Rumah Tua

Dini Mardiani
Karya Dini Mardiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Februari 2016
Rumah Tua

?

Hari itu telah menjelang malam, ketika ku jejakkan langkahku di sebuah bangunan tua itu.
"Hujan ini begitu deras, mana mungkin ku lanjutkan perjalananku" batinku
Sambil ku lihat derasnya hujan mengguyur kota tua. Dengan terpaksa ku berteduh di emperan teras.
Semakin lama hujannya makin deras. "Bagaimana ini....." lirihku pelan.


Tiba-tiba, "krekkkk...... " pintu yang tadinya tertutup itu terbuka.
Terperanjat, saking kagetnya aku menjauhi pintu itu, hampir saja basah kuyup kena hujan, bila tak terdengar suara seseorang.


"Masuk neng, hujan di luar deras!" sahut seorang wanita tua, sambil membukakan pintu.
"Ohh....." sahutku menghela napas
"Ayo..... Masuk!" sahutnya lagi, diiringi senyuman
Aku pun menganggukkan kepalaku, sambil memasuki rumah tua itu.
Gelap...... Hanya ada sebuah cahaya lilin di tengah ruangan.
"Mendekatlah, agar kau tak kedinginan!" sahut seorang kakek paruh baya
Dan aku pun melangkahkan kaki ketengah ruangan, tak lama kemudian, secangkir teh hangat sudah berada di depanku.
"Minumlah neng, kami hanya punya teh pahit ini. Jangan sungkan" timpalnya lagi
Sedetik kemudian ku seruput teh hangat tadi. Pahit terasa, tapi cukup menghangatkan tenggorakanku.
"Maaf, nenek yang punya rumah ini?" tanyaku
"Hehe.,...bukan, kami hanyalah penjaga rumah, dan ini suamiku Mbah Atma, pangil saja aku Mbo Iyem" sahutnya sambil menyeringai
"Neng ini mau kemana malam-malam begini?" tanya Mbo Iyem
"Ke rumah sodara mbo, di desa sebrang, harusnya aku sampai di sini sore tadi, tapi mobil yang kutumpangi mogok, jadinya malem baru sampai. Aku tak tahu kalau malam begini tidak ada angkutan yang kesebrang" jawabku
"Ya.....kau pendatang baru. Baiknya malam ini, menginaplah disini, esok pagi baru kau lanjutkan perjalananmu neng" sahut Mbo Iyem
"Tapi, beginilah.....hanya alakadarnya, kau bisa tidur diujung jendela sana yang ada tikarnya" sahutnya lagi, sambil menunjukkan arah ujung jendela yang di maksud.?Walau remang, tapi masih kulihat ada sebuah tikar yang menghampar.


"Terima kasih Mbo, telah diijinkan menginap disini" aku pun beranjak menuju ujung jendela.
Tikar kecil yang menghampar itu, cukuplah untukku berbaring. Lusuh memang tikarnya, dan seidikit bau menyengat.
"Tak apalah, hanya semalam ini, dari pada aku basah kuyup tidur di luar" bisikku
Ku rebahkan badanku, dengan berbantal tas kecil yang dari tadi ku bawa.

Dan ku lihat Mbah Atma dan Mbo Iyem telah berbaring pula bersisian di dekat lilin yang berada di tengah ruangan.

Malampun kian hening, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 11:30. Tak terasa sudah dua jam aku terjaga, tak mampu memejamkan mata.
"Huhh....." lirihku,
Padahal kelelahan telah menerpaku, tapi mata ini masih enggan juga mengatup.
Dan kulihat jam pun telah menunjukkan jam dua belas malam.
Semakin sunyi..... Hening, yang terdengar decitan tikus yang berlarian.

?#?Rasanya?, 28012016

?
?
<form id="u_jsonp_7_2p" class="commentable_item" action="https://www.facebook.com/ajax/ufi/modify.php" method="post" data-ft="{">
?
?
<input class="_1osa mentionsHidden" tabindex="-1" name="add_comment_text" type="text" />
Tulis komentar...
</form>

  • view 110