Nara, Pelita dari Raja Ampat

Dito Anurogo
Karya Dito Anurogo Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 03 Juli 2016
Nara, Pelita dari Raja Ampat

Nara, Pelita dari Raja Ampat

Oleh: Dito Anurogo

 

”Guru bak pelita, penerang dalam gulita, jasamu tiada tara.”

Penggalan lagu di atas tepat untuk melukiskan Naranda Anggraeni Nova Ayu Sutopo. Ibu guru Nara, begitulah sosok inspiratif kelahiran Surabaya, 28 Juni 1991 ini disapa oleh anak-anak didiknya. Di kampung Saonek, Raja Ampat, Nara berbagi, menginspirasi, mendidik dilandasi hati penuh cintakasih. Ia menjadi pelita bagi sesama.  

 

Menjadi guru bukan pilihan Nara kecil. Putri pertama dari dua bersaudara ternyata di masa lalu bermimpi menjadi pilot. Saat itu memang sedang hangat-hangatnya berita tentang peluncuran satelit Palapa. Ditambah lagi, orangtua sering membacakan kisah tentang Neil Amstrong.

Mewujudkan cita-cita menjadi guru adalah tantangan tersendiri bagi Nara. Pernah ada temannya yang sempat meragukan kemampuannya. Maksudnya, kemampuan sejauh mana dirinya dapat menggapai anak-anak Indonesia, di luar pulau Jawa. Juga kemampuan untuk mengajar dengan caranya sendiri. Semua keraguan itu dibuktikan Nara dengan mengikuti program SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal).

            Nara mengajarkan PPKn di SMP Negeri 1 Saonek karena sesuai jurusan yang diambil, yaitu Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Adapun pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) diampunya karena diminta kepala sekolah.

Bagi Nara, pengajaran PPKn ini penting, mengingat PPKn merupakan dasar yang harus ditanamkan oleh para siswa untuk menjadi warga negara yang baik. PPKn juga penting untuk masa depan negara kita, agar calon-calon pemimpin bangsa ini memiliki dasar pengetahuan tentang kewarganegaraan yang baik.

Mengajarkan TIK bagi Nara memiliki tantangan tersendiri. Dirinya harus mengajarkan bidang yang memang sudah menjadi hobinya. Tetapi di sisi lain, sarana dan prasarana yang ada masih terbatas. Jadilah pengajaran TIK diberikan dengan praktik langsung, menggunakan semua fasilitas pribadi yang dipunyai Nara. Sebut saja dengan menggunakan laptop. Saat diajarkan tentang windows dan internet, anak-anak merasa sangat antusias. Rasa ingin tahu mereka amat tinggi. Fungsi tombol-tombol. Bagaimana mengoperasikan windows. Cara mengakses internet. Sebagian dari mereka memiliki banyak sosial media, namun pengunaannya sebatas hiburan dan pertemanan.

 Budeku Ibuku

            Masa anak-anak, gadis dengan berat badan 50 Kg dan tinggi badan 160 cm ini hidup di tengah-tengah perkampungan. Tinggal bersama bude, kakak perempuan dari ibu Nara. Meskipun demikian, bude sudah dianggap ibu kandung oleh Nara. Nara sering memanggilnya ”ibu”.

Bude punya banyak anak. Nara menjadi anak yang paling kecil. Nara banyak belajar dari kakak-kakaknya. Perlu diketahui, pendidikan bude hanyalah tamatan SD. Filosofi yang dianut Nara saat itu adalah learning by doing.

Kenangan terindah dirasakan Nara saat berusia dua tahun. Saat itu, ia diajak berwisata ke candi Borobudur bersama orangtua.

Untuk pendidikan dasar, Nara tempuh di SD Negeri Sidotopo Wetan IV/558 Surabaya, tahun 1997 hingga 2003.

Romansa Remaja

Saat remaja, Nara seorang diri bertempat tinggal di rumah orangtua. Saat itu keadaan orangtua bekerja. Otomatis Nara sering merasa kesepian, meskipun terkadang ditemani adik yang masih SD. Gadis penyuka film Twilight ini tak mau tinggal diam. Ia merawat sang Adik dengan penuh kasih sayang. Nara berganti peran sebagai kakak, bukan lagi adik di dalam keluarga.

Semasa bersekolah di SMP Negeri 18 Surabaya (2003-2006), Nara merasa dikucilkan oleh teman-teman. Beberapa kawan menganggap Nara enggan berbagi ilmu pengetahuan. Padahal dirinya memang pendiam. Untunglah hal ini tak berlangsung lama.

