Anisah, Muslimah Sidoarjo Penggagas Kampung Halal

Dito Anurogo
Karya Dito Anurogo Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 08 Juli 2016
Anisah, Muslimah Sidoarjo Penggagas Kampung Halal

Anisah, Muslimah Sidoarjo Penggagas Kampung Halal

Oleh: Dito Anurogo

 Di usianya yang masih belia, Anisah Mahardiani berhasil merumuskan konsep “Kampung Halal” sebagai Pusat Turisme Halal di Indonesia. Mahasiswi Fakultas Farmasi UNAIR ini juga sukses mengembangkan Uremuno, produk herbal yang berpotensi imunomodulator.

Seiring meningkatnya permintaan produk halal, maka dalam rangka membumikan produk halal di kalangan masyarakat Indonesia, terobosan baru yang diusulkan gadis kelahiran Sidoarjo, 1 Oktober 1993 ini sungguh mulia. Ya, membangun “Kampung Halal”.

Kampung Halal ini dapat dijadikan sebagai pusat wisata produk halal dan pusat pendidikan terkait pengolahan berbagai produk halal. Sebagai pusat wisata produk halal menyediakan berbagai produk halal mulai dari makanan, obat-obatan, hingga kosmetika.

Selain itu, Kampung Halal sebagai pusat pendidikan menyediakan berbagai infrastruktur yang mensimulasikan proses pengolahan produk agar tetap halal. Dengan adanya Kampung Halal ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan wawasan masyarakat tentang pentingnya produk halal dalam kehidupan dan dapat mengaplikasikan produk halal di segala aspek kehidupan. Serta menginisiasi bertambahnya jumlah pengusaha yang memperhatikan kehalalan produk.

Uremuno adalah produk herbal yang berasal dari tanaman Urena lobata Linn yang berpotensi sebagai imunomodulator. Dengan teknologi nanopartikel, diharapkan dapat membuat sediaan lebih efektif dan lebih berkualitas daripada produk imunomodulator lainnya.

Muslimah Multitasking

Anisah memang muslimah tangguh. Dari wawancara mendalam, terungkap bahwa saat semester delapan belrangsung, di sela-sela kesibukannya mengerjakan skripsi, Anisah masih aktif menjadi relawan di klinik BSMI corps Farmasi UNAIR, menjadi anggota DPO Janur UKMKI UNAIR. Dan untuk mengembangkan potensi, Anisah masih sering mengikuti kompetisi menulis. Ia juga mulai menggarap buku kisah perjalanan mahasiswa farmasi.

Tugas skripsi dikerjakan bersama Gank Plasmodium di departemen Farmakognosi dan Fitokimia FF UNAIR. Gank Plasmodium adalah sebutan khusus untuk tim riset Antimalaria, dimana Anisah adalah salah satu anggotanya.

            Beberapa obsesi terbesar Anisah antara lain: menjadi wisudawan berprestasi Farmasi (2015), menjadi juara kompetisi Karya Tulis Ilmiah Internasional (2015), menembus jurnal Internasional Farmasi (2015), menjadi lulusan apoteker terbaik (2016), mendapat beasiswa studi S2 di Jepang (2016), menerbitkan minimal tiga  buku (2015), berkurban dan membuka tabungan haji (2016), hafal minimal 2 juz (2015), mengadakan pameran lukisan hasil karya ABK (2016). Beberapa mimpi itu telah menjadi kenyataan. 

Bermimpi Menjadi Penemu Obat

Anisah kecil ingin menjadi ilmuwan. Dirinya sangat tertarik dengan dunia sains, pendidikan, riset, dan teknologi. Awalnya, gadis yang juga akrab dipanggil ”Mahar” ini bercita-cita menjadi dokter spesialis penyakit dalam, namun ternyata Allah berkehendak lain. Ia yakin, rencana Allah adalah yang terbaik. Alhamdulillah, Allah menakdirkannya untuk menjadi bagian dari Farmasi UNAIR Surabaya.

Sejak saat itu, gadis bergolongan darah B ini bertekad untuk memaksimalkan potensi yang dimilikinya, yakni menjadi apoteker muslim yang menginspirasi. Memang sejak kecil, Anisah tertarik untuk mendalami dunia tanaman obat dan ingin menemukan obat baru untuk penyakit tropis yang belum teratasi hingga kini. Sehingga, Anisah bercita-cita untuk membuat obat-obatan halal dan produk kesehatan lainnya yang bersumber dari tanaman obat.

Sejatinya, cita-cita Anisah untuk menjadi dosen yang ahli di bidang farmasi adalah salah satu bekal untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Anisah ingin menjadi dosen yang bukan hanya sekadar mengajar dan membagikan ilmunya, melainkan juga ingin ”mendidik”, menciptakan generasi harapan bangsa yang luar biasa; yang bertanggung jawab, yang berakhlakul karimah. Singkatnya, motivasinya menjadi dosen farmasi adalah ingin mensholihkan yang cerdas dan mencerdaskan yang sholih.

