Dua Dunia

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Februari 2016
Dua Dunia

Novan Syahrir

Keluar dari ruang kuliah, Novan berjalan menuju mobilnya. Mobil yang dapat dikategorikan sangat mewah. Lamborghini Gallardo, warna emas. Harganya sekitar 6 milyar. Mirip dengan mobil yang dimiliki oleh artis terheboh di negeri ini. Dengan bangga dan angkuhnya ia menyalakan mesin, memutar lagu favoritnya. Angin, Dewa 19. Saat ingin menginjak gas, seorang gadis mungil menghampiri mobilnya, Fika. Dia adalah teman dekat Novan. Tampilannya membuat mata lelaki terbelalak. Bagaimana tidak? Kulit putih, mulus, rambut hitam sebahu, mata jernih dan bodynya luar biasa, Gitar Spanyol, Cika?... hehe. Fika mengetuk pelan kaca mobil Novan. Novan pun membuka perlahan kaca mobilnya.

?Ada apa?? tanya Novan, sambil melirik Fika.

?Kapan kita jalan bareng lagi?? tanya Fika.

?mmm... sebentar malam. Nanti aku jemput jam 20.10.? jawab Novan lembut.

?Oke!?

Novan pun melaju dengan Gallardonya, menyusuri jalan macet salah satu kota metropolitan, Makassar. Setelah beberapa menit, ia sampai di rumahnya. Bukan rumah, tepatnya istana. Bangunan itu dua lantai, 50m x 75m, didepan terlihat taman yang terawat dan indah, dipenuhi bunga dan tanaman hias, catnya berwarna orange lembut dan pagarnya sangat ekslusif.

?Pip...Pip...? Novan membunyikan klakson. Sesaat kemudian, seorang pria paru baya berlari membuka pagar. Berpakaian safari berwarna hitam, kemudian memberi hormat ketika Gallardo Novan melewatinya. Setelah memarkir mobil di garasi, ia membuka pintu rumah. Terlihat perabotannya lengkap, semua berwarna perak. Ayahnya sangat menyukai warna perak. Seorang wanita menghampir dengan sopan.

?Mau minum apa Mas?? tanyanya.

?Jus jeruk, sepertinya enak nih Bi Imah. Bawa ke kamar ya...? jawab Novan pada pembantunya.

?Iye... Mas.?

Novan berlalu meninggalkan pembantunya, menuju kamarnya di lantai dua. Setelah memasuki kamar, ia pun berbaring santai sambil menyalakan PS 3nya. Winning Eleven. Konsetrasinya buyar oleh suara dari depan pintu kamar.

?Mas... Jus Jeruknya.? ucap pembantunya sambil membawa segelas jus jeruk.

?Simpan di meja saja!? ucap Novan, sambil terus memencet stick PS.

Setelah beberapa menit, rasa bosan menghinggapinya. Ia menarik bantal, sekejap kemudian terlelap dalam kemalasan.

?

Ayah Novan bernama Pak Syahrir. Bekerja sebagai Kepala Dinas Kesehatan di Kota Makassar, karirnya sangat melejit. Usianya masih tergolong muda, 40 tahun. Asalnya dari Gowa. Selain PNS, ia juga memiliki beberapa usaha, kos-kosan sebanyak 2 unit di sekitar kampus UNM, Mini Market yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan dan Rumah makan khas Makassar. Coto, konro, pallubasa dan makanan lainnya tersedia disana. Entah Pak Syahrir dapat dari modal mana, karena sepengetahuan tetangga, keluarganya adalah orang biasa dan tak memiliki harta berlebih. Mungkin, dari Ibu Novan...

Ibu Novan bernama Bu Sri. Ia hanya IRT, tidak bekerja dan hanya membantu Pak Syahrir menjalankan usaha. Ia berasal dari Bandung, tinggal di Maros sejak tahun 1984 karena ayahnya yang berprofesi Guru SD dimutasikan ke Maros. Jika diperhatikan, keluarga Bu Sri juga bukan dari golongan atas.

