SIMBOL

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2016
SIMBOL

Diskusi saya dengan seorang teman dimulai dengan sebuah pertanyaan :
"apa yg lo pikir ketika seseorang mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri dengan kartu ucapan bergambar pohon cemara?"
?
Saya terdiam sejenak, mencerna, kemudian menegaskan maksud pertanyaan sang teman.
"Hanya pohon cemara?"
"Hanya pohon cemara dan tulisan ucapan tadi. Tanpa simbol atau lambang apapun", teman saya menegaskan.
"Tak apa. Bukan masalah. Mungkin ketupat terlalu mainstream", saya tertawa. Diikuti anggukan teman saya, dan juga senyumnya yg melebar.
?
"Sayang, masyarakat tidak sesederhana itu. Mungkin anggapan pelecehan? Kemudian reaksi radikal? Kemudian di cap liberal", teman saya menambahkan.
Dan kali ini, saya tidak mengangguk. Hanya mengiyakan dalam hati. Takut dianggap liberal.
?
Dan diskusi itu, membuka banyak sekat dalam kepala saya. Tentang simbol dan framming persepsi manusia.
?
Kerudung misalnya. Kenapa identik terhadap kaum agama tertentu? Karena fungsinya menutup bagian tubuh yg seharusnya tidak ditampakkan di depan umum, orang lain yg tidak berhak atas bagian tubuh tersebut.
?
Kemudian pertanyaan lain muncul, bagaimana jika kerudung itu bentuknya adalah kain besar, panjang, tebal dan menutupi "tubuh terlarang" wanita layaknya kain seprei yg menutupi muka kasur di atas tempat tidur?
Bukankah jawabannya juga boleh? Yg terpenting fungsinya yg menutupi, dan sifatnya yg tidak menerawang dan memperlihatkan lekuk tubuh yg tertutupi tadi.
?
Lain lagi baju koko. Kemeja khas hari raya ini secara historis merupakan hasil akulturasi budaya berpakaian kaum tionghoa dan betawi ketika itu. Baju yg awalnya disebut sebagai Tui Khim itu, menjadi kostum sehari2 warga tionghoa ketika berkatifitas, dengan padu padan celana panjang gombrang bermotif batik yg belakangan identik dengan suku betawi dan terbawa dalam rutinitas keseharian warga betawi, termasuk dalam beribadah. Proses penerimaan baju Tui Khim tersebut berjalan dengan pesat dan seketika diadopsi dan menyebar ke banyak suku di indonesia, seiring dengan karakter kaum tionghoa di Indonesia yg juga mudah berbaur dan beradaptasi.
?
Semakin menarik dengan cerita tentang sarung. Ayah, suami dan kaum laki2 di sekeliling kita terbiasa menggunakan sarung juga dalam beribadah. Saya menilai fungsi sarung layaknya kerudung pada wanita. Penutup aurat. Menariknya, sarung justru lambang aib memalukan di Mesir. Karena dalam budaya lokal mesir, sarung digunakan oleh orang sebagai pakaian setelah bersetubuh. Artinya, memakai sarung di depan umum adalah hal yg memalukan, jauh lebih memalukan dibandingkan dengan celetukan yg biasanya terdengar seperti "pake sarung, abis ronda, Bang??".
?
Beberapa simbol diidentikan dengan sesuatu, dan sifat identitasnya melekat sangat kuat.
Padahal, membaca kenyataan historis simbol2 tadi, (seharusnya) membuka mata kita bahwa simbol tidak seharusnya dimonopoli oleh satu golongan tertentu, karena sifatnya yg universal dan semua golongan berhak menafsirkan simbol2 tadi dengan keyakinan dan pengetahuan yg dipahaminya.
?
Bahasa dan tulisan, sejatinya juga merupakan simbol dari bentukan komunikasi makhluk hidup bernama manusia. Fungsinya sebagai alat komunikasi, media penyampaian sesuatu, yg hak penggunaannya bersifat luas dan bebas.
Ketika bahasa, tulisan, dan simbol2 lain itu dicampur adukan dengan kenyataan dan makna2 harfiah yg mendeskriditkan, atau melibatkan secara terang2an kaum lain, dengan tujuan mengaburkan nilai religius suatu umat, itulah yang menurut saya patut dinamakan sebagai penistaan.
?
Maka dari itu, benar Islam menyatakan bahwa kebodohan adalah akar dari kesesatan. Dan itu mengapa Islam juga awalnya diturunkan di tanah Arab yg sekian lama terjajah oleh kejahiliyahan.
Karena kebodohan juga sifatnya universal dan luas. Bodoh dalam penguasaan teknologi, bodoh dalam pengetahuan, bodoh dalam komunikasi dan kebahasaan, bodoh dalam penafsiran akan banyak hal.
?
Menjadi umat yg cerdas adalah satu keharusan. Karena dengan cerdas, suatu umat akan dapat menilai secara objektif: mana yg benar dan salah, mana yg nampak dan tersembunyi, mana yg hitam dan putih, mana yg patut diperdebatkan atau hanya dibiarkan, atau mana yg simbolis dan fundamental. Bukan lantas menjadi radikal dan reaktif tanpa dasar pengetahuan.

  • view 196