Pembunuh Asap [Sisi Dua]

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Pembunuh Asap [Sisi Dua]

?

Pembunuh Asap [Sisi Dua]

?

Sisi Dua

***

Detik bergulir dengan sendirinya, tak pernah meminta izin pada makhluk lainya. Ia bergerak secepat dirimu mengikuti nafsu binatang yang tak berbatas. Nafsu untuk memenuhi inginmu yang mengantarmu ke lubang kekecewaan. Terkadang rindu, sepi atau sunyi menghempasmu ke ruang abu-abu. Ruang itu yang dirasakan oleh Dg. Jami' saat ini, kerinduan kepada Almarhum istrinya membuatnya berteman dan bermesraan dengan rokok.

Angin berhembus dengan lembut, menyibak dedaunan dihadapannya. Hembusan angin menandakan bumi masih berputar, masih bernafas, masih hidup. Entah mengapa Dg. Jami' berdiri disana, di taman milik tetangganya, menatap pohon mangga. Khayalnya buyar oleh suara seorang kakek tua.

"Kenapa Pak Kyai?"

"Eh... Dg. Ngesa'. Maaf, aku sedang melihat pohon mangga ta'. Kesadaranku langsung terbang ke 22 tahun silam. Saat suatu malam istriku mengidam mangga muda. Dia penyelamatku," ucap Dg. Jami' sambil menunjuk pohon mangga.

"Oh... iya. Ku ingat ji' Pak Kyai. Aku dibangunkan jam 02.00 dini hari, membuka pintu dan sempat membentak Pak Kyai, hahaha..."

Mereka pun tertawa mengenang masa lalu.

"Ada satu pertanyaanku Dg. Jami', tidak apa-apa aku panggil Dg. Jami' saja ya?"

"Silahkan... Kyai itu hanya gelar dari manusia, belum tentu Allah melabeliku gelar itu,"

"Usiaku semakin dekat dengan liang kubur, ada satu hal yang buatku penasaran. Sebenarnya apa hukum dari merokok itu Dg. Jami'? Aku perokok berat, jika hukumnya haram maka dosaku tak terhitung lagi. Takut ka' Dg. Jami'. Takut ka' menghadap Allah... "

Dg. Jami' membisu, bibirnya terkunci rapat. Bukan karena ia tak mengetahui jawabannya tapi... ia sedang mengetuk pintu hatinya, "Mengapa khilafku begitu jauh?" gumamnya dalam hati.

"Dg. Ngesa...., " menghela nafas panjang, "Ulama berbeda pendapat, ada yang menfatwakan haram dan ada juga yang menfatwakan makruh. Tapi menurut saya, merokok itu haram dengan mempertimbangkan jutaan mudhoratnya, hemm... semoga kita diampuni oleh Sang Pengampun!"

Mereka saling menatap, mungkin hati mereka sedang gundah... "Bagaimana jika nanti di Hari Perhitungan, mereka ditanya... Untuk apa kalian merokok? Kenapa kalian menghabiskan waktu dan harta begitu banyak hanya untuk sebatang racun?"

Situasi ini terasa kikuk. Dg. Jami' menjawab sesuai ilmunya, tapi ia belum melaksanakannya. Ia malu. Ia pun memohon diri dengan sopan, pulang ke rumah.

Dalam perjalanan ia berpikir, "Tuhan menegur melalui percakapan tadi, lewat tetangganya. Esok aku harus membeli kitab fiqih khusus tentang rokok, agar waktuku tak terbuang dengan kesepian dan kerinduan kepadanya. Atau... aku bisa terbebas dengan nikotin ketika aku memahaminya lebih dalam." ?

**

"Besok hari minggu kan? Ke Mall yah? Aku mau beli popok untuk Khanza, sekalian cuci mata, hihihi..."

Ansar hanya mengangguk. Ia berkata dalam hati, "Apakah semua istri akan lembut kepada suaminya saat awal bulan? Mereka paling pintar mencari alasan agar bisa memuaskan hasrat mereka yang pertama dan utama, shopping!"

*

Ruangan itu dipenuhi asap, namun mengapa mereka masih bertahan disana? Padahal, asap itu mengandung segudang zat berbahaya. Nyamuk saja cuma beterbangan diluar, masuk kedalam pun terasa enggan, takut mati. Ternyata mereka sendiri yang "memproduksi", berharap ide mengalir deras seperti air terjun. Ruangan itu 4m x 5m, tak ada fasilitas istimewa, tampak dua rak buku, satu laptop dan TV 14 inci. Malam ini tujuh mahasiswa sedang membahas survey kepuasan 200 Hari Kepemimpinan Presiden.

"Agar survey ini dapat menyentuh tujuan hakikinya maka harus dilakukan di tempat ramai, seperti pasar, mall dan tempat ibadah. Jumlah responden 200 dan metodenya interview menggunakan kuisioner yang telah disusun sebelumnya," Layla menjelaskan dengan rinci pada peserta rapat lain, tak lupa perangsang ide telah nongkrong di tangan kanannya.

"Oke, saya setuju dengan Layla. Kita membagi tim survey sesuai dengan tempat yang ditentukan agar lebih efektif dan efisien waktu."

"Yup... untuk pembagian tim kita pastikan besok pagi, dengan melihat sumber daya yang ada. Saya selaku ketua akan mengawasi semua tempat. Tapi ingat, surveyor harus jeli saat memilih calon responden. Mereka wajib memperhatikan variasi responden, jangan cuma pengunjung tapi penjual dan pelayan juga. Kita mulai jam 10.00 sampai 17.00. Bagaimana?"

"SEPAKAT!"

