Bukankah Rasa Tak Mengenal Warna?

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Maret 2016
Bukankah Rasa Tak Mengenal Warna?

????

?

Bukankah rasa tak mengenal warna?

Tapi, mengapa mereka membuat kami risih?

Bukankah rasa tak berbatas?

Tapi, mengapa mereka membatasi kami?

?

Seandainya kami tidak seperti ini

Apakah mereka menerima kami?

Seandainya kami membuang kelainan ini

Apakah mereka mau bersanding dengan kami?

?

???

?

Sesuatu mencari ruang untuk mewujud, didesak oleh desahan nafas sejoli yang ingin merengkuh nikmat duniawi. Naluri mencapai puncaknya, di bawah remang lampu kamar apartemen Sih. Lan memandang lurus mata Sih. Mereka tak pernah jenuh saling memandang, "Ada aliran cakra kasih yang mengalir jika kita saling memandang." ujar Lan. Sih hanya terdiam, mendekap dengan mesra kekasihnya. Tapi kekhawatiran itu muncul lagi.

"Sampai kapan kita seperti ini?"

"Selama rasa ini masih tertanam di hati kita."

"Rasa ini tak diterima alam, bagaimana dengan masa depan kita?"

"Sih... berapa kali saya harus mengatakan ini, masa depan hanya milik Cinta, bukan milik kita! santai saja."

"Aku takut kehilangan kamu Lan. Takut..."

Sih semakin mendekap Lan dengan kuat, berharap dapat memeluk sampai ke hatinya. Agar hati mereka tertaut walau sedetik, dua detik, tiga detik. Itu cukup.

???

?

Pria itu menyusuri ruang-ruang kecil, mencari PB 140, ruang kuliahnya hari ini. Ketika ia berjalan, hampir semua hawa meliriknya. Bagaimana tidak? Dengan tinggi sekitar 170 cm, kulit putih, rambut gonrong, rahang yang kokoh, mirip dengan aktor korea yang sedang ngetrend saat ini. Akhirnya, sampai juga di ruang kuliah yang dicari. Saat ingin beranjak masuk ke ruangan seorang wanita menyapa.

"Lan, ke mana saja?"

"Eh...Tyas, cuma di kosan saja, nonton."

"Sekali-kali kita nonton bareng. Terserah deh, mau di kosan atau di bioskop. Aku traktir."

"mmm... lain kali saja ya. Lagi malas bergaul nih, pengen sendiri saja. Hehehe..."

"Iya deh, kalo misalnya berubah pikiran, call ya."

"Siap!"

Lan menjadi idola kaum hawa di kampusnya, tapi tak satu pun ia tanggapi serius. Mungkin belum ada yang cocok atau standarnya terlalu tinggi?

???

?

Jantungnya berdetak dengan cepat, Sih sedang mempresentasikan apartemen baru yang dibangunnya di daerah Tangerang. Mengenakan baju lengan panjang berwarna ungu dan celana warna abu-abu, ia tampil mempesona.

"Apartemen ini dibangun dengan konsep Go Green. Fasilitas lengkap, kamar mandi, dapur, ruang tamu dan ruang kecil untuk beribadah." ucapnya penuh keyakinan.

"Mengenai harga, terjangkau. Daerah Tangerang tergolong strategis dan relatif aman. Saya pikir, tak ada salahnya berinvestasi pada apartemen kami."

Peserta yang hadir sebagian besar pengusaha muda, rekan Sih. Mereka terlihat senang. Tak berapa lama, seorang wanita mengangkat tangan.

"Saat ini, sudah banyak apartemen. Apa bedanya dengan apartemen lainnya?"

"Benar Bu. Tapi, apartemen kami menjamin keamanan penghuninya. Dengan sistem satu pintu dan keamanan 24 jam dari tenaga terlatih. Saya pikir, ini akan menjadi pembeda dengan apartemen lainnya." ujar Sih dengan muka serius.

Seluruh peserta mangguk-mangguk tanda setuju.

Presentasi berjalan dengan lancar, ia pun memohon diri kepada peserta rapat.

"Terima kasih atas kehadiran bapak-ibu sekalian, semoga tertarik dengan konsep dan apartemen kami. Salam."

