Maaf, Tapi Virus Itu Harus Kita Lawan

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Maret 2016
Maaf, Tapi Virus Itu Harus Kita Lawan

?

Maaf, Tapi Virus Itu Harus Kita Lawan

?

Desiran air laut menyapa bibir pantai dengan lembut, pasir putih menyelimuti pantai dengan hangat, tak lupa akar pohon kelapa memeluk erat pasir putih. Harmonis. Aku tak pernah bosan mengagumi pantai. Bagiku, pantai bagai lukisan indah dari Sang Pelukis. Aku sedang galau, duduk di pinggir pantai sambil menulis, "VIRUS?". Ada virus yang menjangkit di otakku. Awalnya hanya virus kecil yang mengalir di neuron syarafku. Ternyata seiring berjalan waktu, ia membelah diri, menyebar dan berusaha menguasai isi otak, pikiran bahkan ideologiku.

Virus itu banyak diagungkan oleh sosok yang berpendidikan, cerdas dan alur berpikirnya sangat sistematis. Tapi mengapa mereka masih memelihara virus itu? Hanya mereka yang tahu. Dulu aku tak ingin menggubrisnya. Sekarang sudah saatnya dibatasi penyebarannya. Aku hanya lulusan sekolah menengah atas, itu pun sudah kewalahan untuk lulus pada ujian akhir. Untung aku tak lanjut ke perguruan tinggi. IQ ku pas-pasan, tak mengerti yang ribet-ribet. Terutama yang berhubungan dengan matematika, fisika, apalagi filsafat. Tak jarang orang di sekitarku memanggilku, "bodoh" Mungkin ada benarnya.

Aku masih terdiam di pinggir pantai sambil menatap laut. Katanya kemana pun engkau menghadap maka 'disitulah Wajah Tuhan'. Semesta mengajarkan kita tentang Tuhan. Semesta menganjarkan kita tentang Agama. Semesta mengajarkan kita tentang Cinta. Tuhan, Agama dan Cinta.

?

Di bawah kata "VIRUS?" kutuliskan tiga kata lagi, "TUHAN, AGAMA, CINTA"

?

Apakah virus itu, Tuhan, Agama atau Cinta? Ku tatap dengan lebih mendalam. Inikah? Bukan, bukan itu. Sepertinya aku tidak bermasalah dengan itu.

?

Ayahku pernah berujar, "Tuhan mengajari kita Agama melalui Kekasih dan KitabNya. Suatu agama dikatakan agama jika menunjukkan jalan menuju keteraturan, ketundukan dan kepasrahan menuju 'ketiadaan diri'. Dengan 'meniadakan diri' maka Cinta akan mewujud. Jangan pernah berharap Cinta, jika engkau menganggap dirimu ada." Sampai saat ini aku belum mengerti apa maksudnya.

Ku alihkan pandangan ke langit. Awan bergeser dengan pelan ditiup angin. Entah mengapa wajah ayah terlukis disana? Jika boleh mengidolakan manusia biasa maka ayah adalah idolaku. Ia sosok yang memegang teguh agamanya dan tidak pernah menjelekkan agama lain. Saat usiaku menginjak delapan tahun aku pernah bertanya, "Kenapa Agama lebih dari satu?" Ia hanya tersenyum dan berucap lembut, "Karena jalan menuju Tuhan ada banyak sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Tapi ingat, kamu hanya boleh memegang satu 'tali'. Peganglah dengan kuat. Tali yang lain berbeda warna, tapi kita harus menghargainya. Harus bertoleransi dengan perbedaan!" Aku hanya mangguk-mangguk.

Di dunia ini ada banyak 'warna tali', peganglah dengan erat 'tali' yang kita yakini. Jangan memegang 'tali' lebih dari satu. Karena itu akan membuyarkan maknanya. "Nah... eureka!" gumamku dalam hati. Inilah obat yang tepat untuk virus itu. Virus yang selalu menggema di otak dan pikirku. Menyebar penyakit kronis yang dapat melumpuhkan arti 'tali' atau agama. Virus itu bernama Pluralisme Agama. Semua agama sama. Semua mengajarkan menuju Tuhan. Semua mengajarkan kedamaian. Semua mengajarkan Cinta.

Matahari beranjak di pembaringan, kulanjutkan tulisan di pasir.

?

"VIRUS?" "= PLURALISME AGAMA"

"TUHAN, AGAMA, CINTA"

?

Aku bukan orang berpendidikan tinggi, jarang membaca, diskusi, menganalisa dan tidak secerdas para pendukung Pluralisme Agama. Tapi menurut pandanganku, "Ini salah dan tak bisa diyakini apalagi disebarkan!"?

Virus itu memiliki ekor yang banyak. Lahir dari ide agar tidak ada lagi yang menganggap 'talinya' yang paling kuat, paling benar. Hingga terjadi perselisihan, perdebatan bahkan pertumpahan darah atas nama 'tali'.?

Seandainya seseorang berpegang kuat dengan 'talinya' masing-masing maka tak akan ada perdebatan, perkelahian apalagi pertumpahan darah. Sebaiknya virus ini dibatasi penyebarannya, karena mematikannya tidak mungkin.

Hari beranjak malam, gelombang air laut semakin kencang. Tampak air laut telah menghapus tulisan di pasir. Aku beranjak pulang ke rumah berharap tak ada lagi penyebaran virus yang bernama Pluralisme Agama, menyamakan semua agama. Plural adalah sunatullah. Kewajiban kita menerimanya dengan nuansa perdamaian dan cinta kasih. Angin laut berhembus kencang mengibas rambutku yang gonrong. Ia berbisik, "Agamamu adalah Agamamu dan Agamaku adalah Agamaku!".

?

~Maaf, jika ada kekeliruan~

?

Catatan: ?

Tidak ingin memperlebar perbedaan tapi ingin menyampaikan perbedaan itu indah. Toleransi Beragama adalah Nomor 1. Tapi tolong jangan pernah menganggap semua agama sama, karena itu akan membuyarkan agama itu sendiri dan merusak iman.

??????????????

Ternate, 04-03-2016

:: Dinan ::

?

?

  • view 145