Pembunuh Asap [Sisi Empat_#Tamat]

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Maret 2016
Pembunuh Asap [Sisi Empat_#Tamat]

Pembunuh Asap

Sisi Empat_#Tamat

Penulis: Dinan

?

Apa jadinya dunia tanpa ide? Gelap. Tak ada penunjuk arah dan seakan tersesat pada himpitan napas makhluk yang berseliweran menumpuk dosa. Seandainya ide untuk mencipta semesta tidak hadir pada diri Sang Khalik, apa semua ini ada? Ide adalah segalanya. Tak ada bentuk tanpa ide. Tak ada apapun tanpa ide. Semua berawal dari ide.

Seminggu berlalu setelah pertemuan perdana Pembunuh Asap. Merekomendasikan pada Layla untuk mencari ide tanpa perangsangnya, rokok. Tapi, dengan travelling, membaca dan menjernihkan hatinya. Layla berjalan di jalan setapak, menyaksikan gemuruh air terjun yang tampak keruh karena hujan dua jam lalu. Di bebatuan, dua ekor kupu-kupu bermain dengan riang, satu berwarna hitam legam, sedang satunya lagi berwarna orange dan berbintik putih. Konon, kupu-kupu menyimbolkan keindahan dan bila ada kupu-kupu yang masuk rumah maka tamu dari jauh akan berkunjung. Seseorang yang dirindukan. Tiga bocah sedang bermain air di dasar air terjun, saling menyiram air ke muka masing-masing, tawa mereka menghiasi keindahan air terjun. Di sinilah Layla mencari ide, tempat wisata favorit di pinggir kota Maros, Bantimurung.

Layla membuka tas kecil bawaannya, mengambil novel untuk dibaca sambil menatap air terjun. Akar, karya Dee. Ia daratkan pantatnya pada tempat duduk kecil di taman. Membaca dan menikmati alam, mencoba mengusir candunya yang mengkristal di benaknya. Menit bergulir dengan cepat, tak terasa tigapuluh menit ia membaca novel. Ia memutar kepala menyaksikan sekitar. Seorang pria paru baya sedang menikmati nikotin. Hawa candunya mengusik. Merengek untuk dipenuhi. Memaksanya untuk membeli walau hanya sebatang di pedangang kaki lima dekat loket karcis.

"Tidak. Tidak. Tidak. Saya harus membunuh asap. Harus!" gumamnya dalam hati. Ia hanya mengambil botol air mineral dari tasnya, meneguk beberapa kali. Berharap candu itu sedikit memudar.

Layla mengalihkan pandangan. Tempat ini dihimpit oleh pegunungan yang menjulang cukup tinggi. Akar pohon bergelantung di sana-sini. Sedetik kemudian idenya menghinggapi otaknya.

"Akar tidak harus berada di tanah. Bila waktunya tiba, sebaiknya akar juga membuncah keluar. Memperlihatkan kekuatan dan eksistensinya." Ia memegang dagu. Kembali menatap akar yang bergelantungan di pegunungan.

"Akar ini harus dipublish. Hari kemerdekaan adalah momen yang sakral dan sudah selayaknya masyarakat mengetahui gerakan ini. Gerakan, Politisasi Dalil Mengubur Agama." telapak tangan kanannya menyentuh jidat. Wajahnya menoleh ke tanah.

Layla sangat gerah dengan ulama atau tokoh masyarakat yang mempolitisasi dalil-dalil demi kepentingan politik. Agama terasa sedap dijadikan bumbu saat pilkada. Menyerang sosok atau calon bupati, walikota, gubernur, presiden atau anggota dewan yang berbeda mazhab. Menurutnya, jika ingin beragama maka beragamalah secara kaffah bukan hanya pada saat suksesi berlangsung. Ia membentuk sebuah gerakan dengan beberapa teman di kampus. Intinya, Politisasi Dalil Mengubur Agama. Ia menamakannya Suara Kaffah. "Tapi bagaimana metode pergerakannya?" ia terdiam. Mendengar detak jantungnya yang semakin cepat. Meminta aliran nikotin demi menenangkannya.

Aliran darah di otak Layla terhenti. Seminggu tak diberi asupan nikotin. Membuatnya merajuk dalam keheningan dan kegersangan ide. Ia menyerah, menuju pedagang kaki lima di dekat loket karcis. Membeli sebatang rokok, membakar dan menghisapnya dengan lembut. Menikmati delir-delir nikotin yang menenangkan.