Sih akhirnya menuju ke ruang kerjanya. Di dalam ruang kerja, ia menghela nafas panjang. Satu proyek telah selesai. Sambil menikmati kopi yang telah disediakan oleh sekretarisnya, ia membakar sebatang rokok. Menikmati nikotin dan kafein adalah surga baginya. Di usia muda, Sih tergolong sukses. Ia seorang pengusaha property. Walaupun sukses, ia tak pernah lupa menderma. Sih memiliki sepuluh anak asuh, sebagian besar anak yatim piatu. Ia menjamin biaya sekolah dan hidup mereka.

Di balik kesuksesannya ada lubang di hatinya. Lan lah yang menutupi lubang itu dan senantiasa menghadirkan senyum pada tiap sisi kehidupannya. Semoga.

???

?

Hari bergulir dengan cepat, tak terasa hubungan Sih dan Lan telah menginjak usia satu tahun. Tepat hari ini, 14 Februari 2015. Lan sedang mengerjakan tugas kuliah yang menggunung di kamar kos. Tiba-tiba notifikasi email muncul di layar laptopnya. "Email dari Sih," Ia tersenyum. Kemudian membuka emailnya.

Apa kabar Honey?

Setahun yang lalu, tepat hari ini kita mengucap janji tuk bersama dalam suka dan duka. Ku ingin persembahkan puisi untukmu sayang, semoga kamu suka.

?

Engkaulah titik pertama yang menjadi persinggahan rasaku

Ketiadaanmu mengikis senyumku

Engkaulah lebah pertama yang menghisap sariku

Ketiadaanmu meruntuhkan Firdausku

?

Andai aku bertransformasi ke alam lain

Hanya alammu yang ku ingin

Andai aku berevolusi menjadi bentuk lain

Hanya bentukmu yang ku impikan

?

Kasih ini akan menemukan muaranya

Tempat di mana pencinta terbebas dari sekat norma

Kasih ini akan memeluk keabadiaan

Zona di mana hanya ada perasaan

?

Lihat aku

Sosok yang bertabur debu

Berhias pelangi ungu

Lanang, kaulah segalanya bagiku.

?

Sampai ketemu lagi di selimut ungu...

?

Salam

Siharman

?

Sekali lagi Lanang tersenyum. Setelah membaca email dari Siharman kantuknya menghilang. Matanya membelalak bagai burung hantu. Ia pun membalas email Siharman.

?

Kabar saya baik Sih.

Aku suka puisinya, banget.

Maaf , ya, di hari spesial ini kita tak sempat bergumul di selimut biru. Lagi banyak tugas nih.

Met Anniversary... semoga alam tak mengutuk kita lagi.

Karena kita yakin rasa tak mengenal warna.

?

Salam

Lanang

?

Send.

???

?

Kumandang adzan subuh menggema seantero semesta, memanggil hamba yang ikhlas meniadakan dirinya dalam 'cinta'. Siharman bangkit dari lelap, menuju masjid yang tepat berada di tengah Pondok Pesantren Al Fatah, didirikan oleh Ayahnya dua tahun lalu. Pesantren ini berbeda dengan yang lain, mirip tempat rehabilitasi bagi mereka yang tersesat dalam hidup. Waria dan Homo adalah sebagian besar penghuni di pesantren ini. Tak ada paksaan dan tak ada biaya, gratis. Operasional berasal dari hasil keuntungan dari koperasi dan sumbangan donatur, Siharman salah satunya.

?

Hampir tiga bulan Siharman di pesantren ini, ia merehabilitasi dirinya menuju arah yang benar. Selepas berjamaah subuh, ia memutuskan berjalan kaki di sekitar pesantren. Di belakang pesantren ada bukit kecil. Sesampainya di atas, ia menyaksikan pemandangan pedesaan, susunan rumah yang saling berdesakan, hamparan sawah hijau, aliran sungai membelah jembatan. Dalam keheningan ini, memorinya melayang ke empat bulan lalu. Saat ia berbincang dengan Ayahnya di teras rumah.

?

???

?

"Sih, kapan kamu memberi aku cucu?"

Siharman terdiam, otaknya terbelenggu oleh rasa yang tak mungkin dialihkan ke lain jenis, hanya untuk Lanang. Lama ia terdiam.

?

"Kenapa Sih, kamu belum punya calon?"

