Pembunuh Asap [Sisi Satu]

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Pembunuh Asap [Sisi Satu]

Pembunuh Asap

?

Sisi Satu

*

Penampilannya tak seperti gadis lain, tiap hari ia memakai jaket dan celana jeans. Tak pernah memakai rok apalagi berdandan. Alas kakinya hanya sepatu kets berwana putih hitam, uang koin seribu dapat diselipkan pada pinggiran sepatunya yang sobek. Bukan karena kere, tapi itulah ciri khas Layla Indira. Mahasiswi Fakultas Ekonomi ini adalah seorang aktivis, pernah menjabat Ketua Himpunan, Ketua Senat Fakultas dan sekarang menjabat Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa di Kampusnya. Dari sisi kepemimpinan dan manajerial, tak disanksikan lagi. Ia menjadi idola 8% mahasiswi dan 3% mahasiswa di kampusnya. Walau penampilannya terlihat kumal tapi pesonanya tidak redup. Rambut pendek, kulit sawo matang, bibir tipis dan yang spesial, matanya, tajam dan jernih, sangat mirip dengan mata Najwa Shibah. Ia tak pernah lelah menyuarakan suara rakyat kecil, ketika pemerintah membuat kebijakan yang tidak memihak rakyat kecil, maka ia akan turun ke jalan. Bersuara lantang. Tak jarang ia harus tidur di pinggir jalan. Orang tua Layla tak bisa lagi melarangnya.

Pernah suatu ketika ayahnya menegur, "Layla, kamu itu anak gadis tidak pantas jika harus menginap di jalan, seperti gelandangan."

"Ayah... bahkan nyawaku pun akan kuberikan untuk rakyat kecil. Apalagi hanya sekedar panas-panasan, kelaparan atau tidur di jalan. Kepantasan dan Norma hanya sebatas kesepakatan majemuk!" ucapnya dengan suara tegas.

Ayahnya hanya terdiam dan tak pernah lagi menegur aktivitas putrinya.

"Banyak pemimpin dunia yang berhasil dan menjadi penggerak perubahan di negerinya. Jika ditelisik lebih jauh maka salah satu kesamaan mereka adalah berpikir dan berbuat lebih diantara yang lain. Lebih dan lebih. Terkadang dianggap gila, tapi ketika proyeknya telah menghasilkan buah yang manis, maka rakyat akan mengakuinya. Dipuja. Melegenda!" ucap Layla membuka materi Kepemimpinan dan Perubahan pada suatu Latihan Dasar Kepemimpinan di Fakultasnya.

Malam ini Layla diundang sebagai pemateri, pesertanya 40 mahasiswa baru. Menanamkan konsep perubahan, memupuk semangat idealisme dan memangkas hama individualistic. Setelah sejam memaparkan materi seorang mahasiswi mengacungkan tangan.

"Kanda, boleh bertanya?"

"Silahkan..., namanya siapa?"

"Nama saya Naomi... menurut Kanda, apakah kesalahan paling fatal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang pemimpin?"

"Membunuh Hati! Seorang pemimpin harus senantiasa menjernihkan hatinya. Tidak memberikan ruang untuk noda mengumpal di hatinya. Jika noda menggumpal maka hatinya akan mati dan ia tidak akan pernah berpikir dan berbuat untuk rakyat. Ia hanya akan mementingkan perut dan nafsunya. Menguras dan memakan uang rakyat, sehingga perubahan akan terkubur dan tak mungkin mewujud."

Setelah dua jam memberikan materi, Layla memohon diri. Sambil berjalan ke parkiran, ia membuka tas saku, meraih perangsang ide, rokok. Tak ada manusia sempurna, begitu pula denga Layla. Cerdas, aktivis dan cantik, tapi disisi lain ia seorang perokok aktif. Tiap hari ia menghabiskan satu setengah bungkus rokok atau sekitar 30 batang dan akan bertambah jika sedang melakukan aksi unjuk rasa. Ia tak peduli anggapan orang kepadanya. Ada beberapa orang yang pernah memanggilnya pelacur, saat ia merokok di pinggir jalan tapi Layla cuek, tak peduli. Pada setiap hisapan, idenya akan mengalir deras bagai air terjun. Ia beranggapan, tanpa rokok maka idenya akan menguap ke angkasa dan malaikat akan memeluk, membawa ke langit dan menyerahkannya kembali kepada Sumber Ide. Sesampainya di parkiran, HPnya berbunyi. BBM dari Fadlan, kekasihnya.

"Ping!"

