Seminggu Bercakap dengan Jailani [Rabu]

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Maret 2016
Seminggu Bercakap dengan Jailani

Seminggu Bercakap dengan Jailani


Cerita Bersambung; seminggu bercakap dengan Jailani, menguliti kulit ideku dan menghanyutkan dogma yang telah kugenggam selama ini. Tanpa ragu, ia membuangnya ke tempat sampah.

Kategori Fiksi Umum

2 K Hak Cipta Terlindungi
Seminggu Bercakap dengan Jailani [Rabu]

Rabu

Penulis: Dinan

?

Badanku kurobohkan ke kursi di ruang tamu. Hari ini panas dan melelahkan. Asistensi dengan pembimbing skripsiku yang sibuknya mengalahkan pejabat di negeri ini. Mengejarnya bagai mengejar angin. Terbang tak tentu arah. Awalnya di ruang kuliah, sepuluh menit kemudian di ruang Dosen, kaki baru mau melangkah ke sana beliau sudah ke ruang Dekan, rapat fakultas. Untung saja saya memiliki jurus 'menangkap angin', hihihi... Kucegat beliau saat perjalanan dari ruang Dekan ke Rektorat. Asistensinya di jalanan. Yah, dari pada tidak sama sekali. Aku harus ujian proposal bulan depan. Judul skripsiku harus fiks paling lambat minggu depan. Mahasiswa, akhh...

"Ibu, ayah ada?"

"Bentar lagi pulang makan siang. Sudah shalat Dzhuhur belum? Kalo belum, shalat sana. Kita tunggu ayah kemudian makan bareng." Ibu merapikan makanan di meja makan. Kulirik sepintas. Waow, pecel dan telur dadar, makanan kesukaanku. Aku segera bangkit.

"Belum bu. Ini mau shalat." Ucapku sambil memikirkan pecel di meja makan. Semoga tidak membuyarkan konsentrasi shalatku.?

Selesai shalat, kulangkahkan kaki ke ruang makan. Ayah dan ibu telah menunggu di sana. Kutempelkan pantatku di kursi. Sejurus kemudian, "Makan..." Ayah dan ibu hanya terkekeh melihat tingkah laku anak tunggalnya.

Makanan terasa sangat sedap, kulahap habis. Entah aku doyan, lapar atau rakus, hanya lambungku yang mengetahui. Setelah kubabat habis, aku beranjak ke ruang tamu; sebenarnya mau ke kamar, tapi tak sopan masih ada ayah.

"Bagaimana kabar sahabat barumu?" ayah duduk di sampingku sambil menikmati kopi yang telah disediakan oleh ibu.

"Maksud ayah?" spontan keningku berkerut.

"JAILANI."

"Ayah tahu kalo saya sering berbincang dengan Jailani? mmm..." benakku bergumam.

"Jailani sehat ayah. Sepertinya versi ayah yang benar. Ia memiliki mata bathin yang jernih, hingga dapat menembus membran zahir. Bukan orang gila, cenayang apalagi penganut aliran sesat."

"Oh, begitu. Ada yang ingin Ihsan ceritakan pada ayah?" tanya ayah dengan intonasi seorang detektif.

"Untuk saat ini, tidak ada ayah. Nanti ketika telah jelas sketsanya di kepalaku, akan kuceritakan." Kubuka mataku lebar-lebar, mataku dan mata ayah bersinggungan. Cukup lama. Mencari kejujuruan di sudut mata masing-masing.

"Okelah, ayah kerja dulu."

Setelah hari yang melelahkan, ditambah penyelidikan yang dilakukan ayah di ruang tamu membuat kepalaku terasa berat. Sudah saatnya otak ini istirahat. Kulangkahkan kakiku ke kamar, membaringkan penak dan pikirku. Sesaat kemudian, air liur telah membanjiri sarung bantal bermotif Spiderman, hadiah dari ayah ketika ulang tahun yang kesebelas.

___

Langit berwarna cokelat dipenuhi pohon yang berjejeran dengan akar dan daun yang lebat. Kutengok alas kakiku, telanjang. Tanahnya berwarna biru mirip langit. Saat ini, saya sedang berdiri di atas benda menggumpal mirip awan. Desahan angin membisu. Tak terdengar suaranya. Fokusku beralih ke persekitaran, tak ada bangunan. Kosong melompong.

"Di mana ini?"

Tampak di kejauhan sesosok manusia berbaju putih, tepatnya mirip jubah yang dikenakan oleh ulama besar. Sorban putih diikatkan di kepalanya. Ia melakukan gerakan yang sepintas mirip gerakan shalat, sangat khusyu'. Tiap tahap dilakukan dengan perlahan dan tenang. Kucari sosok yang lain di tempat aneh ini, tak ada siapapun. Hanya kita berdua. Aku dan lelaki berjubah putih.

Dengan berat hati, kususuri awan-awan kecil satu persatu. Lompat dari satu awan ke awan yang lain, sampai aku dekat dengan lelaki berjubah putih itu. Semakin aku dekat dengannya maka silau cahaya semakin menyilaukan mataku. Aku tak dapat mengahampiri dengan jarak yang sangat dekat, hanya dapat berjarak sekitar dua meter di belakangnya. Isak tangisnya terdengar ketika ia melantunkan Surah Al-Fatihah. Tajwidnya bagus, alunannya merdu dan mendamaikan. Sujudnya direndahkan dan sangat lama, jauh berbeda dengan shalatku. Aku menunggu sampai ia selesai shalat. Terpana dengan pemandangan ini. Tak pernah kulihat seorang muslim shalat sepertinya.

