Aku Anak Pingitan

Diniyah Aulia Fitri
Karya Diniyah Aulia Fitri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Mei 2016
Aku Anak Pingitan

Aku Riri. Seorang remaja yang mulai memasuki gerbang perkuliahan. Ini kisahku. Tentang perasaan iri, bahkan mendamba. Aku dilahirkan dari orang tua yang sangat sibuk tapi sangat perhatian. Ditengah kesibukkan, ayah ibu selalu memperhatikan aku dan adikku. Ya, aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku perempuan, dan sangat terpaut jauh dengaku, delapan tahun. Karena itu, egoku sangat tinggi karena terlalu lama sendiri.

Kisahku hanya permasalahan izin yang tak pernah murni dilepaskan. Ini sangat terasa saat aku memasuki bangku SMA. Masa dimana semua remaja asyik mencari jati diri, asyik berekspresi, asyik menunjukkan banyak mimpi dan meniti mimpi. Tapi aku lain, aku berbeda. Semua memang aku jalani, tapi yang kujalani penuh dengan aturan. Karenanya, aku bahkan tidak mempunyai teman dekat. Setiap mereka mengajakku pergi, bahkan hanya untuk sekedar hangout beberapa saat kemudian langsung dijemput, atau diteror lewat telepon ataupun SMS, tidak hanya aku tapi teman-teman dekatku. Aku jadi merasa tidak enak dan akhirnya aku pulang. Karena beberapa kali kejadian itu terjadi, teman-teman jadi enggan untuk mengajakku untuk pergi. Formalitas jika itu terpaksa.

Sedih? Tentu saja. dan label anak pingitan telah bersanding dibalik namaku. Ini masih bertahan hingga kini. Ketika aku datang saat temu kangen dengan teman-teman SMA, semua akan bertanya, "bisa sampai jam berapa?' "kok tumben bisa dateng, ortu kamu kemana?" "kok dibolehin bawa motor? gak ada orang di rumah ya". Semua itu sedikitnya begitu menohok. Dan aku hanya bisa berkata, "you know me so well, makasih loh". Ya memang itu keadaannya. Aku harus jawab apa lagi.

Semua orang tua punya alasan. Rumah yang jauh, perempuan, khawatir, itu alasannya. Tapi teman-temanku tidak demikian, orang tua mereka percaya, sekali nelfon dan mengabari langsung tidak diteror habis-habisan. Rasanya ahhh... aku juga ingin sekali saja seperti itu. Setiap selesai main, aku langsung dimarahin, khawatir. "Karena kamu belum merasakan jadi orang tua!!!" Ya aku tahu, aku belum pernah jadi orang tua. Tapi ayah ibu pernah kan jadi anak?  Seorang remaja?

Aku hanya ingin punya teman yah, bu. Aku tahu ini hanya pemikiran ananda yang sangat picik. Tapi sungguh, senyaman apa pun aku dengan diriku sendiri, aku ingin punya teman. Aku tahu teman yang baik akan menerima apapun keadaanku, tapi nyatanya intensitas juga menentukan segalanya.

Ayah Ibu pernah berkata, "Buatlah relasi seluas mungkin" "jangan jadi orang yang asyik dengan dirimu sendiri, perbanyakkan toleransi dengan orang lain""jangan jadi orang yang kuper (kurang pergaulan)". Tapi aku merasa itu hanya kata semu yang sulit sekali untuk kuraih.

Yah, Bu, sungguh.. aku minta maaf. Tapi aku ingin punya teman. Aku canggung kemana pun sendiri. Aku canggung setiap aku datang di pertemuan kelas. Aku canggung ketika semua bercerita dan aku hanya diam tak mengerti. Aku merasa sendiri ditengah keramaian. Aku kesepian....

  • view 192