"Belum Ayah."

"O, kamu sudah mapan," sambil menghirup kopinya, "Aku ada calon yang baik, jika kamu tak keberatan." ujar Ayahnya sedikit memaksa.

?

Kepala Siharman bagai dipukul palu godam yang berduri, mirip durian. Lama ia merasa sakit di kepalanya. Tertunduk. Tidak menjawab, hanya menatap lantai.

?

"Sejak kamu berusia baligh, tak pernah sekali pun kamu membawa kekasihmu untuk dikenalkan kepada kami. Penampilan tidak buruk, pekerjaan mumpuni. Ada masalah lain?" selidik Ayahnya.

?

"Apakah sudah waktunya?" gumam Sih dalam pikirnya. Ia menghela nafas panjang.

?

"Ayah, SAYA TIDAK TERTARIK DENGAN WANITA. SAYA PUNYA KEKASIH, NAMANYA LANANG. KAMI TELAH BERHUBUNGAN SELAMA SETAHUN."

?

Pernyataan Sih tidak membuat Ayahnya panik. Ia telah menduganya. Bulan lalu, Ayahnya sempat memeriksa kamar apartemen Sih, ia menemukan?foto Sih dan Lan dengan bingkai berbentuk hati di meja kerja Sih. Itulah sebabnya ia memanggil Sih pulang ke rumah hari ini.

?

"Jadi begitu. Sih, kamu adalah anak saya satu-satunya. Ayah sangat berharap kamu meneruskan generasi kita. Bila kamu tak menyukai wanita, bagaimana dengan penerus keluarga kita?" tanya Ayahnya.

"Entahlah Ayah, saya telah mencoba berhubungan dengan wanita, tiga kali. Tapi gagal. Gairah itu tidak hadir sedikit pun. Sedikit pun." ujar Sih jujur.

"Itu sama saja kamu menentang aturan Pencipta Sih, ke Dokter yah. Periksakan dirimu. Jika tak berhasil, mondok di pesantren yang sedang ku rintis. Rehabilitasi bagi mereka yang memiliki orientasi seks menyimpang. Insya Allah, kamu akan normal kembali."

"Maaf Ayah, bukankah rasa tak mengenal warna?"

"Rasa memang tak mengenal warna, tapi ada jalurnya, ada aturannya. Sang Pencipta telah menyampaikan aturan hidup, Dia mengetahui kita sampai yang terkecil karena Dia Pencipta. Penyaluran nafsu yang menyimpang akan merusak hati, diri dan masyarakat di sekitarmu. Bayangkan, jika pria hanya dengan pria, wanita dengan wanita, apakah generasi manusia akan berlanjut?"

?

Ayahnya terdiam sejenak, menatap bunga matahari di halamannya. Sedang Sih hanya duduk termenung.

?

"Kamu telah dewasa, bebas menentukan arah hidupmu. Tapi, apa pun bentuk penyimpangan pasti ada implikasinya. Penyakit atau kehampaan. Hidup hanya dipenuhi kegelapan, tak ada cahaya maka tak ada arah."

?

???

?

Setelah percakapan dengan Ayahnya, Sih belajar menjauh dari Lan. Tak pernah lagi 'romantisme selimut ungu' di kamar apartemen Sih.

Mentari pagi menampakkan senyumnya, ingin menyebar cahaya perubahan bagi semesta. Gelembung rasa di hati Siharman berucap lirih.

?

Wahai sel di seberang sana,

Rasa memang tak mengenal warna

Tapi, rasa memiliki rel yang diatur oleh Pencipta Rasa

Agar penikmat rasa dapat menikmati rasa yang lebih berasa

?

Wahai sel di seberang sana,

Sekarang aku melihat setitik cahaya

Sekarang aku merasa setetes damai

Bersediakah engkau merasakan hal yang sama?

?

Awan gelap tiba-tiba muncul, membawa gerimis di pagi hari. Siharman masih berada di puncak. Butir-butir rahmat Ilahi membasahi kepalanya. Ia tetap disana, berharap gerimis dapat membersihkan isi pikirannya dari kenangan bersama Lanang. Semoga.

?

___

Gambar : encepfr.blogspot.com

___

?

Ternate, 05-03-2016

:: Dinan ::

  • view 101