Bagi Nara, masa SMA serasa surga. Dara penyuka menu  tahu tek, sate ayam, dim sum, dan teh ini memiliki banyak sahabat. Puncaknya saat berada di kelas dua, sekelas sudah terasa akrab seolah keluarga. Ia juga aktif sebagai bendahara di PMR (Palang Merah Remaja) SMA IPIEMS.

Ada pengalaman lain yang juga menginspirasi. Dapat berinteraksi dengan guru seni. Bertemu dengan kepala sekolah yang kata-katanya mustajab, selalu diijabah ilahi. Bersekolah di SMA IPIEMS Surabaya (2006-2009), Nara membawa berjuta kenangan indah yang selalu bersemi.

Hikmah Kehidupan

Nara memetik banyak sekali hikmah dari perjalanan hidup ini. Nara banyak sekali belajar dari bude, yang baginya sempurna sebagai sosok ”ibu”. Bimbingan dari bude berhasil mewariskan sifat keibuan dan sabar kepada Nara. Bude meneladankan kesabaran dari caranya di dalam menangani anak-anaknya yang bertingkah. Nara juga belajar dari bude tentang seni mengelola waktu, keahlian memasak secara otodikdak, percaya diri, keberanian bertindak dan mengambil keputusan secara cepat. Contoh nyata adalah saat mengambil rapor. Selalu bude yang mengambil rapor Nara, meskipun hanya lulusan SD. Asal diketahui saja, ibu kandung Nara lulusan SMA, namun untuk urusan pengambilan rapor, selalu mewakilkan ke bude. Jelaslah Nara mendapatkan sosok ideal untuk dicontoh. Sosok perempuan ideal dan sempurna. Hal inilah yang didapatkan Nara dari budenya.

”Papa” adalah panggilan sayang Nara untuk ayah kandungnya. Baginya, papa adalah sosok pekerja keras, pantang menyerah, sangat inspiratif, penyayang, penyabar, selalu memiliki waktu untuk berkumpul bersama anaknya (quality time), selalu berusaha memenuhi kebutuhan anaknya meskipun dalam keadaan kekurangan, tidak ragu-ragu memarahi anaknya jika anaknya salah. Uniknya, papa seorang penyuka kucing. Papa juga selalu mengajarkan langsung dengan tindakan, bukan dengan kata-kata. Hal ini ditunjukkan dengan jelas saat Nara belajar mengendarai motor. Jadi, Nara benar-benar dididik laiknya anak pertama, yang benar-benar mandiri, serta mumpuni dalam mendidik adik.

Masa Mahasiswa

            Nara berkuliah di Universitas Negeri Surabaya, jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Saat berkuliah, gadis penyuka warna ungu ini  memiliki empat sahabat perempuan. Claudia seorang fashion stylist sekaligus penata busana di Net TV. Meme yang sekarang mengurusi orangtua. Nita dan Neta, keduanya seorang guru. Karakter dan perilaku mereka unik. Mereka pantang menyerah, pintar mengaji, penyuka dangdut, hobi  belanja, religius. Kombinasi pelbagai dunia dalam satu jiwa.

            Putri pertama dari Drs. Ec. Sutopo dan Kusiani ini begitu bahagia. Sebab sebagian besar sahabatnya ceria. Entah mengapa, Nara sering dipanggil ”mama” oleh teman-temannya. Padahal usianya paling muda.

            Bebas. Out of the box. Mandiri. Inilah prinsip hidup Nara. Prinsip inilah yang membuat Nara tidak bisa berdiam diri. Ia aktif di organisasi. Salah satunya BEM. Ia pernah aktif sebagai seksi publikasi, dekorasi, dan dokumentasi di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) jurusan PMPKn UNESA (Universitas Negeri Surabaya). Saat itu, ia dipercaya menjadi bagian dari kepanitiaan di luar kota. Ia bagian dari kepanitiaan inti yang menyelenggarakan acara pelatihan LKMMTD.

Berbagai pengalaman kerja dijalani Nara, sebagai upaya pendewasaan diri. Menjadi kru event iklan jitu Jawa Pos selama tiga puluh hari, kru konser Pro Mild di Sidoarjo, SPG event karnaval SCTV, semarak Indosiar, relaunching koran Surya, kru proyek OJK KIK EBA di Bank Mandiri, dsb.

Ia pernah mencoba melamar sebagai tim kreatif di Trans TV, mencoba menjadi pramugari, arsitek, koki. Namun sayangnya, papa tidak mengizinkannya. Bagi Nara, hikmah dari semua ini adalah dirinya disayang dan amat diperlukan oleh keluarga.

