Yuda Turana, Pakar Neurologi nan Bersahaja

Dito Anurogo
Karya Dito Anurogo Kategori Tokoh
dipublikasikan 17 Juli 2016
Yuda Turana, Pakar Neurologi nan Bersahaja

 Yuda Turana, Pakar Neurologi nan Bersahaja

Oleh Dito Anurogo

 

"Berusahalah membantu setiap orang dalam setiap persoalan. Seandainya kita tidak bisa membantu apa-apa, lebih baik tidak berkomentar negatif."

(Dr. Dokter Yuda Turana, SpS)

 

Yuda Turana, doktor di bidang Alzheimer, dokter spesialis saraf yang buku-bukunya telah diterbitkan oleh Gramedia, pernah bergabung menjadi tim WHO dan diundang rapat di Geneva. Beliau aktif melakukan berbagai penelitian. Dua diantaranya membuka cakrawala baru di dunia neurologi.

 

            Pertama, disertasinya berjudul Enhancing Diagnostic Accuracy of aMCI in the Elderly: Combination of Olfactory Test, Pupillary Response Test, BDNF Plasma Level, and APOE Genotype di tahun 2014. Ide disertasi ini bermula dari neurotransmiter asetilkolin, yang berperan penting pada fungsi kognitif di otak, terdapat juga pada saraf parasimpatis untuk fungsi otonom pada respons pupil. Sehingga berkurangnya neurotransmiter asetilkolin di otak dapat digambarkan melalui respons pupil di mata. Data penelitian menunjukkan bahwa fungsi olfaktori menurun pertama kali dibandingkan dengan fungsi kognitif pada proses degeneratif, sehingga dapat menjadi pemeriksaan dini adanya gangguan kognitif pada proses degeneratif penyakit Alzheimer. Kedua pemeriksaan ini dapat dikombinasikan untuk pemeriksaan fase prademensia ataupun proses degeneratif, sehingga menjadi lebih spesifik

            Kedua, publikasinya bersama tim berjudul Nursing Home Research: The First International Association of Gerontology and Geriatrics (IAGG) Research Conference tahun 2014. Riset ini dilakukan di Indonesia selama setahun. Cukup menyita waktu, tenaga, dan dana, karena merupakan penelitian intervensi gabungan antara senam vitalitas otak dan edukasi kesehatan pada kelompok lansia. Yuda banyak belajar dari Prof. Yvonne di puslitkes Atma Jaya tentang bagaimana mengelola penelitian di lapangan. Hasilnya menunjukkan senam vitalitas otak dan edukasi kesehatan bermanfaat pada fungsi kognitif. Senam vitalitas otak adalah senam yang dikreasikan oleh Prof Sumarmo dan dr Adre Mayza, telah diaplikasikan di beberapa daerah di Indonesia oleh Kemenkes. Senam ini terbukti secara EBM (Evidence Based Medicine) sangat bermanfaat untuk memerbaiki fungsi kognitif dan meningkatkan kualitas hidup lansia.

Neurolog Padat Aktivitas

Yuda Turana, memiliki beragam aktivitas dan kesibukan yang luar biasa padat. Sehari-hari Yuda bertugas sebagai pengajar tetap  di FK UNIKA Atma Jaya, sekaligus sebagai staf peneliti di Puslitkes Atma Jaya. Yuda juga diberi amanah untuk menjadi ketua program studi pendidikan dokter di Atma Jaya. Terkadang Yuda mengikuti beberapa rapat yang dilakukan oleh Kemenkes, karena ia bagian dari tim ahli Kelompok Kerja Lanjut Usia (pokja lansia) Kemenkes. Biasanya Yuda setiap rabu atau selasa siang melakukan pertemuan atau rapat di Indonesian Society of Hypertension (InaSH). Hal itu dilakukannya mengingat dirinya selaku ketua InaSH. Beberapa bulan belakangan ini Yuda juga diberi amanah sebagai ketua tim teknis pengembangan kesehatan intelegensia berbasis siklus hidup dan tim WHO untuk dementia global observatory.

 

Menjadi Dokter Bukan Cita-cita

            Menjadi dokter ternyata bukanlah cita-cita Yuda di masa muda. Hingga SMA, Yuda menyukai bidang eksakta murni, contohnya Kimia. Saat itu, penyuka menu makanan tradisional Indonesia ini berminat menekuni teknik kimia. Jurusan teknik kimia saat itu hanya ada di ITB Bandung. Sedangkan di Universitas Indonesia (UI), jurusan yang tersedia adalah FMIPA KIMIA.

