Kita Tidak Sama, Kita Kerjasama Karena Musuh Kita Sama

Dinan
Karya Dinan  Kategori Inspiratif
dipublikasikan 28 Oktober 2017
Kita Tidak Sama, Kita Kerjasama Karena Musuh Kita Sama


Dulu, para pemuda dan pemudi menghadapi ganasnya penjajah tapi setelah kita merdeka selama 72 tahun para pemuda dan pemudi seakan terlena oleh manisnya kemerdekaan. Mereka tak lagi memiliki keinginan untuk bersatu. Isu perpecahan membanjiri linimasa media sosial dan kita terbawa arus.

Bukankah ketaksamaan itu menimbulkan sinergi antar sesama?
Bukankah ketaksamaan itu mencipta keindahan?
Bukankah ketaksamaan itu sisi terdalam dari keadilan?

Jadi detik ini, sekarang juga, tak usah kalian mengorek-ngorek perbedaan. Jangan pernah menyebar isu SARA. Dengan begitu kita bisa memulai membangun pondasi kerjasama menuju Indonesia yang lebih bermartabat.
 
Waktu mencatat betapa hampir di seluruh penjuru dunia suatu perubahan sosial dimulai dari pemuda. Termasuk di Indonesia.
“Bila ingin merubah tatanan sosial maka datangkan pemuda jangan kau datangkan orang tua kepadaku karena mereka telah terinveksi penyakit status quo.” Kata sahabatku pada suatu waktu.
 
Benar. Pemuda dan pemudi memiliki hasrat yang kuat untuk menentang ketaklaziman system, menentang kemunafikan kaum borjuis dan tentu saja menentang kebohongan. Tapi seiring waktu nilai-nilai itu tergerus oleh penyakit status quo, penyakit untuk mempertahankan zona nyaman miliknya dari segi tahta dan harta.
 
Ada banyak teori perubahan sosial, diantaranya: Teori Evolusi, Teori Konflik, Teori Fungsionalis dan Teori Siklis. Semua teori-teori itu mungkin benar adanya, bergantung dari sisi mana kita memandangnya. Namun, bagi saya, bila ingin membuat suatu perubahan sosial yang dratis maka kita cukup memunculkan musuh bersama.
 
Kita Tidak Sama, Kita Kerjasama Karena Musuh Kita Sama

Pernyataan di atas bukan isapan jempol belaka sebab saat ini kita seakan terkotak-kotak oleh perbedaan pilihan politik, perbedaan suku, perbedaan manhaj, dan perbedaan status sosial. Padahal musuh kita banyak, mereka terus menggerogoti darah dan tubuh bangsa ini. 
 
Kita harus melawanya bersama dan saling bekerjasama karena tanpa pemuda dan pemudi maka bangsa ini bagai zombie yang berjalan tanpa ruh perubahan.
 
Pertanyaan pun muncul kemudian, siapakah musuh kita?
Menurut saya, musuh kita bukan lagi penjajah, musuh kita lebih rakus dari mereka. Musuh terbesar kita ada dua :

  1. Korupsi
  2. Narkoba
Kedua musuh ini sangat berbahaya, korupsi (baca : koruptor) menghisap darah bangsa ini, menelan uang negara untuk kepentingan sendiri dan golongannya. Bukankah tanpa darah tubuh kita jadi lemah? Yah, korupsi seperti drakula penghisap darah. Ia sedikit demi sedikit melemahkan keuangan negara. Kebocoran APBN terjadi di sana-sini, baik di pusat maupun daerah. Uang negara bak darah bangsa ini, ia memompa pembangunan, menyalurkan zat yang bermanfaat seperti pendidikan dan kesehatan gratis. Tanpa uang negara, dalam hal ini APBN, tubuh bangsa ini tak mungkin bisa bergerak lincah. Sedangkan narkoba, ia melemahkan tubuh bangsa kita yakni para pemuda. Tubuh bangsa ini adalah pemuda dan pemudi. Bila mereka lemah maka lemahlah bangsa kita.
 
Mari kita telisik satu persatu musuh kita. Siapa yang mengenal musuhnya dengan baik maka ia akan memenangkan pertarungan.

