Kertas Putih

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Februari 2016
Kertas Putih

Kertas Putih

?

... 2004 ...

?

Tangisnya terdengar sampai seberang jalan. Sudah sepuluh menit bayi Bu Ririn tak hentinya menangis. Mungkin Bu Ririn dan Pak Mus sedang bertengkar sehingga bayi mereka terlantar. Tetanggaku ini sangat unik. Hari senin romantis, selasa sampai sabtu pisah ranjang, eh... Minggunya, liburan ke Bantimurung. Tapi mereka adalah tetangga yang baik hati. Hampir tiap minggu aku dibawakan kue. Rasanya enak. Maklum, mahasiswa. Anak kos lagi. Jadi, jika ada GORA (GORATISAN) maka hari itu terasa ada lukisan pelangi di dinding kamarku. Tidak nyambung ya? Hehe...

?

Namaku Azka, kuliah semester akhir disalah satu PTN favorit. Teman-temanku tidak senang bergaul denganku, katanya aku aneh dan sering melamun sendiri. Makanya selepas kuliah, aku langsung pulang ke kosan. Belajar, nonton TV atau tidur. Hanya itu rutinitasku. Oh ya, satu lagi. Menjadi surveyor tetanggaku. Bu Ririn, Pak Mus dan bayi mungil mereka bernama Farah.

?

Agamaku mengajarkan, bayi lahir dalam keadaan suci, fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikannya majuzi, yahudi, nasrani atau islam. Sehingga "otak pertama" bayi adalah ibu dan bapaknya. Jika otaknya hitam maka hitamlah anaknya. Aku belum terlalu mengerti masalah ini karena belum berkeluarga. Aku hanya merasa simpatik pada Farah, tiap pagi dan sore suara tangisnya sangat keras. Mungkin level pertengkaran orang tuanya telah sampai pada stadium 4. Beberapa bulan lagi akan dioperasi kemudian dibuatkan liang kubur.

?

Bu Ririn adalah ibu rumah tangga. Aktivitasnya cuma di rumah, mengurus suami dan anak. Pak Mus adalah PNS. Kabar yang kudengar, dia adalah pejabat tinggi pada instansi yang mengurusi tentang infrastruktur. Dulu sebelum punya anak, mereka sangat jarang bertengkar. Setiap sabtu sore, Pak Mus minum kopi sambil baca buku di teras dan Bu Ririn menemaninya sambil mengupas bawang. Romantisnya.

?

Kamarku terasa gerah siang ini. Maklumlah, aku berasal dari golongan menengah. Miskin tidak, kaya apalagi. Yah... Cukuplah. Jadi, kamarku hanya ada kipas angin kecil. Pernah aku minta dibelikan AC sama bapakku. Beliau berkata, "Tunggu sampai langit runtuh ya, baru kau kubelikan AC. Kau itu... Kalau kau pakai AC tidak bangun pagi mako. Tidak sembahyang subuh. Tidak pergi kuliah. Na patok semuami ayam reskimu. Janganmi terlalu banyak minta. Cukup ibadah yang rajin dan belajar."

Ampun deh... selepas itu, aku tidak pernah lagi minta yang aneh-aneh sama beliau.


Untuk mencari angin segar akupun keluar kosan. Duduk di depan ditemani alunan merdu lagu dangdut. Evie Tamala, Rembulan Malam, diputar oleh ibu kos.


"Buukk...". Suara pintu membuyarkan lamunanku.

Dengan langkah cepat, Bu Ririn keluar dari rumahnya. Membawa satu koper besar sambil menggendong Farah. Aku pun menghampirinya.


"Mauqi kemana Bu Ririn?", tanyaku ragu.
"Mauka pulang ke Je'neponto."
"Sudah maqi minta izin sama Pak Mus?"
"Tenamo kuerok siballa siagang anjo Mus. Tena buak-buana..."Dengan muka marah dia beranjak pergi meninggalkanku. Mencari becak dan menghilang dari sudut mataku.


Keesokan harinya, ibu kosanku cerita.
Bu Ririn pergi karena Pak Mus selingkuh dengan anak honor di kantornya. Masih muda, 22 tahun. Bu Kos memperjelas bahwa sumbernya dari www.kabarkaburperintis.co.id, hehe... Ada-ada saja. Setelah kejadian itu Bu Ririn tak pernah lagi terlihat.
Bagaimana dengan Farah?

?

... 2007 ...


Tahun ini adalah tahun keemasanku. Lulus kuliah dengan predikat memuaskan. Melamar kerja, eh...langsung diterima. Aku bekerja di Perusahaan bonafit di kotaku. Gajinya lumayan. Tugasnya menantang. Jenjang karir jelas. Pokoknya uang rokok dan jajan aman. Sayang aku masih jomblo. Mmm...


Suatu hari aku pulang kerja dengan motor baruku. Kredit. Masih 2 bulan. Hehe...
Pas lagi macet. Aku singgah di dekat lampu merah. Memarkir motorku di pinggir jalan. Dan menghisap rokok untuk melepas lelah. Kemudian seorang anak perempuan datang menghampiriku. Pakaian dan penampilannya kumal. Kulitnya hitam karena terik matahari. Usianya mungkin baru dua tahun lebih.


"Kak... Uang ta' dulue... Rua' sabbu mo kodong." , sambil membuka topi kumalnya dan dihadapkan keatas.
"Mauko apai uang? Dimana bapak dengan mama'mu?", tanyaku.
"Bapakku... Mate'mi. Mauka beli beras. Tidak ada uangna mama'ku."

Karena merasa kasian, aku pun membuka dompetku dan memberinya selembar uang lima puluh ribu.
Dengan riangnya dia mengambil uang tersebut. Memasukkannya di kantong, takut jangan sampai hilang atau dicopet preman jalanan. Dia pun beranjak pergi. Tapi aku menahannya dengan memegang lengannya.


"Siapa namamu?"
"Farah Kak", ucapnya. Tak lupa senyum manis terukir di bibirnya.
"FARAH...? KALO MAMA'TA SIAPA NAMANYA DAN DARI MANA?"
"RIRIN. JE'NEPONTO... Sudahmi Kak nah, mau ka pulang, mama'ku mau beli beras dengan ikan. Terima Kasih..."
Farah pun berlari sambil memasukkan tangannya di kantong.
"Miris...", gumamku dalam hati.


Farah yang kemarin masih kertas putih sekarang telah menjadi kertas abu-abu. Beterbangan di jalanan mencari warna...

?

:: Dinan ::

Dilihat 730