Melawan Rasa

Dini Mardiani
Karya Dini Mardiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Februari 2016
Melawan Rasa

?Ketika takdir telah memainkan peranannya, kita tak kan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Takdir telah tertulis sejak masih dalam kandungan seorang ibu. Takdir pula yang mempertemukanku dengan Hasan. Ketika aku bekerja di ibukota. Disanalah kami bertemu, saling mengenal satu sama lain sampai ia meminangku pada suatu hari.

?Nek, aku telah menganggapmu seperti ibu kandungku sendiri. Bagaimana menurut nenek tentang Hasan, temanku yang sering kemari nek??
?Hm?.Hasan ya, kenapa? Apa ia telah melamarmu Sumi??
?Begitulah??
?Apa engkau mencintainya??
?Aku hanyalah gadis kampung, aku bahkan tidak mengerti apa itu cinta.?
?Cinta itu punya arti yang luas. Ketika engkau merasakan kenyamanan, ketenangan hingga rasa sedihmu hilang saat bersamanya. Itulah bagian dari rasa cinta itu sendiri. Bukankah engkau sudah lama melayaniku Sumi? Mungkin inilah waktunya untukmu berrumah tangga.?

Pernikahanpun dilangsungkan dengan sederhana beberapa bulan kemudian. Karena Hasan telah yatim piatu, hanya keluarga pamannya saja yang datang.
*****

Menginjak tahun kedua pernikahan kami, demi mengubah nasib, kurelakan suamiku merantau di negeri orang. Dan kuputuskan untuk bekerja di rumah bibiku, sepanjang kepergiannya.
Kulalui hariku tanpa kehadirannya, hanya sepucuk suratlah sebagai pertanda kehadirannya. Bulan berikutnya iapun menyelipkan beberapa lembar kertas uang dollar, sebagai nafkah untukku.

Pada bulan ketiga, surat itu seakan menghilang, tak pernah sampai ketanganku. Tapi ku tetap setia menunggu berharap kabar darinya walaupun hanya sepucuk surat.

Setahun berlalu, tetap tiada kabar apapun darinya. Aku selalu berkilah memberikan puluhan alasan untuk meyakinkan kedua orang tuaku dan membenarkan semua penantianku. Tapi waktu selalu ada batasannya. Itulah yang membuat kedua orang tuaku mendatangiku dan membuat keputusan sepihak menerima pinangan seorang pemuda dengan alasan aku telah menjadi janda, jangankan nafkah, kabarpun tidak ada selama setahun.

Tiada daya, hanya tertunduk lesu, tak sanggup berkata sepatahpun selain menyetujuinya. Walau dengan berat hati, ku tak sanggup lagi menganggung beban keluargaku menjadi bahan gunjingan para tetangga.
*****

Setelah ijab qabul dilangsungkan, tiba-tiba berdirilah Hasan, mantan suamiku dengan muka memerah menahan marah, berdiri mematung dengan sorot mata tajam menyaksikanku bersanding dengan lelaki lain.
Beruntunglah, ayahku berinisiatif segera membawa Hasan pergi ke kamarnya. Beberapa menit kemudian akupun menemuinya. Ku sapa dengan lembut, ada rindu yang menghimpit dada, tapi apa daya takdir telah berkata lain. Maka kuceritakanlah apa yang telah terjadi dalam kebisuannya dengan berlinang air mata.

?Tahukah engkau, tiada bulan yang terlewatpun dari mengirimkan sepucuk surat dan nafkah untukmu. Walau tiada balasan, itulah sebabnya aku datang kemari. Aku tak mengerti apa yang telah terjadi, kenapa surat itu tak sampai ketanganmu. Engkau telah berkhianat, akan ku ikhlaskan kau bersamanya.?

Itulah ucapan terakhirnya yang mengalirkan air mataku dengan deras. Akupun hanya bisa menatap kepergiannya dari jauh.

?Berkhianat? kata itulah yang telah menorehkan luka mendalam di hatiku. Andai kau tahu, aku selalu menantimu dengan setia tanpa ternoda sedikitpun, walau ku harus menahan rasa rindu.

?Mungkin, hanya sampai disini jodoh kita, tanpa kau dan aku tahu kemana semua surat itu menghilang.? batinku menahan perih.

?

Ilustrasi gambar : google

  • view 332

  • adindaay poetry
    adindaay poetry
    2 tahun yang lalu.
    rindu membisu , rindu membeku . nyeuseuk ya kak :"

    • Lihat 1 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    2 tahun yang lalu.
    Karya cantik, yang sempat saya duga berdasarkan kisah nyata. Walau terlalu pendek hingga membuat beberapa potensi 'emosi' menghilang, tetap karya yang keren...^_

    • Lihat 2 Respon