diberikan kepada Sang Bapak, (saya yakin) bagi banyak orang di lingkungan kerja kami, adalah murni karena kompetensi dan kapabilitasnya sebagai seorang pemimpin yang dapat mengayomi sekaligus diteladani.
Setidaknya, belum pernah ada perdebatan akan hal itu. Sehingga, dikala pemimpin lain yang memiliki tingkat senioritas sama dengan Sang Bapak mulai kehilangan kursi jabatannya, Sang Bapak masih dapat duduk tenang, nyaman, sambil melanjutkan "sisa hidupnya" menuju masa usia purnatugasnya dengan baik, tepat di tahun depan.

Saya percaya bahwa setiap periode kepemimpinan, sejatinya ada ideologi pemimpin yang tumbuh dan ditumbuhkan dalam pola kepemimpinannya.

Pemerintahan Indonesia misalnya, pada era orde lama, agaknya memang lebih tepat dinamakan sebagai Orde Revolusi (meminjam istilah Soekarno), karena dinamika pemerintahan ketika itu yang dapat berubah dengan amat cepat sama halnya dengan dinamika ekonomi yang juga bergerak cepat, nyaris tanpa kondisi stabil.

Pun dengan orde baru, yang identik dengan kemajuan dan pembaharuan (yang entah belakangan dikatakan semu), pola pemerintahan yang terarah dan cenderung stagnan dengan kendali penuh pemerintahan yang berkuasa ketika itu, mengarah pada "Orde Batu", keras, kukuh tapi banyak menyimpan rongga kosong di dalamnya.

Kemudian yang terakhir, orde reformasi dan orde entah apa namanya saat ini yang membawa Indonesia tidak saja mengalami transformasi besar-besaran, tapi juga memberikan banyak efek mengejutkan bagi dinamika kehidupan politik maupun sosial bangsa indonesia.

Maka pada setiap orde, melahirkan pemimpin dengan tipikal dan karakteristik masing-masing dengan (sedikit banyak) terpengaruh dengan ideologi yang diyakininya sebagai seorang pribadi dan pemeran politik. Dan karakteristik setiap pemimpin menjadi (salah satu) unsur yang menentukan keberterimaan orang yang dipimpinnya, untuk tetap bertahan berada di bawah kendali dan kuasa sang pemimpin.

"L'etat c'est moi", Louis XIV ketika itu menjadi gambaran sederhana, betapa kekuasaan yang diberikan pada seseorang dapat mengubah banyak pandangan tentang seni memimpin yang absolut, otokrasi dan despostis.
Negara adalah saya, bahwa kekuasaan yang dimiliki adalah pemberian turun temurun dari atas, sehingga menganggap dirinya maha kuasa dan maha serba bisa. Rakyat (dipaksa) bertahan untuk menerima, namun bara yang semakin lama dipendam, semakin membara membakar sekam di atasnya.

Memimpin sejatinya adalah seni elaborasi antara keduniawian dan keakhiratan. Di dalamnya memiliki banyak unsur penting yang bersifat rasional, politis, ekonomis dan juga humanis. Maka memimpin itu tidak sekedar berbicara dan bertindak dengan rasionalisme akal semata, tapi juga melibatkan unsur bernama moralitas dan pertanggungjawaban spiritual.

Maka belajar dari "pemimpin kecil" semacam atasan saya, sejatinya adalah belajar bagaimana bersifat layaknya pemimpin besar, yang senantiasa kompeten sekaligus humanis mengayomi banyak kepala di bawah kekuasannya.

Sayangnya, hari-hari ini saya merasa (terkadang) Machiavelli ada benarnya, bahwa: jika Anda mau berkuasa atau mempertahankan kekuasaan, maka Anda harus belajar menjadi jahat -you must learn how not to be good person, dengan bertindak otoriter, berlaku layaknya "Tuhan", dan merasa berhak mengacak-acak susunan sosial masyarakat yang tidak punya banyak daya upaya.

(Sebagian) Dari potret pemerintahan kita membuktikannya.

 

 

Gambar diambil dari : http://www.slideshare.net/aswansetiawan/revolusi-perancis-44061410

  • view 365