Ketertarikan muslimah yang hobi menggambar, menulis, melukis, berdiskusi, silaturahmi di bidang farmasi bukan tanpa alasan. Ia mengatakan kalau farmasi itu unik dan begitu kompleks. Salah satu impian yang pernah Anisah tuliskan sejak SD adalah menemukan obat baru, mungkin sekarang ini adalah jawaban dari doanya di masa lalu.

Farmasi Itu Sangat Prospektif

Bungsu dari tiga bersaudara ini sangat bersyukur bisa menempuh pendidikan di bidang farmasi. Ternyata, farmasi memiliki prospek yang sangat bagus karena lulusan farmasi itu disiapkan untuk menempati banyak bidang. Nantinya, ahli farmasi dapat mengabdikan diri di rumah sakit, industri farmasi, menjadi akademisi, bekerja di BPOM, dinas kesehatan, LPPOM, BNN, menjadi auditor, dan masih banyak lagi.

Selain itu, sesuai dengan prinsip 9 stars pharmacist, maka farmasis juga bisa mengembangkan kemampuannya antara lain sebagai entrepreneur dan pemimpin yang handal. Khususnya di bidang kesehatan yang merupakan kebutuhan semua orang. Peran farmasis benar-benar sangat dibutuhkan untuk menciptakan kesehatan yang lebih baik dengan harapan dapt meningkatkan kualitas hidup orang banyak.

Keluarga Sumber Dukungan

Keluarga sangat mendukung Anisah untuk mewujudkan cita-citanya. Anisah sangat terbantu karena secara tidak langsung, sejak kecil sudah terbiasa dengan dunia farmasi. Memang semuanya tidak ada yang kebetulan. Bisa dibilang,  keluarga kecil Anisah adalah keluarga farmasi.

Sekadar diketahui, ibu Anisah pernah menjadi karyawan di PBF (pedagang Farmasi). Lalu, nama kakak pertama Anisah, Kusuma Anugrah, diambil dari gabungan nama apotek terbesar di Surabaya dan di Jayapura. Sedangkan kakak kedua Anisah, Nina Pristianti, yang juga lulusan Farmasi UNAIR, menginspirasi Anisah untuk terjun di bidang farmasi. Dan yang terakhir, kakak ipar Anisah juga lulusan Farmasi UNAIR. Sehingga Anisah banyak mendapat ”warisan” buku-buku tentang farmasi.

Serba Ingin Tahu

Anisah kecil memiliki sifat serba ingin tahu. Suka bertanya ini itu. Dan suka mengeksplorasi berbagai benda si sekitar. Hingga suatu ketika Anisah pernah iseng-iseng mencari tahu, di manakah keberadaan bumi? Lalu saat Anisah tahu dari media televisi, ”kita tinggal di atas bumi” maka Anisah segera menyiapkan alat untuk menggali tanah bagai mencari harta karun yang hilang. Menggalinya sedalam yang bisa dilakukan demi mencari bumi yang kata orang berbentuk bulat. Anisah terus menggali, tetapi tidak ketemu juga. Hingga akhirnya Anisah menemukan jawabannya. Nostalgia masa kecil yang menggelikan bila kenangan itu direka ulang.

Muslimah yang tinggal di Candipari RT 11 RW 05 Porong-Sidoarjo, Jawa Timur 61274 ini memiliki kesan tersendiri akan rumah dan tembok. Rumah adalah tempat eksplorasi Anisah. Tembok adalah media yang paling Anisah suka karena luas dan tinggi menjulang. Di situlah Anisah mencoba bereksperimen menggambar atau sekedar corat-coret tembok. Karakteristik khas anak-anak. Suatu ketika, Anisah sempat kena semprot karena seluruh tembok kotor gara-gara gambar yang acak-acakan. Orangtua Anisah mulai mengarahkan dan mengenalkan buku gambar kepada Anisah, tempat mencurahkan kreativitas tiada henti.

Meski belajar secara otodidak dan hasilnya seadanya, Anisah merasa puas dan bahagia dengan hasil karyanya. Ia selalu menikmati setiap arsiran dan garis yang menyatu di dalamnya. Meskipun hanya dirinya yang mampu mengetahui maknanya.

Anisah termasuk salah satu anak yang mengikuti program akselerasi. Namun bedanya, program akselerasi yang diikutinya itu terlalu dini. Anisah memaksakan diri untuk segera belajar di bangku SD, alias sampai saat ini Anisah belum pernah merasakan lulus program TK. Untunglah, Anisah bisa mengikuti pelajaran di bangku SD dengan baik.

Semasa SD, Anisah memiliki kebiasaan berangkat ke sekolah sepagi mungkin. Seusai sarapan, ia segera bergegas pamit pada ayah bunda untuk berangkat ke sekolah. Ada misi tersembunyi yang harus Anisah selesaikan. Anisah dengan teman sepermainan berlomba-lomba untuk membawakan setermos besar berisi nasi hangat milik ibu kantin. Anisah bersama teman-teman berjalan kaki dari rumah beliau ke sekolah dengan riang gembira walaupun dengan menenteng termos yang ukurannya sebesar badan mereka yang masih kelas 2 SD. Mereka merasa ibarat mendapat durian runtuh karena diberi uang jajan atau gratis makan siang dari hasil membantu ibu kantin.

