Seminggu Bercakap dengan Jailani [Selasa]

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Maret 2016
Seminggu Bercakap dengan Jailani

Seminggu Bercakap dengan Jailani


Cerita Bersambung; seminggu bercakap dengan Jailani, menguliti kulit ideku dan menghanyutkan dogma yang telah kugenggam selama ini. Tanpa ragu, ia membuangnya ke tempat sampah.

Kategori Fiksi Umum

2.2 K Hak Cipta Terlindungi
Seminggu Bercakap dengan Jailani [Selasa]

Selasa
Penulis: Dinan

Kemarin. Yah, kemarin. Jailani telah merangsangku untuk sekedar tidak menerima mentah-mentah dogma agama dari Orang Tua, Guru, Masyarakat dan Kitab yang selama ini kupegang erat, tanpa harus mempertanyakannya. Bukankah semua ada, tak ada yang tak ada. Karena semua ada, maka kita dapat mengetahui, mengenal, melihat, memeluk bahkan bersatu dengan yang ada. Semua berawal dari satu dan akan menyatu jika frekuensinya setara, sama.

"Tapi, bagaimana aku dapat mengenal, 'melihat', 'memeluk' atau 'bersatu' dengan Yang Ada?" pikirku.

Gelembung air kecil mewujud, ikan nila mengambil oksigen demi melanjutkan napasnya. Bebatuan diselimuti lumut, air mengalir dari tinggi ke rendah, hulu ke hilir. Di sinilah aku, termenung di pinggiran sungai yang tak jauh dari rumah. Memikirkan percakapanku dengan Jailani kemarin sore. "Di mana Jailani sekarang? Aku butuh dia!" hatiku bertanya. Kuperhatikan sekitar, entah dari mana datangnya sosok itu. Jailani menyusuri setapak kecil, dengan baju hitam dan celana hitam. Mirip dukun. Seram.

Jailani mendaratkan pantatnya di bebatuan besar, lagi-lagi dengan duduk bersila. Menatap aliran sungai. Hening. Damai. Aku membiarkannya melakukan ritual selama beberapa menit, ia membutuhkannya. Seakan ritual itu makanan bagi ruhnya.

Aku berjalan ke arah ia bersemedi, duduk di sampingnya. Matanya terbuka, menyadari kedatanganku.

"Apa kabar Ihsan?" menoleh ke wajahku.
"Pusing, sakit kepalaku." ucapku dengan muka berkerut.
"Ada apa?"
"Bagaimana cara kita mengenal Yang Ada?" tanyaku to the point.

Ia mengalihkan pandangannya ke langit. Menatapnya tajam, terasa hening menyelimuti. Sesaat kemudian, tubuhku merinding. "Apa ia melihat sesuatu?" gumamku dalam hati.

"Ihsan..." mengalihkan pandangannya ke aliran air sungai. "Pernah tidak kamu memikirkan, mengapa air mengalir dari tinggi ke rendah? Mengapa itu selalu terjadi di semua sisi di bumi ini?"
"Ya, karena itu hukum alam. Sunatullah. Telah digariskan oleh Pencipta." jawabku dengan mantap.
"Itulah kesalahan kita manusia, terlalu dangkal dalam memikirkan sunatullah. Bukankah Pencipta adalah Dzat Yang Paling Jenius? Sumber dari segala sumber. Mengapa kita tidak sedikit saja 'menyerupai-Nya'?"

"Aduh. Jailani, Jailani. Selalu saja, tanya dijawab dengan tanya." perasaanku mulai dongkol.

"Jadi, kenapa air mengalir dari tinggi ke rendah?" aku menatapnya lurus, tepat di matanya. Berharap ia mau menjelaskan ketidakjelasan ini.
"Air itu bersujud. Bersujud dari ruang terendah. Merendahkan dirinya dihadapan Yang Paling Tinggi."

Aku terdiam. Anak ini memikirkan sampai ke tingkat terdalam seperti itu. Selama ini, aku hanya menerima segalanya. Tanpa bertanya apalagi memikirkannya secara mendalam.

Seekor katak hijau meloncat dari batu yang satu ke batu yang lain dengan riangnya. Beranjak ke pinggiran sungai tuk sekedar membasahi tubuh. Kemudian berenang mengikuti arus sungai, mengikhlaskan tubuhnya dibawa ke manapun hilirnya.

"Oke. Terus apa hubungannya dengan cara kita mengenal Yang Ada?" kupertajam pertanyaanku.
"Air telah mengenal Yang Ada. Itu sebabnya ia bersujud dalam kerendahannya. Mengapa kita manusia yang konon memiliki akal dan hati tidak mampu mengenal Yang Ada?"

Angin berhembus mengantar awan hitam di langit. Sepertinya, hujan akan menyiram bumi sebentar lagi.

"Kita ke bawah pohon beringin di atas situ yuk, sepertinya mau hujan." Ajakku sambil menunjuk pohon beringin lebat yang berada di bagian atas.
"Tidak usah, di sini saja. Air hujan akan membantumu mengenal Yang Ada." Ucap Jailani dengan muka serius.

