Dini, Muslimah Sumatera Pencerah Dunia

Dito Anurogo
Karya Dito Anurogo Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 17 Juli 2016
Dini, Muslimah Sumatera Pencerah Dunia

Dini, Muslimah Sumatera Pencerah Dunia

Oleh Dito Anurogo

 

Active, dreamer, dan cheerful. Begitulah gambaran sosok Dini Fuadillah Sofyan. Dara energik kelahiran Jakarta, 9 Januari 1993 ini memiliki obsesi mulia: sukses dunia akhirat. Bermanfaat bagi banyak orang. Membangun usaha di bidang kuliner dan wisata. Menjadi seorang technopreneur. Membangun foundation di bidang sosial. Menerbitkan buku inspirasi. Ilmuwan idolanya: BJ Habibie, Yow-Pin Lim PhD, dan Dr. Dessy Irawati, FerRSA. Bisa lulus S1 Jurusan Teknik Kimia adalah kenangan terindahnya.

 

Sosok Fenomenal

Dini adalah sosok perempuan yang fenomenal. Ia seorang humanis, organisatoris, inspirator, sekaligus motivator bagi rekan-rekannya sekaligus bagi generasi muda bangsa Indonesia. Ia telah menjelajahi Singapura, Inggris, dan hampir semua kota di Indonesia. Karyanya bersama tim telah dipresentasikan di universitas Oxford, Inggris.

 

Mahakarya

Dini telah berhasil melahirkan berbagai mahakarya, antara lain:

  1. Applying Nano Carbon as Coating Material for Slow Released Fertilizer to Increase Rice Yield and to Reduce Nitrogen Loss in Surface Water of Paddy Soil” (Proceedings), Published by Indonesian Scholars International Convention and Cranfield University.
  2. “Pemanfaatan Sampah di Indonesia sebagai Sumber Alternatif Energi Listrik dengan Tekologi Gasifikasi” (Fakultas Teknik - Universitas Sriwijaya)
  3. “LIPASIT (Limbah Kelapa Sawit) sebagai Bahan Bakar Biodiesel Alternatif yang Ekonomis dan Ramah Lingkungan”

Applying Nano Carbon as Coating Material for Slow Released Fertilizer to Increase Rice Yield and to Reduce Nitrogen Loss in Surface Water of Paddy Soil (Proceedings), Published by Indonesian Scholars International Convention and Cranfield University.

Karya ini awalnya karena ASEAN Economic Community (AEC) menjadi trending topic yang amat dahsyat nan memikat. Dari sana punya ide untuk mencari sesuatu yang terkadang berdampak tidak baik bagi lingkungan dan terus menerus terjadi. Seperti penggunaan pupuk di bidang agriculture.

            Pemakaian pupuk kimia (anorganik) yang semakin meningkat. Aplikasi pupuk paling banyak di bidang pertanian dll. Sebenarnya pemakaian pupuk tersebut secara terus menerus mengakibatkan banyak dampak lingkungan. Seperti: soil toxicity dan eutrophication. Terkadang tanaman tidak subur, karena sudah banyak pencemaran dari pupuk anorganik baik dari tanah maupun sumber air.

Dari berbagai literatur dan penelitian, diketahui bahwa penggunaan pupuk slow released dengan menggunakan material nanocarbon pada proses pembuatan pupuk. Hasilnya, tanaman makin subur dan bisa mengurangi pencemaran nitrogen di lingkungan.

Alasan lainnya, Indonesia salah satu negara yang sangat bergantung dengan beras. Jika MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) diresmikan, berarti perdagangan bebas dan lainnya masuk serta keluar dari dan ke Indonesia secara besar-besaran. Sedangkan produksi beras kita selalu tidak menyeimbangi kebutuhan, sehingga kita impor.

            Penggunaan pupuk slow released bisa meningkatkan konversi produksi beras di Indonesia. Kombinasi ilmu pengetahuan, teknologi di bidang pertanian akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri di bidang pangan, tanaman dan lainnya.

 

“Pemanfaatan Sampah di Indonesia sebagai Sumber Alternatif Energi Listrik dengan Tekologi Gasifikasi” (Fakultas Teknik – Universitas Sriwijaya)

Karya ini awalnya dari diskusi dengan teman dan membaca media Jepang mengenai pengolahan sampah untuk energi listrik. Sangat menarik. Apalagi S1 Jurusan Teknik Kimia. Jadi sedikit mengerti mengenai teknologi gasifikasi.

Mulailah untuk banyak membaca literatur, data, riset mengenai pemanfaatan sampah dengan teknologi tersebut. Permasalahan sampah di Indonesia semakin kompleks dan hingga saat ini belum menemui titik temu konkrit mengenai solusinya. Di samping itu masih banyak sekali desa-desa di Indonesia yang belum mendapatkan pasokan listrik. Tujuannya bagaimana kita bisa sama-sama mengolah sampah di Indonesia menjadi sesuatu yang berharga.

            Menyadari bahwa kita juga bisa mengaplikasikan, bukan hanya di negara-negara maju. Untuk karya ini sudah dalam proses plant design, semoga ke depannya bisa diaplikasikan secara nyata dan massive.

“LIPASIT (Limbah Kelapa Sawit) sebagai Bahan Bakar Biodiesel Alternatif yang Ekonomis dan Ramah Lingkungan”

Indonesia salah satu negara yang memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia. Pengolahan kelapa sawit menjadi beragam produk, seperti minyak goreng, dll. Menjadikan industri pengolahan kelapa sawit kewalahan dengan limbah kelapa sawit yang dihasilkan. Sehingga mengakibatkan pencemaran lingkungan. Dini beserta tim mendapatkan rekomendasi dari dosen sekaligus Ketua Jurusan di Teknik Kimia Universitas Sriwijaya untuk melakukan riset itu.  

            Setelah berbulan-bulan lamanya mengadakan riset di Laboratorium Energi Baru Terbarukan, UNSRI, hasilnya adalah Limbah Kelapa Sawit (LIPASIT) bisa dijadikan bahan bakar biodiesel. Dari sesuatu yang tidak berharga (limbah) menjadi energi baru terbarukan. Penelitian ini semoga bisa diaplikasikan secara nyata dan dapat mengurangi dampak negatif dari limbah kelapa sawit yang dihasilkan.

Multitasking

Dini adalah wanita yang multitasking. Di tengah-tengah kesibukannya menyelesaikan proyek tentang pipa dan pompa di PT. Pertamina HSE TC, Sungai Gerong, Sumatera Selatan dan menghadiri beberapa aktivitas, ia masih sempat mengembangkan bisnis kuliner bersama partner di Dieng Plateau. Muslimah yang tinggal di Jalan Mengkudu 34 RT 04 Kelurahan Taba, Jemekeh, Lubuklinggau, Sumatera Selatan 31625 ini saat ini sedang berada di luar negeri. Ia sedang melaksanakan “misi suci” yang hingga kini masih misteri. Terpenting, niatnya mulia membangun negeri ini.