Saat itu Yuda berasumsi kalau berkuliah di UI, dirinya dapat pergi dan pulang (PP) dengan kereta api. Sehingga Yuda akhirnya memilih UI dan bukan ITB. Faktor biaya juga menjadi pertimbangan dirinya. Yuda menjatuhkan pilihan pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) dengan pertimbangan sederhana, yakni terpenting dirinya dapat berkuliah di negeri yang berbiaya lebih murah dibandingkan swasta.

Yuda mengakui meskipun pada awalnya saat duduk di bangku SMA dirinya  tidak terlalu menyukai pelajaran biologi, namun menyukai pelajaran fisika, kimia, dan matematika. Namun seiring berjalannya waktu, lambat laun dirinya menyukainya juga. Yuda memahami kalau dirinya sulit untuk belajar dan mengingat dengan baik sesuatu hal yang tidak disukainya.

Bersama Neurologi Menemukan Jatidiri

            Yuda mengakui tertarik menekuni neurologi, ilmu tentang penyakit urat saraf, karena saat itu otak dan saraf merupakan bidang yang belum tereksplorasi oleh sentuhan medis. Banyak hal yang belum tersingkap. Banyak misteri yang belum terungkap. Banyak problematika yang begitu rumit, sehingga Yuda merasa tertantang untuk menemukan solusinya.

            Saat berbicara tentang otak, Yuda berpikir kalau dirinya menguasai dan menekuni bidang ini, maka ia tentu mengenal lebih dalam tentang “dirinya”. Juga hakikat “humanisme” ternyata juga dapat dijumpai di otak. Hal itu memang amat menarik sekaligus sangat menantang. Passion inilah yang membuat Yuda seolah “menemukan kembali dunianya” di organ otak dan saraf. Persis saat ia sangat menyukai fisika dan kimia. Tentu dalam skala yang lebih rumit dan kompleks.

            Beruntung saat Yuda memutuskan untuk memilih profesi sebagai dokter spesialis saraf, pihak keluarga dan para sahabat sangat mendukung pilihannya. Yuda mengakui kalau ia memang dididik di dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Namun hal itulah yang terus menstimulasi dirinya untuk terus berpikir kreatif dan aplikatif hingga saat ini.

Kebijakan Berbasis Neurologi dan Neurosains

Di masa mendatang, bidang neurologi dan neurosains menjadi pondasi dasar pembangunan nasional, untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Keduanya merupakan dua hal yang saling melengkapi dan tak terpisahkan.

Jadi ke depannya, ketika setiap negara tidak lagi bisa mengandalkan sumber daya alam sebagai aset, maka akhirnya kualitas SDM yang harus ditingkatkan. Berbicara neurologi dan neurosains, bukan hanya berbicara di tingkat praktik dokter, namun juga di tingkat komunitas, hingga merumuskan kebijakan.

Di negara-negara maju, setiap kebijakan dan peraturan yang menyangkut hajat hidup orang banyak selalu dirumuskan berbasis riset neurosains dan kajian neurologi. Ironisnya, di Indonesia banyak kebijakan dirumuskan hanya berdasarkan administratif birokratif, tanpa ada basis keilmuannya.

Neurologi-Neurosains, Tantangan Tersendiri

Data menyebutkan bahwa penyebab nomor satu kematian dan kecacatan di Indonesia adalah stroke. Hal ini merupakan tantangan terbesar bagi neurologi dan neurosains. Bukan hanya perkara pengobatan di fase akut, melainkan juga bagaimana ilmu neurologi dan neurosains dapat dikembangkan sehingga menyentuh berbagai aspek promotif dan preventif di Indonesia.

Tantangan terbesar yang membuat neurologi dan neurosains semakin menarik untuk dieksporasi adalah banyak penyakit yang merupakan burden of disease belum ditemukan obat untuk pencegahan perburukan, misalnya saja demensia alzheimer ataupun parkinson. Diharapkan di masa mendatang, saat pemahaman tentang neurologi dan neurosains telah semakin membaik dan maju, maka akan banyak pula riset tentang otak dan penyakit degeneratif, hingga tingkat biologi molekuler dan genetika, bahkan berbasis teknologi –omics (genomik, transkriptomik, farmakogenomik, dsb).