Pada tahun 2003, Anisah sempat merasakan sebagai murid pindahan. Saat itu, ia bersekolah di kelas 5 SD. Di semester genap, ia resmi menjadi siswa di SDN Gelam II Candi-Sidoarjo tepatnya di kelas 5A. Teman-teman barunya di sana sangat baik. Lingkungan baru itu membuat Anisah semakin membuka wawasan dan memacu semangat untuk berkompetisi secara sehat.

Bu Sulistianah, atau yang akrab dipanggil Bu Ana, adalah guru yang mendampingi Anisah hingga akhir kelas 6 SD. Berkat dukungan dan bimbingan beliau, Anisah semakin bersemangat untuk menggali potensi diri. Tak pernah di sangka-sangka, sebagai murid baru, Anisah berhasil menduduki peringkat lima besar. Uniknya lagi, saat kelas 6 SD Allah memberikan kesempatan kepada Anisah untuk meraih peringkat pertama untuk semester 1 dan 2. Serta menjadi lulusan dengan danem terbaik se-SDN Gelam II kala itu. Semuanya tak lepas dari bimbingan orang tua Anisah, terutama ibu, yang selalu memiliki waktu untuk anak-anaknya di rumah.

Selepas masa seragam merah putih, pada tahun 2005, Allah memberi kesempatan untuk menjadi bagian dari keluarga besar SMPN 1 Sidoarjo (Spensada). Karena menjadi satu-satunya alumni SDN Gelam II yang diterima di sana, sejak awal Anisah berpikir untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Demi membahagiakan orang tua yang telah bersusah payah bekerja, juga demi mengharumkan nama sekolah.

Berenang Mengarungi Kehidupan

Masa ini merupakan periode yang begitu menempa. Banyak softskill yang menjadi penilaian pelajaran sekolah. Anisah yang belum terbiasa dengan jadwal sekolah yang begitu padat harus segera menyesuaikan diri dan berlatih untuk mengejar ketertinggalan. Hal yang tak terlupakan adalah ketika pertama kalinya mendapatkan pelajaran renang. Anisah senang berolahraga terutama lari dan senam lantai, tetapi tidak untuk yang satu ini. Karena kurikulum sekolah yang mewajibkan agar bisa memiliki kemampuan berenang, hal ini membuat Anisah mati-matian belajar aquatik hingga ujian renang menjelang. Orang tua pun berusaha memfasilitasi sebisa mungkin. Dan tak tanggung-tanggung, orang tua mendaftarkan ke klub renang tingkat atlet profesional. Waktu berlalu begitu cepat. Setiap sore Anisah berlatih renang, dan berlatih memendam rasa malu. Karena masih tingkat pemula, Anisah yang waktu itu kelas 7 SMP harus satu kelompok dengan anak-anak usia TK. Bahkan mereka yang masih mungil itu sangat jago renang dan beberapa kali menang di berbagai kejuaraan. Semua itu tidak menjadi masalah. Anisah harus menjalaninya, meskipun dengan memendam perasaan malu. Yang harus selalu diingat adalah tujuan utama, yakni: lulus ujian renang. Maka meskipun banyak rintangan menghadang, ia siap menerjang. Dalam kurun waktu hampir 2 bulan, Anisah sudah bisa berenang dengan beberapa macam gaya. Dan saat ujian renang tiba, akhirnya dapat melewatinya. Alhamdulillah, ia lulus ujian renang. Manisnya perjuangan terasa setelah pahitnya berjuang.

Anisah masih ingat pesan ibu, ”Beruntunglah kamu bisa menjadi salah satu di antara orang-orang terbaik dari perwakilan sekolahnya. Maka, berlajarnya sebaik-baiknya. Timbalah pengalaman sebanyak-banyaknya. Nikmatilah setiap proses. Dan biarkan Allah yang menilainya.” Itulah kata-kata yang Anisah pegang, sehingga Allah memberinya anugerah meraih nilai danem terbaik se-SMPN 1 Sidoarjo.

Masa Pencarian Jatidiri

Duh aduh enake-duh aduh senenge-jadi siswa SMAN1SDA

Itulah sepenggal kalimat dari lagu saat masa orientasi di SMA tercinta. Bersyukur sekali menjadi anggota keluarga SMAN 1 Sidoarjo ini. Lembaran baru di masa putih abu-abu adalah masa yang penuh kenangan. Masa SMA adalah masa pencarian jati diri, masa transisi, sebelum nantinya memasuki perguruan tinggi. Maka, salah satu untuk menjaga naik-turunnya hati adalah bergaul dengan kawan-kawan yang senantiasa saling mengingatkan diri pada Ilahi Rabbi. Yang saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Saat itulah, Anisah mulai berlatih untuk mengikuti organisasi, dan SKI SMAN 1 Sidoarjo menjadi tambatan hati. Banyak pengalaman yang Anisah dapatkan hingga akhirnya pada tahun 2009, Anisah diamanahi menjadi sekdep bagian Hubungan Masyarakat (Humas) SKI SMAN1SDA.

