Visya, Pemudi Penginspirasi Negeri

Dito Anurogo
Karya Dito Anurogo Kategori Inspiratif
dipublikasikan 17 Agustus 2016
Visya, Pemudi Penginspirasi Negeri

Visya, Pemudi Penginspirasi Negeri

 

 "Kemerdekaan adalah ketika seorang individu menemukan minat dan bakatnya dan mampu mengekspresikannya dalam bentuk karya dan prestasi tanpa merasa minder. Sebab setiap orang berhak untuk berkarya, berprestasi, dan diapresiasi." (Evi Syahida)
 

Evi Syahida, yang juga akrab dipanggil Visya, adalah sosok generasi muda yang pantas diteladani. Sebanyak 33 prestasi berhasil diukir dari tahun 2009-2015, di antaranya dua kali meraih medali emas di ajang bergengsi "International Young Inventor Awards” di forum Association Young Inventor and Scientist Indonesia (2014) dan INNOPA (2015).

 

            Perempuan kelahiran Jakarta, 24 Maret 1994 ini menjadikan Abu Rayhan Muhammed Ibnu Ahmad Al-Biruni sebagai sosok ilmuwan idolanya. Al Biruni adalah matematikawan muslim Persia yang juga pakar di berbagai bidang, seperti: astronomi, antropologi, psikologi, geodesi, kimia, astrologi, kedokteran, dsb. Gadis penyuka es teh manis dan nasi goreng ini juga menjadikan Marie Curie dan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh idolanya.

Di tengah-tengah kesibukannya memersiapkan resepsi pernikahan (4 September 2016), Visya masih menyempatkan diri untuk memaparkan kisah hidupnya yang begitu inspiratif. Hidup Visya memang ”sibuk”. Sibuk memantaskan diri menjadi ibu guru yang baik, sibuk dalam karya dan kebaikan, misalnya: menjalankan beberapa amanah di komunitas kampus dan organisasi eksternal kampus.

Jalan Berliku Mewujudkan Cita-cita

               Berkuliah di jurusan pendidikan Matematika memang tak pernah terbayangkan sebelumnya di benak Visya. Visya kecil bermimpi menjadi dokter gigi. Cita-cita itu muncul saat ia bersekolah di kelas 4 SD. Saat SMA, ia mengubah cita-citanya menjadi seorang saintis.

            Jalan untuk mewujudkan cita-cita memang tak selalu bertaburan bunga. Terkadang lurus, terkadang berliku. Hal ini dialami oleh Visya. Ia berkali-kali gagal saat mengikuti ujian untuk diterima di jurusan Matematika Universitas Indonesia. Namun Visya tak mau menyerah begitu saja. Gagal sekali, bangkit lagi. Hingga akhirnya setelah melalui proses yang melelahkan, Visya mengikuti tes ujian masuk mandiri UNJ dan dinyatakan diterima sebagai mahasiswi pendidikan Matematika.

            Sejak itulah, putri pertama dari pasangan Khonzin dan Murniatun ini bertekad untuk menjadi seorang pendidik. Cita-cita itu senantiasa terukir di hati, hingga detik ini. Tepatnya, ia ingin menjadi guru matematika SD yang ada di pelosok negeri. Visya ingin mendidik anak-anak itu menjadi ”mutiara” yang dapat mengharumkan nama Indonesia hingga dikenal di dunia internasional. Visya percaya bahwa anak-anak di pelosok negeri tak kalah hebatnya dengan mereka yang berada di ibukota.

Dulu Benci, Kini Cinta Sepenuh Hati

            ”Matematika adalah ilmu kehidupan, ilmu yang dipelajari sejak pertama kali manusia mengenal bangku sekolah hingga seterusnya,” ujar Visya saat ditanya mengapa memilih matematika. Gadis yang hobi membaca, menulis, dan backpacking ini memilih matematika bukan karena nilai Matematikanya selalu baik. Kedengarannya memang aneh, namun ia mengakui kalau dirinya dahulu memang tidak pernah menyukai matematika sedikitpun. Menariknya, nilai-nilai ujian Matematikanya hampir selalu di bawah standar nilai. Hal itu pernah membuatnya frustasi.

            Sampai suatu saat Visya di kelas 9 SMP, ia mulai mencoba bangkit. Alhamdulillah,  nilai Matematikanya mulai membaik. Bahkan saat itu, kecintaan Visya akan  Matematika mulai tumbuh, terus berkembang, dan semakin membesar hingga berlanjut ke jenjang SMA. Baginya, matematika itu unik, karena memiliki sisi misteri tersendiri. Selalu ada rasa senang di hati Visya, saat ia menemui soal Matematika. ”Selalu ada rasa penasaran tersendiri jika belum bisa menyelesaikannya, walaupun sebenarnya saya nggak pintar-pintar banget Matematika,” ujarnya ramah.

