'Nyepi' Saat Gerhana

Dinan
Karya Dinan  Kategori Agama
dipublikasikan 06 Maret 2016
'Nyepi' Saat Gerhana

Fenomena yang sedang menjadi tajuk utama hampir semua media saat ini adalah Gerhana Matahari Total. Perkiraan ilmuwan akan terjadi pada 9 Maret 2016 bertepatan dengan Hari Raya Nyepi bagi Penganut Agama Hindu.

Penulis tak ingin hanya menjadi saksi sejarah, tapi ingin menyebur dalam kejadian yang langka ini. Sepengetahuan penulis, yang diperoleh dari beberapa sumber. Ada beberapa catatan penting yakni:

?

Pertama

Bagi Umat Hindu, Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Saka yang ke-1938. Dengan tujuan meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa agar menyucikan alam manusia dan alam semesta.

Gerhana Matahari Total ini adalah waktu yang sangat baik untuk menyepi dalam berbagai ritual khusus Nyepi, diantaranya: Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan dan Amati Lelaguan.

?

Kedua

Bagi Umat Islam, Sabda Rasulullah Saw, "Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan), maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat." Jika kita melihat gerhana, maka shalatlah. Sebagian besar ulama berpendapat, wajib melaksanakan shalat gerhana bagi yang melihatnya. Sedangkan yang tidak melihat langsung, tidak ada kewajiban melaksanakan shalat gerhana. Bagi Umat Islam harus diyakini bahwa, kejadian Gerhana (Matahari atau Bulan) tidak disebabkan karena kelahiran atau kematian 'seseorang'.

Yang menjadi point penting dari penulis di sini adalah, ketika melihat gerhana maka diwajibkan untuk 'menyepi', Shalat Gerhana. Artinya, kita dianjurkan untuk bermunajat kepada Allah SWT dalam do'a, takbir, shalat dan satu lagi, sedekah. Bukan, ber-traveling kesana-kesini, selfie dan memajangnya di Media Sosial.

?

Ketiga

Fenomena alam ini hanya terjadi di Indonesia, melintasi 11 Provinsi, termasuk Provinsi yang saya diami saat ini, Maluku Utara, Kota Ternate. Bayangkan kawan, saya akan tercebur dalam sejarah yang 'konon' hanya terjadi 300 tahun sekali pada satu daerah. Menurut prediksi ilmuwan, Gerhana Matahari Total selanjutnya yang akan terlihat di Indonesia pada tanggal 20 April 2023 di daerah Papua dan 20 April 2024 di daerah Sumatera dan Kalimantan, sepertinya saya belum tentu bisa menyaksikannya lagi, hihihi...

?

Keempat

Ini bagi para penikmat science, terutama fisika dan astronomi. Gerhana Matahari diduga dapat dijadikan sarana untuk menguji kebenaran Teori Relativitas Einstein. Aduh, ini berat...

Suatu benda dapat membelokkan cahaya ketika gerhana matahari, saat sang Surya ditutup maka bintang akan bergeser. Simpangan kecil cahaya bintang oleh Matahari hanya mungkin dilakukan ketika gerhana matahari total. Saat itu, piringan Matahari tertutup sepenuhnya oleh Bulan sehingga langit menjadi gelap seperti malam dan bintang menampakkan diri.

Pengamatan ini telah dilakukan oleh Arthur Eddington-Profesor Muda di Cambrige, Inggris- bersama dengan Frank Dyson pada tahun 1919. Hasilnya, "Pembelokan cahaya yang dialami bintang di belakang Matahari adalah 1,61 detik busur, hampir mendekati perkiraan yang diberikan Einstein. Hasil spektakuler ini membuktikan kebenaran teori Einstein tentang cara pandang fisika terhadap jagat raya. Teori Relativitas Umum memang tidak membuat hukum gravitasi Newton salah, tapi ini menunjukkan bahwa pemikiran Einstein lebih tepat.

?

"Pusing? Saya juga! wkwkwk.... " Penulis sambil tepok jidat.

?

Kelima

Hanya tambahan, alam berantakan dalam keteraturan. Matahari, Bulan dan Bumi dapat segaris mengapa kita manusia tidak mencontohnya? Semesta tunduk pada Sunatullah. Saat kita 'menyepi' atau merenung dengan sebaik-baik renungan, maka Kesadaran Ilahi akan tertancap di Hati kita. Dengan kesadaran itu, kita menginspirasi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negara menuju masyarakat adil dan makmur, masyarakat madani.

?

u.p: Terima Kasih, maaf jika ada kekeliruan.

?

___

Sumber gambar : http//m.liputan6.com/news/

Sumber artikel:

(1). http://gerhana-indonesia.id/id/einstein-eddington-dan-gerhana/

(2). http//m.liputan6.com/news/

___

?

:: Dinan ::

  • view 166