Memori Masa Muda

Yuda Turana dibesarkan dari keluarga besar yang sederhana. Disebut keluarga besar karena orangtua Yuda memiliki enam orang anak. Mereka tinggal di lingkungan yang heterogen. Yuda kecil telah terbiasa mandiri. Dirinya juga dididik untuk bekerja keras. Di tengah-tengah kesederhanaan dan keterbatasan, selalu lahir beragam kreativitas.

Yuda selalu mengingat masa-masa kecil dimana kehidupan saat itu begitu menempa hingga membentuk karakter. Ia masih ingat bagaimana cara membuat raket dari tripleks untuk bermain badminton. Memorinya juga masih merekam bagaimana ia mampu membuat kolam ikan sendiri, sehingga membuat kondisi rumah berantakan.

Yuda kecil telah belajar untuk hemat dan suka menabung. Ia menabung untuk membeli akuarium kecil. Perilaku hemat ditunjukkan Yuda dengan berkata tegas, menolak pergi ke Dufan bersama teman-teman SMPnya. Alasannya sederhana, biayanya mahal. 

Kehidupannya di masa muda telah membentuk karakter dan kreativitas Yuda di masa dewasa. Sekarang Yuda lebih dapat melihat berbagai fenomena kompleks dengan kacamata yang lebih sederhana.

Periode sejak lahir hingga tahun 1979

Yuda mengakui tidak begitu mengingat masa-masa ini. Namun ia mengakui dibesarkan dari keluarga sederhana yang penuh kasih sayang. Banyak nilai-nilai dasar yang diajarkan oleh orangtuanya, seperti: kejujuran, kerja keras, saling berbagi, nilai-nilai spiritual, interaksi sosial. Semua nilai tersebut senantiasa ditanamkan oleh orangtuanya hingga saat ini. Yuda juga masih mengingat guru-guru TKnya yang penuh dedikasi.

Periode 1979 – 1984

            Di periode ini, Yuda Turana mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar Budi Mulia, Bogor. Memorinya masih mengingat jelas saat duduk di kelas empat SD. Saat itu, Yuda tidak dapat mengali dan membagi, sehingga gurunya menghukumnya di kelas. Hukuman yang diberikan guru sebenarnya biasa saja, namun “merasa malu dianggap bodoh” masih membekas hingga kini.

Baginya, peristiwa itu memberinya pelajaran, bahwa tidak penting calistung saat awal SD, namun yang terpenting pembentukan karakter terlebih dahulu. Bayangkan bila karakternya belum terbentuk sama sekali saat itu, mungkin ia akan tetap menjadi anak yang terus saja ”merasa bodoh”. Uniknya, Yuda malah semakin bertambah kecintaannya kepada matematika. Bahkan ia pernah mewakili sekolah untuk lomba matematika. Hal itu diakuinya tidak akan terjadi bila dirinya tidak memiliki karakter dasar yang kuat, yaitu karakter yang dibentuk saat kelas empat SD.

Berkaca dari pengalamannya, Yuda merasa sangat setuju bila anak-anak tidak perlu dipaksakan untuk calistung (baca tulis hitung) saat awal-awal memasuki sekolah dasar. Hal terpenting bagi mereka adalah bermain, bermain, dan bermain. Karakter anak-anak dapat terbentuk di dalam keriangan dan kebebasan berpikir.

Periode 1984 – 1989

            Di periode ini, Yuda Turana bersekolah di SMP Budi Mulia, Bogor. Banyak kenangan indah di masa ini. Yuda kecil mampu mengingat semua nama teman, sahabat, dan guru-guru SMPnya. Ia memiliki banyak teman baik dan sahabat karib. Motivasi diri untuk belajar dan berprestasi ada di periode ini. Karakter guru yang menjadi teladan kehidupan dan kesederhaan juga dijumpai di masa ini. Kehidupan bersosialisasi dengan teman-teman sebaya ada di tahap ini. Yuda bersyukur mendapatkan banyak guru yang sangat berdedikasi. Cita-cita menjadi guru mulai bersemi di hati.