Jika dirunut dari awal sekolah, maka tiada kata yang cukup untuk menggambarkan kasih sayang Allah kepada Anisah. Alhamdulillah, di masa SMA, Anisah sempat meraih peringkat 1 di kelas 10, dan masih menjadi 5 besar di kelas 11 dan 12.

Berorganisasi Mendewasakan Diri

Anisah mengikuti banyak organisasi. Tujuannya untuk menempa sekaligus mendewasakan dirinya. Nah, dari kesekian organisasi yang pernah Anisah ikuti, maka yang paling memberikan kesan mendalam adalah ketika ia berkesempatan untuk menjadi anggota departemen Syiar Janur UKMKI UNAIR. Meski hanya setahun masa kepengurusan, ia mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang berharga. Meskipun beranggotakan kurang dari sepuluh orang,  namun saling bergotong-royong untuk mengorganisasi kegiatan untuk mensyiarkan Islam di seluruh penjuru UNAIR. Dari sinilah ia belajar menajamkan dan meluruskan niat sejak awal. Tentang semangat pengorbanan dan tekad besar agar selalu istiqomah di jalan Allah. Tentang perjuangan yang menghasilkan prestasi gemilang. Tentang airmata yang berbuah mata air kebahagiaan. Masih terekam jelas ketika kita berjuang, lalu datang gelombang ujian. Kesabaran-optimisme dan keyakinan diri untuk terus berjuang di jalanNya, telah melepaskan ketakutan-ketakutan duniawi, serta menyisakan kenangan terindah. Karena janji Allah itu selalu benar. “Bersama kesulitan, ada kemudahan.” Terpenting, yang menjadi kunci adalah selalu bersamaNya di setiap helaan nafas.

Menemukan Eksistensi Diri

Saat paling berkesan adalah masa orientasi mahasiswa Farmasi, atau nama bekennya ASPIRINT. Sejak mahasiswa baru, mahasiswa baru dibiasakan untuk berdisiplin, mengerjakan tugas secara tepat waktu, mengerjakan tugas kelompok, tugas individu, dan masih banyak lagi. Dengan detail tugas yang tak terduga, kami dilatih untuk bisa melakukan kerjasama dan membuat keputuan yang cepat dan tepat. Konsep ASPIRINT sangat apik,  tugas yang diberikan juga sangat mendidik, dan bertujuan baik. Karena hakikatnya setelah resmi menjadi mahasiswa farmasi, itulah yang akan digeluti sehari-hari. Tetapi, bukan berarti farmasi hanya berkutat pada tugas dan jurnal. Bidang farmasi lebih dari itu. Dalam sesi ini, Anisah juga dipertemukan dengan kawan-kawan yang kompak yang tergabung dalam kelompok Virustatika yang kemudian menjadi teman se-dosen wali, dan beberapa menjadi teman satu kelas.

Anisah menemukan eksistensi diri di farmasi yakni dimulai dari mengikuti kegiatan mentoring yang diadakan oleh DKI BEM Farmasi UNAIR. Kegiatan ini adalah kegiatan rutin yang membahas tentang kehidupan, berbagi kisah teladan, upgrade ilmu dan kapasitas diri, serta membentuk karakter diri untuk menjadi pemimpin yang baik. Nah, dari kegiatan ini Anisah berguru dari kakak-kakak dan teman-teman yang inspiratif. Dari forum kecil inilah Anisah tumbuh, berkembang, untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan dengan kawan-kawan seperjuangan. Forum itu adalah forum yang paling Anisah rindukan, di mana saat itu dirinya bisa berjumpa dengan kawan seperjuangan, tempat melepas lelah, recharge semangat, dan tempat untuk berkarya. Seringkali Anisah menyebutnya  ”Lingkaran Cinta”. Ya, sebuah wadah yang tercipta karena satu rasa, cinta karenaNya.

            Lalu saat menjalani KKN BBM-50 di kelurahan Kapas Madya Surabaya adalah penutup semester 6 yang menggemparkan. Maklum saja, jadwal kuliah semester 6 yang begitu padat, amanah oranisasi yang masih melekat ditambah dengan KKN BBM yang membahana adalah skenario yang begitu kompleks. Namun Alhamdulilllah, Anisah dipertemukan dengan kawan-kawan dari lintas jurusan yang sangat kooperatif sehingga dapat melaksanakan agenda multimanfaat sesuai bidang masing-masing. Meskipun KKN di daerah perkotaan cukup menguras tenaga dan pikiran, tetapi mereka dapat melewatinya dengan baik. Dengan semangat, canda-tawa kawan yang menghibur, KKN BBM ini sungguh berarti di hati kami. Terlebih ketika perpisahan dengan pihak kelurahan, anak penjaga kantor kelurahan yang masih seusia SD, tak rela melepas kepergian kami. Hingga ia menangis sejadi-jadinya. Sebenarnya tak tega melihatnya seperti itu. Semoga kelak, kami dipertemukan dalam waktu dan kesempatan yang lebih baik. Begitulah, dalam waktu sebulan, melalui KKN ini dapat menciptakan tali persaudaraan yang erat.