__

Secara umum, manusia senang ke mall. Ada yang ingin shopping, cuci mata, jalan atau sekedar menghabiskan waktu. Layla sedang mengawasi pelaksanaan survey yang berlangsung di mall, tak sedikit yang menolak menjadi responden, tapi pelaksanaan survey dapat berjalan sesuai rencana. Tak terasa dua jam ia berdiri, ia memutuskan keluar sejenak dan menghisap satu atau dua batang.

__

Ansar menggandeng tangan istrinya dengan mesra. Entah dari mana senyum manis itu, merekah di sudut bibir yang tipis. Wanita memang makhluk aneh. Mereka selalu sehat dan bahagia ketika shopping. Mondar mandir dari satu toko ke toko yang lain, untung beli, jika hanya mengecek atau membandingkan harga. Luar biasa melelahkan dan menjemukan. Akhirnya Ansar memohon diri keluar.

?Aku keluar dulu yah... mau beli minuman?

?Iya... nanti aku sms jika telah selesai.? ucap istrinya.

__

Ribuan buku tersusun rapi. Banyak kategori, Novel, Agama, Pendidikan, Kesehatan, Komik dan lainnya. Puluhan pengunjung sedang asyik mencari buku yang diinginkan, termasuk Dg. Jami?. Kategori agama adalah favoritnya, menyusuri beberapa rak, membaca sepintas judul dan ringkasan buku. Ia pun menemukan dua buku yang menarik. Pertama, Wahai Perokok Inilah Surgamu, Zainal Abidin Syamsudin dan Kedua, Mengapa Ragu Tinggalkan Rokok, Abu Umar Basyir. Beranjak ke kasir membayar dua buku tersebut dan keluar menghisap kekasihnya, sudah empat jam ia tak bercumbu dengannya.

__

Bibir merahnya berubah hitam, tapi Layla tak peduli. Ia tetap saja menghisapnya dengan nikmat. Di pinggiran mall tempat ia melakukan survey. Dengan langkah terburu-buru Ansar keluar dari mall, berdiri tepat di samping Layla, mengambil rokok di kantong celana, tapi... rokok terakhirnya patah, ia tampak sedih. Layla simpatik.

?Ini pak, saya ada rokok lebih. Silahkan...? ucap Layla sambil menawari rokoknya.

Muka Ansar tampak semringah, ia pun mengambil sebatang.

?Terima kasih, kamu cewek kan? Kok merokok? Tidak takut mandul, hehe...?

?Mandul, mmm... itu berlaku bagi kaum pria juga. Saya hanya merangsang ideku dengan benda ini.?

?Iya sudah, kita nikmati saja...?

Mereka pun masuk dalam dunia nikotin, dunia ilusi yang menenangkan.

Sesaat kemudian seorang pria paru baya juga berdiri disamping mereka, meraih tas, mengambil rokok dan membakarnya dengan segera. Ia rindu...

?Niat berhenti Pak?? tanya Layla sambil menunjuk ke arah kantong plastik transparan berisi dua buku berisi trik agar terbebas dari jeratan nikotin.

Nafas Dg. Jami berhembus perlahan, ?Maunya seperti itu, tapi terasa sulit!?

?Saya juga Pak, istriku hampir tiap hari marah. Kapok dengan perkataan pedasnya dan lagi setiap hari harga rokok semakin meningkat.? ucap Ansar polos.

?Kekasihku menengur halus, tapi sangat tajam. Ia juga ingin aku menghentikan aktivitas busuk ini,? kata Layla menambahkan...

Mereka pun terdiam sejenak, memikirkan solusi. Sekejap kemudian ide menancap di otak Layla.

?Oh ya, saya Layla Indira, Mahasiswa. Kalo Bapak?

?Ansar, abdi negara.. hehe..?

?Dg. Jami?, pengangguran... ?

Setelah bersalaman, Layla menyuarakan ide gilanya.

?Pak Ansar, Dg. Jami?. Bagaimana jika kita membuat suatu komunitas, komunitas pencinta rokok tapi ingin terbebas dari belenggunya, bukankah kepala tiga orang lebih baik dari satu orang? Aku mengusulkan nama komunitasnya adalah ?PEMBUNUH ASAP?!?

?Pembunuh Asap? Boleh juga, aku bisa melakukan aktivitas yang positif dan dapat bergaul dengan anak muda seperti kalian, saya merasa muda kembali.? ucap Dg. Jami? sambil menatap Ansar dan Layla.

?Pembunuh Asap? Iya, saya setuju. Aku harus terbebas dari benda busuk itu. Ia membuatku tambah miskin. Kapan kita bisa ketemu lagi?? tanya Ansar sambil melirik Layla menanti ide cemerlangnya.

?Sekarang, kita bertukar nomor HP saja dulu. Nanti, setelah ada waktu kita atur pertemuan perdana Pembunuh Asap.?

Ansar dan Dg. Jami? mengangguk tanda setuju. Mereka pun bertukaran no. HP. Berpisah di sudut belakang mall dan kembali ke aktivitas mereka masing-masing.

Dengan langkah perlahan, Dg. Jami? menuju parkiran. Pikirannya masih terasa mengganjal tentang keputusan yang baru saja ia ambil, ?Membuat komunitas dengan dua anak muda apakah masih pantas bagi orang tua sepertiku? Yah... tak apalah, mengapa harus menolak untuk suatu perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Semoga kami dapat membunuh asap laknat itu!?

Bersambung...

Pembunuh Asap [Sisi Tiga]

https://www.inspirasi.co/post/detail/7508/pembunuh-asap-sisi-tiga

?

*** Ternate, 25-02-2016 ***

:: Dinan ::

  • view 122