Pembunuh Asap [Sisi Tiga]

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Maret 2016
Pembunuh Asap [Sisi Tiga]

?

?

Pembunuh Asap

Sisi Tiga

?

Buku itu berbicara, mengusir pikiran keruh dan menebas candu. Terkadang, menebas candu hanya dapat dilakukan oleh para wali. Wali yang senantiasa berbincang, memeluk dan bernafas denganNya. Halaman demi halaman dibaca seksama, Dg. Jami' tak peduli cara ini berhasil atau tidak, minimal ia menanam lebih banyak ide positif. Ide agar terbebas dari kekasihnya, rokok.

Sedang asyik membaca, HPnya berdering, sms dari Layla.

"Assalamu Alaikum Dg. Jami', bisa ketemu hari minggu? kita akan mulai pertemuan perdana Pembunuh Asap."

Ia berpikir sejenak, kemudian membalas sms Layla.

"Walaikum Salam, boleh. Bagaimana jika tempat pertemuannya di rumahku saja? Alamatnya, Jl. Veteran No. 99 Maros, Kel. Baju Bodoa, Kampung Betang. Kita mulai jam 09.00, on time!"

"Oke... Pak, makasi atas kesediaan tempatnya. Biar saya yang sms Pak Ansar."

"Iye... ss!"

__

Ansar percaya bahwa, "Anak yang banyak berinteraksi dengan ayahnya cenderung memiliki IQ yang lebih tinggi dibanding anak yang tak cukup berinteraksi dengan sang ayah." Tiap waktu senggang, ia meluangkan waktu untuk Khanza, kadang mengganti popok, membelai rambut, atau menggendongnya sambil menatap ayam di pekarangan belakang. Seperti hari ini, ia menggendong Khanza yang masih berusia tujuh bulan, melihat Gogo', ayam jantan kesayangannya.

"Khanza, Gogo saja butuh makan, butuh teman. Kamu harus rajin makan dan mencari banyak teman agar rezekimu lancar. Semakin banyak sumur maka semakin banyak air yang dapat kamu minum. Teman bagai sumur, saluran rezeki dari Tuhan untukmu." ucap Ansar di telinga kanan Khanza.

"guk..guk..guk...wei ... wei.. wei..." celoteh Khanza tak jelas,ia mengangkat tangannya mirip pahlawan bertopeng, entah itu menandakan ia setuju atau hanya ingin bertanya, "Apakah Gogo tidak butuh mandi?"

"Khanza sudah sore, ayo mandi!" teriak istri Ansar dari dapur.

Sesaat kemudian, Khanza telah digendong ibunya. Bersiap untuk mandi sedang Ansar keluar rumah dan menghisap rokoknya. Sambil menikmati racun busuk itu, ia memeriksa HP, ada sms dari Layla.

"Pak Ansar, besok jam 09.00 pertemuan perdana Pembunuh Asap. Lokasinya di rumah Dg. Jami', Jl. Veteran No. 99 Maros, Kel. Baju Bodoa, Kampung Betang. Bisa datang?"

Ia membalas singkat, "Oke... Insya Allah bisa!"

__

Rumah bagai perisai dari rasa takut

Takut akan alam yang tak bersahabat

Takut akan rasa sedih yang akan dilirik oleh persekitaran

Takut akan kehebohan semesta

?

Rumah bagai sajadah tuk bersujud kepadaNya

Bersujud dalam keheningan

Berjusud dalam tangis yang tersedu

Bersujud dalam syukur yang menggema

?

Itulah makna rumah bagi Dg. Jami. Walau sederhana tapi cukup memenuhi makna rumah sebagai perisai dan sajadah. Di ruang tamu, tampak kursi terbuat dari kayu, diukir dengan unik, menyimbolkan ia berjiwa seni, seperti Tuhan. Sang Creator dengan seni yang tak terbantahkan dan tersaingi keindahannya.

Para Calon Pembunuh Asap telah duduk bersila, membentuk segitiga. Layla Indira, memegang note dan pulpen. Dg. Jami? tampak diam dan bersahaja. Sedang Pak Ansar menghisap rokok milik Layla, ?Mumpung gratis...? pikirnya.

__

?

?Pertama, kita harus menemukan alasan hakiki mengapa kita merokok?? Layla membuka dengan pernyataan retoris.

?Kesepian. Hidupku terasa sunyi sepeninggal istri, sedang anakku kuliah di mesir. Aku rindu mereka. Tanpa kusadari rokok telah menjadi teman, sahabat bahkan kekasih.?

?Stress. Ekonomi keluargaku tak pernah membaik, tinggal di ?Pondok Mertua Indah?, orang disekitarku memandang remeh dan pekerjaan menggunung. Aku butuh nikotin yang menenangkan.?