Beribu Mimpi, Membangun Negeri

Bila ditanya apa sebenarnya cita-cita Dini sejak kecil, ia mengakui kalau dirinya pernah bercita-cita ingin menjadi dokter bedah.

Beranjak menjadi semakin dewasa serta belajar banyak hal dari kehidupan, membuat Dini tertarik menjadi duta besar. Alasannya, karena dapat tinggal di banyak negara di dunia. Lagipula, ia masih dapat berkontribusi dan berperan aktif memajukan Indonesia dari negara lain.

Diakuinya, sejak SMA, Dini memang sangat tertarik dengan Hubungan Internasional (HI). Namun karena ada beberapa faktor, ia tidak diperbolehkan berkuliah di luar Sumatera Selatan.

Di kesempatan lain, Dini mengatakan bahwa menjadi pengusaha adalah suatu challenge. Pernyataan klasik yang sering terdengar adalah dapat membuka lapangan pekerjaan dan menebar manfaat bagi sesama.

Dini mengakui bahwa di masa mendatang, ia juga bercita-cita menjadi technopreneur (technology entrepreneur). Berwirausaha dengan mengembangkan teknologi, agar Indonesia bisa menjadi lebih maju dan berkembang.

Teknik Kimia, Prospektif di Masa Depan

Dikatakan oleh gadis hobiis ikan ini, prospek teknik kimia di masa mendatang itu sangat banyak, mengingat disiplin ilmu yang diajarkan juga sangat padat.

Di teknik kimia dipelajari tentang bagaimana merancang pabrik dengan amat detail. Mulai dari pabrik jenis apa yang akan dibangun, alasan, lokasi, kebutuhan domestik, proses, perhitungan neraca massa, energi, peralatan, manajemen organisasi, dan ekonomi.

Prospeknya antara lain: berpeluang bekerja di berbagai perusahaan ternama, seperti: Pertamina, Pusri, Chevron, Batubara, dll.

Selain itu, juga berpotensi menjadi technopreneur, mengembangkan bisnis di berbagai bidang, seperti energi, dll. Seseorang yang memasuki jurusan teknik kimia dapat menjadi multi talented and multi tasking serta bisa melakukan berbagai hal demi kemajuan bangsa dengan mengembangkan ilmu di bidang Teknik Kimia. 

 

“Love is the reason why we are life.”
(Dini Fuadillah Sofyan)

 

Mulanya Ditentang, Akhirnya Didukung

Perempuan penyuka film Spiderman, 99 Cahaya Langit Eropa, Cars 1,2,3 ini menceritakan bahwa untuk memasuki jurusan teknik kimia, ada tantangan dari bude (kakak umi). Sejak SMA bude memang mengharapkan Dini untuk memilih jurusan kedokteran. Hingga akhir semester dua kelas XII, setelah kelulusan Dini mendengar temannya ingin berkuliah di Jurusan Teknik Kimia.

Dini begitu penasaran dengan jurusan itu. Ia mencari tahu melalui internet serta berkonsultasi dengan guru mata pelajaran Kimia, yaitu (almarhum) Ibu Jamilah. Entah mengapa, tiba-tiba saja Dini menjadi sangat jatuh cinta pada jurusan tersebut.

Padahal sejak SMP, Dini amat tidak tertarik dengan mata pelajaran Kimia. Melihat prospek lulusan Teknik Kimia yang akan ditempatkan di perusahaan besar, Dini bertekad mengikuti seleksi masuk Universitas Sriwijaya (UNSRI) melalui jalur rapor atau PMP (Penelusuran Minat Prestasi).

Di saat bersamaan, Dini serta beberapa temannya yang termasuk juara umum dan juara kelas direkomendasikan pihak sekolah untuk mengikuti seleksi di Universitas Indonesia (UI). Jurusan yang diutamakan tentulah kedokteran.

Setelah bermusyawarah dengan keluarga, Dini memutuskan mundur dari penjaringan masuk ke UI. Ia memantapkan diri memasuki UNSRI. Namun ia juga mengikuti seleksi masuk Perguruan Ikatan Dinas, seperti STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik), STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) dan IPDN (Institusi Pemerintahan Dalam Negeri). Dari ketiga tes itu, hanya IPDN yang lulus tanpa biaya apapun, kecuali biaya per tahap. Dini memutuskan tidak melanjutkan dan mengundurkan diri.

Saat itu, hanya Abi (Bapak) yang mendukung agar tetap di Teknik Kimia, sedangkan Umi (Ibu) mengikuti kemauan Dini. Bude sangat menyayangkan sekali keputusan Dini. Namun akhirnya mengikhlaskan. Saat Dini diterima di Jurusan Teknik Kimia, bude masih saja protes. Mengapa tidak memilih jurusan FKIP agar mudah diterima menjadi PNS.

Dini mengakui kalau dirinya memang belum ada target menjadi seorang PNS. Saat itu, ia hanya dapat meyakinkan bude bahwa teknik kimia juga memiliki prospek yang amat menjanjikan. Dini selalu bertekad menjadi kebanggaan orangtua sekaligus bude.

"Jika kamu tidak bisa membantu orang lain, maka bantulah dengan cerita inspirasimu."
(Dini Fuadillah Sofyan)

Romantika Masa Lalu

Sejak kecil, gadis yang menjadikan Dieng Plateau sebagai destinasi wisata favorit ini menetap dan bertumbuh di Jakarta. Saat kenaikan kelas 2 pindah ke Tambun, Bekasi. Saat SMP masuk ke asrama di SMPIT Tashfia Boarding School, Bekasi. Kemudian Dini melanjutkan SMA di Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

            Dini sejak kecil memang aktif. Ia menyukai jalan-jalan dan kuliner, karena Abi sejak kecil suka mengajaknya menghadiri beragam acara dan kegiatan.

Kehidupan Dini kecil seperti pada anak-anak umumnya. Ia menjalani kehidupan dengan bermain, belajar, mengaji, dll.

Dini tergolong anak yang cukup berani dan berinisiatif tinggi. Saat SD, ia pernah diajak ayahnya mengunjungi kantor PT. Ratelindo (perusahaan telepon milik Abu Rizal Bakrie). Karena ayah ada urusan lain, Dini kecil diberi amanat untuk menemui bagian marketing, dengan tujuan bernegosiasi mengenai barang yang ingin dijual ke perusahaan tersebut (dalam bentuk kerangka telepon rumah lengkap dengan mesin dan lainnya). Setelah berbincang kurang dari satu jam, ia berhasil menjual barang tersebut dan mendapatkan uang sekitar Rp 200.000. Jumlah yang lumayan besar di kala itu.

Di lingkungan rumahnya di Jakarta, kolega Dini bukan hanya anak-anak seumuran, melainkan juga anak-anak kecil, ibu-ibu, dan senior lainnya.

Dini sering diajak makan rujak bersama. Uniknya, hanya Dini yang sering diajak, bukan umi. Mungkin karena rasa ingin tahu yang besar, sehingga tidak menjadi halangan dirinya untuk bergaul dengan siapapun.

Kemandirian Dini memang telah teruji sejak kecil. Sekolahnya yang berpindah-pindah menjadikan dirinya mandiri dan banyak belajar dari masyarakat, lingkungan, dan alam sekitarnya.