"Siapakah gerangan lelaki berjubah putih ini?"

Setelah menunggu lama. Entah berapa jam karena tempat ini tak ada penunjuk waktu, matahari, bulan atau bintang. Akhirnya, lelaki berjubah putih menoleh ke belakang, tepat ke arahku.

"Jailani?"?jantungku hampir copot dan mata membelalak secara maksimal memastikan lelaki berjubah putih ini Jailani atau bukan. Memang ia adalah Jailani dengan perbedaan yang sedikit mencolok. Matanya jernih, sejernih mata air zam-zam. Bola matanya berwarna biru, memancarkan aura kebijaksanaan. Mukanya teduh dan yang istimewa wajahnya, sangat cerah. Secerah wajah Nabi dalam zona imajinasiku. Wajah itu menyiratkan penyatuan dengan Sang Ada. "Apakah ia benar Jailani?" otakku terus bertanya dan bertanya.

"Ihsan, kita bertemu lagi." Suaranya membuyarkan lamunanku. Suara ini, suara Jailani.

"Apa yang kamu lakukan di sini Jailani? Kita berada di mana?" tanyaku bertubi.

"Tak penting ini dimana, yang penting kita masih dapat bertemu hari ini. Aku senang bercakap denganmu Ihsan." Senyum merekah di bibir merahnya.

Aku menarik napas dalam-dalam demi menenangkan diri, tapi udara sangat tipis di tempat ini. Seakan diriku berada di luar angkasa yang tak ada persediaan udara. Sekali lagi, "Di mana ini?"

"Sudahkah engkau mengenal Yang Ada?"

"Belum." Jawabku jujur.

"Tak mengapa, semua hamba butuh jalan yang panjang dan waktu yang lama untuk mengenal Yang Ada. Kamu kenal Ibrahim?"

"Maksud kamu Nabi Ibrahim?" mataku melotot, Jailani memanggil kekasih Allah dengan Ibrahim saja, tidak sopan.

"Ya, tentu saja. Dia mencari Yang Ada dengan tanya dan akal. Apakah Bulan? Apakah Matahari? Apakah Berhala yang disembah kaumku? Bukan. Dia terus mencari dan mencari, sampai suatu ketika turunlah Hikmah dari Yang Ada. Memperkenalkan diri-Nya lewat Kalam melalui Qalbu Ibrahim." Jailani menyampaikan dengan pernyataan retoris dan seni berbicara yang sangat anggun dan terpelajar. Berbeda dengan sebelumnya.

Ia terdiam sejenak. Jarinya menggerakkan tasbih sedang mulutnya terbuka lembut.

"Bahkan seorang Ibrahim pun bertanya dan mencari Yang Ada. Dia butuh proses, apalagi kau Ihsan." Tangan kanannya menujuk ke arahku, tepat di dadaku.

Jailani sekali lagi menyadarkanku, betapa proses mengenal Yang Ada butuh waktu. Rasa kenal dan 'menyatu' dengan-Nya tidak semudah merebus mie instan.

"Jadi apa yang harus aku lakukan?" memandang Jailani meminta jawaban yang menenangkan.

"Jernihkan hatimu terlebih dahulu. Muhammad saja, hatinya dicuci oleh Jibril. Cucilah hatimu dengan mengingat-Nya. Ketika kamu sedang duduk, berdiri atau tidur. Pikir, hati dan gerakanmu hanya menuju Yang Ada."

Tiba-tiba daun kering berguguran dari atas, bukan hanya satu atau dua lembar tapi ribuan daun. Pemandangan ini sangat mirip dengan musim gugur. Kuputuskan untuk menangkap satu daun. Kuperhatikan dengan seksama, daun ini mirip dengan daun pohon beringin yang telah kering, berwarna coklat tapi ada yang berbeda, ada tulisan IHSAN dalam tulisan arab.

"Apa maksudnya ini?"

"Kenapa? kamu kaget ada tulisan namamu di daun kering itu."

Aku mengangguk halus.

"Mengapa ia mengetahui pikiranku?" Mukaku terheran-heran mirip anak kelas 2 SD yang sedang diajar Statistik Non Parametrik.

"Semua makhluk ada masanya. Bila saatnya tiba maka akan gugur dan terputuslah kisahnya. Maukah kau menutup kisahmu tanpa mengenal Yang Ada?"

Mulutku terkunci tak dapat mengajukan tanya. Napasku berat. Dunia ini berubah hitam, gelap. Cahaya Jailani sedikit demi sedikit memudar. Masih kulihat sepintas sosoknya membalikkan badan dan kembali berdiri melaksanakan shalat. Sejurus kemudian hanya kegelapan.

___

Aku tersadar. Tubuhku dibanjiri keringat. Kuamati sekitar, ini kamarku.

"Tadi itu dunia apa? Dunia mimpi atau apa? Terasa nyata."

Napasku terengah-engah. Aku berdiri dan menuju pintu, Kulihat jubah tergantung di belakang pintu, tak pernah kulihat jubah itu. Warna putih. Bukan milikku, bukan pula milik ayah. Kuraih jubah putih itu. Kutelisik dengan seksama, "Ini jubah putih milik Jailani."

Mulutku menganga setengah, benakku tak hentinya bertanya.

"Apa yang terjadi?"

?

?

Sampai ketemu lagi hari Kamis

?

___

Gambar diambil di sini

___

?

*Cerita Sebelumnya:

Senin

Selasa