Lelah Membawa Hikmah

Dalam menyelesaikan tugas akhir, sudah sunnatullah mengalami manis pahitnya perjuangan. Dikejar deadline menulis proposal, harus menunda waktu untuk pulang kampung, harus berjam-jam di laboratorium menunggu hasil percobaan, atau bahkan harus mengulangi percobaan dari awal adalah sepenggal kisah yang pernah Anisah alami. Namun dari situ Anisah belajar banyak hal. Bila ingin menjadi orang yang sukses, mungkin itu hanyalah secuil aktivitas yang harus Anisah jalani. Terus mengobarkan semangat dalam hati dan meyakini bahwa, “Bila selesai mengerjakan suatu urusan, maka kerjakanlah urusan yang lain, dan berlelah-lelahlah hingga kelelahan itu lelah untuk mengejarmu, karena setelah itu engkau akan merasakan manisnya perjuangan,” adalah benar adanya. Anisah belajar banyak hal bahwa untuk menjadi seorang peneliti, kita harus berpikir jeli, mendetail, dan visioner. Dan dalam proses penelitian, kita harus memahami, menghayati, dan peka terhadap lingkungan sekitar agar kehadiran kita di dunia ini bisa dirasakan manfaatnya. Membawa perubahan yang lebih baik.

Muslimah Berjuta Prestasi

Pencapaian yang paling berkesan bagi Anisah adalah menjadi salah satu Student Volunteer (SV) I-4. Terasa begitu berkesan karena dapat mengenal dan berinterkasi dengan kawan-kawan yang inspiratif dari penjuru nusantara adalah kebahagiaan tersendiri. Terlebih lagi berkesempatan untuk mewawancarai ilmuwan Indonesia yang mendunia. Hal ini sejalan dengan impian Anisah sejak kecil, menjadi ilmuwan yang mendunia. SV dapat dijadikan wadah silatuarahim yang bisa saling bersinergi untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Pemenang pertama Mawapres Fakultas Farmasi UNAIR 2013

            Ajang mawapres rutin dilaksanakan setiap semester ganjil dan yang boleh mengikutinya minimal mahasiswa semester 3. Sebenarnya, Anisah ingin mengikuti ajang mawapres ini sejak semester awal. Segala berkas sudah dipersiapkan, namun yang menjadi kendala adalah kurangnya keberanian karena waktu itu seleksi diadakan di masa ujian. Hingga Anisah merelakannya untuk menundanya dan mengikuti ajang yang sama di tahun berikutnya. Dari situ Anisah belajar untuk memperbaiki diri dan memantaskan diri.

Hingga masa seleksi mawapres selanjutnya tiba, dan ternyata waktu seleksi juga bersamaan dengan ujian. Nekat saja, secara sembunyi-sembunyi Anisah mendaftarkan diri. Anisah merasa terpanggil untuk mengikuti ajang ini, sebagai pembuktian dalam berkompetisi. Dan juga sebagai visualisasi mimpi yang telah lama Anisah tuliskan di mind map kehidupan yang Anisah rencanakan. Anisah sadar bahwa dirinya bukanlah yang terbaik, IPK Anisah juga pas-pasan, padahal di farmasi sendiri banyak yang memiliki Indeks Prestasi 4. Namun, Anisah yakin bahwa menjadi mahasiswa berprestasi bukan hanya bercerita tentang IPK cemerlang, melainkan softskill juga menentukan.

Alhamdulillah, saat proses seleksi Anisah dapat melewati setiap tahapannya dengan baik. Allah telah memberi kelancaran dan kemudahan. Semua pertanyaan juri dapat dijawabnya dengan baik. Anisah selalu beranggapan bahwa yang Anisah ajak bicara adalah orangtua Anisah sendiri. Sehingga Anisah merasa lepas dan sangat rileks menjalaninya. Dan ketika bagian kemahasiswaan memberitahukan pengumumannya kepada Anisah melalui telepon, Anisah sungguh tidak menyangka. Sungguh Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?

Pemenang pertama kompetisi paper HASSASIN IPB Bogor 2014

Begitu juga ketika mengikuti kompetisi ini. HASSASIN (Halal is Scientific) adalah lomba karya tulis ilmiah al Quran (LKTA) yang diselenggarakan oleh Forum Bina Islam Fateta IPB. Lomba ini bertemakan tentang pengembangan halal baik dari segi pengembangan produk pangan, obat-obatan, kosmetika, dan cara membumikan halal di Indonesia. Anisah sangat tertarik dengan LKTA karena berbeda dengan LKTI pada umumnya. Hal ini dapat membuka wawasan tentang permasalahan Islam sesuai bidang keilmuwan yang digeluti. Terlebih lagi, pengembangan produk halal adalah salah satu bidang yang Anisah minati.