Dari mana mereka memperoleh modal usaha?

Jam weker menunjukkan 20.00. Novan pun bangkit dari kasur untuk mandi. Bersiap kencan dengan Fika. Beberapa menit kemudian, ia berkaca di depan meja rias. Novan memakai baju kaos dilengkapi jaket kulit dan celana jeans warna hitam. Sambil menata rambutnya, ?OKE..mantap!? gumamnya dalam hati. Ia pun tak lupa minum jus jeruk buatan Bi Imah. Setelah gelasnya bocor, ia menuju ke lantai satu. Bi Imah sedang menyajikan makanan di Meja Makan.

?Tidak makan, Mas?? tanya Bi Imah.

?Tidakji?... Bi, Ayah dan Ibu kemana??

?Tuan belum pulang, Nyonya pergi arisan.?

?Oohh...? ucap Novan seadanya.

Rumah ini sepi, penghuninya sibuk dengan urusan masing-masing. Novan adalah anak tunggal. Oleh karena itu, ia dibuai dengan fasilitas. Apapun yang diminta Novan pasti dipenuhi. Pada usianya saat ini, Novan tak hapal bacaan shalat fardhu,apalagi melaksanakannya. Al Fatihah dan Syahadat saja yang masih tersimpan di kepalanya. Guru kelas 3 SDnya yang memaksa untuk menghapal. Jika tidak hapal maka ia tidak akan naik kelas. Di rumah ini,cuma Bi Imah yang rajin Shalat Fardhu. Tak ada unsur religi disini, hanya kehampaan yang menyelimuti.

Novan telah menjemput Fika. Ia menuju diskotik terbaik, M CLUB. Mereka terhanyut oleh alunan musik, mencari kebahagiaan... bukan, kedamaian. Setelah lelah, mereka duduk di sudut bar, ruang VIP. Hanya mereka berdua, memesan minuman bermerk dan bermesraan. Mengusir kehampaan...

?Fika, kamu luar biasa... Aku bawa barang bagus nih,? ucap Novan

Apa itu sayang?? tanya Fika.

Novan mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya. Enam butir ekstasi.

?Waaooo...? ucap Fika Girang.

Mereka pun menikmati barang haram tersebut. Setelah teler, mereka keluar dari diskotik dan memutuskan naik taxi. Novan takut mengemudi dalam kondisi teler.

?Novan ... kita mau kemana lagi?? tanya Fika sambil memeluk Novan.

?Pak Sopir... Hotel Clarion. Malam masih panjang Fika...? ucap Novan sambil terkekeh karena teler. Mereka menghabiskan malam, mengikuti naluri binatang mereka.

Kepercayaan Novan cuma satu, Hidup ini hanya sekali, nikmati saja... bersenang-senang kemudian mati. Hedonis!

?

Seminggu kemudian...

Novan terbangun oleh teriakan Bi Imah, ? Mas... Mas Novan, BANGUN!?

Dengan mata masih 5 Watt, Novan berucap, ?Ada apa Bi Imah??

?Nyalakan TV Mas, liat berita di TV ONE.? Ucap Bi Imah dengan mimik wajah panik.

Dengan malasnya Novan meraih remote, menyalakan TV...

?Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar berinisial S, diringkus oleh penyidik KPK saat operasi tangkap tangan, siang tadi, jam 13.05 di Cafe Pacaritta. Diduga, S menerima suap dari PT. Medika Perkasa sehubungan dengan proses pengadaan alat kesehatan. Adapun alat bukti yang ditemukan di TKP adalah uang kas senilai $ 200.000 dan kunci apartemen yang berlokasi di Jakarta Pusat. S dicurigai sejak tahun 2002.Hasil temuan BPK, ada potensi kerugian negara sebesar 10 milyar pada instansi yang dipimpinnya, akan tetapi kasus ini menguap di pengadilan. Demikian, Zulkifli melaporkan dari Makassar. Kembali ke Studio!?