            Berbicara tentang matematika ibarat dunia kedokteran, ternyata juga ada spesialisasinya. Program studi yang diambil Visya adalah Pendidikan Matematika. Ia menyukai media pembelajaran matematika bagi siswa. Kesukaan ini muncul sejak Visya suka mengikuti lomba karya tulis ilmiah. Ia kerapkali menulis dan menggagas solusi di bidang tersebut. Baginya, media pembelajaran sangat memengaruhi rasa tertarik dan tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan. Belajar matematika dengan media pembelajaran sangat dibutuhkan siswa, meskipun memerlukan waktu, tenaga, dan biaya ekstra di dalam membuatnya. Contohnya saat belajar tentang angka. Jika seorang guru langsung menggunakan angka abstrak, hampir sangat mungkin siswa tidak langsung mengerti. Tetapi jika menggunakan media pembelajaran, siswa tentu akan lebih tertarik dan mudah dipahami. Hal ini berdasarkan pengalaman Visya saat mengajar di sekolah.

            Ke depannya, penggemar film Dragon Sakura ini berencana mengabdikan diri, menjadi guru matematika SD. Boleh di Jawa, atau di luar pulau Jawa. Ia juga berkeinginan kuat untuk menjadi guru olimpiade matematika atau guru KIR di sekolah itu.

Matematika Itu Prospektif

             Prospek pekerjaan di bidang pendidikan matematika sangat menjanjikan. Alasannya,  matematika senantiasa dipelajari di berbagai jenjang sekolah. Itu berarti diperlukan banyak guru matematika baik di sekolah formal maupun informal.

            Untuk prospek perkembangan ilmu di bidang pendidikan matematika juga cukup menjanjikan. Ke depannya, akan semakin banyak bermunculan metode dan pembelajaran interaktif yang dapat diaplikasikan oleh siswa. Tantangan yang cukup menarik terkait Pembelajaran Matematika Realistik yaitu metode pembelajaran matematika bagi siswa dengan jenjang abstrak-semi abstrak-riil.

Masa Lalu, Pendiam dan Pemalu

               Visya menikmati kehidupan masa kecil hingga remaja di Jakarta. Tidak seperti sekarang, Visya kecil seorang anak yang pendiam dan amat pemalu. Visya hanya memiliki sedikit teman. Di rumah, ia amat jarang bermain. Visya lebih sering memanfaatkan waktunya untuk membaca buku. Di sekolah pun demikian. Menurut teman-temannya di SMP, jumlah kata yang diucapkan Visya setiap harinya bisa dihitung dengan jari!

            Di masa lalu, Visya dikenal sebagai sosok yang amat pemalu sekaligus pendiam. Ia mengakui hal itu. ”Saya tak pernah berani berbicara di depan umum, sekalipun hanya bertanya teman saat presentasi di depan kelas. Rasanya saya lebih memilih tidak dapat nilai daripada bertanya dan menjadi pusat perhatian,” tuturnya.

            Ibarat roda, kehidupan ini terus berputar. Semua berubah saat Visya mulai memasuki bangku SMA. Ia mulai mengenal organisasi, lalu memutuskan bergabung di dalamnya. Sedikit demi sedikit, sifat pendiam dan pemalunya mulai berkurang. Visya sudah mulai berani berbicara di depan umum, terutama saat diberi amanah menjadi koordinator di organisasi.

            Ditinjau dari sisi akademis, prestasi penyuka warna biru ini tergolong baik. Di bangku SD, ia selalu masuk sepuluh besar. Saat kelas 7 dan 8 SMP, prestasinya menurun namun meningkat lagi saat kelas 9 SMP. Saat itu ia berhasil menjadi juara kelas. Saat SMA, Visya berlangganan menjadi bintang kelas, bahkan peringkat pertama paralel seangkatan. Saat SMA ia juga gemar mengikuti beragam olimpiade Matematika. (Dito Anurogo)

 BERSAMBUNG

  • view 361

  • Aini Latifah
    Aini Latifah
    1 tahun yang lalu.
    Visya mau nikah? Kok saya baru tau ya. Hhe. Pernah satu komunitas mnulis dia panggil saya kaka. Visya ini emang kereeeen

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    always inspiring.
    kami tunggu kelanjutan kisahnya