RIO

Diyan Nur Rakhmah
Karya Diyan Nur Rakhmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Maret 2016
RIO

Langkah Rio Haryanto terhenti di putaran 19, tak lama setelah tragedi tabrakan Alonso dan Gutierez. Masalah driveline/drivetrain -yang dalam bahasa "bengkel" dikenal sebagai gardan, sistem penyaluran tenaga dari mesin ke roda, menjadi alasan kegagalan Rio menyelesaikan putarannya.

Seketika, publik Indonesia kecewa, apalagi Rio. Debut perdananya di ajang F1 -yang notebene pertama kalinya dalam sejarah Indonesia bahkan Asia (sejak 14 tahun terakhir), tidak pernah diharapkannya terhenti secepat itu, belum juga setengah putaran dari total 57 putaran yang harus diselesaikan. Media sempat menyorot ekspresi "si anak Indonesia", yang disitir oleh banyak media di Indonesia dengan narasi senada : "Dia baik-baik saja".

Rio Haryanto, hebat dan membanggakan Indonesia. Publik Indonesia harusnya sepakat atas pernyataan tersebut, terlepas selesai atau tidaknya putaran dalam debut pertamanya di Melbourne kemarin. Bukan kenyataan kegagalan kemarin, tapi prestasi-prestasi brilian sebelum debut di Melbourne itu berlangsung, itu yang membuat euforia kebanggaan masyarakat Indonesia tidak juga berkurang.

Dan prestasi itu, bukan milik Rio seorang. Ada dukungan tim yang tidak kalah hebat di belakangnya. Pun dengan kegagalan finish Rio kemarin yang juga ada andil banyak tim di belakangnya. Walaupun Manor Racing, menurut beberapa pemberitaan adalah tim yang sebagian besar dimulai dari belakang grid, dan mereka memiliki mobil paling lambat di antara mobil lain di ajang balapan F1 saat ini, tapi Rio dan publik Indonesia percaya, kehadiran Rio bukan hanya sekadar "Pompom Boys" - tim penggembira.

Pengemudi yang hebat tidak akan pernah berhasil menuju tujuan perjalanannya ketika penumpang, kendaraan, mesin dan bahkan kondisi lalu lintas di luar tidak kondusif menjamin kelancaran pekerjaan pengemudi tersebut. Sehebat apapun, seidealis bagaimanapun, mustahil sang pengemudi sampai dengan baik dan selamat di tempat tujuan.

Belajar dari debut Rio, pun sama halnya dengan belajar pada kondisi pemerintahan kita saat ini. Yang mana pemimpin hebat kita akan mustahil tetap menjadi hebat ketika tidak didukung dengan barisan pendukung yang juga hebat: menteri, parlemen, gubernur, walikota dan kawan-kawannya.

Bicara tentang pemerintahan ada berbicara tentang kelompok besar dan banyak orang. Bukan lagi milik perseorangan walau di dalamnya ada unsur yang tidak mesti seiya sekata dengan sang pengemudi di depan. Tapi setidaknya, kualitas komponen utama di belakang pemimpin itu haruslah terjamin dan menjamin pelaksanaan tugas pemimpinnya di depan. Bukan abal-abal, oplosan, dan lemah di peran serta fungsinya masing-masing. Dan yang terpenting, berjiwa kstaria mengakui kesalahan yang pernah dibuatnya, tak peduli murni kesalahannya atau ada komponen lain di balik kegagalan itu. Layaknya Manor, yang tidak lama berselang setelah kejadian gagalnya Rio di lap 19, merilis permintaaan maaf resminya di media.

Setiap kegagalan, pasti ada pelajaran.
Setiap ketersendatan, pasti ada kenikmatan, untuk menikmati setiap pelajaran yang diberikan. Yang terpenting, mau mengakui kesalahan dan bukan malah berlindung di balik sang pengemudi.
Karena awal yang baik, jika dijalani dengan baik, akan berakhir dengan kebaikan, walau harus gagal.

Hasil wawancara Rio di sebuah media tentang hasil pertandingan kemarin menarik diresapi:

"Sedih tidak bisa melihat bendera finish. Tapi saya sudah mendapatkan awal yang bagus untuk balapan di F1. Saya menikmati balapan pertama di F1," ujar Rio sambil menambahkan dirinya tetap semangat menyambut balapan berikutnya.

?

?

?

gambar diambil dari : http://www.mbtech.info/rio-haryanto-menuju-formula-one/

  • view 151