Mimi'

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Februari 2016
Mimi'

Ini suara apa? Sangat merdu dan mendamaikan. Aku sangat senang jika mendengar suara ini. Kadang orang yang membawaku kemana saja dia pergi, sebut saja namanya Mimi', memutar suara ini tapi tak jarang dia memutar lagu selow yang lembut. Aku telah 8 bulan 25 hari di tempat ini. Itu yang kudengar dari Mimi', ketika ditanya oleh orang lain yang kebetulan bertemu di jalan tadi siang.

Tempat ini memang tidak luas seperti diluar sana tapi terasa kokoh dan sejuk. Entah dari mana rasa sejuk itu, yang kurasakan bagai terbuai dengan kasih. Setiap aku merasa lapar, dengan sendirinya makanan itu masuk ke tubuhku lewat tali panjang ini. Apapun yang dimakan oleh Mimi' maka itu pula yang kusantap hari itu. Kita berbagi makanan. Kita berbagi tubuh. Terkadang, kita berbagi nafas.

Mimi' adalah pribadi yang aktif. Hampir tiap hari dia terbangun pagi buta. Aku masih ingin terlelap tapi gesekan telah kurasakan. Mimi' memulai aktifitasnya. Dimulai dengan mandi, membasuh mukanya dengan air kemudian melakukan gerakan yang selalu membuatku terhimpit. Setelah selesai dengan gerakan-gerakan itu, angin kedamaian terasa berhembus pada setiap sisi ruangan ini. Jika aku keluar nanti, akan ku minta agar Mimi' mengajariku gerakan dan bacaanya itu. Semoga dia berkenan mengajariku.


"Krek..krek..krek." suara apa ini? Suara itu dari perut, aku lapar. Kuberi tanda ke Mimi dengan meninju dinding di depanku beberapa kali. Ku tunggu... Belum ada juga sarapan pagi yang masuk. Ku tendang lagi sekuatnya dua kali. Sekejap kemudian ada aliran makanan yang masuk. Segar... Dengan menghisap ibu jari, aku terlelap lagi.

"Buk..buk.." apa ini? Goncangan ini membuatku terbangun. Untung saja ada dinding kokoh itu. Goncangan ini berlangsung cukup lama. Mimi' sedang apa yah? Akhirnya goncangan berhenti. Terlelap lagi...
Beberapa saat kemudian goncangan itu terasa lagi. Kubuka mata lebar-lebar mencoba mencari sumber cahaya, kenapa Mimi' berpindah dengan cepat? Kita terasa berada di jalanan. Dia mengendarai sesuatu. Mimi' naik motor!
Aku sangat tidak suka jika Mimi' naik motor, tempat ini bergoncang tak tentu arah. Dia hampir tiap hari naik motor. Mimi' kerja apa sih? Nanti ketika aku keluar akan kutanyakan.

Aku terbangun dari mimpi indah. Dalam mimpiku, Mimi' sedang berjalan sambil menggandeng tanganku di taman yang dipenuhi bunga warna-warni, kupu-kupu beterbangan dengan riangnya dan langit biru sangat setia menemani kita. Mimpi itu buyar karena suara seorang pria yang rambutnya berwarna putih. Dengan bulu halus tumbuh di bawah dagunya. Teriakannya terdengar sampai di dalam ruang ini.

"Maryam... Jadi kamu tidak menggugurkan kandunganmu? Tujuh bulan lalu telah kuperingatkan dengan tegas. Janin itu adalah buah dari dosamu. Anak itu haram. Untuk apa kamu mempertahankan dan memeliharanya?", bentaknya kepada Mimi'.


Mimi' hanya terdiam sambil mengeluarkan air di sudut matanya yang bening.


Aku anak Haram? Artinya apa? Aku tak diharapkan?
Ku tendang dengan keras dinding di depanku. Satu kali... Dua kali... Tiga kali...
Ku rasakan belaian lembut Mimi'. Aku terdiam dan tenang kembali.

"Sebagai tokoh agama terpandang di kampung ini, aku malu Maryam. Aku malu dengan perbuatanmu. Hampir tiap malam aku berdakwah mengajarkan akhlak mulia kepada orang lain. Ternyata anakku sendiri... hamil diluar nikah. Astagfirullah..."
Ucap pria itu, kepalanya ditundukkan ke bawah sambil terisak menahan haru.


"Maafkan aku Abi... Aku telah berdosa dengan zina. Jika aku menggugurkannya bukankah akan menambah dosa? Biarlah aku yang menanggung beban ini. Lebih baik malu...dari pada harus menjadi pembunuh." ucap Mimi' dengan tersedu.


Suasana hening beberapa saat... Yang terdengar hanya isak tangis...

"Baiklah. Maryam, mulai detik ini kamu bukan lagi anakku. Janin yang di kandunganmu bukan cucuku. Jangan pernah datang ke rumah Abi!"


Pria itu pun beranjak keluar rumah, meninggalkan Mimi' yang masih menangis tersedu. Air matanya mengalir sampai kami terlelap.

Setelah kejadian kemarin, suasana hati Mimi' tak sebahagia sebelumnya. Dia lebih sering merenung diri di kamar dan jarang memutar suara yang mendamaikan itu. Goncangan motor pun tak pernah lagi kurasakan. Gerakan yang menghimpitku pun telah jarang kurasakan. Mimi' hanya keluar untuk makan dan minum. Untunglah, agar aku tak mati kelaparan.


Ada apa dengan Mimi'? Apakah dia tidak mengharapkan aku lagi? Apakah dia bersedih karena keberadaanku?
Dunia luar tak seindah bayanganku. Disini aku merasa aman dan nyaman, berbagi tubuh dengan Mimi'. Haruskah aku keluar dari ruang kokoh ini?

Kemana semua air yang kupakai untuk bermain dan berenang? Cahaya dari luar terasa menyilaukan mata. Tunggu dulu... Ini bukan tangan Mimi'. Kenapa dia menyentuh rambut dan kepalaku? Inikah saatnya? Sesaat kemudian tangisanku terdengar di seluruh ruangan. Kedua tanganku menggenggam erat amanah yang diberikan Penciptaku. Berat rasanya memikul amanah itu. Tapi aku telah membuat kontrak denganNya. Jalani dan pasrahkan.

Setelah beberapa minggu, aku bisa melihat wajah Mimi'. Kulitnya putih, rambutnya panjang, matanya bening dan yang paling aku suka adalah bibirnya. Mungil dan manis. Dia sangat lembut, sebelum tidur tak lupa ia menyanyikan lagu merdu. Aku sangat bahagia memilikinya. Pria itu tak pernah lagi terlihat. Semestaku hanya Mimi'. Aku berharap semoga tumbuh sehat dan kuat. Kelak ketika telah dewasa, aku akan merawat dan menjaga Mimi'. Terima Kasih telah memilihku...

?

:: Dinan ::

  • view 105