Rasa ini, Aku Pendam!

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Rasa ini, Aku Pendam!

?

"Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit."

Ayat itu menghunus tajam di dadaku. Bagaimana tidak? Pernyataan itu adalah Kalam Ilahi yang tertuang dalam kitab suci, sumber ilmu pengetahuan dan aturan main dalam mengarungi hidup. Kebenarannya, tak usah dipertanyakan lagi. Yakinlah, bahwa kevalidannya 1000%. Tapi, apakah rasa yang tertanam di lubuk hati terdalamku tetap DIA ketahui? Khawatir, ketika rasa ini tidak murni dan hanya nafsu syetan belaka. Takut, ketika rasa ini tidak dibenarkan olehNya.

Entah dari mana datangnya rasa ini, tiba-tiba saja tertanam, tumbuh, berdaun, berbunga kemudian berbuah di dasar hatiku. Padahal lahannya telah ku persempit, tidak pernah ku siram apalagi ku pupuk. Setiap saat aku senantiasa menghindar dan menjauh darinya. Sangat jarang bertemu, berbicara apalagi jalan berdua.

Yang aku ingat, momentum pertama aku melihatnya. Dia berdiri di depan ruang kuliah, memakai baju putih, jeans berwarna biru kusam dan gelang putih hitam melingkar di tangan kanannya. Kulitnya putih, rambut panjang dan tergerai lembut. "Cantik." hanya itu kata yang terucap dengan sendirinya di hatiku. Hatiku berucap sendiri, dia tak mengikuti kesadaranku. Hari itu aku memandangnya lama. 5 menit. Tak berkedip. Selama ini aku sering menundukkan pandangan. Mataku memandang wanita paling lama 1 menit. Tapi, saat itu. Kesadaranku ditelan oleh pesonanya.

Dua bulan kemudian, isi kepalaku berisi 60% kuliah, 25% keluarga dan 15% dia. 15%? Porsinya besar. Aku mulai gundah. Hatiku bertanya, "Kenapa? Ada apa?" keberuntungan menyertaiku karena pada semester awal, tugas kuliah menggunung dan kegiatan organisasi kampus menghimpit. Aku sibukkan diriku dengan kuliah, organisasi dan tidur. Sampai suatu ketika, kami duduk berdampingan di dalam ruang kelas. Wajahnya hanya berjarak 1m. Sial. Kalkulus Dasar I. Integral tak lagi menarik bagiku. Hampir setiap 10 menit aku mencuri pandang. Astaga,,, pertahananku tembus. Aku suka Dia.

Tak dipungkiri lagi aku suka dia. Pada saat itu, ada buku yang sedang ramai diperbincangkan. Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Salim A. Fillah. Setiap bulan kusisihkan uang belanja sebesar lima puluh ribu, uangnya ku simpan di sela-sela diktat Kimia Dasar. Setelah 4 bulan akhirnya uangnya cukup. Sore hari aku berangkat ke Toko Buku ternama, membeli buku yang kuinginkan. Dan langsung pulang ke kamar kosan. Sambil menikmati kopi, halaman demi halaman aku baca. Setelah selesai membaca buku sampai selesai kuputuskan untuk shalat sunat wudhu. Aku beranjak ke kamar mandi, mengambil wudhu dan shalat dua rakaat. Jam dinding telah menunjukkan Jam 01.00, hatiku bergejolak. Menelaah dan menimbang isi buku itu dan bertanya kepada Sang Pemberi Rasa.

"Apakah rasa ini halal?"
"Apakah rasa ini harus ku ungkap kepada semesta?"
Atau...
"Rasa ini, aku pendam!"
Senyap...
Tak ada jawaban, cicak di dinding belari mengejar nyamuk kecil di depannya. Sekejap kemudian, nyamuk telah dikunyahnya. "ckckck..." bunyi itu keluar dari mulutnya. Tanda bahwa ia menikmati makanannya.


Pikiranku masih bergantungan di zona pertanyaan sulit itu. Ku putuskan untuk duduk diluar kamar. Menatap langit. Bulan tampak malu malam ini, dia bersembunyi dalam gelapnya awan mendung. Bintang pun tak banyak terlihat. Angin lembut mengecup dadaku. Semakin larut, angin bertambah kencang. Hembusannya menelusuri kulit, masuk ke hatiku dan berucap lirih, "Pendamlah rasa itu!"

Keesokan harinya, aku terlambat bangun. Jam 08.15, padahal kuliahku jam 08.00. Pak Amran lagi? Mampus. Dosen Fisika Dasar I ini terkenal disiplin. Mahasiswa yang terlambat, dilarang masuk dan absensinya berpengaruh terhadap nilai akhir. Mirip anak sekolah saja. Karena takut error, aku langsung memakai baju seadanya, parfum sedikit dan yah...secara otomatis tidak mandi. Berlari ke kampus. Sesampainya di depan ruang kuliah. Nafasku ngos-ngosan. Pintunya telah dikunci. Artinya aku alpha hari ini. "Ahhh...."

Aku duduk sambil menunggu kuliah selesai. Sejam kemudian, pintu dibuka oleh Pak Amran. Tak berapa lama, Dia menampakkan wujudnya. Pagi ini, Dia memakai sweeter warna abu-abu, celana hitam dan tentu saja rambutnya dibiarkan tergerai indah. Setiap langkahnya ku ikuti dengan tatapanku. Tanpa digerakkan mulutku bersuara lembut.


"Terima kasih telah hadir dalam pagi, siang, malam, hati dan hidupku,"
"Aahh..."
"Tapi, saat ini... Rasa ini terasa belum pantas. Aku yakin kamulah jodohku. Tunggu aku di pelaminan, 10 tahun kemudian."
"Rasa ini aku pendam. Cukuplah Tuhan, cicak, bintang, bulan dan angin yang mengetahuinya,"
"Aku cinta Kamu!"

?

:: Dinan ::

  • view 133