Periode 1989 – 1991

Di periode ini, Yuda Turana belajar di SMA Negeri I, Bogor. Hal menarik adalah ketika Yuda dipercaya menjadi bagian dari tim KIMIA untuk mewakili sekolah. Yuda teringat akan guru kimia yang penuh dedikasi mengajar. Ia diajari tentang Kimia di rumahnya nan sederhana. Beliau memberikan pelajaran tambahan tidak memeroleh honor berupa uang sepeserpun. Benar-benar pengorbanan tanpa pamrih. Dedikasi penuh cintakasih. Yuda menyadari bahwa menjadi guru adalah pengabdian.

Saat kelas tiga SMA, Yuda berfokus belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi UMPTN. Ujian penentu nasibnya. Bila lolos, ia menjadi mahasiswa di universitas negeri. Sebaliknya bila gagal, maka universitas swasta merupakan keniscayaan.

Kehidupan, Guru Terbaik

Semesta adalah sahabat kehidupan. Dan kehidupan adalah guru terbaik. Keduanya memberikan manusia berjuta pengalaman. Terkadang suka, terkadang duka. Begitu pula yang dialami Yuda Turana.

Dokter yang memfavoritkan warna biru ini hidup di keluarga besar yang sederhana. Kesederhanaan telah menempanya menjadi kreatif, komunikatif, dan adaptif.

Pengalamannya yang paling berkesan adalah saat mengabdikan diri dengan menjalani PTT di Puskesmas Ayotupas, Nusa Tenggara Timur tahun 1998 – 2000. Ceritanya, saat itu Yuda usai menolong seseorang yang luka parah terkena bacokan di suatu dusun. Saat pulang, ia harus menyeberangi sungai. Anehnya, tadinya sungai kering saat Yuda sampai di tengah. Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja datang banjir bandang menerjang. Hampir saja dirinya terbawa arus sungai. Ia berpikir saat itulah maut akan menjemput. Namun Tuhan berkehendak lain. Yuda bisa mencapai tepian jua. Rupanya Tuhan masih memberinya kesempatan untuk berkarya.

Banyak pelajaran yang diambil Yuda saat PTT. Belajar dari pengalaman, membaca kehidupan. Berada di kultur budaya yang berbeda, mengalami berjuta peristiwa, merasakan beragam himpitan dan penyesuaian, berupaya bertahan hidup di tengah keterbatasan, membuat Yuda menjadi lebih adaptif. Masa PTT itu masa penempaan dan pendewasaan. Mata hatinya kini kian terbuka. Indonesia bukan hanya Jakarta. Namun ada banyak daerah tertinggal yang berada nun jauh di sana. Tidak terjamah oleh dokter. Tidak punya fasilitas kesehatan yang memadai.

            Yuda pernah bertugas di RS Royal Taruma dan RS Pantai Indah Kapuk. Yuda mulai berpraktik di RS Pantai Indah Kapuk sejak tahun 2006. Banyak pengalaman didapatkannya disini, termasuk saat mendirikan klub geriatri sejak tahun 2009.

Saat bercerita tentang pengalamannya mengajar di Fakultas Kedokteran (FK) Atmajaya, Yuda mengatakan bahwa menjadi pendidik adalah cita-citanya sejak dahulu. Dengan mengajar, ia dapat mengembangkan keilmuan, membagikan pengalaman, serta sangat mendukung di dalam pengembangan diri, yakni berkesempatan untuk studi lanjut S3.

Yuda pernah menjadi salah satu dewan juri di dalam Lomba Menulis Tentang Alzheimer tahun 2015, yang diselenggarakan oleh Gramedia, OnTrackMedia Indonesia, dan Alzheimer Indonesia, didukung oleh Grand Challenges Canada. Menurutnya, ini adalah pengalaman yang sangat menarik. “Banyak penulis-penulis, pemikir-pemikir, dan tema-tema menarik yang diangkat,” jelasnya. Saat menjadi juri, ia juga dapat berkenalan dengan ahli dari berbagai bidang. Hal ini tentu memerkaya paradigma, terutama tentang Alzheimer.