Malam itu tidak hujan, apalagi badai. Cuaca cerah. Dari manakah suara guntur menggelegar ini? Suara Zulkifli bagai suara guntur di telinga Novan. Ia terdiam. Sunyi...

Keesokan hari, kasus Pak Syahrir menjadi head line Fajar, ?Kadis Kesehatan diciduk KPK?. Novan membaca dengan serius berita tersebut sedang ibunya menangis pilu di pinggir sofa. Hari berganti hari, Pak Syahrir telah diputuskan sebagai terdakwa. Vonisnya, dipecat secara tidak hormat menjadi PNS, kurungan penjara 8 tahun dan ganti rugi sebesar 40 milyar. Keluarga Pak Syahrir jatuh miskin. Semua aset disita. Mereka tinggal dengan orang tua Bu Sri di Maros. Sedang Novan dijauhi teman, termasuk Fika dan harus berhenti kuliah. Tak jarang ia menjadi buruh bangunan untuk sekedar membeli rokok.

---

Ahdan Khairi

?Dan kami pasti menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Al Baqarah ayat 155.? Suara Daeng Tallasa? tenang dan mendamaikan.

Subuh ini, ia akan membahas ayat yang dibacakan tadi. Majelis ini bukan di Mesjid apalagi di TV. Tapi, di ruang keluarganya yang sempit dan sederhana. Peserta hanya dua orang, istrinya Bu Lutfiah dan anak tunggalnya Ahdan Khairi, dipanggil Khairi. Selepas shalat subuh di Mesjid, anggota keluarga berkumpul dan membahas salah satu ayat. Pematerinya bergantian, Daeng Tallasa?, Bu Lutfiah atau Khairi. Mereka sangat yakin bahwa metode ini akan memperkuat iman mereka. Jika kemalasan melanda maka Daeng Tallasa? akan berucap, ?Sampaikan hanya satu ayat. Jagalah diri dan keluargamu dari Api Neraka!? Mereka saling menguatkan dan memperingati menuju jalan kedamaian dan Ridha Ilahi.

?Sang Pencipta telah mengetahui diri kita dari sel terkecil sampai tubuh dan hati. Dia mengetahui kemampuan kita dan akan menguji dari semua sisi. Bagi mereka yang bersabar maka sampaikanlah kabar gembira. Artinya, orang yang bersabar dalam menerima ujian maka derajatnya akan diangkat oleh Sang Maha Mulia.? Ucap Daeng Tallasa? dengan yakin.

Khairi dan Ibunya mengangguk tanda mengerti.

??Ingat ... derajat kita diangkat oleh Dzat Penguasa Alam Semesta bukan oleh manusia yang tak memiliki apa-apa. Keadaan kita memang serba kekurangan, tapi yang kalian makan berasal dari rezeki yang halal dan Insya Allah hasilnya akan membawa berkah untuk kita.? ucap Daeng Tallasa? menambahkan.

Majelis berlangsung dengan khidmat. Beberapa saat kemudian matahari telah menunjukkan senyum manisnya di ufuk timur. Artinya, majelis ini akan berakhir.

Setelah sarapan seadanya, Daeng Tallasa? bergegas pergi bekerja. Ia seorang tukang becak. Pagi ini, ada langganan anak sekolah yang harus diantarnya. Dengan semangat dan muka ceria ia mohon pamit ke Bu Lutfiah.

?Assalamu Alaikum...?ucap Daeng Tallasa? lembut.

?Walaikum Salam... Hati-hati ki? Abi...? jawab Bu Lutfiah, tak lupa senyum merekah di bibirnya yang tipis.

Daeng Tallasa? mengayuh becaknya, menjemput rezeki halal hari ini.

