Cover Both Side

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2016
Cover Both Side

Portal berita yang pertama kali saya akses di pagi hari sambil menemani perjalanan satu setengah jam menuju kantor adalah tempo.co.id.
Bagi saya, menarik membaca Tempo, baik versi cetak hariannya, digital maupun majalahnya. Layoutnya menarik, gaya bahasanya tertata apik, mengalir dan memudahkan untuk dimengerti alur pemberitaannya. Saya lebih memilih alasan redaksional ketimbang substansi pemberitaan yg menurut saya, pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan media2 indonesia pada umumnya.
?
Seorang teman memiliki sikap berbeda. Dia menerapkan label merah bagi beberapa media pemberitaaan yg menurutnya sangat sarat kepentingan. Media2 zona terlarang untuk diikuti, disitasi apalagi dipercaya sebagai media komunikasi yg transparan dan objektif dalam memberikan informasi dan isu2 yang dianggap aktual. Media tunggangan kelompok politik dan kepentingan tertentu.
?
Dalam Teori Komunikasi, sebuah media haruslah bebas nilai.
Namun kenyataanya, panggang selalu jauh daripada api -tidak satupun media yg benar2 bebas nilai, tanpa kepentingan, bahkan media plat merah sekalipun.
Perspektif Kritikal misalnya, menyatakan bahwa setiap media memiliki kepentingan (value laden), dimana konten pemberitaan media sangat ditentukan oleh beberapa hal seperti rutinitas media (yaitu sosialisasi para pekerja media dan budaya kerja yg terbentuk dari pola manajemen pekerja media tersebut dalam mengorganisasikan pekerjaannya), institusi sosial lain yang berada di sekeliling media tersebut dan menciptakan tekanan2 tertentu dalam proses pemberitaan, dan juga ideologi tertentu yg memberi pengaruh signifikan yg secara fundamental mempengaruhi platform setiap media.
?
Artinya, secara natural setiap media memang memiliki platform masing2 dalam menyampaikan informasi dengan beragam teori kausal di balik setiap pemberitaannya yg dilansir.
?
Prinsip "cover both side" sudah pasti menjadi pegangan mutlak setiap media dalam menghasilkan setiap pemberitaan dan penyampaian informasi kepada masyarakat, walau kenyataanya, prinsip cover both side sulit dijalankan di tengah ideologi dan kepentingan tertentu yang mencengkram kuat di belakang media2 tersebut. Nyatanya setiap media memang membutuhkan dukungan2 yang tidak kalah besar untuk dapat tetap eksis dan lestari: dana, market pembaca, dan legalitas kekuasaan.
?
Menarik sebenarnya mengikuti perdebatan kelompok kepentingan yang mengkritisi sikap CNN Indonesia misalnya dalam menyingkapi pemberitaan tentang teror bom yang minggu lalu terjadi di Jakarta, karena menghadirkan tokoh garis keras sebagai narasumber yg beberapa tahun lalu pernah dijerat dengan dugaaan peristiwa yg sama, terorisme. Sama menariknya ketika mengikuti beragam pemberitaan antara stasiun televisi yg saling kontra dalam mengangkat beberapa isu (yg dinilai) memiliki derajat keaktualan dan urgensinya bagi masyarakat. Karena ketika perang media terlihat semakin sengit, pada saat itu juga sebenarnya pemikiran dan persepsi masyarakat akan sebuah pemberitaaan terkonstruksi untuk dapat menerima beragam jenis pemberitaaan secara cover both side, bukan cover (only) one side.
?
Maka apalah arti kebebasan informasi apabila misalnya hanya ada Metro TV dan Media Grup yang berjaya. Karena ternyata, kita juga butuh TV One, RCTI dan kelompok MNCnya dan grup Jawa Pos untuk menyeimbangkan beragam informasi yg kita miliki sebagai konsumen tulen -masyarakat awam yg tidak memiliki sumber berita primer yg sifatnya personal, meyakinkan, tanpa keraguan dan terbantahkan.
?
Masyarakat Indonesia agaknya sudah semakin terlatih dengan beragam pola pemberitaan media di Indonesia. Tidak lagi merasa wajib percaya sepenuhnya pada setiap informasi yang ada dan dilansir oleh setiap media pemberitaan. Masyarakat bahkan seringkali bersikap masa bodoh dan nyinyir atas informasi yg dinilai meragukan dan menyesatkan pemirsanya.
?
Maka tidak aneh apabila kemudian sering kali rutinitas membaca berita dari beragam portal berita atau program berita televisi bukan lagi bertujuan mencari informasi, tapi menjadi kepo (merasa selalu berhak tau) atas kepentingan media yang satu dan media yg lain, dengan membanding2kan arah dan maksud yg tersembunyi di setiap pemberitaan yg dihadirkan.
?
Dan saya salah satunya.

  • view 241