Merdeka dan Maknanya

Dinda Rizki
Karya Dinda Rizki Kategori Sejarah
dipublikasikan 17 Agustus 2016
Merdeka dan Maknanya

Siapa yang menyangka ternyata Indonesia telah merdeka selama 71 tahun. Bila dilihat dari umur manusia sudah bisa dikatakan sepuh. Semoga tua tidak menjadikan Indonesia merenta.

Kemerdekaan yang berhasil diraih para pahlawan tidak sebanding dengan pengorbanannya hingga bertaruh nyawa. Jika kita menengok kembali ke belakang, sejarah Indonesia selama 1945-1949 dimulai dengan masuknya Sekutu diboncengi oleh Belanda (NICA) ke berbagai wilayah Indonesia setelah kekalahannya terhadap Jepang, dan diakhiri dengan penyerahan kedaulatan kepada Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949. Terdapat banyak sekali peristiwa sejarah pada masa itu, pergantian berbagai posisi kabinet, aksi polisionil oleh Belanda, berbagai perundingan, dan peristiwa-peristiwa sejarah lainnya. Setelah 71 tahun merdeka kira-kira apa yang telah kita berikan untuk negeri kita tercinta ini? Arti merdeka yang menurut KBBI sendiri adalah tidak bergantung atau lepas dari pihak tertentu. Bisa dikatakan negeri kita ini sudah lepas dari bergantungnya dengan negara lain dan memilih kedaulatannya sendiri. Apakah sudah lepas seutuhnya?
Bila memaknainya pada masa sekarang merdeka bisa memiliki arti yang lebih luas. Tidak hanya sebuah istilah namun sudah bermetafosa menjadi aksi nyata. Bebas untuk memeluk agama, bebas untuk mengemukakan pendapat, bebas untuk hidup tanpa adanya tekanan dari pihak manapun namun bebas dalam batas haknya. Merdeka yang kita diperoleh harus disyukuri dan disambut dengan melanjutkan perjuangan untuk sesama terutama bangsa ini. Karena tugas kita tidak hanya untuk memerdekakan namun juga menjaga untuk tetap satu yaitu tanah air Indonesia.
Dimulai dari dini, kita sudah diberikan esensi apa itu kemerdekaan. Dimana disetiap bulan Agustus ramai-ramai masyarakat menggelar berbagai parade untuk menyambut hari kemerdekaan 17 Agustus. Sebagai contohnya sejak kecil kita sudah terbiasa dengan tradisi perlombaan dilingkungan kita seperti lomba makan kerupuk, pecah air, panjat pinang dan masih banyak lainnya. Namun apabila ditelisik kembali siapa yang menyangka ternyata tradisi masyarakat ini sudah ada semenjak tahun 1950-an. Sejarawan dan budayawan JJ Rizal, mengatakan tradisi perlombaan mengisi hari kemerdekaan Indonesia sebenarnya baru dimulai pada tahun 1950-an dari inisiatif masyarakat. Dan pada awalnya tradisi ini lahir dikota Jakarta kemudian menyebar diberbagai kota lain di Indonesia. Bahkan presiden Soekarno sempat menandatangani buku tulis untuk hadiah perlombaan. Tak menyangkal kita semua pasti pernah mengalami moment-moment menyenangkan saat itu. Walaupun terlihat sederhana namun perayaan ini mengandung filosofi didalamnya. Dari sudut pandang tertentu kita dapat melihat bagaimana caranya belajar untuk berjuang, meraih sesuatu yang kita inginkan dan mengapresiasi atas suatu hal yaitu kemenangan. Dengan hal kecil tersebut setidaknya kita belajar untuk berjuang dan bersyukur.
Kemerdekaan yang dituangkan dalam bentuk proklamasi tidak serta merta diperoleh dari segelintir tokoh namun seluruh pejuang-pejuang Indonesia berperan penting. Penghargaan kita terhadap para pahlawan bisa dimulai dari mengikuti upacara dengan hikmat, mencari tahu melalui hal-hal menarik dari sosok-sosok para pejuang dan sejarah proklamasi. Satu hal menarik adalah peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Pada saat itu tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang? Cukup menarik bukan hal-hal dibalik perjuangan kemerdekaan kita ini.

Peribahasa mati satu diganti sepuluh atau biasa kita dengan mati satu tumbuh seribu-gugur satu tumbuh seribu. Ini tidak lepas dari semangat yang dinyalakan para pahlawan untuk menggembirakan semangat juang. Jadi masihkah kita mengeluh dan menyerah dikeadaan yang sudah serba mudah ini? Seseorang terlahir tidak selalu menjadi pemenang namun seorang pejuang. Semangat belajar, bekerja dan berkarya!

  • view 174