 Pelita di Raja Ampat

            Proses seleksi hingga terpilih menjadi peserta SM3T di Raja Ampat begitu ketat. Pendaftaran dilakukan secara online. Awalnya, gadis yang menjadikan Alquran sebagai buku bacaan favorit ini merasa kesulitan saat mendaftar. Beruntunglah, ia berhasil lolos seleksi tahap awal. Selanjutnya adalah tes secara online dan wawancara. Nara berhasil melalui semua tahapan ini, dan terpilih untuk mengabdi di SMP Negeri 1 Saonek, Raja Ampat.

Berusaha sekuat diri untuk menghadapi masalah dan mencari solusi, menghargai waktu, serta selalu berusaha untuk bangkit setiap kali jatuh. Inilah kunci sukses Nara yang mengantarkannya menjadi salah seorang peserta SM3T di SMP Negeri 1 Saonek, Raja Ampat.

Terpilih sebagai pengajar SM3T bukan berarti tanpa tantangan. SMP Negeri 1 Saonek, Raja Ampat memiliki banyak sekali sarana dan pra-sarana untuk mengajar, namun sayangnya tidak bisa digunakan karena banyak yang rusak. Belum lagi beberapa alat peraga pendidikan memerlukan listrik. Padahal listrik baru aktif di malam hari, bukan saat jam sekolah. Akibatnya, untuk pelajaran TIK, sama sekali tidak bisa praktik di laboratorium komputer. Praktis, semua kegiatan belajar mengajar memerlukan kreativitas dan seni tersendiri.

Nara menyiasati dengan menggunakan pembelajaran yang meminimalkan penggunaan teknologi berbasis listrik. Untuk pelajaran PPKn, Nara menggunakan pembelajaran aktif seperti debat, diskusi, presentasi, dsb. Untuk pelajaran TIK, Nara memakai gadget pribadi (laptop) agar anak-anak dapat langsung mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari. Hal ini dilakukan tidak selalu di setiap jam pelajaran, karena keterbatasan daya listrik laptop yang digunakan. Terkadang Nara meminta mereka menghafal atau membuat kuis yang memacu mereka bersaing menjawab.

Sumber Inspirasi

Anak-anak adalah sumber inspirasi bagi Nara. Dapat berinteraksi dengan mereka adalah anugerah terindah dari Allah SWT. Menghadapi anak-anak yang aktif dan penyayang dan sangat peduli kepada gurunya. Semua ini menjadikan Nara merasa sangat dihormati.

Anak-anak terlihat takut dengan guru lain. Saat berinteraksi dengan Nara, mereka menjadi penurut dan patuh. Awalnya memang susah, namun lama-kelamaan mereka terbiasa dengan cara Nara mendidik mereka. Mendidik berarti membentuk karakter. Perempuan pengidola BJ Habibie ini melakukannya dengan cara sederhana. Dimulai dari membiasakan mereka untuk berpakaian rapi dan anggun, sopan-santun di dalam berkomunikasi dengan siapapun, beretika dalam berperilaku di kehidupan sehari-hari. Pola pendidikan yang berdasarkan Cintakasih inilah yang membuat anak-anak akrab dengan Nara. Alhasil, mereka sering mengajak Nara berinteraksi, datang ke rumah, menemaninya, memintanya menemani mereka belajar senam, dan banyak hal lain yang membuat hati Nara tersentuh.

”Murid-muridku, mereka amat sangat terlihat butuh semangat belajar dan siraman ilmu pengetahuan. Inilah yang membuat saya bertahan di Saonek, Raja Ampat,” tutur Nara. ”Senyum mereka saat menyapa saya, dengan panggilan ibu guru Nara, serta senyum Ayah saya ketika merelakan saya berangkat, membuat saya selalu bersemangat,” lanjutnya.  

Selain anak-anak, banyak sekali sumber inspirasi Nara. Ayah, ibu, bude, calon pendamping dan ibunya, serta semua guru dan dosen. Kontribusi mereka terhadap kesuksesan Nara adalah doa, motivasi, keluangan waktu, dana, ilmu, pengalaman yang diberikan secara langsung. Yang terpenting adalah saat mereka mengingatkan saya untuk menjaga salat lima waktu.