Sebenarnya Anisah sudah mengetahui lomba ini sejak tahun 2012. Lalu, di tahun 2013 Anisah mencoba mengikutinya hingga sampai pada 20 besar peserta yang lolos seleksi. Memang belum rezeki tim Anisah di tahun itu. Namun Anisah turut bahagia dan berbangga hati karena yang menjadi juara 1 di HASSASIN 2013 adalah kakak kelas Anisah dari Farmasi UNAIR. Semangat Anisah tak berhenti di situ. Anisah ingin memperjuangkan impian untuk kembali menjadi juara bertahan di ajang kompetisi HASSASIN selanjutnya.

Kemudian Anisah mengajak Afifatun Nisa dan Yuliani Indah Permatasari untuk bergabung dalam satu tim. Mereka sempat menemui kebuntuan ide karena mungkin terlalu bingung memilih ide yang pantas yang akan digagas dalam lomba. Maklum saja biasanya terlalu banyak ide, tetapi tidak segera dieksekusi, malah tidak akan mendapatkan hasil apa-apa.   Dengan kesibukan yang berbeda-beda, paper ini sempat terbengkalai dan rawan tidak jadi diikutsertakan. Karena sudah mendekati deadline, maka secara sembunyi-sembunyi lagi Anisah mendaftarkan tim dengan ide yang sejatinya sudah Anisah gagas sejak lama. Anisah berkeyakinan, insya Allah ide tersebut akan dipertimbangkan dengan matang oleh panitia penyelenggara. Bismillah.

Anisah tidak menyangka, beberapa hari kemudian panitia menghubungi kami bahwa abstraknya lolos seleksi. Dari situ Anisah meminta maaf dan memberitahukan kepada teman satu tim, bahwa tanpa sepengetahun mereka Anisah mendaftarkan diri dengan abstrak seadanya. Lalu, kami sepakat untuk memaksimalkan kesempatan emas ini. Dan setelah beberapa kali melakukan bimbingan karya tulis dengan Prof. Sugijanto, MS. Apt,. akhirnya selesai. Alhamdulillah, setelah menyiapkan diri untuk mengikuti kompetisi itu kurang lebih setahun sebelum acara, akhirnya di bulan Oktober 2014 Allah memberikan kesempatan untuk menjadi Juara 1 HASSASIN IPB.

Pemenang ketiga lomba kompetisi nasional IMF Universitas Airlangga

Lagi-lagi Anisah merasa bahwa dirinya adalah orang yang dipenuhi keberuntungan. Sungguh, Allah mendatangkan rizki yang tiada disangka-sangka arah datangnya. Seringkali Anisah merasakan kekuatan The power of kepepet. Semakin tergesa, maka akan keluar segala potensi karena kita dituntut untuk berpikir keras dalam menghasilkan suatu karya. Namun hal ini jangan dibiasakan.

Awalnya, Anisah dan rekan Anisah Ratna Nusandari, dan Uswatun Hasanah, lolos dalam 100 asbtrak terpilih. Kemudian lolos ke tahap semifinal setelah diumumkan lolos dalam 15 besar. Sungguh saat itu jarang sekali bisa bertemu, karena jadwal di semester genap sangatlah padat. Bayangkan saja,  selesai kuliah pukul 17.00 hampir setiap harinya. Beberapa kali berkomunikasi melalui media sosial dan sms untuk berbagi tugas. Dan H-2 jam menjelang technical meeting, tim baru selesai mengerjakan power point untuk presentasi. Dan saat technical meeting berlangsung, tim mereka adalah tim terakhir yang hadir ke sana. Sebenarnya agak sungkan, karena tim perwakilan tuan rumah datang terlambat. Namun, inilah yang menjadi motivasi bahwa saat presentasi berlangsung adalah ajang pembuktian untuk mengharumkan nama Universitas Airlangga.

Seusai technical meeting, mereka bergegas pulang ke kos dan mabit bersama untuk menyiapkan amunisi untuk lomba. Mereka saling bergantian dalam beristirahat, berlatih presentasi, berbagi tugas, dan berlatih menjawab pertanyaan. Esok adalah hari yang paling ditunggu-tunggu. Lomba ini begitu menarik karena tata cara penyampaian presentasi berbeda dari lomba KTI biasanya. Peraturan lomba sangat syar’i dan tidak terlepas dari esensi lomba yang menjiwai bidang keilmuwan para peserta. Beberapa presenter berlogat seperti para da’i. Cara membaca Alquran juga sangat dipertimbangkan, hingga pertanyaan para juri yang diluar ekspektasi. Juri memberikan pertanyaan dari hadis di kumpulan kitab yang beliau bawa. Bayangkan saja, ketika itu juri membawa lebih dari lima buku kumpulan hadis, Alquran terjemahan, yang semuanya tebal-tebal. Alhamdulillah, tim Anisah dapat menjawab semua pertanyaan meskipun dengan terbata-bata. Keesokan harinya adalah pengumuman lomba yang bersamaan dengan acara seminar. Di akhir acara, sungguh tak diduga sebelumnya, tim Anisah menjadi juara ketiga IMF. Dengan persiapan seadanya, Alhamdulillah, Allah masih memberi kesempatan. Hal ini tentunya menjadi pelajaran untuk Anisah, “Jika dengan persiapan yang minim saja bisa melewatinya, bagaimana dengan persiapan yang maksimal? Maka, maksimalkanlah.”

