Semesta

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Maret 2016
Semesta

?

-----

?

Semesta...

Aku ingin menjagamu dari bahaya kemiskinan hati yang meraja

Penyakit yang menyerang secepat kilat dan mematikan karya

Karya yang ingin kita ukir untuk membangun dunia

?

Semesta...

Aku ingin memelukmu dengan hangat dan penuh cinta

Tak perlu pedulikan mereka yang kepo tentang kita

Mereka hanya semut yang dapat diinjak kapan saja

?

Semesta...

Aku ingin menyimpan selmu di hatiku yang merana

Jaringan dan tubuhmu ditelan oleh ego dunia

Yang tak pernah mengerti tentang cinta

?

Semesta...

Aku ingin membawamu terbang ke surga

Tempat para malaikat yang senantiasa bertasbih kepadaNya

Mereka akan bersenandung lirih dan membangun istana untuk kita

?

-----

?

Detik ini, aku bagai pujangga. Mungkin, ruh Khalil Gibran lewat di depanku dan singgah sekejap di dalam tubuhku. Puisi diatas mengalir begitu saja, tanpa konsep dan pikiran mendalam. Tertuang begitu saja pada secarik kertas kusut. Katanya, orang yang sedang merindukan kekasihnya maka angin ide akan membanjiri kepalanya. Itulah rasa yang membelengguku saat ini.

"Dor...Dor...Dor..." suara senapan membuyarkan khayalku. Aku beranjak keluar mencari sumber suara. Ternyata, dari Blok 07.11, blok baru yang ditanami kelapa sawit. Jaraknya sekitar 150 meter dari mess yang kutinggali. Empat orang Brimob sedang menghalau penduduk desa yang protes karena biaya uang pergantian tanah yang belum sesuai menurut mereka. Dengan diplomasi yang baik dari pihak perusahaan akhirnya penduduk desa membubarkan diri. Kejadian ini hampir tiap bulan terjadi disini, lumrah.

Aku kembali ke kamar dan membenamkan diriku dalam kemalasan. Sesaat kemudian, Handphoneku berbunyi, sms dari Semesta.

?

"Lagi ngapain ki'?"

?Karena rindu yang membuncah kuputuskan untuk mendengar suaranya. Call Semesta...

?"Halo, baring-baring ja' di kamar. Kalo kita'?" tanyaku seadanya.

?"Aku lagi duduk di ruang tamu. Hari ini mau ngapain?"

?"Hari ini, mmm... membayangkanmu!" gombalanku terlepas dari busurnya menuju sasaran empuk, hehe.

?"Edede ... gombal."

Kami bercerita selama sejam dari hulu sampai hilir.Tentang keluarga, pekerjaan dan masa depan...

?

Masa depan. Zona misteri, hanya Sang Penulis yang mengetahui dan mengarahkan sesuai dengan KehendakNya. Jangan pernah berbicara tentang masa depan karena itu MilikNya bukan milik Kita. Dua tahun yang lalu,aku adalah perencana yang handal. Setiap sisi kutulis dengan rencana yang detil dan matang, tapi semua buyar karena ego dunia. Dunia akan mengakui eksistensimu ketika memiliki tahta, emas atau darah. Jika tak memiliki salah satunya maka bersiaplah untuk dihempaskan oleh dunia. Aku tak habis pikir, mengapa Dunia sekejam ini? padahal dunia dicipta oleh Sang Maha Kasih. KasihNya tak bertepi. Tapi,mengapa ciptaanNya tak pernah mendekati rasa KasihNya?

Keesokan harinya, aku bersiap menuju kantor. Dengan seragam kantor, baju kemeja warna putih, logo perusaahaan tersulam apik di dada kiri dan celana kain hitam membuatku cukup gagah hari itu. Aku bekerja pada salah satu group perusahaan kelapa sawit yang terkenal di negeri ini. Produknya sabun, kosmetik dan minyak goreng. Tugasku campur aduk, seperti isi kepalaku yang tidak karuan. Kadang menjadi IT Staff, HRD atau GA. Semuanya kukerjakan dengan baik, sambil belajar tentunya.

