Teman Mabok vs Teman Bobok

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 April 2016
Teman Mabok vs Teman Bobok

Tujuh kaleng minuman beralkohol, seketika menjadi viral. Bukan sekadar kandungan alkohol yang dipermasalahkan publik, tapi tempat di mana tujuh kaleng minuman beralkohol itu berada dan menjadi "sumber penyakit", dikritisi dan dianggap strategis menyurutkan kredibilitas seorang figur bernama Kepala Daerah.
Padahal, bagi kacamata sebagian orang yang lainnya, tujuh kaleng minuman beralkohol tadi, seperti tersembunyi, nyaris tidak terdeteksi karena dominasi botol-botol minuman lain berwarna hijau toska -yang dalam bahasa minimarket saya, kemasannya lebih seksi dan lebih menarik untuk dinikmati.

Dan seketika, tujuh kaleng minuman beralkohol menjadi sumber perdebatan sengit antara kelompok yang menyematkan diri sebagai "Teman" dan "Lawan".
Perang statement pecah sudah, dan melahirkan banyak analisis dan kajian dari kelompok-kelompok yang merasa memiliki kepentingan atas keberadaan "Sang Tujuh Kaleng Minuman Beralkohol", yang pada ujungnya berputar pada konklusi : kepantasan seorang Kepala Daerah menjamu tamu-tamunya dengan minuman kaleng non karbonasi (yang disangkakan) yang justru mengandung etanol/alkohol dalam pertemuan informal membahas masa depan bangsa.

Istilah "Teman Mabok", seketika tenar meramaikan perang pendapat gara-gara tujuh kaleng minuman tadi. Ada yang merasa puas, ada yang merasa menjadi pahlawan dengan pasang badan, ada juga yang merasa patut membela diri berdalih mengembalikan citra diri.

Menariknya, istilah "Teman Bobok", mendadak ikut tenar. Bermodalkan kasus tahun 2012, yang ketika itu, sang wakil rakyat dinilai tidak pantas dalam bersikap kerja, bobo siang di tengah rapat paripurna, kelompok yang merasa dirugikan dengan istilah "Teman Mabok" tadi, mengidentikan perang statemet ini layaknya bumerang, senjata makan tuan.

Layaknya kasus "Teman Mabok", Sang Teman Bobok merasa berhak membela diri mengembalikan citra dirinya di depan publik. Dan begitu seterusnya.

Perang media (bagi sebagian orang) membuat sakit hati, sekaligus nyeri. Banyak isu standar dan umum seketika berubah menjadi besar dan mendunia karena diposting dan dibahas berulang di media sosial, dengan lengkap disertakan bahan cibiran lain layaknya foto, video hingga bahkan transkrip pembicaraan. Maka tak ayal, media sosial yang awalnya berisikan hal-hal sederhana dan apa adanya, terbukti telah menarik tidak sedikit orang pada kasus yang berujung gugatan pidana.

Sederhana namun menyimpan efek berbahaya.

Media sosial seringkali menyadarkan kita tentang dosa masa lalu sekaligus potensi dosa kita di masa depan, karena sifatnya yang terbuka dan banyak mata.
Maka koreksi diri dan menahan diri untuk tidak berkomentar lebih akan banyak hal yang tidak terlalu banyak kita pahami dan yakini kebenarannya adalah menjadi pilihan bijak dan terbaik.

Mari kita menulis hal-hal yang kita pahami dan membagi hal baik yang kita yakini memiliki kebenaran yang hakiki. Karena kita tidak pernah tau, kapan komentar dan tulisan2 kita di media sosial seketika berubah menjadi bumerang yang justru mengarah kembali ke diri kita, dan justru membuka dosa-dosa dan kesalahan lama yang pernah kita cipta.

 

 

Gambar diambil dari :http://www.merdeka.com/tag/a/ahok-vs-roy-suryo/ahok-saya-bingung-dengan-menpora.html

  • view 125