NARKOBA DAN TERORISME : MATA RANTAI YANG TERHUBUNG

Afini Nurdina  Utami
Karya Afini Nurdina  Utami Kategori Lainnya
dipublikasikan 01 Mei 2017
NARKOBA DAN TERORISME : MATA RANTAI YANG TERHUBUNG

NARKOBA DAN TERORISME : MATA RANTAI YANG TERHUBUNG

 

Terorisme saat ini masih masih eksis dalam menciptakan kerusakan di muka bumi. Sepanjang tahun, masih saja kita mendengar di berbagai media nasional maupun internasional mengenai serangan terorisme yang terjadi di berbagai belahan dunia. Dari dalam negeri misalnya penangkapan jaringan teroris Santoso, bom Thamrin dan ledakan bom panci di Bandung, hingga di mancanegara seperti teror bom di London dan Paris.

Kelompok terosis menggunakan berbagai media dalam mencapai tujuannya untuk menyebarkan terror kepada masyarakat. Secara fisik, ribuan bahkan jutaan peluru, bom, dan granat, kerap menjadi alat penyebar terror. Bahkan ISIS memiliki tank-tank berharga ratusan juta dan transportasi perang lainnya sering dikerahkan untuk menunjang aksi mereka.

Selain dari peralatan fisik, kelompok terorisme -misalnya ISIS- menggunakan dunia maya sebagai media propaganda pan penyebaran terror. Mereka muncul untuk menyebarkan terornya melalui situs-situs, melakukan peretasan (hacking) dan berbagai kejahatan lain.  Selain itu, proses rekrutmen anggota / personel teroris juga dalam beberapa kasus dilakukan melalui internet.

Tumbuh dan berkembangnya terorisme di dunia saat ini tentu saja membutuhkan banyak modal. Setiap kelompok terorisme memiliki kebutuhan untuk membayar pelatihan untuk personel, transportasi, akomodasi, dan pengadaan senjata. Gerakan terorisme sekecil apapun pasti membutuhkan suplai dana untuk mememnuhi kebutuhan-kebutuhannya tersebut.  

Narkoba dan Terorisme

Dalam menghimpun dana untuk mendukung operasi tindakan terorisme, organisasi terorisme di Amerika Latin, Eropa, Timur Tengah, dan Timur Jauh bergantung pada aktivitas kejahatan tradisional, diantaranya adalah penjualan obat-obatan terlarang, dan pemalsuan.

Faktanya, lebih dari tiga dekade ini, badan-badan penegak hukum telah melaporkan bahwa adanya peningkatan kerjasama antara organisasi teroris dan aktor kriminal. Hal ini dibuktikan dengan aktivitas-aktivitas terorisme, termasuk serangan yang dibiayai oleh kejahatan illegal, hingga pelaku yang telah dipidana atas kejahatan yang hasilnya  ditujukan langsung kepada organisasi seperti Hizbullah dan Al-Qaeda.

Loretta Napoleoni, pakar pendanaan teroris, juga mengamini hal tersebut. Ia mengatakan sumber terbesar pendapatan teroris adalah perdagangan obat terlarang. Bahkan  pada tahun 1980, muncul fenomena ‘ narco-terrorism’ untuk mengilustrasikan bahwa jumlah uang yang berputar di pasar perdagangan narkotika sangatlah besar. Angkanya bahkan mencapai angka 322 juta dolar. Menurut data PBB, angka tersebut lebih besar dibandingkan GDP (Gross Domestic Product) dari 88% negara di dunia.

Organisasi teroris juga terlibat dalam pembuatan dan penjualan narkoba di seluruh dunia. Perdagangan narkoba oleh oleh kelompok terorisme di Kolumbia, Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolumbia (FARC) menerima dana 300 juta dolar per tahunnya dari hasil penjualan narkoba untuk mendanai kegiatan teroris mereka.

Melihat ancaman ini, berbagai negara di dunia mulai membentuk institusi khusus untuk menanggulangi dan memberantas rantai kejahatan ini. Pada tahun 2002, agen federal Amerika Serikat memutuskan lingkaran penjualan metamfetamin di belasan kota di AS yang menyalurkan hasilnya ke Hizbullah. Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolumbia  (FARC) juga telah lama menggunakan perdagangan kokain untuk membiayai operasinya. Tanaman opium Afghanistan yang berkembang, yang menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa bertanggung jawab atas sebanyak 86 persen pasokan opium dunia, secara luas diyakini sebagai sumber utama pendanaan teroris. Al-Qaeda juga dilaporkan mendapatkan keuntungan dari perdagangan opium Afghanistan sebelum melarikan diri dari negara tersebut ketika pemerintah pimpinan Taliban digulingkan pada tahun 2001. 

