Mesin Pembunuh Bisnis

Ditra Masyitah
Karya Ditra Masyitah Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 27 Februari 2016
Mesin Pembunuh Bisnis

Semua pebisnis pasti ingin sukses. Namun, percaya atau tidak, sebetulnya malah justru banyak pebisnis yang membunuh bisnisnya sendiri. Lho? Kok bisa?

1. Tidak tepat waktu menangani order
Ini penyakit yang banyak menjangkiti para pengusaha UKM, terutama yang merasa tidak ada saingan atau yang belum melek terhadap pentingnya excellent service. Ada seorang pengusaha sablon skala rumahan. Suatu ketika, datang order membuat spanduk rumah makan. Bukannya segera mengerjakan order, eh, Si Owner malah pergi memancing di sungai. "Ah, toh, masih dua hari lagi deadline-nya," Begitu pikirnya. Ternyata, besoknya dengan mindset yang sama, ia kembali pergi memancing. Hingga akhirnya hari yang dijadwalkan tiba, Sang Pelanggan datang dan orderan belum selesai. Karena hal tersebut terjadi berulang kali, para pelanggan pun pergi satu per satu dan akhirnya usaha sablon tersebut gulung tikar.
Di tempat lain, seorang ibu rumah tangga membuk usaha katering. Rasa masakannya tidak terlalu wow. Namun, usahanya maju pesat hingga ia mampu membeli mobil. Rahasianya terletak pada kemampuannya menyiapkan order tepat waktu. Paling lambat setengah jam sebelum deadline, ia sudah menelepon pemesan, "Bu, orderan sudah bisa diambil." Rumus suksesnya, "Jangan sampai pelanggan yang telepon duluan nanya orderan sudah siap belum. Pantang itu. Harus kita duluan yang telepon."

2. Tidak mau terbuka terhadap kritik
Ada seorang pemuda yang memulai usaha dengan menitipkan kue ke beberapa toko. Baru beberapa hari berjalan, ia berhenti menyuplai ke sebuah toko. Saat ditanya alasannya, ia berkata, "Habisnya dagangan saya dikritik. Dibilang kurang enak lah, keras. Kalo mau jualan kue saya ya udah gak usah kebanyakan protes." Ealah, masbroo... kalo gini caranya ente jualan, nggak lama lagi gulung tikar ente. Kritik yang ada seharusnya dapat diambil untuk bisa membesarkan usaha. Dengarkan saja, toh nggak ada ruginya.

Ada tetangga saya yang berjualan bakso. Awal-awal ia membuka warung, rasa baksonya horrible. Sampai suatu hari, seorang ibu yang pandai memasak dengan terus terang mengatakan padanya bahwa rasa baksonya aneh. Bukannya marah, Si Tukang Bakso malah meminta ibu tersebut mengajarinya membuat bakso yang enak. Voilaaa... keesokan harinya, rasa baksonya berubah drastis menjadi lebih enak.

3. Tidak mau kerja keras, tidak sabar dengan penderitaan
Awal membuka usaha, terutama jika modal mepet, kita harus kuat mental dan fisik untuk mengerjakan semuanya sendiri (kecuali anda anak orang kaya yang memiliki modal melimpah). Berjuanglah untuk bersusah payah bangun pagi membuka toko, menangani pelanggan, sampai menutup lagi toko di sore hari. Tak perlu terburu-buru merekrut karyawan.
Ada seorang pemuda yang ingin membuka usaha rental komputer. Baru dua hari membuka kios, tiba-tiba ia sudah merekrut pegawai, padahal pemasukan kios saja belum pasti. Alasannya konyol: ia malas bangun pagi-pagi untuk membuka toko. Ia lebih senang memiliki pegawai agar ia bisa datang ke kios kapan saja sesuka hati. Jederr... Lebih lucu lagi, ketika ada order yang cukup lumayan nilainya, ia menolaknya dengan alasan, "Aku kan mau liburan." Padahal jika mampu memanage waktu, ia bisa saja mengerjakan order tersebut dan mendapat banyak untung, daripada hanya keluyuran tidak jelas atau tidur sepanjang hari.

4. Terburu-buru ingin (terlihat) sukses
Baru untung sedikit, sudah gatal ingin mengganti gadget. Malu dong kalo sudah jadi pengusaha masih pake ponsel jadul. Ah, sebenarnya apa yang anda dapat dari memamerkan kesuksesan semu? Anda hanya terlihat mentereng dari luar, namun keuangan internal anda keropos.
Tetangga saya adalah seorang ibu yang penampilannya sederhana. Bajunya itu-itu saja, HP jadul, katrok banget lah penampilannya. Siapa sangka ia adalah seorang wanita pengusaha sukses. Ia memiliki usaha konveksi, warung makan, dan banyak lagi. Namun, bukannya lebih fokus memoles penampilan agar orang tahu ia kaya, ia malah lebih fokus memikirkan cara agar hartanya bermanfaat untuk orang banyak.

5. Management keuangan yang kacau.
Prinsip kesatuan usaha: pisahkan keuangan usaha dengan uang pribadi. Jangan sampai uang modal kita tilep buat belanja. Sisihkan semacam "dana abadi" khusus untuk modal. Apapun yang terjadi, dana tersebut tidak boleh diutak-atik.

Inilah kira-kira mesin pembunuh kesuksesan yang saya sering temukan. Jangan sampai kita menyumbat satu-satuny mata air yang kita gunakan untuk minum.