Berorganisasi, Berbagi Esensi

Selain ahli di bidang neurologi, Yuda Turana juga aktif berorganisasi. Tahun 2011 – sekarang, ia menjadi pengurus pusat Perdossi. Tahun 2013 – sekarang, ia menjabat sebagai ketua kelompok studi lansia FK UNIKA Atmajaya. Tahun 2013, ia dipercaya menjadi ketua pelaksana INASH scientific meeting 2014. Tahun 2014 – sekarang, ia menjadi bagian dari tim ahli POKJA lansia Kemenkes RI. Tahun 2015 – sekarang, ia dipercaya sebagai ketua POKDI Neurogeriatri PP Perdossi sekaligus ketua umum Indonesian Society of Hypertension. Tahun 2016 – sekarang, ia diamanahi sebagai ketua tim teknis pengembangan kesehatan intelegensia berbasis siklus hidup, juga menjadi bagian dari tim WHO Global Dementia Observatory.

”Hampir semuanya ada kesan spesifik mendalam,” tutur Yuda saat ditanya organisasi manakah yang paling berkesan. “Pada setiap amanah yang diberikan, tersirat tanggung jawab yang harus dilaksanakan dan diemban,” lanjutnya. Misalnya, sebagai bagian dari tim pokja dan tim teknis Kemenkes RI, tentu beban tanggung jawab Yuda di level nasional. Demikian juga saat menjabat sebagai ketua umum InaSH, yang pengurusnya adalah para guru besar dan para senior dari spesialisasi yang berbeda. Hal itu merupakan tantangan tersendiri. Bagaimana merangkul semua pihak, untuk mencapai tujuan yang sama. Tujuan bersama yang bermanfaat bagi masyakarat.

“Yang terpenting, menjadi seorang pemimpin adalah bagaimana tetap rendah hati. Bukan untuk dilayani, namun justru menjadi “pelayan”, tuturnya lembut. Sebagai pemimpin, Yuda tentunya harus menyediakan lebih banyak waktu dan tenaga dibandingkan dengan yang lainnya.

Saat menjadi bagian dari tim WHO, Yuda amat terkesan, karena dapat menganalisis ala “helicopter view”, mengobservasi berbagai kebijakan dan memberikan tantangan saat mengoperasionalkannya di lapangan.

Yuda menuturkan tidak memiliki strategi leadership khusus di dalam berorganisasi. Ia mengatakan, menjadi pemimpin secara pribadi, bukanlah cita-cita. Saat berorganisasi yang terpenting adalah melakukan kerja sesuai target dan tanggung jawab. Menjadi pemimpin seperti seutas tali yang mengikat sapu lidi, mencoba menyatukan dan mengorganisasi. Bukan menjadi sebatang lidi yang mencuat sendiri dan tetap low profile. Memberi kesempatan kepada para anggota untuk berkembang. Menjadi pemimpin harus memberi keteladanan. Keteladanan itu ditularkan, bukan diajarkan.

Berbicara tentang strategi advokasi dan lobi yang efektif, Yuda menjelaskan bahwa yang terpenting adalah masuk kepada apa yang dibutuhkan dan harus mencari konsep mutualisme untuk kepentingan bersama. Advokasi harus mementingkan kepentingan yang lebih besar dan jelas aplikatif dalam jangka panjang.

Bahagianya Berproses Menjadi Neurolog

Selama menimba ilmu di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), banyak sekali pengalaman menarik yang dialami Yuda. Yang paling berkesan adalah berlimpahnya pasien selama masa pendidikan yang membuatnya tidak tidur malam. Para dosen senior yang inspiratif. Juga banyak keteladanan dari mereka, seperti: kedisiplinan, rendah hati, serta motivasi untuk terus belajar. Belajar banyak bahwa menjadi dokter adalah pengabdian. Uang memang diperlukan, namun bukan itu orientasinya.

            Di tahun-tahun awal selama berproses sebagai residen (PPDS) di bagian neurologi FK UI tahun 2001 – 2005, Yuda Turana pergi-pulang dengan  kereta ekonomi Bogor-Jakarta. Ia pergi di pagi hari, lalu pulang di sore hari. Hal itu dilakukan karena keterbatasan dana. ”Masa yang penuh perjuangan,” kenangnya.

            Saat PPDS, Yuda menjadi lebih terfokus untuk belajar pada bidang ilmu yang diminati. Menariknya, saat jaga malam di RSCM. Terkadang tidak ada kesempatan untuk beristirahat, sekadar memejamkan mata sejenak. Siklus terus berjalan, memaksa otak untuk terus berpikir. Bayangkan saja, otak “dipaksa” siaga dari menyiapkan laporan jaga, berlanjut ronde bangsal, kuliah, dsb. “Memorable banget,” kesannya.