"Hujan-hujan? Tak mengapa, asal ia mau menjawab pertanyaanku"

Kami tetap duduk di pinggiran sungai, gerimis telah mulai membasahi bumi. Termasuk kami. Butir-butir air menusuk-nusuk kepalaku, mirip akupuntur. Terasa segar dan menenangkan. Jailani masih dengan posisi duduk bersila, kedua tangannya di letakkan di lutut. Mirip orang yang sedang bersemedi.

"Sekali lagi, bagaimana cara kita mengenal Yang Ada?"
"Yang Ada itu sangat dekat, sangat dekat. Lebih dekat dari urat nadimu. Dia ada di qalbumu. Qalbu adalah membran terdalam hatimu, yang merupakan rahasia-Nya. Semakin suci hatimu, semakin qalbu itu akan memantulkan Cahaya Ilahi.Kenallah Dia dengan qalbu!" Jailani memperlihatkan muka yang tenang. Seakan yang dia bicarakan keluar dari qalbunya. Bukan mengada dan diadakan. Kata-katanya mengalir, tanpa konsep, tanpa menukil nash, atau perkataan Ulama.

Hujan bertambah deras, tapi Jailani tak sedikit pun berniat untuk pindah tempat. Dengan terpaksa aku harus menemaninya, mumpung ia mulai membuka hikmah di balik diamnya.

"Mengapa qalbu dapat mengenal-Nya?"
"Karena qalbu adalah 'titisan' Yang Ada." Jawab Jailani dengan lugas.

'Titisan'? Ayahku pernah berkata, "Setiap manusia dititipkan sesuatu dari Pencipta, semakin kita merawatnya dengan baik maka kita akan senantiasa bersanding dengan Pencipta." Jadi ini maksud perkataan ayah.

"Bayangkan, jika Pencipta tak menitipkan qalbu pada manusia. Mampukah akal mengenal-Nya? Tidak. Akal hanya bermain di wilayah logika sedang qalbu bermain di wilayah rasa. Semakin engkau memiliki rasa semakin engkau dekat dengan-Nya." Jailani berceloteh tanpa aku bertanya.
"Tapi, terasa qalbuku mati rasa. Iman dan ibadahku terasa hambar. Bagaimana mungkin qalbuku dapat mengenal-Nya?" tanyaku polos.
"Ingat, manusia digolongkan berdasarkan kejernihan qalbunya. Jika kamu ingin naik kelas maka jernihkan qalbumu," Jailani berdiri, kemudian mendekati air sungai mengambil air wudhu dan kembali duduk di sampingku.

"Jailani wudhu? Alhamdulillah, ia Muslim. Bukan penganut aliran sesat, satu versi terbantahkan."

"Qalbu memang 'titisan'-Nya. Tapi, kita butuh jalan menuju ke Qalbu yang fitrah. Jalan itu adalah Agama, agar kita tidak kacau dan semrawut saat 'berbicara' dengan Yang Ada."
"Aku telah menjalankan agama dengan baik. Seingatku, sejak aku aqil baliqh tak pernah aku meninggalkan shalat lima waktu. Tapi mengapa aku belum juga mengenal-Nya?"
"Di situlah kelasmu. Jika ingin naik kelas, jernihkan lagi qalbumu. Menurut saya, tahapan pencarian seorang manusia di mulai dengan mengetahui dan mengenal-Nya. Sebenar-benarnya kenal. Mengesakan-Nya dan tak menduakan-Nya. Ingat, mengesakan-Nya. Hanya Dia, hanya Dia, hanya Dia segala-Nya. Tak ada yang lain. Imani Dia dengan petunjuk nash, akal dan qalbumu. Iman akan kuat jika berpegang pada tiga hal tersebut. Setelah itu beribadahlah, maka kamu akan 'bersatu' dengan Yang Ada." ucap Jailani panjang lebar.

Penjelasan Jailani betul-betul membuatku tersadar. Selama ini, hanya nash dan akal saja yang kupakai untuk mengimani-Nya. Tak pernah kulibatkan qalbuku. Hujan telah mereda, air sungai tampak keruh.

"Aku pulang dulu ya." Ucap Jailani bersiap melangkah.
"Tunggu dulu, ini belum tuntas. Masih banyak tanya di kepalaku." Sambil memegang tangan kanan Jailani.
"Tanya itulah yang akan membawamu kepada-Nya. Bertanyalah maka kamu akan mengenal Yang Ada." ucap Jailani enteng. Ia menepis genggamanku dan beranjak pergi.

Sekali lagi Jailani meninggalkanku dalam 'zona abu-abu'.

Jailani mengatakan Yang Ada itu bersemayam di Qalbu, padahal guru mengajiku mengatakan Dia bersemayam di Arsy? Mana yang benar?
Mengapa shalatku tak dapat membantuku untuk mengenal-Nya?
Mengapa qalbuku mati rasa?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih beterbangan di kepalaku. Masih ingin kupikirkan secara mendalam, tapi dingin menusuk ke sekujur tubuhku. Mengapa dinginnya baru terasa? Tadi, saat bersama Jailani aku tak merasa dingin sedikitpun. Aku beranjak pulang ke rumah, semoga ibuku tidak marah dan bersedia membuatkan teh hangat.

"Besok aku akan mencarimu Jailani. Kamu harus menuntaskan 'zona abu-abu' ini." pikirku.

?

Sampai ketemu lagi hari Rabu

___

Gambar diambil di sini

___

?

*Cerita Sebelumnya :

Senin