NEKAT, Rahasia Sukses

Jika ditanya tentang rahasia kesuksesannya, maka Anisah akan menjawab singkat: NEKAT. Kata itu merupakan akronim dari: Niatkan karena Allah, segeralah bErbenah dan mencoba, Kuatkan semangat dan bulatkan tekat, lalu perhatikan Apa yang Terjadi.

Kita harus yakin kepada Allah, bila itu adalah jalan kebaikan insya Allah, Allah akan membukakan jalan. Selalu mencoba untuk meluruskan niat agar impian yang kita rencanakan sejalan dengan rencana Allah. Melakukan aktivitas dengan penuh kesungguhan dan memegang teguh konsep “Barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan meneguhkan kedudukanmu.” Tak lekas putus asa karena sesungguhnya bila ada satu kesulitan, maka akan ada dua kemudahan. Bila ada ratusan alasan yang membuatmu bersedih, maka akan ada jutaan jawaban yang membuat diri kita berbahagia. Selalu bersyukur terhadap apa yang kita miliki. Dan ingat, saat kita mengikuti lomba atau apapun itu, maka yang menjadi visi adalah ingin menunjukkan bahwa kehadiran seorang muslim adalah membawa rahmat untuk semesta alam. Sehingga penting untuk mensosialisasikan ilmu dan pengalaman kepada sesama demi melanjutkan tugas yang belum selesai. Karena kesuksesan itu adalah saat kita berhasil membuat orang lain lebih sukses dari diri kita. Hal terpenting di dalam manajemen waktu adalah membuat jadwal agenda dan melaksanakan satu per satu urusan sesuai dengan prioritasnya.

“Jangan melupakan (untuk minta doa-dukungan dari) ibu. Beliau adalah jawaban dalam setiap doa. Juga mintalah doa dan dukungan dari para guru serta dan sahabat seperjuangan,” tutur Anisah. Ibu kandung, beliaulah orang yang sangat menginspirasi dan memotivasi Anisah. Sebagai orang tua, ia tidak pernah memaksa Anisah melakukan ini itu, tetapi beliau mengarahkan, meluruskan bila ada yang salah, dan mendidik dengan penuh keteladanan. Beliau tak hanya sebagai orang tua, tetapi juga sahabat untuk anak-anaknya.

Anisah juga mengungkapkan berbagai hambatan di dalam upaya meraih puncak kejayaan antara lain: ragu-ragu di dalam bertindak, takut terhadap hal yang tak beralasan. Banyak keinginan, tetapi tidak ada kemauan besar untuk mewujudkannya. Kurang fokus dalam memaksimalkan potensi. Kurangnya komitmen diri.

Guru-guru Kehidupan

Banyak sekali guru, mentor, tutor, serta sahabat yang berperan di dalam kehidupan Anisah sampai saat ini. Beberapa di antaranya: Suparti, S.Pd guru pertama sekaligus ibunda tercinta. Sulistianah, S.Pd, wali kelas Anisah di SDN Gelam 2. Beliau selalu memotivasi untuk terus melejitkan potensi, yang mampu memunculkan keberanian untuk terus berprestasi. Mariana, S.Pd. adalah muslimah nan anggun, guru bahasa Indonesia Anisah di SMPN 1 Sidoarjo. Sejak bertemu beliau, Anisah semakin cinta dengan dunia literasi dan sastra. Gatot Kitranggono, guru kesenian yang meginspirasi Anisah untuk berani memainkan warna dalam kanvas. Beliau adalah orang yang selalu mengapresiasi setiap hasil karya anak didiknya, bahkan tak segan-segan memberi nilai 100 untuk karya muridnya. Dari situlah, Anisah semakin bersemangat untuk menggambar dan melukis, serta menghasilkan hasta karya lainnya.

Alvina Hazizah Tamalia, teman sebangku SMA, sekaligus menjadi guru kehidupan Anisah. Gadis perantauan asal Madura ini banyak memberi inspirasi dan menularkan semangat perjuangan dalam menuntut ilmu. Saat ini ia sedang menempuh studi di Jerman mengambil jurusan elektro. Inilah salah satu alasan Anisah ingin studi ke Jerman, menunaikan janji yang telah dibuat bersama untuk bertemu di sana.