"Kamu ingat kita ada janjian malam ini kan?"

Layla pun membalas

"Oh...astaga. Lupa. Saya kesana sekarang."

Layla lupa jika malam ini ada janji dengan Fadlan di warung kopi depan kampus. Dengan motor maticnya ia berangkat menuju kekasihnya di Warung Kopi Dg. Tunru'.

Malam ini Dg. Tunru' terlihat sepi, tidak ramai seperti biasanya. Layla mencari Fadlan. Tak perlu waktu lama, ia pun menghampirinya.

"Wei... apa kabar cika'(1)?" sapa Layla, sambil menyentuh lembut bahu Fadlan.

"Baik... pesan apa?"

"mmm... Kopi Susu, kecil(2) "

Fadlan pun memanggil pelayan dan memesan dua Kopi Susu ukuran gelas kecil. Mereka duduk bersebelahan. Hubungan mereka unik, tak ada sedikit pun sisi romantis. Fadlan pendiam dan sangat inferior, sedangkan Layla cerewet dan sangat sibuk. Kencan mereka hanya di warung kopi, minum kopi dan bercerita tentang "dunia". Tak beberapa lama pesanan mereka datang. Sambil menghirup kopi, Layla menghisap "perangsang ide"nya.

"Layla, sampai kapan harus ku ingatkan. Berhenti menghisap benda busuk itu. Aku takut kamu terkena kanker serviks dan... keinginanku yang paling besar adalah ANAKKU LAHIR DARI RAHIMMU!"

Suara Fadlan lembut tapi tajam mengiris hati Layla. Layla hanya tertunduk, menghadap lantai dan membuang rokoknya. Ia mencintai Fadlan. Kencan malam ini terasa hambar...

?

**

Hujan tak menghalanginya berangkat ke kantor. Memakai sepeda motor peninggalan ayahnya, ia menerobos butir-butir rahmat Ilahi. Jika tak masuk kerja maka uang makanya akan dikurangi. Artinya, pendapatannya akan berkurang bulan ini dan itu hal yang sangat tidak ia inginkan. Sesampainya di kantor, bajunya basah kuyup. Kantornya masih sepi. Ia langsung menghampiri absen elektronik, menyentuh sensor jari yang tersedia dan menunggu sampai sidik jarinya terverifikasi. "Terima Kasih!" suara mesin absensi. Ia menuju meja kerjanya, sesaat kemudian terdengar suara dari ruang sebelah.

"Ansar, tolong ke ruangan saya sekarang!"

Ternyata atasannya telah datang, ia pun mengetuk pintu.

"Ya... silahkan masuk,"

"Ada apa Pak?"

"Bagaimana dengan Renstra 2015-2019, sudah selesai kamu kerjakan?"

"Iye(3) Pak, tinggal finishing. Bentar saya print dan saya kasi' ki'."

"Oke, saya tunggu ya. Makasi"

Ansar. Seorang PNS dengan pangkat II/c, pegawai rendahan. Ia menjadi PNS setelah mengabdi sebagai tenaga honor selama 5 tahun. Lulusan SMA. Berkat kerja kerasnya ia telah "dipandang" oleh pegawai lain. Apapun ia kerjakan, foto copy berkas, kirim surat atau membersihkan ruangan. Tapi itu dulu, sekarang ia telah diamanahi pekerjaan yang sedikit menantang, menyusun analisis jabatan, rencana pelaksanaan kegiatan, renstra bahkan bertanggung jawab untuk aplikasi keuangan, SPM, SAS dan SAIBA.

Setelah menyerahkan Renstra 2015-2019 kepada atasannya, ia beranjak keluar mencari setitik ruang, melepas kepenatan dari himpitan hidup. Mengambil sebatang rokok yang diselipkan di dompet. Menyalakan dan menghisapnya dengan lembut. Benda ini membuatnya terbang dan terbebas dari himpitan hidup yang serba kekurangan. Hanya 2 menit, tapi itu cukup buatnya. Ansar telah menikah dan memiliki satu anak. Setelah empat tahun menikah ia masih menumpang di "pondok mertua indah". Dengan gaji seorang abdi negara rendahan ia masih belum dapat membangun rumah untuk keluarga kecilnya. Tak terasa rokoknya tinggal 1 cm, ia menghisap dengan sepenuh jiwa, berharap menemukan titik tertinggi dimana tak ada lagi yang berbicara tentang uang!

