Ujian Terberat itu adalah Hati

Dinil Qaiyimah
Karya Dinil Qaiyimah Kategori Motivasi
dipublikasikan 14 Juni 2016
Ujian Terberat itu adalah Hati

Tiada kata yang dapat diucapkan untuk melukiskan kebahagiaan dapat berjumpa kembali dengannya. Hanya rasa haru yang seakan tak bertepi, karena menjadi salah satu orang yang beruntung. Kesempatan. Iya, ini adalah kesempatan yang tak ternilai. Tak jarang kita mendengar kabar teman, kerabat, guru atau bahkan keluarga kita harus menghadap-Nya sebelum perjumpaan itu terjadi.

Seberapa besar usaha yang dilakukan untuk menghargai kesempatan itu, hanya kita yang tau. Sebenarnya terdengar mudah, kita hanya perlu menahan. Tetapi kita tidak hanya sekedar menahan. Menahan lapar, haus itu bisa jadi mudah. Toh ketika kesibukan dunia menjadi orientasi utuh tak jarang orang-orang akan melewatkan jam makan, dan mereka masih bernafas. Menahan amarah? tidak bisa disebut mudah, tetapi itu bisa dikontrol, dan beberapa orang berhasil. Tapi, apa kabar dengan hati? bahkan ketika bibir melukiskan senyum, dia bisa mengucap hal sebaliknya. Ketika lisan dengan mudah mengatakan "tak mengapa", hati menjerit bertanya "mengapa?". Ketika mengalami hal yang tidak menyenangkan, dia dengan bebas mencaci dalam hening tanpa manusia lain mengetahui. Melihat kekurangan orang? hati ikut berkomentar. Dia bekerja tanpa lelah, bahkan tanpa diminta.

Kepada siapa akan kita sembunyikan? Manusia? tak berguna, mereka tak perduli. Sang pemilik hati? hhmmm... Dia tau, dan selalu tau. Janganlah merasa tenang karena mengira semuanya tersembunyi. Boleh jadi itu akan menghancurkan perlahan, menggugurkan dedaunan dari pohon yang selalu kita siram. Menghanguskan bekal menuju perjalanan abadi tanpa kita sadari. Sekecil apapun keburukan yang datangnya dari hati, akan merusak raga tempat dia hidup selama kita sebagai pemiliknya tidak berusaha memperbaiki. Ramadhan ini dapat menjadi sebuah wadah untuk berbenah, karena kita masih punya kesempatan.

Dinky

Yogyakarta, 14 Juni 2016

  • view 97