Adakah Dunia yang Lebih Luas dari Dunia Seorang Penulis?

Dinan
Karya Dinan  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Maret 2016
Adakah Dunia yang Lebih Luas dari Dunia Seorang Penulis?

Adakah Dunia yang Lebih Luas dari Dunia Seorang Penulis?

Dinan

?

Sedang ramai para inspirator memposting tulisan tentang dunia tulis-menulis, dari yang serius sampai dengan alasan personalnya. Kali ini, saya mohon izin untuk nimbrung ya.

Hemat saya, seorang penulis memiliki dunia yang tak berbatas. Berbeda dengan profesi lain yang memiliki batas profesinya. Sedang penulis, ia melewati ruang dan waktu. Dunianya yang terluas bahkan tak berbatas. Jika konsisten dengan ideologinya dapat mencium surga dengan menulis.

?

Percaya tidak?

?

Mari kita simak penjelasan saya berikut ini:

?

1. Penulis bisa menjadi siapa saja

?

Dengan tulisan atau karyanya, maka penulis dapat menjadi siapa saja. Menjadi atheis, pelacur, lesbian, gay, rakyat jelata, pejabat, presiden, ulama, pengusaha muda, pria, wanita, remaja, bocah, atau apa saja sesuai keinginan penulis.

Profesi lainnya hanya dapat menjadi satu karakter saja, sesuai dengan batasan profesinya. Berbeda dengan dunia penulis, idenya tumbuh dan berkembang hingga mencipta suatu karakter yang berbeda atau sama dengan dirinya. Kita bisa menjadi orang lain sesuai ide kita.

?

Adakah yang lebih asyik dari dunia ini?

?

Satu-satunya batasan karakter seorang penulis adalah idenya. Bukankah segalanya bersumber dari ide? Ide adalah zat pertama 'big bang' karya kita. Semakin baik ide yang kita gali maka semakin luas ledakan karya kita.

?

2. Penulis bisa berada di mana saja

?

Terkadang kita berada di London, Jakarta, Makassar, Maros, Pinggir Pantai, Sungai atau sekedar di Kamar. Kita dapat berada di mana saja.

Ruang penulis hanya dibatasi oleh imajinasinya, terkadang mereka berada di ruang fiksi yang entah ada atau tidak. Semakin gila imajinasi seorang penulis maka semakin gila karyanya. Bukankah dunia butuh banyak orang gila?

?

Adakah yang lebih asyik dari dunia ini?

?

"Imajinasi mengalahkan pengetahuan." Kesimpulan seorang ilmuwan besar. Imajinasi menembus membran zahir yang dapat disaksikan oleh mata, menembus langit dan dapat melubangi tanah sampai paling dasar di mana tak ada lagi udara.

?

3. Penulis dapat menjadi Guru Kehidupan

?

Tahun 2014, seorang gadis bernama Malala. Ia berasal dari Pakistan, dianugerahi Nobel Perdamaian. Ia adalah penerima Nobel Termuda dalam sejarah, 17 tahun. Ada satu kalimat yang membuat telinga dunia berdengung kencang dan secara otomatis membuka mata dunia.

?

"Satu anak, satu guru, satu buku, satu pena bisa mengubah dunia."

?

Pernyataan yang sangat visioner, berharap membawa perubahan bagi negerinya yang dipenuhi konflik berkepanjangan, Taliban. Dengan tulisan dan kritikannya, Malala menjadi Guru Kehidupan di usia muda, mengajarkan kebebasan memperoleh pendidikan bagi setiap anak, terutama anak perempuan di Pakistan bahkan di dunia. Malala juga adalah seorang penulis.

?

Dengan menjadi penulis maka kita dapat menjadi Guru Kehidupan. Menyampaikan, mengajarkan atau sekedar mengingatkan tentang kebaikan. Bukankah ini adalah kewajiban seorang muslim? Dakwah. Penulis dapat menyebar kebenaran dan kebaikan. Dengan fungsi ini maka dunia penulis dekat dengan pintu kenikmatan abadi, surga. Tapi, uang memiliki dua sisi, begitu pula dengan penulis. Seandainya yang disampaikan adalah keburukan atau dusta, maka secara otomatis tangannya telah menggali lubangnya, menuju lubang terdalam dan tergelap. Tempat syaitan di penjarakan, siksa-Nya abadi.

?

Anda pilih yang mana?

Menjadi Guru Kehidupan atau Murid Syaitan.

?

Dengan tiga point di atas maka dunia penulis tak berbatas. Bagiku sederhana, "Menulislah maka engkau menemukan jati dirimu.Bahkan Tuhan juga 'menulis', mengapa kalian para Makhluk enggan untuk menulis?"

?

* Note: Bila ada kesalahan mohon koreksinya.

Salam Pena

?

?Ternate, 20-03-2016

  • view 177