 Manajemen Waktu

            Nara selalu berupaya menepati janji, menjalankan salat lima waktu, menyempatkan diri untuk selalu membaca Alquran setiap harinya. Saat berorganisasi, Nara sebisa mungkin meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan yang telah direncanakan,  menjalankan tugas dengan baik dan ”sempurna”. Selain itu, Nara selalu meluangkan waktu untuk keluarga, meskipun sekadar menyapa melalui telepon. Di sela-sela padatnya aktivitas, Nara masih menyempatkan diri untuk memasak dan travelling sebagai hobi.

            Selain lihai di dalam manajemen waktu, gadis penyayang kucing dan ular ini juga handal di dalam melobi. Strategi terbaik adalah face to face. Menggunakan bahasa indonesia yang efektif dan efisien, diksi yang tepat, menjabarkan tujuan, baik-buruknya, tanpa membuat orang tersebut mundur setelah tahu sisi buruknya.

 Pesan – Kesan

            Untuk generasi muda, Nara berpesan untuk menimba ilmu sebanyak mungkin karena ke depannya pasti bermanfaat. Tiada ilmu yang sia-sia, sekecil apapun itu. Nanti bakalan ada kehidupan yang lebih nyata yang akan Anda jalani sendiri. Saat itulah, ilmu Anda berperan. Jangan sia-siakan waktu. Jangan lupa untuk berdoa dan berusaha. Milikilah karakter unggul, pantang menyerah, dan tetap SEMANGAT!!!

            Untuk pemerintah, kakak kandung dari Anggun Ade Cyntia Fernanda Sutopo ini menyatakan bahwa memang sudah ada perhatian lebih terhadap guru. Namun pemerintah hendaknya melihat lebih dekat lagi, perbedaan guru-guru di kota dengan guru-guru di daerah, di semua aspek kehidupan.

            Program SM3T ini program yang sangat bagus, tidak hanya untuk siswa-siswi di daerah 3T, tetapi juga untuk guru (para sarjana pendidikan), yang memerlukan  pengalaman langsung sebagai guru dalam arti yang sebenarnya. Nara berharap, sebaiknya ada perbedaan perlakuan antardaerah (terutama uang saku) untuk peserta SM3T, mengingat biaya hidup sangat berbeda. Misalnya: di Sumba, biaya hidup dari Dikti sudah terasa sangat cukup. Namun di Raja Ampat, dengan biaya hidup yang lebih tinggi, uang saku yang diberikan tidak cukup. Padahal tidak selalu ada peluang untuk memutar uang. Harga cabai di Surabaya Rp2000 per Kg, di Raja Ampat Rp5000 dapat segenggam cabai. Untuk belanja kebutuhan pokok, di Surabaya cukup Rp150 ribu, sedangkan di Raja Ampat mencapai Rp500 ribu.

            Saat ditanya, semisal bertemu Presiden RI, Bp. Ir. Joko Widodo, apa yang ingin disampaikan? Nara langsung menjawab, ”Pak Jokowi, jika ingin mengetahui bagaimana keadaan suatu daerah yg sebenarnya, Pak Jokowi silakan untuk melakukan kebiasaan Pak Jokowi yang dahulu, yakni blusukan.” Nara melanjutkan, ”Anak-anak di daerah memerlukan banyak sekali fasilitas pendidikan yang perlu perhatian lebih. Perlu lebih banyak pendidik, dalam hal kualitas.”

Visi-Misi

            Sebagai pendidik SM3T yang visioner, Nara ingin melanjutkan apa yang sudah didapatkan saat SM3T dengan sederhana. Maksudnya, di kehidupan yang telah dilalui saat menjalankan program SM3T dengan pola hidup sederhana. Tak membutuhkan banyak hal rumit. Tak perlu banyak tuntutan. Dalam waktu dekat, Nara ingin memiliki usaha di bidang perdagangan (pakaian). Tentang obsesi terbesar, Nara ingin merintis sekolah alam.

            Berbicara kemajuan bangsa Indonesia, gadis yang memfavoritkan Raja Ampat dan New Zealand sebagai destinasi wisata favorit ini punya strategi efektif, yaitu: dengan kolaborasi atau sinergi. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat. Misalnya: kepedulian antarwarga negara. Uluran tangan dari warga perkotaan ke warga pedesaan atau di daerah. Pemerataan pendidikan. Pemerintah seharusnya lebih peduli dengan daerah-daerah terpencil. (Dito Anurogo)

 (*Kisah inspiratif di atas ditulis berdasarkan hasil wawancara langsung dengan ibu guru Nara, dilakukan oleh Dito Anurogo, salah satu peserta program Menyapa Negeriku di Saonek, Raja Ampat)

 Disclaimer: tidak ada conflict of interest di dalam penulisan kisah inspiratif ini.