Ayahnya seorang wiraswasta, ibunya seorang ibu rumah tangga. Dini putri sulung. Ia memiliki tiga adik kandung, yaitu: Dani Arrachim Sofyan, M. Deryansyah Sofyan, dan Dinda Miftahul Jannah Sofyan. Kondisi inilah yang mendewasakan dan menempa Dini menjadi sosok perempuan tangguh. Sosok wanita inspiratif.

 

"Saling menghargai satu sama lain, hakikatnya kita bisa belajar dengan siapapun dan dimanapun, tak terbatas ruang dan waktu."
(Dini Fuadillah Sofyan)

 

Kejatuhan adalah Awal Kebangkitan

Masa lalu Dini dapat dikatakan turning point kehidupannya. Hal itu terjadi saat peralihan SD, SMP, SMA, dan semester ke-4 di universitas.

            Saat itu, keluarga Dini mengalami ketidakstabilan ekonomi. Perusahaan tempat bekerja ayahnya bangkrut. Akibatnya sang Ayah terpaksa keluar.

            Sebagai anak pertama, Dini bertekad membantu memulihkan perekonomian keluarga. Caranya dengan mengikuti berbagai kompetisi, seperti: menggambar, cerdas cermat, karya tulis, lomba cerpen, dsb. Hikmahnya, Dini terpicu terus belajar sekaligus terpacu memanajemen waktu. Ia juga belajar dari banyak orang.

            Dari berbagai kompetisi yang diikutinya, ia menemukan filosofi bahwa kehidupan inilah kompetisi yang sebenarnya.

            Mulailah Dini membuat rencana dan persiapan untuk masa depan depannya. Usahanya berbuah manis. Dini berhasil menjadi juara umum saat SMA dan menjadi delegasi sekolahnya untuk mengikuti olimpiade kebumian.

            Memasuki bangku kuliah, Dini berhasil meraih beasiswa. Upaya ini banyak membantu keluarga sekaligus menginspirasi adik-adiknya.

 

Bahagianya Berprestasi

“Saya selalu bangkit dari keterpurukan untuk menjadi lebih baik di masa mendatang.”

Di semester empat, Dini mengikuti seleksi mahasiswa berprestasi. Saat di tingkat jurusan, Dini belum berhasil meraih tiga besar. Namun untungnya kebijakan jurusan, semua yang menjadi tujuh besar boleh berkompetisi ke tingkat fakultas.

            Saat seleksi, Dini hampir saja menyerah. Ia enggan meneruskan kompetisi itu. Sebabnya sederhana. Sudah belasan kali mengikuti kompetisi esai, hampir semua belum berhasil.

            Meskipun pesimis, namun asa itu masih bergelora. Dukungan kawan dan sahabatlah yang membuatnya meneruskan kompetisi itu. Dini bertekad menjadi yang terbaik.

            Waktunya presentasi. Dini berupaya tampil maksimal dengan menggunakan dua bahasa bergantian, yakni bahasa Inggris dan Indonesia. Penampilan Dini rupanya berhasil memikat dan meyakinkan para juri. Alhasil, saat diumumkan di sore harinya, Dini meraih juara kedua karya tulis ilmiah (KTI) dan dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi fakultas teknik.

            Pengalaman ini menjadikan Dini bertambah bijaksana. Ia mengakui kalau mudah menyerah, maka pastilah tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah itu. Boleh jadi titik di antara kegagalan dan keberhasilan sudah sangat dekat. Jika saat itu dirinya mundur dari arena pertempuran, tentulah tidak pernah merasakan manisnya kemenangan. Momentum itu benar-benar menjadi pemicunya untuk terus berkarya dan menginspirasi sesama.

“Allah benar-benar adil dengan memberikan kemenangan di waktu yang paling tepat.”

 

Indahnya Berorganisasi

Selain berprestasi di dunia akademis, gadis pengidola BJ Habibie, Muhammad Al-Fatih, dan Asiyah binti Muzahim ini aktif sekali di dalam berorganisasi. Ia mengakui kalau semua pengalamannya saat berorganisasi memberikan kesan dan nuansa tersendiri di dalam hidupnya.  

Dari berorganisasi, Dini memiliki banyak teman, link, networking, kiat untuk pengembangan diri, cara memanajemen waktu, mengatur emosi, menumbuhkan jiwa kepemimpinan, dan beragam hal menarik lainnya.

Berorganisasi benar-benar membuat Dini memiliki banyak link yang hingga saat ini berdampak positif. Informasi mengenai kompetisi, seminar, proyek, beasiswa, lowongan kerja, dan lainnya begitu mudah didapatkan. Dari berorganisasi, dirinya dapat bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang profesi, umur, aktivitas, dll. Ia banyak belajar dari mereka. Pembelajaran tentang kehidupan yang jarang sekali didapatkan di bangku kuliah.

            Manfaat nyata berorganisasi memang amat dirasakan Dini hingga kini. Saat bepergian kemanapun, ia mendapatkan kemudahan untuk menetap, mengajak bepergian, berdiskusi, bertukar ide bisnis bersama teman-teman organisasi.

            Selain itu, ia juga pernah mendapatkan rekomendasi posisi jabatan di organisasi dan proyek perusahaan dari teman di organisasi. Ia merasakan banyak sekali keuntungan dengan berorganisasi.

Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growing others (Jack Welch)

 

Keteladanan, Inti Kepemimpinan

Rasanya jiwa kepemimpinan Dini tak perlu diragukan lagi. Betapa tidak? Dini memiliki jiwa sosial, supel, mudah beradaptasi, seorang yang berjiwa leadership sekaligus problem solver dan good initiator, kompetitif, mandiri, percaya diri, humoris, ceria, visioner, optimistis, kreatif.

Di dalam leadership dan berorganisasi, Dini banyak membaca buku, video, artikel tentang kiat menjadi pemimpin yang berpengaruh. Dari zaman Rasulullah SAW hingga saat ini. Selain itu, Dini juga mengikuti berbagai seminar dan pelatihan tentang kepemimpinan, bergabung serta terlibat langsung di suatu organisasi, untuk melihat kepemimpinan sosok pemimpinnya.

Terinspirasi dari banyak pemimpin sukses, Dini mencoba mengaplikasikan ketika menjadi seorang pemimpin. Ia memosisikan diri menjadi seorang partner sekaligus role model. Inilah strategi kepemimpinan. Ia berupaya membaur, membantu, memberikan arahan, instruksi berdasarkan hasil musyawarah dan diskusi. Ia mencoba menghormati senior (orang yang lebih tua dari dirinya, baik secara umur maupun angkatan), dan akrab dengan junior.

Ia melakukan program secara bersama-sama, berinisiatif terlebih dahulu, memberikan contoh. Sehingga ketika Dini memimpin, anggota tim di dalam organisasi tersebut bersemangat untuk berkarya dan bekerja. Mencoba tidak ada batasan atau sekat, agar semua berjalan sesuai dengan harapan.