Bus yang mengantar kami telah siap di depan rumah.Aku naik bersama dengan empat orang teman kantor.Setiap hari kerja, bus perusahaan menjemput danmengantar pulang karyawan. Di perjalanan kami melewati blok-blok yang ditanami kelapa sawit. Ku buka kaca bus. Tampak enam orang pekerja sedang memupuk kelapa sawit yang telah tumbuh menjulang sekitar 2 meter. Empat pria dan dua wanita. Mereka sangat bersemangat, tak terlihat raut mengeluh dan lelah di muka mereka. Padahal mereka hanya pekerja harian, bukan pekerja tetap. Mereka di gaji berdasarkan gaji harian dan tidak ada gaji bulanan. Ketika mereka tidak hadir hari itu maka gajinya tidak dibayarkan. Hidup mereka terhimpit tapi jiwa mereka lapang. Mereka tak ingin ditelan oleh ego dunia,melawan dengan keringat dan keikhlasan. Sesampainya di kantor, pekerjaan yang menggunung telah menunggu. Rekap absensi pekerja harian dan tetap, memodifikasi database karyawan dan dua komputer mengalami kerusakan. Hari itu, aktivitas kantor mereduksi pikiranku tentang semesta.

Setengah jiwaku terasa hilang, digerogoti oleh semesta. Detik demi detik kecepatan semesta untuk menggerogoti jiwaku semakin cepat. Tak dapat kubendung apalagi kulawan. Aku ingin menghembuskan nafas bersama, menatap matahari terbenam bersama, melukis pelangi bersama atau sekedar minum kopi bersama. Tapi hal itu tidak akan terjadi malam ini, kita berbeda ruang. Kelelahan fisik tak dapat mengusir semesta dari pikiran dan hatiku.

?

___

Jaket biru pemberiannya tergantung di pintu. Aku masih ingat ketika ia memberiku jaket itu. Pertemuan terakhir kita, sebelum aku merantau. Ia memakai baju hitam dan celana kain hitam kontras dengan kulitnya yang putih, rambutnya dibiarkan tergerai tertiup angin Pantai Akkarena. Matahari telah melaksanakan tugasnya hari ini, beranjak menuju pembaringannya di ufuk barat, meninggalkan warna jingga di sudut langit. Ia membuka tas kantornya dan mengambil bingkisan yang telah dibungkus rapi.

"Ini... untuk kamu," sambil menyerahkan bungkusan ke arahku.

"Bisa aku buka sekarang?"

"Terserah..."

Aku pun membuka bikisan tersebut...

"Jaket, untuk apa?"

"Agar aku bisa menghangatkanmu dimana pun kau berada!" ucapnya sambil menatap senja.

"Terima kasih, tanpa jaket ini pun cintamu telah menghangatkanku. Aku mohon jaga rasa ini agar tidak dikikis oleh jarak!" ucapku lembut sambil menggenggam tangannya.

Semesta tak bersuara lagi, tapi aliran darah tangannya menyuarakan, "Jarak tak akan mengikis rasa ini. Percayalah!"

?

Momen itu setahun yang lalu, tapi aliran darah tangannya masih terasa hingga saat ini. Ku raih jaket biru itu, kupakai, kemudian keluar rumah. Berjalan... di jalan kompleks perumahan karyawan. Jalanan terlihat sepi, hanya bunyi jankrik dan kodok yang mengiringi langkahku. Di sisi jalan telihat lampu jalan. Lampu Jalan, semesta suka lampu jalan. Ku tatap langit ,hitam tak ada bintang apa lagi bulan, malam ini mendung.

"Apakah langit yang kutatap malam ini sama dengan langit yang ada di atas rumah semesta? mmm... Mungkin sama!" gumamku dalam hati.

?

Aku menoleh, mencari arah barat, arah menuju makassar. Disana! Aku berteriak sekeras mungkin,

?

"Langit... tolong sampaikan pada semesta, tunggu aku... tunggu aku... tunggu aku... Aku sedang belajar mempercayai masa depan. Dan saat ini, aku sedang membangun pondasi masa depan kita."

?

___

Gambar : lucugambar.com

___

?

Ternate, 20-02-2016

:: Dinan ::

  • view 65