Saat Yuda melanjutkan studi di Magister Kedokteran FKUI tahun 2003 – 2005, ia bersyukur karena dapat merefresh kembali ilmu statistik yang menjadi modal dasar penelitian.

Kemudian saat menjadi mahasiswa S3 (doktoral) program bidang kedokteran FKUI tahun 2009–2013, Yuda mendapatkan pelbagai keteladanan dari para promotor dan co-promotor. Ia respek kepada para guru besar yang terus membimbing dan menyediakan waktu, salah satunya Prof. Sarwono Waspadji. Dimata Yuda, profesor yang satu ini sangat membekas dalam ingatan karena beliau mengoreksi lembar per lembar disertasi dengan penuh ketekunan tanpa pamrih. Diakui Yuda, perjuangan menjadi doktor sangat sulit. Salah satunya ketika ia harus mengumpulkan para profesor dan penguji yang super sibuk, untuk satu hari ujian. Beruntung semua terlewati dengan baik.

Mendapatkan Penghargaan

            Yuda berhasil mendapatkan penghargaan IDI Sudjono Djuned Pusponegoro tahun 2003. Ceritanya, saat Yuda menjalani semester enam di bagian Patologi Anatomi (PA) FKUI, ia diberi kesempatan oleh Prof. Sudarto untuk melakukan riset. Prof. Sudarto adalah guru besar PA yang sangat dihormati Yuda. Beliau sangat  rendah hati. Yuda cukup dekat dengannya.

            Bagian PA FK UI memiliki laboratorium hewan coba, salah satunya mencit dengan adenocarsinoma mammae. Penelitian eksperimental dilakukan pada mencit dengan adenokarsinoma mammae, diberikan sediaan larutan segar gynura procumbens. Hasil penelitian ini dimuat di jurnal MKI, lalu berhasil mendapatkan penghargaan IDI Sudjono Djuned Pusponegoro tahun 2003.

Menulis, Berbagi Pengetahuan

            Yuda Turana sangat menyenangi dunia kepenulisan. Salah satu bukti nyata adalah situs kesehatan online miliknya, medikaholistik.com, sukses mendapatkan penghargaan sebagai situs terbaik kategori kesehatan selama dua tahun berturut-turut. Melalui website tersebut, Yuda berbagi ilmu pengetahuan dengan topik terkini dan menarik, sehingga banyak orang yang membaca tulisannya.

            Selain berbagi pengetahuan melalui media online, Yuda juga berbagi ilmu melalui buku. Kedua bukunya telah sukses diterbitkan oleh penerbit Gramedia. Buku pertama berjudul ”Stop Pikun di Usia Muda!” Buku kedua berjudul “Investasikan Otak Anda”. Kedua buku itu merupakan kumpulan artikel ilmiah populer, dibuat berdasarkan pengalaman Yuda selama menjadi pembicara, berdiskusi ilmiah, berinteraksi dengan pasien, dsb yang diramu menjadi buku. Perlu waktu dua tahun untuk menyelesaikan setiap buku, yang tebalnya 100 dan 190 halaman. Prosesnya lama mengingat banyak distraksi dari berbagai tugas dan kesibukan.

Sukses Itu Berproses

Sukses merupakan proses bukan akhir. Kesuksesan adalah saat seseorang mampu menjadi berarti bagi orang lain. Di dalam setiap kesuksesan yang diraih, selalu ada peran orang lain. Jadi, ingatlah akan semua orang, teman yang mendukung kesuksesan itu, sehingga kita tidak menjadi tinggi hati.

            Yuda mengungkapkan bahwa rahasia suksesnya antara lain: kerja keras, disiplin, bertanggung jawab, suka menolong, melakukan yang terbaik, rendah hati, menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, senantiasa membuat inovasi baru, tidak berkomentar negatif, menjadi bagian solusi dalam setiap masalah yang dihadapi. Berusahalah untuk berguna bagi sesama. Buatlah hidup ini menjadi lebih berarti. Cinta-kasih adalah memberi tanpa berharap menerima. Selalu mensyukuri apa yang ada. Dulu dan sekarang. Bermimpi setinggi langit namun kaki tetap menapak bumi.