Rahasia Negosiasi Efektif

Perempuan yang menjadikan Mobilio, Suzuki SX Over, Fortuner, Everest sebagai kendaraan favoritnya ini memiliki strategi negosiasi (melobi) yang efektif, yaitu: percaya diri, berbicara secara proporsional, memberikan keuntungan mutualisme, menceritakan apa yang ingin disampaikan. Maksudnya: tidak bertele-tele, namun rinci, detail, dan jelas.

Kepiawaian Dini di dalam negosiasi tampaknya tak perlu diragukan lagi. Terbukti ia sukses melobi beberapa perusahaan ternama. Sebut saja mulai dari PT. Pertamina, PT.Pusri, PT.Medco Energy, Bank, hingga melobi dosen, rekan organisasi, dan  yang lainnya.

Sebelum negosiasi berlangsung, Dini harus terlebih dahulu mengetahui tentang apa yang ingin disampaikan. Lalu, berusaha melakukan yang terbaik. Seperti: menjelaskan dengan bahasa yang umum, mudah dicerna, dan dipahami. Ketika proses tanya-jawab, ia menjawab dengan penuh keyakinan dan kemantapan. Sehingga saat melobi, orang lain percaya dengan apa yang kita bicarakan. Performa yang prima dan baik membuat orang lain tidak ragu dengan apa yang disampaikan.

Saat negosiasi Dini juga selalu meyakinkan diri bahwa harus berusaha dan melakukan hal-hal yang terbaik, sekaligus layak dipercaya. Lobi yang dilakukan dengan manajemen, mampu menaikkan peringkat kompetensi. Ini terlihat dari kepribadian yang cerdas, bicara yang sesuai proporsinya, dan tepat sasaran.

Koordinator NWI

Nano World Indonesia (NWI) adalah organisasi mahasiswa di bidang ilmu pengetahuan serta teknologi, yaitu nanoteknologi. NWI memiliki wilayah pembagian dan banyak kampus yang tergabung di dalamnya.

Sumatera merupakan wilayah bagian NWI yang cukup luas. Karena terdiri dari beberapa kampus di Sumatera, seperti Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Lampung.

Dini bukan pertama kali menjabat sebagai koordinator di wilayah Sumatera. Sebelumnya ia pernah bergabung di organisasi Teknik Kimia Indonesia, dan menjadi pimpinan daerah Sumatera (dari Aceh hingga Lampung).

Saat menjabat sebagai koordinator NWI, pernah diselenggarakan Forum Nanoteknologi (ForNano). Acara itu berupa seminar, kompetisi, dan hal-hal lain tentang Nanoteknologi. Seru karena mengundang banyak pembicara nasional dan teman-teman dari berbagai kampus di Indonesia.

Dini saat itu mengundang para delegasi dari kampus yang tergabung di NWI wilayah Sumatera. Caranya, dengan berkoordinasi selama beberapa minggu, melalui Whatsapp (WA), telepon, SMS, FB, dan email.

            Saat acara berlangsung, semua berkumpul dalam satu forum nasional. Bercerita banyak hal tentang perkembangan nanoteknologi di daerah masing-masing. Mereka begitu menginspirasi, sehingga Dini banyak belajar dari mereka. Bagaimana pengelolaan, penelitian, pengembangan kerjasama dengan pemerintah, pihak kampus, masyarakat, hingga prototipe alat yang sedang dan telah dibuat.

Uniknya, organisasi NWI multidisiplin ilmu. Banyak jurusan yang tergabung untuk mengembangkan nanoteknologi. Dari jurusan teknik, MIPA, kedokteran, pertanian, dll. Jadi banyak sekali pembelajaran ketika tergabung dan menjabat sebagai koordinator NWI wilayah Sumatera.  

Indonesia menjadi negara maju, saat riset dan teknologi berkembang pesat. Sinergi generasi muda, peneliti-ilmuwan, pekerja lapangan, pemerintah, dan berbagai pihak mampu mewujudkan Indonesia menjadi lebih baik dan unggul.

Sejuta Rasa Teknik Kimia

Bagi Dini, menimba ilmu di S1 jurusan Teknik Kimia, Universitas Sriwijaya Sumatera Selatan itu berjuta rasanya. Hampir semua pengalaman saat menjadi mahasiswi sangat berkesan.

Saat menjadi mahasiswi pertama kali di tahun 2010, Dini pernah menjadi delegasi termuda pada acara MUNAS FULDKT (Musyawarah Nasional, Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kampus Teknik) di UNS Solo. Saat itu, Dini termasuk angkatan 2010, sedangkan peserta lain ada yang sudah alumni, bekerja, angkatan tahun 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009.

Banyak sekali unek-unek, ide yang diungkapkan oleh delegasi. Dini mencoba memerhatikan, belajar, memahami situasi, detik demi detik acara berlangsung. Dini berusaha hemat kata, namun sesekali memberikan masukan dan saran.

Inilah proses belajar yang begitu menginspirasi. Dini belajar bagaimana berorganisasi (di tingkat yang lebih tinggi dan luas), berdiplomasi, melobi, tatacara sidang, musyawarah, kepemimpinan, confident saat berbicara di depan umum, menahan emosi, tidak egois, tidak memaksakan kepentingan pribadi dan kelompok. Pengalaman inilah yang membuat Dini bertekad untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik.  

Perempuan Peraih Beasiswa

Dini adalah penerima beasiswa Full Fledge Scholarship PHK-I Batch B (2010-2014) dan Beasiswa Aktivis Nusantara Dompet Dhuafa (2013-2015).

            Ceritanya begini. Saat Dini sudah diterima menjadi mahasiswi UNSRI, bude sangat berharap Dini dapat diterima di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Alasannya karena ikatan dinas dan Dini dapat langsung bekerja. Dini tidak lulus ujian masuk STAN. Dini bertekad tetap berkuliah di jurusan Teknik Kimia.

            Sebelum tes STAN, Dini mencoba apply beasiswa yang ada di UNSRI. Beberapa hari saat itu, ia mencoba melengkapi banyak persyaratan yang ada. Termasuk membuat surat lamaran yang ditulis tangan. Bude melihat beberapa kali dan menanyakan apa yang sedang dilakukannya. Bude saya menegur, untuk belajar dan berfokus terhadap soal-soal STAN, bukan mengerjakan yang lain. Dini tidak menyerah. Beruntungnya, saat tidak lolos STAN, Dini berhasil mendapatkan beasiswa Full Fledge Scholarship PHK-I Batch B (2010-2014). Akhirnya, Dini dapat membahagiakan orangtua dan bude.

Beasiswa itu memang salah satu beasiswa terbesar di UNSRI setelah Bidik Misi. Bedanya, penekanan prestasi adalah yang utama. IPK setiap semester harus lebih besar sama dengan 2,75 (sesuai kontrak). Jika di bawah itu, maka akan langsung diputus. Penerima beasiswa tersebut ada 10 orang ditambah beasiswa I-Mhere 50 orang. Empat tahun menerima, tersisa lima orang. Dini dan rekan dipacu untuk berprestasi di dalam dan di luar kampus. Dini merasa sedih karena teman seperjuangan di semester II sudah diputus beasiswanya karena nilai IPK 2,74.

Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) adalah beasiswa yang paling berkesan. Selama mendapatkan beasiswa Full Fledge, Dini memang menginginkan beasiswa yang bisa memberikan pengembangan diri. Ia mengikuti seleksi Bakti Nusa dan dari ratusan pendaftar, Dini termasuk enam yang terpilih.

Dini mendapatkan banyak ilmu soft skill dan hard skill. Seperti training value setiap bulan (selama 6 bulan), pelatihan kepenulisan, jurnalistik, pembuatan buku, dukungan prestasi, pelatihan bahasa, diskusi dengan tokoh dan masih banyak hal positif lainnya. Dini bersyukur sekaligus merasa sangat beruntung bisa tergabung di lingkaran baik dan bertujuan untuk berbagi manfaat. Kebersamaan di Bakti Nusa memberi kesan tersendiri baginya.

Dream, Allah will embrace your dream! (Arai)

 

Akar Pendidikan itu Pahit, Namun Manis Buahnya

Bagian Teknik Kimia Universitas Sriwijaya mewajibkan tiga syarat untuk lulus S1. Tahap pertama adalah Kerja Praktik (KP). Dini bersama rekan melakukan KP selama 1-2 bulan di perusahaan BUMN atau Swasta.

Tahap kedua, pendadaran dan melakukan riset. Riset dilakukan di laboratorium, sekitar setahun, tergantung apa yang diteliti. Setelah itu memaparkan hasil penelitian di seminar.

Tahap ketiga, mengerjakan tugas akhir (TA) atau rancang pabrik (plant design). Saat TA kami harus memenuhi 10 bab dan 5 lampiran perhitungan. Ini memerlukan  waktu yang cukup lama. Sehingga kebanyakan mahasiswa Teknik Kimia lulus lebih dari 4 tahun hingga 5 tahun.

Inilah kisah penuh perjuangan. Hikmahnya adalah kebersamaan antara mahasiswa/i Teknik Kimia.

Selain itu, selama di Teknik Kimia Dini belajar banyak hal. Dari ilmu teknik kimia, ekonomi, technopreneur, teknologi, kebijakan pemerintah, energi, dan lain-lain. Sehingga saat berkumpul dengan komunitas nasional-internasional, mudah berbaur dan mendiskusikan sesuatu, meskipun tidak ada hubungannya dengan teknik kimia.

Hikmah lain, jika sedang berdiskusi tentang teknologi, dsb dapat dengan lancar menjelaskannya kepada teman-teman lintas disiplin ilmu. Jadi, selama menjadi mahasiswi, Dini menjadi paham banyak aspek. Ini yang didapatkannya ketika menimba ilmu dan berinteraksi di kampus, organisasi, kompetisi, atau aktivitas lainnya.

 

Aksen Inggris yang Sulit Dimengerti Orang Inggris

Dini termasuk satu diantara mahasiswi Indonesia yang sukses memresentasikan karya ilmiahnya di University of Oxford, United Kingdom. Karya tulisnya juga menjadi 25 yang terbaik.

Di Inggris, Dini mendapatkan pengalaman unik. Aksen Inggrisnya sulit dimengerti penutur asli Inggris.

Ceritanya begini. Dini merasa agak kesulitan mengenai accent yang digunakan oleh orang-orang British asli. Dalam hal ini, dialek, pengucapan, style dalam berbahasa cukup berbeda.

Ketika pertama kali mendarat di Heathrow International Airport, London. Dini ingin memastikan dimana halte bus tujuan ke Oxford. Setelah dua kali bertanya dengan orang lokal, mereka mengatakan tidak tahu dan pergi berlalu begitu saja.

Untungnya Dini bertemu seorang nenek yang bersedia memberitahu arah dimana halte tersebut. Beliau berkata “Oxford? University of Oxford?” Beliau memberitahu. Beberapa menit kemudian, Dini menemukan tempat bus ke banyak rute, salah satunya ke Oxford.

Terheran-heran, Dini mengevaluasi diri, mengapa beberapa orang tidak bisa memahami apa yang diucapkannya. Ternyata, pengucapan yang benar dengan dialek British adalah “Oxferrdd”. Itu pengalaman berharga.

 

Karyanya Dipuji Dikomentari

            Tentang karya ilmiah, saat seleksi dan penilaian, banyak mendapatkan feedback dari berbagai aspek. Paling mengesankan ketika karya ilmiah menuai pujian sekaligus komentar. Pujiannya, karena metode bagus disertai beberapa kombinasi. Antara lain, penelitian (mengenai pupuk), literatur, serta wawancara dengan beberapa pakar nanoteknologi dan ilmu tanah.

Penilaian lain juga di atas rata-rata, seperti format, penulisan, struktur karya ilmiah, isi dan lainnya. Hanya saja, karya itu juga mendapatkan komentar membangun tentang grammar. Maklumlah, masih tahap belajar untuk menyempurnakan grammar. Hingga saat ini Dini juga terus berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, terutama di penguasaan grammar.

Karya ilmiah itu terdiri dari: abstract, introduction, research methods, results, discussion, conclusions and references. Di bagian latar belakang, tercantum data-data tentang total luas tanah pertanian di Indonesia, pemakaian pupuk anorganik, perbandingan komposisi-pembuatan antara pupuk organik dan anorganik, perkembangan nano khususnya di bidang pertanian, dsb. Di bagian research methods diuraikan tentang gambaran umum per tahap, terperinci. Di bagian hasil, dijelaskan tentang kombinasi beberapa metode, sehingga hasil ditinjau dari beberapa aspek. Selanjutnya, discussion dan kesimpulan, dibahas keunggulan karya ilmiah itu.

 

Mengubah Sampah Menjadi Rupiah

Tergabung dengan tim dari UNDIP dan UNSRI, Dini merasa bersyukur karena idenya dan tim berhasil masuk 100 proyek sosial terbaik pada SIF (Singapore International Foundation).

Saat mengikuti seleksi SIF, Dini bersama tim mengangkat tema tentang proyek sosial yang sudah lama dijalani, yakni: inovasi bank sampah di desa Sukamerindu sebagai energi alternatif listrik dan peluang ekonominya.

            Tantangannya saat itu adalah banyak sekali yang mendaftar, mencapai ratusan aplikasi dari berbagai penjuru dunia. Alhamdulillah, berhasil menembus 100 proyek sosial terbaik yang diadakan oleh SIF.

Tentunya ini merupakan langkah baik, untuk memerkenalkan proyek sosial yang sudah dilaksanakan dan semoga bisa terus berkembang.

Proses pembuatan proyek sosial tersebut bukannya tanpa kendala. Komunikasi adalah kendala utama, mengingat tim berasal dari dua universitas yang berbeda, yaitu UNDIP dan UNSRI. Otomatis komunikasi tidak begitu optimal, meskipun telah mengefektifkan media sosial. Bagaimanapun juga, inilah bentuk kerjasama yang baik di kompetisi tingkat internasional.