Khairi berpamitan ke ibunya untuk pergi kuliah. Sepeda ontel Abi telah siap mengantarnya. Jarak dari rumahnya ke kampus cuma 500m.

Pernah suatu ketika ibunya bertanya, ?Kamu tidak malu naik sepeda ontel Abi ke Kampus??

Khairi cuma tersenyum dan menjawab, ?Kenapa harus malu? Sepeda ini kan dibeli dari uang tabungan Abi, uangnya halal. Justru aku malu kepada Allah, ketika naik motor atau mobil bagus tapi dari hasil korupsi... hehe.?

Khairi adalah anak yang berbakti dan sangat mengerti kondisi orang tuanya. Dia juga tak pernah malu memakai baju yang sama berhari-hari, baju kuliahnya hanya 3 lembar. Satu baju dipakai dua hari. Untuk mengurangi beban Abinya, ia belajar dengan tekun dan memperoleh beasiswa berprestasi. Sedangkan untuk keperluan membeli buku dan keperluan lainnya, ia mengajar private anak SD, SMP atau SMA khusus pelajaran matematika dan fisika. Muridnya cukup banyak karena penyajian materinya sangat inovatif dan mudah dimengerti.

Tak hanya pandai dari sisi akademis, Khairi juga pernah memenangkan MTQ tingkat Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2008, kebetulan diselenggarakan di Pangkep, kampung halamannya. Khairi Percaya, Hidup ini hanya memiliki satu tujuan yakni Beribadah Kepada Allah!

---

Novan Syahrir dan Ahdan Khairi

Delapan Tahun kemudian...

Pak Syahrir telah dibebaskan dari penjara, tepat satu hari sebelum Idul Adha. Ia tinggal dengan mertua, anak istri dan cucunya, di Maros. Novan telah menikah dengan seorang gadis yang baru saja lulus SMA. Pernikahan itu terpaksa dilaksanakan karena sang gadis telah hamil 2 bulan. Agar bisa makan, Novan terkadang menjadi kurir narkoba, ia tidak tahan menjadi buruh bangunan.

Daeng Tallasa? telah mempensiunkan becaknya, semua kebutuhannya ditanggung oleh Khairi. Sedang Bu Lutfiah menjual Jalankote? di teras rumahnya. ?Mengisi waktu dan mencari kesibukan.? Katanya. Khairi telah menikah dan memiliki seorang putra. Istrinya seorang dosen dan dia bekerja sebagai Manajer HRD pada perusahaan swasta. Agar dapat merawat orang tua, ia membangun rumah beberapa meter dari rumah Daeng Tallasa?. Hidup mereka tidak mewah tapi telah lebih dari cukup.

Kumandang takdir menggema. Keluarga Daeng Tallasa? bersiap mengunjungi sepupunya di Maros. Sudah sepuluh tahun mereka tak silaturahim. Mobil Avanza hitam milik Khairi telah siap di depan rumah. Tak lupa mereka membawa daging sapi, kurban tadi pagi. Sesampainya disana Daeng Tallasa? disambut oleh Pak Syahrir dan Bu Sri. Suasana silaturahim terasa hangat.

Dengan suara perlahan Pak Syahrir berucap, ?Khairi sekarang telah jadi anak yang sukses ya Daeng... Kehidupan ta? sudah semakin baik,?

?Ini semua hanya titipan Allah.? ucap Daeng Tallasa? mantap.

?Daeng... Baru ka? sadar, ternyata harta yang kotor tak memiliki berkah walau hanya setetes.? ucap Pak Syahrir. Wajahnya ditundukkan ke bawah. Dia malu.

Daeng Tallasa? merangkul sepupunya dan berucap pelan ke telinga kanannya, ?Pak Syahrir... Ampunan Allah seluas langit dan bumi. Bertobatlah agar hatimu damai!?

Sesaat kemudian, air mata Pak Syahrir menetes membasahi lantai...

?

: Dinan ::

?

  • view 203