Dari luar, rumah ini terlihat sederhana, 10m x 8m, bercat biru langit, dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Disinilah Ansar dan keluarga kecilnya menumpang. Rumah mertuanya. Ia beranjak masuk dengan lunglai, entah karena lelah atau malu bertemu dengan mertuanya. Istrinya menyambut dengan muka kusut, tak ada senyum apalagi ciuman kecil di pipinya.

"Ada apa?" tanya Ansar menyelidiki.

"Susunya Khanza habis. Sana beli di mini market... " jawab istrinya masih dengan muka kusut.

"Uangnya?"

"Pakai uangmu saja!"

Ansar keluar rumah. Mengambil dompet dari kantongnya, melirik sepintas, tinggal selembar uang lima puluh ribu. Menyalakan motor dan beranjak pergi ke mini market. Setelah membeli susu untuk Khanza, uangnya tersisa lima ribu rupiah. Ia singgah di warung membeli 4 batang rokok dengan uang tersisa. Sebelum muka istrinya bertambah kusut ia langsung pulang ke rumah. Kewajiban telah dilaksanakan, ia memohon dibuatkan kopi hitam kepada istrinya.

Sambil menunggu kopi, ia menghisap "nikotin"nya. Zat ini menenangkan, membuat penikmatnya terasa tenang dan damai. Stress ditendang dengan cepat olehnya. Kedamaiannya buyar oleh suara istrinya.

"Merokok mi' lagi. Ingat ki' ... susu Khanza dan rumah MAHAL..."

Ansar hanya terdiam, kopi hari ini terasa pahit. Sangat Pahit.

?

***

Dg. Jami' berjalan santai, menyusuri setapak kecil. Subuh ini mentari belum tampak, hanya goresan awan tipis di langit biru. Dua orang petani dengan semangat mencangkul sawah, menandakan musim tanam akan segera dimulai. Tiap subuh, ia menghabiskan waktunya dengan berjalan kaki di setapak ini. Semacam rutinitas untuk menjaga kebugaran yang telah memudar. Rutinitas ini dilakukan setelah shalat subuh berjamaah di Masjid Nurul Rahma sekaligus memberikan kultum dengan materi yang mendalam tapi membumi dan kekinian. Ia adalah seorang ulama di kampungnya. Seorang Kyai tepatnya. Banyak penduduk kampung yang sering menanyakan persoalan agama kepadanya, ilmunya sangat luas dan ia tak ingin terlibat dengan politik praktis. Suatu ketika ada tokoh masyarakat yang menawarinya menjadi Calon Bupati, tapi ia tolak dengan halus. Di kepalanya politik itu kotor dan tidak menghasilkan apa-apa. Untuk hidup, ia bersandar dari gaji pensiunan penghulu.

Aroma kopi memenuhi halaman belakang. Tampak pasukan burung gereja beterbangan mencari makan, ada pula yang kawin dan tak mempedulikan kawanannya. Dg. Jami' menghirup kopi dengan lembut. Terasa ada keping puzzle yang hilang. Empat tahun lalu... Dg. Salamang, istrinya telah menemui Sang Pencipta. Sedang Kadir, anak tunggalnya kuliah di Mesir. Detik demi detik ia lewati sendiri... Sepi... Sunyi... Ditengah kesunyian ini, ia semakin akrab dengan teman, sahabat atau kekasih barunya, rokok. Ketika rasa kesunyian menghampiri maka rokok senantiasa menemani, menghabiskan waktu yang fana ini. Ia semakin rakus bermesraan dengan kekasihnya, dua bungkus rokok tiap hari ia hisap. Entah sudah berapa banyak Tar dalam tubuhnya. Mengendap di paru-paru, merusak rambut kecilnya yang bertugas membersih dan mengeluarkan kuman. Pagi itu ia tidak peduli, air mata mengalir dari matanya. Ia menghisap kekasihnya, menghadap ke kursi disampingnya dan berkata, "Apa kabarmu Salamang...?"

Bersambung...

Pembunuh Asap [Sisi Dua]

https://www.inspirasi.co/post/detail/6657/pembunuh-asap-sisi-dua

?

?

---------------------------------------------------------------------

cika'(1) , adalah salah satu panggilan akrab di Makassar untuk teman, mirip dengan Mas di Pulau Jawa

kecil(2), di warung kopi makassar ketika berkata kopi susu kecil artinya ukuran gelasnya kecil

Iye(3), Iya dan halus dalam bahasa bahasa Bugis dan Makassar

?

-------------------------------------------------------------------

?

*** Ternate, 23-02-2016 ***

:: Dinan ::

  • view 185