Episode Malam-malam Diana Part II

Dini Nurdiyanti
Karya Dini Nurdiyanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Mei 2016
Episode Malam-malam Diana Part II

EPISODE II

Besok, hari besar itu tiba. Segala persiapan sudah sempurna. Tak ada satu detailpun yang terlupakan. Diana ingin semuanya berawal sempurna karena dengan begitu ia akan semakin yakin kehidupan pernikahannya nanti akan jadi sempurna tak bernoda. Dan malam ini adalah malam terakhir ia menikmati malam di beranda itu sendiri. Besok akan ada yang menemani malam-malamnya.

“Ma, ini malam terakhir aku sendiri. Aku ingin semua akan berjalan dengan baik. Aku tak mau menjadi seperti Ira dan Anwar. Aku tak ingin menjadi sepertimu,Ma. Maaf, bukan aku tak menghargaimu, Ma, tapi aku tak mau pahitnya pernikahan yang kau alami harus juga aku alami. Ma, restui pernikahanku dan doakan yang terbaik untukku. Aku yakin dia yang terbaik untukku. Dia sudah melengkapi hidupku dengan caranya sendiri. Dia sudah cukup sempurna untukku. Dan itulah yang memberikan aku keyakinan untuk menikahinya.”

Beberapa bulan berlalu setelah acara pernikahan yang menurut Diana sangat sempurna. Sayang tidak begitu dengan pernikahannya. Dan ia kembali terduduk sendiri di beranda kamarnya. Matanya basah, hujan telah turun dari matanya menghiasi malam yang berbintang ini. Kali ini malam tidak berpihak padanya.

“Ma, aku terperangkap sekarang. Apa yang selama ini ku takutkan telah benar-benar terjadi. Aku kecewa, Ma. Cinta itu perlahan terkikis oleh ego kami. Tak mudah ternyata menerima dan memaafkan kesalahan yang dia buat, Ma. Ini sudah keberapa kalinya dia seperti ini. Aku tersakiti, Ma. Aku kira dia lain dari lelaki lainnya. Ternyata dia sama. Dia khianati aku dengan kemesraannya pada wanita lain. Aku sudah berusaha menerima sifatnya yang terkadang terlalu ramah pada wanita lain, tapi tidak untuk bermesraan dengan yang lain. Aku merasa terbuang dan tersia-sia. Aku sadar sekarang, ternyata Mama adalah seorang wanita yang sangat kuat. Entah apa aku bisa sekuat Mama yang harus berbagi suami dengan Bunda. Aku bahkan mungkin tak akan bisa sesabar bunda yang harus menerima kesendiriannya saat Papa meluangkan waktu untuk Mama dan kami anak kalian berdua, Ira, Anwar dan aku. Mama adalah Super Woman, yang tak sedikitpun pernah mengeluhkan tentang hal ini, Mama bahkan rela membagi kasih anak-anaknya dengan Bunda. Aku tak akan bisa seperti kalian berdua. Saat ini saja aku merasa duniaku sudah hancur. Aku ingin sendiri, Ma. Aku akan menutup hatiku sekarang. Sudah cukup semua rasa sakit ini. Aku akan mematikan semua rasaku. Cukup sampai di sini.”

Malam demi malam berganti. Beranda itu tampak selalu sunyi. Tak pernah lagi ada Diana di sana. Hanya sebuah bangku kosong dan semilir angin yang senantiasa menemani kekosongannya.

 

-- to be continued -- #repost from my old blog

  • view 102