?Perangsang Ide. Duniaku butuh ide segar agar pergerakan dapat mewujudkan perubahan. Tanpa rokok ideku menguap ke angkasa.?

Sigap Layla mencatat semua pernyataan, ia sebagai moderator sekaligus notulen saat ini.

?Akarnya telah kita lihat, sekarang waktunya mencabut akar itu.?

?Maksudnya Layla? Aku belum mudeng nih, hihi...? ucap Ansar polos.

?Tunggu dulu, mau minum apa nih??

?Kopi hitam Dg. Jami?.? Pinta Ansar

?Kalo tidak keberatan, aku kopi susu Pak.?

?Bentar yah... "

Sesaat kemudian aroma kopi telah terhirup di ruang tamu Dg. Jami'.

"Dg. Jami'... Siapa yang ajar buat kopi? Mantap." puji Ansar

"Istriku, saat mulai sakit-sakitan ia mengajari sambil berbaring. Tiap hari ia dengan sabar mengajariku. Agar ketika ia tak ada maka racikan kopinya masih menyapaku tiap hari."

Mereka dengan asyik menikmati kopi racikan Dg. Jami' sambil memikirkan cara untuk mencabut akar.

"Oke... sepertinya ini agak panjang...

Saya beranggapan bahwa tanpa rokok maka ide akan menguap. Bukankah itu membuatku ?sebagai orang yang tidak percaya diri dan bergantung pada rokok? seakan ia merangsang ide di kepalaku dan bukan dari proses berfikir yang matang. mmm...

Harus ada stigma positif yang disuntikan ke kepalaku bahwa rokok bukanlah perangsang ide satu-satunya. Ada banyak... Ada banyak. Apakah itu?" Layla menjelaskan dengan detail sambil berpikir mendalam.

"Layla... ada banyak cara merangsang ide, membaca, melihat sekitar atau sekedar buang air di ?kamar mandi... hehe" ucap Ansar seadanya.

"Iya, betul kata Ansar. Saya menyakini, ide adalah ilmu, ilmu adalah cahaya dan cahaya mendekati orang yang bercahaya."

"Maksud Dg. Jami'?" tanya Layla dengan kening berkerut.

"Manusia bercahaya adalah manusia yang hatinya bening sehingga dapat memantulkan cahaya Ilahi. Dengan menjernihkan hati maka ide akan menemuimu dengan senyum ramah." Dg. Jami' menjelaskan dengan penuh pendalaman.

"Iyup... jadi untuk saya, pengganti rokok adalah, membaca, traveling dan menjernihkan hati dengan mendekatiNya. Ini alat pencabut akar masalahku untuk sementara. Bagaimana dengan Ansar?"

"Iya nih... jika saya stress pasti saya mencari rokok."

"Itu Syirik namanya Ansar. Kamu bergantung kecuali kepadaNya. Coba dengan wudhu. Lebih baik lagi ditambah dengan shalat dua rakaat ketika stress melanda." Ceramah Dg. Jami' dimulai.

"Iya juga sih... nanti saya coba!"

"Nah... sekarang untuk Pak Kyai nih, sekedar usul bukankah dengan ibadah maka hati kita terasa damai dan kita tidak merasa kesepian karena kita bersama dengan Yang Maha Ada?" tanya Layla Retoris

"Iya.. Saya jadi malu!" Dg. Jami' tertunduk malu, ia tersadar bahwa kehadiran Tuhan dalam ibadahnya belum total sebagaimana yang seharusnya.

Sekali lagi Sang Notulen mencatat dengan detil. Sambil menikmati kopi dan tangan kanannya masih memegang rokok yang baru saja dibakarnya.

"Sekarang masih bisa kan?" Layla menunjukkan rokok pada Dg. Jami' dan Ansar mencari dukungan.

Dg. Jami' dan Ansar mengangguk sambil membakar sebatang, mereka juga belum ikhlas berpisah dengan candu ini.

"Saya pikir kesimpulan diskusi ini telah kita temukan, kapan kita mulai mencobanya dan bertemu lagi?" tanya Layla

"Begini saja, kita mulai besok. Senin. Kita ketemu dua minggu kemudian sambil mempresentasikan hasilnya dengan jujur." ucap Ansar mantap.

"Alhamdulillah. Akhirnya Ansar memberikan komentar yang sedikit berisi dan masuk akal. Haha..." ucap Dg. Jami' sambil tertawa.

Akhirnya pertemuan perdana Pembunuh Asap telah berakhir, Layla dan Ansar memohon diri kepada Dg. Jami'.

?

Pembunuh Asap terbentuk, melakukan diskusi perdana dan telah mengambil keputusan yang akan menjadi jalur menuju zona tanpa asap. Bagaimana hasilnya?

Bersambung...

?

*** Ternate, 01-03-2016 ***

:: Dinan ::

  • view 134