Halimah. Alhamdulillah, Allah menakdirkan Anisah untuk bertemu dengan muslimah asal Surabaya ini. Dalam naungan tarbiyah, mereka berdua dipertemukan. Beliau adalah coach pertama Anisah sejak menjejakkan kaki di kawah candradimuka kampus Airlangga. Dan masih banyak lagi guru-guru kehidupan yang telah menempa dan mendidik Anisah.

Berorganisasi Itu Belajar

Anisah menjadikan setiap aktivitas di dalam berorganisasi sebagai proses belajar. Belajar untuk memanagemen waktu,  menggali potensi para anggota sehingga dapat meberikan tugas sesuai kapasitasnya, belajar berdiplomasi dan melobi, belajar mengasah softskill, dan lain sebagainya.

Anisah sangat menikmati prosesnya, meskipun terlibat dalam kepanitiaan dan organisasi lumayan menyita waktu dan tenaga, ia meyakini bahwa hal itu adalah bekal persiapan untuk terjun di masyarakat kelak. Dalam berorganisasi harus bisa menjadi seorang pemimpin dan yang dipimpin. Maka, seseorang perlu belajar memantaskan diri untuk menjadi pemimpin. Dan meskipun hanya menjadi prajurit, maka prajurit pun harus memiliki kualitas diri seperti pemimpin. Jadi, apapun posisinya, seseorang harus menjalankan amanah semaksimal mungkin.

Berbicara tentang strategi advokasi dan lobi yang efektif, Anisah mengungkapkan perlunya mengenali terlebih dahulu latar belakang lawan bicara, dan menyampaikan keperluan dengan jujur, terbuka, dan berusaha meyakinkan bahwa yang kita lakukan akan bermanfaat untuk banyak pihak. 

Harmonisasi Karir-Keluarga

Seiring dengan jadwal kuliah dan organisasi yang lumayan padat, bagi Anisah  keluarga selalu menjadi perhatian penting. Sebisa mungkin Anisah menyempatkan untuk pulang ke rumah setiap dua minggu sekali, atau minimal bertukar kabar melalui telepon. Anisah menyadari bahwa komunikasi dengan orangtua sangatlah penting. Sebagai anak, tentu perlu memberikan kabar dan menceritakan kegiatan yang diikuti di kampus. Hal ini demi membangun kepercayaan orangtua. Dan juga sebagai cara efektif untuk memberitahukan bahwa kegiatan yang diikuti adalah kegiatan yang positif dan bermanfaat. Setelah doa dan restu orangtua didapat, maka dalam menyelesaikan studi akan lebih mudah. Tentunya orangtua bisa lebih bijak dalam menilai potensi masing-masing anaknya.

Nasihat untuk Generasi Muda

Anisah memiliki nasihat mulia untuk generasi muda. Kenali potensi diri. Luruskan niat. Fokuslah. Urusan hasil serahkan pada Allah, yang terpenting maksimalkan usaha. Yakinlah pada diri Anda sendiri, karena bila Anda tak yakin dengan kemampuan Anda, bagaimana orang lain yakin pada Anda? Tersenyumlah pada dunia, maka semesta pun akan tersenyum padamu.

Jadilah orang yang ahli di bidangnya, jangan setengah-setengah. Kita mungkin belum bisa menciptakan pusaran air yang besar dalam sekali waktu, tetapi kita bisa membuat pusaran-pusaran air kecil, lalu kita akan membuat pusaran air yang besar itu bersama-sama. Generasi muda Indonesia harus terus menciptakan inovasi dan kreativitas demi menciptakan kredibilitas dan mengindahkan nama Indonesia di mata dunia.

Visi – Misi Mulia

Anisah mengungkapkan, kalau di masa mendatang, dirinya ingin menjadi dosen dan peneliti. Ia akan berfokus menjalani riset dan studi S2/S3 di Jepang/Jerman. Setelah lulus, Anisah akan kembali membangun Indonesia. Bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menjadikan pendidikan perguruan tinggi sebagai salah satu tolak ukur kebermanfaatan ilmu pengetahuan.

Anisah juga bercita-cita ingin membangun Halal Logistic Indonesia. Menurutnya, di Indonesia belum ada sentralisasi logistik halal yang menyediakan bahan baku atau produk jadi yang sudah terjamin kehalalannya. Seiring dengan adanya AFTA, perhatian tentang halal sudah menjadi kebutuhan bersama. Sehingga perlu kerjasama dengan pihak pemerintah (BPOM, LPPOM, dsb), juga kerjasama dengan pihak logistik halal di luar negeri. Dari sini Anisah menyadari bahwa kapasitas ilmu dan keahlian tentang farmasi juga harus semakin ditingkatkan. Selain itu, Anisah juga terobsesi untuk membangun sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Hal ini akan menjadi salah satu ladang amal sebagai bekal di akhirat nantinya. (Dito Anurogo)

Disclaimer: tidak ada conflict of interest di dalam penulisan kisah inspiratif ini.