Banyak dari kelompok teroris yang melakukan pencucian uang dari hasil perdagangan narkotika lalu kemudian menjalankan bisnis yang legal, yang menghasilkan keuntungan sendiri dan juga dapat digunakan sebagai front money laundering. Keterkaitan dari perdagangan yang legal dengan terorisme telah ditemukan di tengah usaha yang legal seperti misalnya perdagangan ternak, ikan, dan kulit. Bisnis yang terlibat dalam pertanian dan konstruksi juga ditemukan untuk mendukung terorisme. Pada tahun 2001, New York Times melaporkan bahwa Osama bin Laden memiliki dan mengoperasikan serangkaian toko madu ritel di seluruh Timur Tengah dan Pakistan. Selain menghasilkan pendapatan, madu digunakan untuk menyembunyikan pengiriman uang dan senjata.

Trend Pendanaan Terorisme di Indonesia

Dilihat dari sumber pendanaan, hal serupa juga dilakukan oleh jaringan terorisme di Indonesia. Menurut wakil kepala PPATK, Agus Santoso, paling tidak  ada dua sumber pendanaan terorisme yang selama ini biasa dilakukan oleh jaringan teroris di Indonesia

Pertama, pendanaan terorisme yang dilakukan dengan cara tidak sah atau ilegal. Biasanya, terduga teroris akan melakukan pola-pola yang melanggar hukum seperti perampokan bersenjata hingga melakukan perampokan melalui cara peretasan (hacking) di dunia maya. Namun, pengumpulan dana dengan cara merampok ini terakhir dilakukan pada tahun 2011 sampai 2013.

Untuk pola yang kedua adalah pendanaan teroris dengan cara sah atau legal. Biasanya,  cara ini dilakukan dengan menjaring sumbangan dari simpatisan. Pola ini juga yang saat ini masih lazim digunakan untuk menjaring pendanaan terorisme di negara lain. Bahkan, saat ini, dari hasil pantauan PPATK terdapat terduga teroris yang mencari pendapatan melalui perusahaan, seperti ikut menanam modal di suatu perusahaan.

Pemerintah Indonesia memiliki berbagai institusi yang secara bersama-sama bekerja untuk mencegah pendanaan terorisme masuk dan keluar Indonesia. Diantaranya adalah BNPT, BI, PPATK, dan OJK. Dilansir dari situs Badan Nasioanl Penagnggulangan Terorisme (BNPT), Bank Indonesia (BI) melakukan penertiban terhadap usaha-usaha money changer di Jawa barat pasca insiden bom panci. BI terus melakukan kebijakan mengenai usaha ‘Money Changer’ untuk mempersempit ruang gerak pencucian uang untuk teroris dan narkoba.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hendrikus Ivo mengatakan, OJK siap bekerja sama dengan institusi lain untuk mencegah terjadinya tindak pidana terorisme khususnya dari segi pendanaan. OJK juga menjalankan fungsi lewat fungsi pengawasan, bidang anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme (APU-PPT) OJK akan mengkonsolidasikan laporan-laporan yang masih secara sektoral, seperti di sektor perbankan, pasar modal, dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) kepada bidang APU-PPT ini.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) juga telah menjalin kerjasama dengan Otoritas Pemerintah Australia melalui Australian Transaction Report and Analysis Center (AUSTRAC) dengan spesifik aliran dana terorisme sejak 2014 lalu.

Penutup

Tindakan terorisme membutuhkan dana yang cukup besar dalam menjalankan aktifitasnya. Narkoba dan terorisme memiliki keterkaitan yang sangat kuat. Terorisme didanai oleh hasil penjualan narkoba, dan narkoba terjual melalui jaringan/agen teroris. Terorisme dan narkoba bagaikan dua sisi mata uang. Dua tindak kejahatan yang berbeda, namun tidak dapat dipisahkan.

Untuk memberantas terorisme, segala bentuk tindak kejahatan seperti narkoba yang notabene ‘mendukung’ berbagai aktivitas terorisme ini juga harus dibendung. Pemerintah Indonesia telah serius dan terus berusaha untuk mencegah berbagai tindakan dari berbagai aspek. Dalam memonitor sumber pendanaan yang masuk dan keluar dari Indonesia, berbagai institusi seperti PPATK, OJK, dan institusi lainnya saling bekerjasama untuk memberantas terorisme melalui pendanaannya.

 

 

 

 

Referensi :

https://www.bnpt.go.id/2017/04/06/cegah-pencucian-dana-teroris-bi-data-money-changer-di-jabar/

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt56a85d2ae0d93/ini-tren-pendanaan-teroris-hasil-penelusuran-ppatk

http://internasional.kompas.com/read/2016/09/10/11522621/inilah.6.sumber.dana.utama.kelompok.teroris.isis

http://www.springer.com/978-0-387-73684-6

 Ilustrasi : cnnindonesia.com 

 

  • view 63