Layla Indira kalah. Sekali lagi ia takluk oleh candu!

___

Dari lahir, kehidupan terasa sesak oleh kebutuhan tak berujung. Pemenuhannya hanya di alam mimpi belaka. Tangan hanya dua sedang kebutuhan semilyar. Desakan kebutuhan dan himpitan ekonomi semakin menyesakkan. Mengantar sembilanpuluh persen manusia ke ruang stress yang membahana. Salah satunya Ansar.

Siang ini, matahari menyirami energi berlimpah, awan enggan bermain di taman langit, hanya beberapa helai di atas sana, sedang rumput hijau masih saja menari lembut di dorong oleh alunan musik angin. Seharusnya Ansar bermalas-malasan di kamar, atau sekedar bermain dengan Khanza. Tapi, hari ini ia harus mengejar rezeki, demi memenuhi kebutuhan rumah tangga, ia nyambi sebagai tukang ojek di hari libur.

"Pak, Berapa ke Pasar Toddopuli?" tanya seorang ibu. Ansar menengok dan memandang sekilas calon penumpangnya.

"Sepuluh Bu," memperlihatkan muka serius.

"Lima ribu saja, dekat ji'." dengan muka yang lebih serius dari Ansar.

"Tambah tiga ribu sudah Bu. Panas nih." kali ini mimiknya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi memelas.

"Iya." diplomasi tawar-menawar selesai. Ansar mengantar dengan semangat. Rasa syukur akhirnya merasuk ke relung hatinya. Setelah sejam menunggu penumpang di pangkalan ojek akhirnya ia menemukan pelanggan perdana.

Setelah bersabar dengan terik matahari dan macet jalanan di pinggiran kota, akhirnya ia sampai di Pasar Toddopuli. Menerima bayaran dari penumpang kemudian kembali mencari penumpang di sekitar pasar. Mondar-mandir selama duapuluh menit tak satupun yang memanggil atau melambaikan tangan, kering. Ia memutuskan kembali ke pangkalan ojek.

Ansar melepas jaket dan duduk di bawah pohon mangga. Daun yang rimbun menepis perlahan sinar sang surya.

"Besok, saya harus membayar cicilan kasur. Dua ratus lima puluh ribu. Kemana saya menemukan uang sejumlah itu?" pikirnya. Ia merogoh dompet di sakunya, hanya selembar uang lima ribu, selembar uang dua ribu dan selembar uang seribu, pemberian pelanggan perdananya tadi. Mampus.

Sejak pertemuan perdana Pembunuh Asap, Ansar telah seminggu tidak menghisap rokok. Belajar untuk membunuh candunya. Ketika nafsu itu membuncah, ia mengambil air wudhu dan shalat dua rakaat. Cara itu cukup berhasil. Stress dan nafsu nikotinnya menipis. Tapi kali ini terasa berat. Ia menyerah. Dengan selembar uang seribu di dompetnya, ia membeli sebatang rokok. Membakar dan menghisapnya dengan dalam. Sangat dalam. Otak dan hatinya bergemuruh, aliran darahnya terpompa dengan cepat dan stressnya meluap bersama asap ke langit biru.

Ansar kalah. Ia tak dapat membunuh asap.

___

Lantunan merdu Kalam Ilahi mengaliri dinding rumah, meroket ke langit, kemudian dihantarkan oleh para malaikat ke Singgsana-Nya. Seorang hamba menangis dengan ratapan tersedu, air matanya membasahi sajadah. Rindu dan kesepian mencabit nuraninya. Candu telah membujuk dengan dahsyat. Memaksanya bercumbu dengan kekasih barunya, rokok. Tapi, Dg. Jami masih bertahan. Entah sampai kapan.

Jam dinding menujukkan pukul tiga lewat limabelas menit. Dg. Jami' masih istiqomah mencari Kekasih sejatinya. Kekasih yang sempat ia lupakan. Allah, Tuhan Semesta Alam. Metode mengusir candu hanya satu, mengantikan candu dengan candu yang lebih indah dan mendamaikan. Candu 'berjumpa', 'berbisik' dan 'berpelukan' dengan Yang Maha Ada.