Korupsi

Dilansir oleh www.voaindonesia.com, Badan anti korupsi dunia yang berkantor di Berlin –Transparency Internasional – mengeluarkan laporan tahunan atas hasil upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan 176 negara setahun terakhir (2016). Indeks Persepsi Korupsi ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-90 dengan skor 37. Dari sisi skor ada kenaikan satu poin, tetapi dari sisi rating terjadi penurunan dua peringkat. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) atau Coruption Perception Index (CPI) didasarkan pada survey dan laporan tentang bagaimana pandangan pebisinis dan pakar pemerintah terhadap korupsi di sektor public. Indeks itu menggunakan skala 0 – 100, dimana 0 adalah skor untuk negara dengan tingkat korupsi terburuk dan 100 untuk negara yang paling bersih dari korupsi. Lima negara yang menduduki peringkat teratas adalah Denmark, Kanada, Finlandia, Swedia dan Swiss. [1]
 
Bayangkan, Indonesia di peringkat ke-90 dari 176 negara. Malukah kita atau kita senyam-senyum saja, seperti tak terjadi apa-apa. Bila pemuda dan pemudi tak bersatu untuk melawan tindak pidana korupsi maka yakinlah suatu saat nanti akan semakin banyak orang miskin yang tak bisa berobat, akan lebih banyak lagi kaum dhuafa yang tak bisa sekolah, akan lebih banyak lagi jalan-jalan yang rusak dan tentu saja beban utang negara kita akan semakin besar. Bisa jadi dua puluh tahun kemudian anak cucu kita menanggung 1 milyar utang negara per kepala.
 
Sudah saatnya, pemuda bangkit untuk melawan. Tak usah turun ke jalan. Tak usah membakar fasilitas umum. Cukup dengan tidak mengantongi uang rakyat di lembaga pemerintah atau non pemerintah. Atau cukup berkata uang negara adalah uang rakyat dan akan kembali ke rakyat.
 
Saya berkesimpulan, bahwa korupsi adalah tindakan yang menyebabkan kecanduan. Jika sudah melahap uang negara sebanyak 1 juta dan aman maka ia akan melahap 2 juta, begitu seterusnya dan seterusnya. Sampai ia tidak sadar  bahwa ia telah memakan 100 juta uang negara. Betapa berbahayanya.
 
Pada berbagai kasus korupsi di Indonesia, rata-rata, pelaku besarnya atau sutradaranya adalah segelintir orang yang sama. Aman… yah lanjutkan. Terus mengalir uang ke brankasnya sampai ia harus membeli brangkas baru di tempat yang baru pula.
Ingat, saat kalian muda mungkin yakin bahwa kalian akan melawan korupsi dan tidak akan melakukannya tapi saat kalian ada kesempatan semua norma dan keyakinan itu meluap ke angkasa dan kalian menjadi drakula muda yang siap menghisap darah bangsa ini.
Hati-hati!
 
Narkoba
 
Musuh selanjutnya adalah narkoba, www.viva.co.id memberitakan, Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Nico Afinta mengatakan, jumlah pengguna narkoba di Indonesia sudah mencapai 5-6 juta orang. Jumlah tersebut berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN). [2]
 
Jumlah penduduk Indonesia tahun 2017 sekitar 262 juta jiwa, jadi ada 2,29% penduduk Indonesia yang merupakan pengguna narkoba. Kemungkinan besar, 85% dari pengguna itu adalah pemuda dan pemudi.
 
Apakah kalian salah satu diantaranya?
Sudahlah. Berhenti sekarang juga. Narkoba hanya melemahkan tubuhmu, menculik kecerdasanmu dan menjauhkanmu dari Sang Pencipta.
 
Ada banyak cara melawan narkoba, bagi saya cukup dua saja: jalankan perintah agamamu dan jaga pergaulanmu. Tak ada satupun agama yang menghalalkan narkoba. Tidak satu pun. Pada banyak kasus, pengguna narkoba adalah orang yang tak mengenal Tuhannya dan terlalu bebas pergaulannya.
 
Setelah mengenal musuh kita, wahai para pemuda dan pemudi mari kita ikrarkan perlawanan pada korupsi dan narkoba. Tak ada perubahan tanpa ikrar dan keyakinan yang kuat dari dalam hati. Tak ada perubahan tanpa dimulai dari diri sendiri.
 
Sebagai penutup, mari kita teriakkan dengan lantang:
 
Kami Putra dan Putri Indonesia
Bertanah Air Satu, Tanah Air Tanpa Narkoba
 
Kami Putra dan Putri Indonesia
Berbangsa Satu, Bangsa Yang Bebas dari Korupsi
 
Kami Putra dan Putri Indonesia
Berbahasa Satu, Bahasa Karya
 
Dinan
Maros, 28 Oktober 2017
 
      
*Ilustrasi

  • view 135

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    9 hari yang lalu.
    1 lagi pak dinan selain korupsi dan narkoba. Kemiskinan masih menjadi problem loh eyaaakkkk

    • Lihat 2 Respon