 

“Bagiku, hidup atau kehidupan ini adalah: berbagi manfaat, inspirasi, dan kasih sayang.”

(Dini Fuadillah Sofyan)

 

Duri di Balik Mawar

Selalu ada duri di balik pesona sekuntum mawar. Maksudnya, tersembunyi berbagai tantangan di balik kenangan indah saat berada di luar negeri. Beragam problematika, seperti: finansial, hambatan bahasa, kejut budaya dialami Dini saat berada di UK dan Singapura.

            Untuk menyiasati problematika keuangan, gadis penyuka instrumen Jepang, Depapepe, ini berupaya hidup hemat. Caranya, dengan mencatat di note dan dapat menahan diri. Dini berusaha untuk tidak bernafsu membeli banyak barang, makanan, minuman, atau bermain di tempat wisata yang berbayar. Semua secukupnya saja. Dini lebih senang berfoto di tempat umum yang gratis daripada harus berbayar, terkecuali memang diagendakan, sehingga semua biaya ditanggung.

Menghadapi hambatan bahasa, Dini harus benar-benar mendengarkan dengan saksama, terkadang melihat kamus Oxford untuk memastikan artinya. Jika tidak mendengar atau mengetahui apa yang dibicarakan, tidak perlu malu untuk bertanya dengan rekan yang lebih paham. Karena ini adalah proses pembelajaran yang luar biasa untuk meningkatkan kemampuan berbahasa. Bahasa Inggris itu bahasa yang universal, sehingga tidak terlalu banyak kendala. Permasalahannya adalah mengenai dialek dan kosakata slang yang terkadang tidak dimengerti.

Mengatasi kejut budaya, Dini membaca-baca blog, menonton Youtube sebelum berangkat ke negara yang dituju. Cara ini efektif mengantisipasi shock culture. Meskipun memang tidak 100% dapat menerima budaya yang ada. Karena budaya di negeri orang jelaslah berbeda dengan budaya di Indonesia.

 

Muslimah Berprestasi

Prestasi Dini boleh dikatakan sungguh mengagumkan. Betapa tidak? Di usia yang muda-belia, ia telah mampu meraih berbagai penghargaan dan prestasi bergengsi berikut ini:

  1. 25 Best Paper tingkat International, Indonesian Scholar International Convention (ISIC) University of Oxford, UK.
  2. Finalis tingkat nasional, “Lembaga Penelitian Mahasiswa Teknik Kimia Indonesia”, Universitas Diponegoro.
  3. The Best Social Project, tingkat Nasional, Indonesian Movement Conference (IMC) Prasetiya Mulya Business School, Tangerang.
  4. 100 Best Social Project, tingkat International, Singapore International Foundation (SIF), Singapore.
  5. 10 riset terbaik, tingkat nasional, “Lomba Karya Penelitian Nasional” Universitas Tanjung Pura, West Borneo.
  6. “Mahasiswa Berprestasi juara kedua” tingkat fakultas - universitas
  7. Finalis “Duta Bahasa”, tingkat provinsi Sumatera Selatan
  8. Juara Kedua tingkat provinsi, “Kompetisi Kreativitas Program CSR” Ep Pertamina Prabumulih
  1. Juara Kedua tingkat Provinsi, Photo Social Competition, BEM University
  2. Juara Pertama tingkat Provinsi, “Kampoenk Jenius” English and Speech Competition.
  3. Finalis lomba penelitian LPMTKI (Lomba Penelitian Mahasiswa Teknik Kimia Indonesia), UNDIP, Tingkat Nasional.

Dari berbagai pencapaian di atas, yang paling berkesan bagi Dini adalah saat dinobatkan menjadi mahasiswa berprestasi fakultas teknik, meraih juara kedua KKPCSR tentang proyek sosial, dan menjadi 25 besar karya ilmiah terbaik di University of Oxford, Inggris.

Bagi Dini, menjadi mahasiswa berprestasi merupakan titik awal penghargaan saat semester IV. Sebelumnya, ia mengikuti berbagai kompetisi esai, riset, dll, namun belum ada yang berhasil. Jika berhasil tahap administrasi, untuk tahap presentasi terkadang waktunya tidak tepat. Lalu, saat seleksi kompetisi tersebut dan dipilih lima esai terbaik yang akan dipresentasikan, Dini mendapatkan posisi keenam. Sehingga ketika ia hampir menyerah dan mundur pada seleksi pemilihan mahasiswa berprestasi dan karya ilmiah, teman-teman menguatkan.

Alhamdulillah, Allah benar-benar adil dengan usaha yang selama ini kita lakukan. Akhirnya Dini terpilih menjadi mahasiswa berprestasi sekaligus meraih juara II karya tulis ilmiah Fakultas Teknik. Ini merupakan langkah awal yang mengesankan untuk pencapaian selanjutnya.

             KKPCSR (Kompetisi Kreativitas Program Corporate Social Responbility) diadakan oleh Teknik Pertambangan UNSRI dan PT.Pertamina EP Prabumulih. Ada empat tahap mengikuti seleksi tingkat provinsi. Seleksi itu meliputi: CV, formulir pertanyaan, esai, lalu social mapping ke desa yang telah ditentukan, proposal proyek sosial (ide) dan terakhir adalah presentasi.

Proyek sosial disini berupa Inovasi Bank Sampah di Desa Suka Merindu, Muara Enim, Sumatera Selatan. Seperti bank konvensional, hanya saja barang yang diantar ke bank sampah adalah sampah yang telah dipisah (antara organik dan anorganik). Masyarakat akan diberi buku tabungan, tetapi tidak mendapatkan uang sebagai feed back. Tersedia pupuk yang telah diolah di samping kantor bank sampah. Dan sampah anorganik, seperti plastik, botol, dan lainnya di jual ke para pengumpul barang bekas. Uang yang didapat akan disirkulasikan untuk gaji karyawan dan membeli barang-barang. Disediakan seragam, peralatan masak, alat tulis, dan lainnya. Jika mereka tidak mau menukarkan dengan pupuk, bisa ditukarkan dengan barang-barang tersebut.

Dini beserta tim berhasil mengedukasi masyarakat tentang dampak negatif (kesehatan, lingkungan) sampah jika dibakar secara langsung, ditumpuk, ditimbun tanpa treatment yang benar. Di masa mendatang, diharapkan dapat mengaplikasikan teknologi gasifikasi untuk pengolahan sampah.

            Hikmahnya, Dini memiliki keluarga baru di desa Sukamerindu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Dini banyak belajar dari masyarakat. Hingga saat ini, terjalin hubungan karib. Semoga ini bisa menjadi role model dan cara untuk berbagi kepada sesama.

             Acara ISIC tahun 2014 memotivasi Dini untuk terus bermimpi dan berkarya. Allah benar-benar memeluk mimpinya. Dini memiliki mimpi untuk ke benua biru itu. Terlebih setelah menonton film 99 Cahaya Langit Eropa, di bulan Desember 2013, keinginan Dini ke Eropa semakin menggebu-gebu. Ia terinspirasi oleh film itu. Ia ingin menyusuri jejak sejarah Islam yang tersisa di Eropa.

