Dear, Kalian Si Peminjam

Dinil Qaiyimah
Karya Dinil Qaiyimah Kategori Renungan
dipublikasikan 17 Mei 2017
Dear, Kalian Si Peminjam

Mungkin dalam kehidupan sehari-hari saling pinjam meminjam barang itu merupakan hal yang lumrah terjadi. Namun tidak sedikit kasus pinjam meminjam berujung dengan penyesalan -bagi si pemberi pinjaman-, kenapa saya mengatakan ada penyesalan? Karena untuk saya pribadi penyesalan itu hampir selalu terjadi. Saya yang awalnya berniat membantu akhirnya berharap tidak pernah meminjamkan barang-barang tersebut kepada siapapun mereka. Mungkin kalian ingin menyebut saya orang yang sangat berlebihan. Ya! Saya tahu itu, tetapi mereka -orang yang meminjam- tidak pernah tahu bagaimana saya memperlakukan barang pinjaman mereka dan sudah seharusnya mereka memperlakukan barang itu jauh lebih baik daripada cara saya memperlakukannya. 

Kegelisahan ini entah berawal sejak kapan dan karena barang yang mana, tetapi rasa penyesalan itu masih membekas, sehingga ketika hal yang sama terjadi berulang "rasa" itu semakin besar. Bagi sebagian orang mungkin ini terdengar lucu tetapi bagi saya pemilik barang hal tersebut benar-benar membuat hati mengkerut -tidak usah dibayangkan-. Mulai dari barang-barang kecil seperti mouse, sendal, sepatu, hardisk, buku, pakaian, laptop dan bahkan kendaraan.

Pernah membayangkan ketika akan bepergian dan telah siap keluar pintu rumah tetapi tidak menemukan sepatu atau sandal yang akan digunakan? Terdengar sepele bukan? Tetapi jujur, saya pribadi merasa terganggu. Meminjam barang tanpa permisi, sesuka hati. Saya tidak melarang mereka menggunakan barang-barang saya, tetapi setidaknya minta izinlah terlebih dahulu dan tanyakan apakah saya sebagai pemilik akan menggunakannya atau tidak? Saya pikir hal tersebut -meminta izin- lebih sepele daripada rasa terganggu yang saya rasakan bukan? -semoga kalian setuju- Jadi alangkah  baiknya minta ijin terlebih dahulu.

Saya sangat menghargai setiap buku yang telah saya beli apalagi dari hasil perjuang menabung sampai akhirnya mendapatkan buku yang saya inginkan. Saya terbiasa membungkus buku-buku saya dengan plastik bening agar lebih awet. Saya membuka halaman demi halaman dengan sederhana, tidak secara berlebihan. Saya bahkan bisa membaca buku yang sama lebih dari sekali, namun buku itu akan senantiasa saya rapi -bukan karena tidak pernah dibaca-. Pertanyaan saya adalah apa kalian tidak merasa bersyukur ketika dapat membaca buku yang kalian inginkan tanpa harus mengeluarkan uang? Mengapa kalian harus membuka halaman buku orang lain -yang saya atau orang lain dapatkan dengan tidak mudah- dengan semena-mena? Mengapa kalian harus melipat halaman terakhir yang kalian baca sebagai penanda? Mengapa? Jangan menjawab karena buku itu bukan milik kalian! Sudahlah!

Soal pakaian, mungkin saling meminjam pakaian adalah hal biasa, namun hal biasapun butuh etika. Meminjam pakaian yang baru dibeli dan bahkan belum digunakan oleh pemiliknya itu sesuatu hal yang tidak beretika -maafkan atas pemilihan kata yang tidak santun ini- menurut saya. Mendapatkan kembali mouse yang dipinjam hanya beberapa hari oleh seseorang yang dikembalikan dalam keadaan lecet dan baret sana sini seperti habis perang dunia. Rasanya itu.......!! Hey, saya menggunakan mouse itu sudah 3 tahun namun kondisinya masih mulus beberapa hari yang lalu! Saya tidak bisa berkata apa-apa kepada siapapun mereka, karena saya tahu tidak akan ada yang berubah. 

Bagi peminjam barang, tolong hargailah barang pinjaman itu jauh lebih berharga dari barang milik kalian sendiri. Itulah etika meminjam yang beradab menurut saya pribadi. Tidak masalah meminjam barang, namun jangan pernah membuat orang yang meminjamkan kalian barang tersebut menyesal telah meminjamkan kalian. So, jika kalian tidak bisa melakukannya cukup hargai diri kalian sendiri untuk tidak mengundang kekesalan orang lain terhadap diri kalian. Karena saya yakin diri kalian juga pasti berharga bukan?

Sungguminasa, 17 Mei 2017

Dee

  • view 44