HARAPAN KEDUA

Dini Fitrah Eristanti
Karya Dini Fitrah Eristanti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 September 2017
HARAPAN KEDUA

Hallo, Nak. Apa kabar kamu hari ini?
Kami berharap kamu akan sehat selalu dan terus berkembang sesuai usiamu.

Nak, kamu bukanlah janin pertama yang singgah dan tumbuh di dalam rahimku. Kamu adalah penghuni ke dua. 3 bulan yang lalu, sebutlah itu kakakmu, tidak mampu berkembang secara sempurna. Terlepas dari satu takdir yang harus dilalui, penyebabnya adalah kurangnya pemahamanku tentang bagaimana aturan-aturan yang harus kupatuhi agar janin tumbuh dan berkembang dengan baik. Aku hanya percaya pada artikel-artikel yang belum tentu benar dan melakukan aktivitas-aktivitas yang cukup berat dan menguras tenaga serta pikiran. Saat itu aku merasa baik-baik saja, sebab tidak ada respon fisik sehingga aku harus mengurangi aktivitas. Dan tidak mengindahkan serangkaian aturan yang harus dijaga oleh setiap perempuan yang sedang hamil pada trimester pertama.

Tibalah hari itu, hari pertama Ramadhan. Ayahmu mengajakku untuk memeriksakan keadaan janin itu dengan USG. Terlebih beberapa hari terakhir aku mengalami perdarahan, tentu kekhawatiran akan keadaanmu sempat menghampiri. Ada raut keheranan dari wajah dokter yang memeriksa sambil mengedarkan kursor USG di atas perutku. Jantungku berdegup kencang, perasaanku tidak enak dan pikiranku tentu saja dihujani sederet pertanyaan. “Ada apa dengan janinku? Kenapa dokternya bermimik serius dan seolah dirundung kecemasan? Ada apa ini?”. Beberapa detik kemudian, dokter menyatakan bahwa janin itu sudah tidak berkembang selama kurang lebih 3 minggu.

Jujur saja, begitu aku tahu kakakmu tidak berkembang dan harus dikeluarkan dari ruang rahimku, hatiku hancur. Perasaan menyesal, merasa tidak mampu memegang amanah dengan sebaik mungkin dan rasa kehilangan menjadi satu. Sepanjang hidupku, rasanya baru kali itu hatiku sakit yang teramat. Bagaimana tidak, aku sudah terlanjur mencintai janin itu meski aku belum pernah melihatnya. Sudah ada perasaan memiliki karena janin itu sudah 10 minggu hidup bersama nafasku.

Di saat seperti itu, kau tahu, Nak? Ingin rasanya aku meraung nangis menyesali kekeliruanku dan membantah semua vonis dokter bahwa janinku sudah mati dan harus segera dikeluarkan. Namun di saat itu juga, ayahmu segera merangkulku dan mencium keningku. Ia meyakinkanku bahwa tidak perlu ada yang disesali, kejadian ini tentu menjadi pengalaman yang berarti dan harus menjadi pelajaran untuk di kemudian hari. Aku tidak yakin bahwa ayahmu lebih tabah, sebab ia sudah berharap memiliki anak pertama laki-laki dan nama pun sudah dipersiapkannya. Tentu ayahmu juga perlu menata hati kembali agar harapannya tidak sirna begitu saja hanya karena kejadian ini. Ia masih berharap untuk memiliki anak.

Bagaimana pun, aku harus mengikuti kata-kata ayahmu; tidak boleh cengeng, husnudzon pada Allah adalah kuncinya. Jika memang janin itu baik untuk kehidupan selanjutnya nanti, Allah pasti menumbuhkannya dengan sempurna. Kalaupun perkembangannya harus terhenti, mungkin kami belum siap betul menjadi orangtua yang baik. Maka dari situlah aku mencoba belajar ikhlas dalam menghadapi situasi yang menorehkan rasa duka. Bukankah takdir Allah selalu lebih baik untuk dampak pada kehidupan? Memang tidak mudah, ada saat dimana aku teringat lagi dengan kebiasaan selama hamil. Seperti minum susu, makan rujak dan mengelus-elus perut. Rasanya begitu cepat waktu merubah keadaan. Aku terus membenamkan diri pada keikhlasan lahir dan batin, sehingga aku bisa terus semangat untuk berpengharapan yang baik-baik pada Allah.

2 September 2017 kemarin, Allah kejutkan perasaanku lagi dengan hasil tespack yang aku lakukan. Hasilnya positif. Walaupun pada awalnya aku sempat ragu. Di hari itu, kami tekadkan diri. Kami harus berikhtiar sekuat mungkin agar bisa merawat, menjaga dan memeliharamu dengan penuh cinta di rahimku. Kami tidak akan menyiakan semua kesempatan dan amanah yang besar ini. Sebab kami pun yakin Allah selalu menuntun kepada hambaNya yang berusaha menjemput pertolonganNya. Aku pun memasrahkan diri agar kamu ditumbuhkembangkan dengan sempurna, sebab Ia lah yang Menciptakanmu dan Ia yang berkuasa atas segala sesuatu.

Kini, aku dan ayahmu sangat berharap bisa terus berikhtiar membesarkanmu sejak dalam rahim hingga kamu lahir dan tumbuh menjadi dewasa. Kamulah generasi yang akan mewarisi cita-cita kami. Kamulah yang akan kami usahakan agar memiliki proses hidup yang tidak biasa, sebab kami tidak ingin mendidikmu dengan cara seadanya tanpa tujuan dan misi yang jelas.


Sleman, 13 September 2017

  • view 18