            Sebelum menginjakkan kaki di Inggris, sebenarnya Dini bercita-cita menempuh S2 di Jerman. Tekadnya yang membara membuatnya semakin rajin mencari informasi dan berita tentang universitas, kehidupan, perusahaan, teknologi yang ada di Jerman. Dini juga bersemangat memelajari bahasa Jerman, meskipun hanya via kamus online, conversation, chit-chat dengan teman-teman, secara ortodidak.

Rupanya Allah berkehendak lain. Dini mendapatkan kesempatan mengunjungi University of Oxford di Inggris. Inilah salah satu universitas tertua sekaligus terbaik di dunia. Alhamdulillah.

“Jangan pernah menyerah. Apapun yang terjadi jika memang jalanmu benar dan tidak merugikan orang lain. Allah selalu punya rencana terbaik dan sempurna, ketika kita terus berusaha dan berkarya. Allah benar-benar memeluk mimpi saya selama ini.”

Tawangmangu, Surganya Indonesia

Di waktu luang, dara penyuka pempek, Bika Ambon, makanan tradisional, jus nangka, susu, air putih ini masih meluangkan waktu untuk membaca buku. Beberapa buku bacaan yang menjadi favoritnya antara lain: Sang Pemimpi (Andrea Hirata-Inspirasi), Hujan Matahari (Kurniawan Gunadi, Cerita & Prosa), ja(t)uh (Azhar Nurun Ala, Prosa dan Cerita), Ketika Cinta Bertasbih (Kang Abik, Cinta).

Selain membaca, perempuan penyuka warna kuning dan ungu ini juga menggemari menulis, berdiskusi, browsing, sebagai pengisi waktu luangnya.

Dini juga sangat suka jalan-jalan (travelling). Rata-rata hampir semua kota di Indonesia, pernah dikunjunginya, kecuali Indonesia bagian Timur (Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dll) dan Aceh.

Yang paling berkesan bagi Dini adalah Desa Pancot, Tawangmangu, Jawa Tengah. Ceritanya, saat itu Dini mengikuti acara homestay dari agenda temu nasional, penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara tingkat Nasional (7 Kampus : UI, ITB, UNPAD, IPB, UNS, UGM dan UNSRI). Dini dan semua peserta dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok dari berbagai kampus, latar belakang, jurusan, dll. Tawangmangu memang desa yang kaya akan sumber daya alam, termasuk tanaman obat yang berlimpah.

Suatu malam saat pertama kali bercengkerama dengan keluarga baru. Dini dan rekan banyak bercerita tentang pengalaman saat teman UGM sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata) di NTT, dan cerita yang lainnya.

Lalu, pemilik rumah menceritakan tanamannya yang kadang tidak tumbuh secara optimal, kerdil, terdapat penyakit di bagian akar, dan lainnya. Mengingat pernah belajar dan terjun langsung di bidang pertanian, Dini sedikit mengetahui hal itu. Sang pemilik rumah begitu antusias mendengarkan cerita Dini, begitu pula teman-teman dari berbagai kampus. Keesokan harinya, Dini dipanggil oleh keluarga lain untuk menjelaskan solusi dari berbagai permasalahan tentang tanaman di desa tersebut. Dini mencoba mengeksplor ilmu yang didapatnya saat belajar di Jurusan Ilmu Tanah dan pengalaman proyek sosial.

Masyarakat desa begitu antusias, bahkan teman-teman dari berbagai kampus, khususnya IPB begitu tertarik dengan proyek sosial. Kala itu Dini sangat bahagia. Ilmu yang diperolehnya bermanfaat dan dapat dibagikan kepada sesama.

Dini belajar banyak hal. Bagaimana berkomunikasi dengan masyarakat umum. Penyampaian dengan bahasa ringan. Mendapatkan sahabat dan keluarga baru. Hingga kini, kekeluargaan dan persahabatan itu masih terjalin erat.

"Saya benar-benar mencintai perjalanan. Apalagi di daerah terpencil yang sangat sulit akses pendidikan, penyampaian informasi, ketidakmerataan ekonomi dan hal-hal lainnya. Saya bersyukur mendapatkan arti kehidupan yang sesungguhnya." ujarnya.

Perempuan Berhati Emas

Dini adalah perempuan berhati emas. Betapa tidak, ia memiliki niat mulia untuk untuk membangun sebuah foundation di bidang sosial.

Dini memiliki kecintaan mengunjungi suatu desa di Indonesia. Dini juga bermimpi tinggal di banyak desa dan bisa berbagi manfaat. Masyarakat desa dan kota memiliki kondisi yang berbeda. Di pedesaan, informasi tidak se-massive saat berada di kota. Sehingga mereka memerlukan edukasi yang informatif dan benar. Mereka berhak berkembang dan maju.

            Dini bertekad membangun foundation di bidang sosial. Ia ingin berbagi manfaat kepada sesama. Apalagi selama ini ia pernah mendapatkan pembelajaran hidup, ilmu, keberkahan, rezeki, keluarga, dan berbagai hal lain yang tak terhitung. Dini merasa seolah berhutang budi dengan siapapun yang sudah membantu. Dini sangat bahagia ketika dekat dengan banyak orang yang selalu menyayanginya, terutama masyarakat pedesaan. Hatinya lembut, mudah tersentuh, terinspirasi ketika dekat dengan mereka. Menurutnya, bahagia itu ketika bersama mereka.

 "Sukses adalah proses ketika kita berhasil mengalahkan diri dan tidak pernah berhenti melangkah."

Dini Fuadillah Sofyan

Rahasia Sukses

Dara sulung dari empat bersaudara ini memiliki rahasia sukses yang beragam. Misalnya: doa orangtua dan bude, semangat dari mereka, jangan malu untuk belajar (menyerap ilmu) dari siapapun dan dimanapun.

Selain itu, keluar dari comfort zone. Maksudnya adalah bagaimana cara kita untuk terus berimprovisasi di banyak bidang. Tidak melulu mengenai satu hal, tetapi multitasking.

Rahasia sukses lainnya adalah selalu bermimpi, lalu menuliskannya. Ia juga sering menceritakan mimpi-mimpinya ke banyak orang. Ia ingin mendapatkan semangat dan doa (baik secara langsung maupun tidak langsung) dari mereka.

Dini mencoba di setiap kesempatan untuk merepresentasikan diri dengan kemampuan terbaik. Agar orang mengingat kita, ketika ada event, rekomendasi proyek, dan lainnya. Sehingga ia bisa mendapatkan banyak link dan informasi dari teman-teman. Rahasia sukses lainnya, yaitu: jangan takut gagal, memiliki prinsip hidup, usaha dan Allah akan memudahkan segalanya.

Hambatan terbesar di dalam meraih kesuksesan adalah melawan rasa malas dan rasa bosan yang terkadang datang dalam proses meraih kesuksesan. Pernyataan bahwa musuh terbesar pada manusia adalah diri sendiri itu benar adanya. Ketika diri sendiri sudah kehilangan semangat, maka akan sangat sulit untuk melangkah.