Hambatan terbesar di dalam meraih kesuksesan adalah banyaknya distraksi, kesibukan, rutinitas kegiatan. Untuk sukses, seseorang itu harus fokus, kerja keras, dan sabar. Lebih banyak berpikir untuk how far bukan how fast.

Ada banyak orang penting di balik kesuksesan. Yuda mengakui hal itu. Menurutnya, orang-orang penting di dalam hidupnya adalah orangtua, istri, keluarga, dan para guru. Mereka berperan penting di dalam mendukung kesuksesannya.  

Yuda sangat mengidolakan ibunya sebagai sosok pahlawan. Dimatanya, ibu adalah seorang pekerja keras dan selalu berfokus untuk membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih.

Orangtua berperan membentuk karakter, mendukung di dalam segala kondisi. Istri memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berkreasi dan mendukung di dalam berkarier. “Banyak guru yang telah membina dan membentuk saya,” ujar Yuda. Seperti Prof. Sudarto, guru besar yang rendah hati. Prof. Teguh AS Ranakusuma, guru besar yang berjiwa pendidik. Dr. Djaja Surja Atmaja, guru dengan ide-ide cemerlang dalam riset.

Manajemen waktu adalah unsur penting di dalam kesuksesan. Yuda Turana memiliki resep khusus di dalam menyeimbangkan dan mengharmoniskan antara organisasi, hobi, karier atau kerja, dengan keluarga, yakni selalu memprioritaskan keluarga nomor satu, terutama di akhir pekan. Di waktu luang, Yuda selalu menyempatkan diri untuk menonton film dan makan bersama keluarga. Hobinya yang lain adalah jalan-jalan pagi, membaca, menonton video dan bioskop. Film yang disukainya adalah film action dan film horor.

“Pintar-pintar membagi waktu antara praktik dan berorganisasi. Membiasakan melakukan pekerjaan sesuai target waktu, dan tidak menunda pekerjaan sebisa mungkin,” ujar dokter yang menjadikan pantai dan pegunungan sebagai destinasi wisata favoritnya.

            Saat ditanya tentang harapan, Yuda menjelaskan bahwa harapannya saat ini kepada Tuhan YME adalah umur panjang, sehat, tetap berarti bagi keluarga dan sesama, dan mampu membesarkan anak-anak sampai mereka mandiri semua.

Nasihat untuk Generasi Muda

Bagi generasi muda yang berminat meneruskan atau mengikuti jejak langkahnya, terutama di bidang neurologi, Yuda berpesan, ”Apapun yang kalian pilih, lakukanlah yang terbaik, penuh disiplin. Fokuslah terhadap apa yang dicita-citakan dan nikmati prosesnya. Berusalah mencari teman sebanyak-banyaknya, buatlah jejaring seluas-luasnya. Apapun yang dicita-citakan berpikirlah untuk kebaikan sesama, maka segala jalan yang Anda lakukan akan dilancarkanNya.”

Visi – Misi di Masa Depan

            Yuda adalah neurolog yang visioner. Ia memiliki visi membuat suatu centre neurosains yang berdaya saing di tingkat internasional. Tentu saja ditunjang dengan beragam riset dan publikasinya. Untuk mencapai hal itu, diperlukan kolaborasi dengan berbagai centre serupa di luar negeri.

            Dalam waktu dekat, Yuda ingin sekali segera merealisasikan berdirinya Atma Jaya Neuroscience Center, suatu pusat tentang penelitian otak, khususnya penyakit degeneratif otak. Selain itu, obsesi terbesar lainnya saat ini adalah membesarkan anak-anak menjadi pribadi yang berkarakter dan mandiri.

Terkait kemajuan bangsa Indonesia, Yuda memiliki strategi efektif di dalam memajukan bangsa ini. Misalnya, memerkuat SDM dengan cara membangun  karakter bangsa, pendidikan dasar sebagai fondasi dasar penguatan karakter. Membudayakan disiplin, kerja keras, jujur, berpikir kreatif, dan menghargai sesama. Melalui sektor kesehatan dan pendidikan semuanya difasilitasi oleh negara. (Dito Anurogo)

Disclaimer: tidak ada conflict of interest di dalam wawancara dan proses kepenulisan kisah inspiratif ini.

  • view 6 K