Rusuh di Kepala : Antara Keju dan Durian

Nadira Aliya
Karya Nadira Aliya Kategori Politik
dipublikasikan 05 November 2016
Rusuh di Kepala : Antara Keju dan Durian

Terlalu banyak yang sudah tertulis. Berjuta opini disuapkan pada pikiran, berlomba menjadi yang terenak, paling bisa diterima lidah dan akhirnya mendarah daging.

Kita semua sudah sangat kenyang mengamati, seperti kamu sudah tidak minat lagi disajikan makanan berat bak ayam goreng dengan sayur asam dengan nasi hangat, atau sekadar cemilan kerak telur untuk menemani perut yang berontak di malam hari. Lalu akhirnya kita keluarkan lagi yang sudah kita telan sesuai tendensi favorit masing-masing.

Tidak lagi membaca yang dibagi, lelah, lalu memutuskan silaturahim dengan yang tidak sepaham. Kenapa harus makan yang tidak enak jika bisa memilih hidangan yang enak? Tidak! Jangan paksakan makanan seleramu ke lidahku, karena tidak akan cocok. Kita beda level. Lebih baik aku tidak melihat yang kau suka. Merusak nafsu makan saja.

Aku suka durian. Kamu suka keju. Aku ingin muntah cium bau keju, kamu menjauh waktu aku makan durian. Kita tidak pernah bisa mengerti mengapa orang lain bisa begitu menyukai makanan yang menurut kita tak masuk akal untuk dimakan. Pada kebanyakan kasus, kita jadi tidak lagi makan bersama. Bahkan kebencian mulai timbul bukan lagi pada makanan, namun pada siapa saja yang memakannya.

Kamu bilang kamu sedang berjuang melawan yang mengejek makanan kesukaanmu, kamu rela lawan pemerintah yang mulutnya tidak sopan terhadap makanan favoritmu. Kamu tidak ingin makanan favoritmu dihinakan, pokoknya yang paling enak ya ini, menurutmu.

Oh, tapi tunggu dulu...

Ada orang-orang yang perutnya sudah cukup lama perih tidak terjamah makanan. Tulang rusuknya terlihat jelas saat mereka buka kaus. Kulit perut dan pinggang seperti hanya segaris. Kau beri apapun, mereka akan makan, mereka akan suka. Apalagi jika kau beri rutin. Makanan kesukaanmu jadi sama dengan mereka. Kalian bisa bikin komunitas pecinta makanan itu! Akan lebih menyenangkan bukan, punya teman berbagi makanan kesukaan yang sama.

Kamu jadi tidak sendiri lagi saat harus melawan yang berkuasa, yang entahlah, sepertinya memang beda level makanannya denganmu. Sedikit saja menyulut api, kamu benar-benar tidak rela. Jika sudah cinta memang harus ada pengorbanan yang diberikan. Harus ada pembuktian, biar kecintaanmu harus tahu! Kalau tidak, yakin cinta?

Ini sebetulnya hanya urusanmu dengan makanan kesukaanmu, keju. Tahu apa orang-orang itu? Yang mereka tahu, harus ada yang mengisi perut-perut mereka. Yang mereka tahu, itu keju darimu.

Aku, yang kebetulan hobi memakan durian, ternyata sama dengan Bapak penguasa. Aku tidak pernah mengerti kenapa kamu makan keju. Aku tidak ingin ikutan. Tapi aku mulai sadar, membencimu tak ada gunanya. Aku coba tak peduli dengan apapun makanan kesukaanmu, dan juga tak menghina. Kata mereka ada yang namanya toleransi?

Aku mengaku toleran, tapi aku sesungguhnya kalah langkah darimu. Mana ada aku beri orang-orang kelaparan makanan kesukaanku. Biasanya sih kumakan sendiri saja. Mereka jadi tidak mengenal durian favoritku. Yang buat mereka kenyang sehari-hari cuma keju darimu. 

Aku kutuk orang-orang yang tidak bisa menghargai perbedaan kesukaan. Tapi aku lupa, disini aku yang minoritas! Mayoritas sudah kau kendalikan dengan taburan keju pada ayam goreng, singkong keju, dan semua hal yang kini semakin bertambah pesat penyukanya. Aku kutuk mengapa mereka tak bisa menjadi sedikit toleran, menciptakan dunia yang damai. Tapi tidak aku pedulikan perut mereka. Dan, oh, kalau saja aku tidak kalah langkah darimu, mereka akan kuajak makan durian bersama sambil membahas bhineka tunggal ika.

Dan, niat baik yang tak terorganisir, tak lebih baik dari niat jahat yang tersusun rapi.

 

 

  • view 241