Di balik orang sukses, tentunya ada banyak sekali orang penting yang mendukung. Bagi Dini, orang tua, bude, dan orang-orang yang telah membantu dan meninspirasi selama ini (guru, dosen, teman, sahabat, keluarga, orang-orang yang pernah ditemui dan mengenalnya). Mereka adalah orang yang mengerti dan mengetahui apa passion Dini dan terus mendoakan setiap langkah yang dilakukan.

            Kontribusi mereka terhadap kesuksesan Dini adalah doa, materi, semangat hidup, pembelajaran hidup, pengertian, dan masih banyak lainnya. Dini menyebutnya sebagai pengorbanan. Setiap kontribusi yang mereka lakukan adalah pembelajaran hidup untuk terus bersemangat sukses dan menjadi manusia yang tidak sia-sia hidup di dunia ini. Mereka adalah inspirasi hidup.

            Dini merasa amat beruntung memiliki banyak sekali guru, mentor, tutor, pengajar yang inspiratif nan amat berkesan dan berpengaruh di dalam kehidupannya. Mereka itu antara lain: ibu Susi (Wali Kelas 3 SDN Setia Darma 01 Tambun-Bekasi), bunda Dahlia, Ibu Saptawati (Guru dan Kepala Sekolah saat SMPIT Tashfia Boarding School), ibu Jamilah (Guru Kimia di kelas XII SMAN 1 Lubuklinggau) , Prof. Djoni Bustan, Pak David Bahrin, M.T., Ibu Dr.Susila Arita (Dosen, mentor dan ketua Jurusan Teknik Kimia UNSRI), Ferry Anggoro, P.hD, Hardiansyah, S.P., dr. Dito Anurogo (S-2, peneliti dan tutor pada saat NWI, mentor di Beasiswa Aktivis Nusantara DD dan mentor di Student Volunteer I4).

 “Rahasia sukses saya adalah BOSS (Bersikap Optimis Senantiasa Sukses).”

Dini Fuadillah Sofyan

 

Tips Mengefektifkan Waktu

Dini punya cara tersendiri untuk memanajemen waktu. Ia suka mencatat schedule atau note apa saja yang akan dilakukan. Semuanya sudah dijadwalkan. Ia juga mengaplikasikan empat diagram yang didapat ketika berorganisasi. Bahwa ada hal-hal pilihan dalam hidup ini, yaitu: lebih mendesak, lebih penting, kurang penting, dan kurang mendesak. Ketika mengaplikasikan manajemen waktu seperti itu, ia tidak lupa.

Time is sword. Ketika kamu melewatkan, maka waktu yang akan menghunusmu. Prinsip tersebut hendaklah dilakukan berkesinambungan.

"Successfull people aren’t gifted, they just work hard then succeed on purpose. Always be focus and work hard is the key of success and believe in God."

(Dini Fuadillah Sofyan)

 

Cinta, Sumber Harmonisasi

Gadis bergolongan darah O ini juga punya resep cespleng untuk menyeimbangkan dan mengharmoniskan antara studi, organisasi, hobi, dengan keluarga.

Muslimah yang pernah mengikuti kursus bahasa Inggris di Kampoenk Jenius di Inderalaya, Sumatera Selatan tahun 2010 ini memiliki rasa cinta dan kasih sayang kepada sesama. Mencintai apa yang dilakukan, pengembangan minat dan bakat sesuai passion. Resep ini hampir dimiliki oleh semua orang. Karena jika dijalani, semua terasa lebih ringan dan hubungan keseluruhannya akan seimbang dan harmonis.

"Giving is sharing, sharing is caring, caring is loving."

(Dini Fuadillah Sofyan)

 

Nasihat untuk Generasi Muda

Jika memiliki mimpi, jangan buru-buru untuk menguburnya. Coba bayangkan terlebih dahulu, indah pasti. Setelah berimajinasi, maka jangan takut untuk menulisnya di sebuah kertas atau karton, lalu pajang.

Mari bersemangat untuk menaklukkan semua mimpi. Meskipun awalnya tidak tahu bagaimana caranya. Biarlah Allah yang membuat skenario sempurna untuk kehidupan kita. Kita hanya perlu berusaha melebihi batas yang ada.

Awalnya mimpi itu seperti tidak mungkin atau tidak terlihat tanda-tandanya. Tapi lama-kelamaan, biar Allah yang menunjukkan keajaibannya.

Para generasi muda, pasti ingat bagaimana Arai (Sang Pemimpi) memberikan mantra terbaik sepanjang masa, yang berisi, “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu”. Jangan takut! Biarkanlah mimpi yang takluk olehmu.

Jalanilah apa yang kamu suka dan cintai. Cari dan jelajahi dimana passion kalian. Jika sudah menemukan, kembangkan dan terus berimprovisasi. Orang sukses memiliki cerita dan perjuangan masing-masing. Menginspirasi antarsesama lalu bersinergi dengan banyak latar belakang yang berbeda. Semoga rasa optimis untuk menjadi lebih baik bisa menular ke seluruh generasi muda Indonesia.

Visi Misi nan Mulia

Perempuan yang pernah mengikuti kursus Aspen Hysis (program komputer untuk industri) di LPMIK Palembang tahun 2012 ini memiliki rencana jangka pendek dan panjang. Ia ingin mengembangkan diri dengan bekerja di perusahaan atau industri. Setelah memiliki beberapa pengalaman, ia ingin menjadi konsultan.

Jika diberi kesempatan untuk melanjutkan S2 di luar negeri, maka ia bersedia. Mengembangkan diri di bidang bisnis, technopreneur (terkait dengan usaha dan teknologi di bidang energi/nano dan lainnya). Ia ingin membangun foundation dan berkeliling Indonesia (khususnya desa terpencil dan perbatasan) serta dunia.

Dini merasa perlu banyak belajar mengenai kualitas diri, ilmu pengetahuan, skill berbahasa, dll. Dengan cara melebarkan dan mengoptimalkan neworking yang telah dan akan dimilikinya, sehingga dapat terus berkarya membangun Indonesia.

Strategi Memajukan Indonesia

Putri sulung pasangan Sofyan Nurdin dan Helendawati ini memiliki blue print efektif untuk memajukan bangsa Indonesia.

Strategi memajukan bangsa dengan pengembangan teknologi diiringi sumber daya manusia yang berkualitas, berkarakter, bermoral, dan punya rasa optimisme yang baik. Permasalahan saat ini adalah minimnya kepercayaan pemerintah terhadap hasil karya anak bangsa. Sehingga tidak jarang para ilmuwan, penemu, dan lainnya menetap di negara lain yang lebih mau menampung serta mengimplementasikan teknologi atau karya tersebut.

Di samping itu, para pemuda harus pantang menyerah dan optimis dengan keadaan bangsa seperti ini. Dini merasa yakin, kolaborasi yang baik akan menjadikan output yang luar biasa. Semua aspek terus membenahi diri demi kemajuan bangsa. (Dito Anurogo)

 

Disclaimer: tidak ada conflict of interest di dalam proses wawancara dan kepenulisan kisah inspiratif ini.

  • view 417