Angin malam tak mau dibendung, memasuki sela-sela jendela kamar Dg. Jami'. Mengantarkan bisikan syetan yang terkutuk, "Sudahlah Dg. Jami'. Isap saja. Masih ada rokok dua batang di laci meja. Ayolah." Dg. Jami menutup mushafnya, mengambil tasbih di sudut sajadah. Meratapkan dzikir, "La Ilaha Illallah.. La Ilaha Illallah... La Ilaha Illallah... Tiada Tuhan selain Allah. Tiada tempat bergantung kecuali Dia. Tiada Kekasih selain Dia. Tiada yang ada kecuali Dia." hati dan ruhnya melafal, menyakini, dan mendalami makna dzikirnya. Ucapan yang merupakan kunci surga itu menerangi hati dan akalnya. Mengusir bisikan syetan dan yang terutama menghempaskan nafsu untuk merokok ke lubang yang sangat dalam.

Dg. Jami berhasil. Ia sang Pembunuh Asap sesungguhnya.

___

Mentari pagi bersinar hangat. Induk ayam dan tiga ekor anaknya mencari makan di halaman. Dg. Jami' menikmati kopi hitam di pagi hari. Tak ada asap yang mengepul. Tak ada nikotin. Candu telah tergantikan. Ia meraih HP dan memanggil Layla.

"Halo, Layla."

"Iya Dg. Jami'. Bagaimana?"

"Hari ini kan pertemuan kedua Pembunuh Asap. Kita ketemunya di Pantai Tak Berombak saja, sekitar Kantor Bupati Maros. Jam empat sore. Saya yang traktir."

"Oke Dg. Jami'. Biar saya yang telpon Pak Ansar."

"Iye"

Telpon ditutup, Dg. Jami beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan Shalat Dhuha.

___

Maros. Kabupaten yang berbatasan dengan kota Makassar. Sedang merangkak menuju kota dunia, dengan segala perbaikan di segala sektor. Pantai Tak Berombak atau PTB, salah satu tempat nongkrong muda-mudi maros, sore sampai malam. Dg. Jami, Layla dan Pak Ansar telah duduk di sudut belakang, dekat kolam.

"Baiklah, sepertinya bisa kita mulai." ujar Layla dengan muka serius.

"Oke, saya mulai yah. Tidak tahan nih, wkwkwk..." Ansar tertawa ngakak. Ia melanjutkan sambil menatap kolam, "Selama dua minggu, saya hanya menghisap rokok empat batang. Itu pun terpaksa. Ini perubahan drastis. Setelah mencoba melakukan saran Dg. Jami'. Tapi bagaimanapun, saya gagal membunuh asap!" wajahnya bergeser ke Dg. Jami' dan Layla. Ia malu.

"Sama, saya juga. Telah kucoba untuk travelling, membaca dan menjernihkan hati. Tapi candu ini mengalahkan logika. Saya hisap enam batang, selama dua minggu ini." Mata Layla terlihat sendu.

"Saya pikir, kalian telah berusaha membunuh asap. Awalnya sebungkus satu hari, sekarang empat dan enam batang selama dua minggu. Itu Progress. Harus disyukuri," ucap Dg. Jami menenangkan. Ia meletakkan kedua tangannya di meja. "Tuhan telah hadir sebagai kekasih baru, saya telah move on dari nikotin." senyum merekah di bibirnya.

"Wah..selamat Dg. Jami', akhirnya ada juga yang berhasil membunuh asap." Pak Ansar menjabat tangan Dg. Jami'

"Ternyata, Dg. Jami memang Top marko Top." Layla menampakkan muka ceria.

"Terimakasih. Ini semua Kehendak Allah. Sebaiknya, Pembunuh Asap jangan dibubarkan dulu, kita dapat bertemu sebulan sekali. Dan menanti kabar gembira dari kalian." ujar Dg. Jami' lembut.

"Setuju!" ujar Layla Mantap, diikuti anggukan Ansar.

Mereka bercerita sampai senja, tentang keluarga, kehidupan dan mimpi mereka. Pembunuh Asap telah berhasil menyatukan mereka dalam nuansa kekeluargaan. Semoga asap nikotin akan lenyap di bumi persada Indonesia. Semoga.

?

___

Sisi Satu : https://www.inspirasi.co/post/detail/6300/pembunuh-asap-sisi-satu

Sisi Dua : https://www.inspirasi.co/post/detail/6657/pembunuh-asap-sisi-dua

Sisi Tiga : https://www.inspirasi.co/post/detail/7508/pembunuh-asap-sisi-tiga

___

  • view 122