Seminggu Bercakap dengan Jailani [Senin]

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Maret 2016
Seminggu Bercakap dengan Jailani

Seminggu Bercakap dengan Jailani


Cerita Bersambung; seminggu bercakap dengan Jailani, menguliti kulit ideku dan menghanyutkan dogma yang telah kugenggam selama ini. Tanpa ragu, ia membuangnya ke tempat sampah.

Kategori Fiksi Umum

2.2 K Hak Cipta Terlindungi
Seminggu Bercakap dengan Jailani [Senin]

Senin

Penulis: Dinan?

?

Jailani pun bercakap. Entah dengan siapa. Mungkin, dengan selusin malaikat yang pernah ia katakan padaku waktu itu, "Kamu lihat tidak?" matanya menatap lurus ke langit. "Selusin malaikat bumi sedang bersenandung!" tigapuluh detik kemudian tatapannya bergeser tigapuluh derajat ke kanan. Sudah satu jam, posisinya masih sama. Duduk bersila.

Ada berbagai 'versi' tentang Jailani. Ada yang menganggapnya gila, karena sering berbicara sendiri yang tak jelas maknanya, atau sekedar duduk bersila menatap langit, matahari, awan, bintang, bulan, sawah, padi, sapi, rumput, semut, kerikil bahkan debu. Ada pula yang menganggapnya sebagai penganut aliran sesat, karena hampir tiap hari ia melakukan ritual selama dua jam, duduk bersila dengan mata tertutup. Ada juga yang beranggapan ia cenayang, mampu melihat, merasakan dan berkomunikasi dengan 'portal' lain. Tapi, ayahku memiliki pendapat berbeda, "Jailani itu tidak gila, bukan cenayang dan tidak sesat. Ia hanya memiliki mata bathin yang bening hingga dapat menembus membran zahir." Entah siapa yang benar.

Hari ini, ia berbaju dan bersarung putih, rambut tertata rapi bagai barisan semut di pinggir kali. Mungkin, ia habis mandi dan dipaksa bersisir oleh neneknya. Penampilannya mirip Ahli Zikir. Sudah dua jam ia mendaratkan pantatnya di balai-balai milik Pak Andi. Tetap dengan ritual yang sama, duduk bersila dan memandang semesta.

Aku menghampirinya, ingin memastikan versi mana yang benar. Gila, cenayang, sesat atau mata bathin yang bening? Duduk di sampingnya, menatapnya. Wajahnya begitu damai, seakan semesta merasuk ke dalam tubuhnya. Apa sebenarnya yang ia lakukan? Dua menit kemudian, ia mulai membuka mulutnya.

?

"Apa pun yang ada pasti dapat dikenal. Justru yang tak ada yang tak mungkin dikenal."

Terdiam, menghembuskan napas dan mendengar desahan lembut angin.

Aku memberanikan bertanya, "Apa yang pasti dapat dikenal?" kupingku secara otomatis melebar beberapa sentimeter menunggu jawabannya. Tapi, ia hanya memandang semut merah di depannya. Untung saja, semut merah itu memotong jalan ke arah samping hingga cepat sampai ke tepian. Akhirnya, Jailani mendongak kepadaku.

"Adakah yang tak ada?"

"Assem... bukannya menjawab malah bertanya lagi. Aduh...Ia memang orang gila," gumamku dalam hati.

"Ihsan..." menghela napas, jari telunjuk mengusap lembut hidung mancungnya. Entah ia berpikir atau gatal, digigit kawan semut merah tadi.

"Sebentar, dari mana ia tahu namaku? Sudahlah. Asal ia mau menjelaskan maksudnya, hingga aku bisa cepat pulang menikmati teh manis ditemani gorengan buatan ibu."

?

"Tak ada yang tak ada. Semua ada. Jadi, semua dapat dikenal, diingat, diraba bahkan dipeluk."

"Jailani, apa yang ADA?" sambil menunjukkan mimik serius dan sedikit memelas agar ia menjelaskan lebih detil lagi.

"ADA... yah, ADA! Tak usah defenisikan lagi. Intinya, semua ada dan wajib kamu kenal. Termasuk Dia. Ingat, Dia ingin dikenal. Bukan sekedar diketahui, diucap atau diyakini. Tapi dikenal!" mata syahdunya berkaca-kaca, mendung melanda, gerimis air matanya mewujud.

Entah karena apa.

?

Kuperhatikan dengan seksama, betapa Jailani ingin mengenal eksistensi keberadaan-Nya. Tanpa dogma dari sekitar, tapi melalui perenungan yang dalam dan bersatu dengan semesta. Sehati dengan makhluk lain, melantunkan senandung merdu kepada-Nya.

?

Bukankah 'hati' kita 'SATU'?

Bukankah 'titik' hanya 'SATU'?

Bukankah semua berawal dari 'SATU'?

Karena kita 'SATU', maka kita dapat 'menyatu' dengan debu, kerikil, semut, rumput, sapi, padi, sawah, bulan, bintang, awan, matahari dan alam semesta.

?

Idenya menguliti ide dalam kepalaku. Dogma yang tertanam di hatiku terasa dihanyutkan oleh gelombang ide Jailani. Sederhana dalam kompleksitasnya, sekaligus kompleks dalam kesederhanaannya.

Kucari hati terdalam, Qalbuku. Ku tanyakan padanya, "Apa Jailani benar?" lama kutunggu. Satu menit, dua menit, tiga menit. Qalbuku tak menjawab. Sunyi. Mungkin, aku tak pernah mengenal Dia dengan Hati, hanya dogma orang tua, guru, kitab, dan akal semata. Hingga lapisan hati terdalamku, yang merupakan 'Rahasia-Nya' terkubur sangat dalam.

?

Padi hijau tampak bergetar, mempersilahkan ikan gabus kecil melewatinya. Sejurus kemudian, di jalan setapak tampak Pak Andi mencari ayam peliharaannya. Kejar mengejar antara Pak Andi dan ayam peliharaannya tak terhindarkan. Mirip program televisi kesenangan ayahku, '86'. Polisi mengejar penjahat. Entah siapa Polisi dan siapa Penjahatnya. Motifnya hanya satu; ayam masih mau bermain dengan cacing-cacing di pinggiran sawah, hingga belum mau pulang ke kandang. "Hari menjelang senja." pikir Pak Andi.

Jailani berdiri, hendak pulang ke rumah neneknya. Ia ingin memasakkan makan malam untuk neneknya. Se-gila, se-cenayang dan se-sesat bagaimanapun, ia adalah cucu yang berbakti. Jailani seorang yatim piatu. Neneknya adalah keluarga satu-satunya.

"Jailani, besok bisa bercakap lagi?" tanyaku penuh harap.

"Ihsan... Jika telah 'ditulis' pasti ketemu," menoleh ke tanah. "Ingat, Kita hanya Makhluk. Kita tak ada. Yang Ada hanya Sang Ada!" ia beranjak pergi menyusuri pinggiran sawah, meninggalkanku dalam tanya.

?

"Bukankah tak ada itu tak ada?"

?

Sampai ketemu lagi hari Selasa

?

___

Gambar diambil di sini

___

  • view 289