Melipat Kenangan

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 September 2017
Melipat Kenangan

 
Sebenarnya, aku tak peduli jika Tuhan hanya mencipta seorang manusia saja di dunia ini, walaupun itu hanya ada aku saja. Tidak. Sebab, aku bahagia dengan pikiranku sendiri tanpa ada yang bisa menyetir dan membelokkan sesuai dengan kemauan mereka. Namun, aku mulai berubah sejak sosokmu menyentuh lensa mataku. Kala itu pagi hari, saat matahari masih sibuknya menyebar energi pada tiap helai daun bunga matahari di rumah sakit itu. Detik itu, kamu sudah mulai memenjara isi pikiranku bahkan bila aku sedang dalam kondisi sedih kamu mampu menakhodai pikiranku sesuai dengan kehendakmu.

Pernah suatu ketika, aku memasuki rumah, langkah-langkah kaki kecilmu menderap menuju ke arahku. Bibirmu tersungging. Tipis. Manis. Aku terbuai. Hari itu, lelahku berguguran bagi dedaunan di musim gugur yang selalu ikhlas berciuman dengan bibir-bibir tanah busuk. Tak ada tingkahmu yang istimewa, menurut akal sehatku, tapi tetap saja bumi seakan digenggam oleh raksasa hijau sembari tertawa sinis dan berkata, “sebentar lagi kau akan menjadi santapanku.” Dan kamu pasti tahu, ketika itu terjadi maka bumi yang selalu berputar pada porosnya seakan berhenti sejenak, ia menunggumu mengucap kata yang hanya kamu dan Tuhan yang mengerti apa maknanya.

Seandainya, aku mampu melipat kenangan maka akan kulipat semua kenangan tentangmu. Kulipat dan kusimpan dengan rapi dalam lemari hatiku yang paling dalam, yang paling gelap, hingga aku lupa untuk membukanya kembali. Sebab, semua kenangan tentangmu selalu membuat mataku memerah dan sedetik kemudian kantong mataku memberat dipenuhi airmata yang tak pernah bisa kubendung.

Terkadang, bagi manusia bodoh sepertiku kenangan bagai Tuhan terutama lagi kenangan tentang kamu. Yah, kamu.
 
Di siang hari yang terik, kudapati dirimu sedang menatap awan.

“Lihatlah awan-awan itu berlomba mencari naungan di bawah sayap malaikat.” Katamu sambil menunjuk satu persatu awan-awan putih yang sedang bergerak ke arah barat.

“Benarkah demikian?” tanyaku penasaran.

“Tentu saja, lihatlah sayap malaikat itu.”

Kutelisik langit, tak satupun sayap yang terlihat di sana. Kamu tak menyerah. Tanganmu terus menunjuk sayap malaikat di barat.

Aku menggeleng.

“Tak ada apa-apa di sana.”

“Kejernihan matamu tak sebanding dengan kejernihan mataku.” Kamu mengangkat kedua sudut bibir tipismu. Tersenyum puas.
Aku hanya bisa menghela napas. Bukan hanya sekali tapi empat kali.

Itulah salah satu keanehanmu, kamu mampu melihat hal gaib seperti sayap malaikat. Dan, hampir tiap ada kesempatan, kamu terus berusaha menujukkannya kepadaku, walau sampai detik ini mataku belum mampu melihat itu.

Bila malam telah melengserkan siang, kamu hanya terduduk manis di ruang belajarmu sambil membaca buku-buku yang tak satupun bisa masuk dalam otakku. Temanya terlalu berat. Sudah puluhan buku kamu lahap, mulai dari tema psikologi, filsafat sampai sejarah islam. Dan semua itu, hanya bisa menjadi pengantar tidurku.

Gelas bermotif Doraemon yang berisi cokelat hangat akan selalu menemanimu. Kamu menaruhnya di sudut yang sama tiap saat, di sudut kanan atas mejamu.

“Gelas ini harus di situ. Aku sudah menandainya dengan spidol merah. Tepat disitu.” Telunjukmu mengarah ke gambar kotak dengan garis merah di sudut kanan meja belajarmu. Kamu melanjutkan, “bila aku menaruhnya di sudut lain maka gelas itu akan jatuh ke lantai dan cokelatku akan tumpah. Hidup adalah keteraturan. Ketidakteraturan berarti kematian.”

 Lagi, aku hanya membisu.

Saat matahari mulai merayap di timur kamu sudah siap dengan pakaian olahraga berwarna putih yang kamu beli dari salah satu situs online kepercayaanmu. Kamu menarikku keluar dari kamar dengan paksa, “titik awal harus senantiasa diisi dengan peluh dan senyum jangan hanya bisa menguap.” Dengan pakaian yang kupakai tadi malam, kamu terus menyemangatiku sambil berlari dan berteriak dengan lantang, “Ayo semangat!” Aku hanya membalasnya dengan menguap dan mataku mulai terbuka setengah, begitupula kesadaranku setengahnya lagi masih di atas bantal empuk di kasur kita.

Itulah kamu, Nayla. Tiap hembusan napasmu selalu dipenuhi aura positif dan produktif. Sedang aku… Ah, sudahlah.

Tapi, ada satu hal yang tak bisa aku tolerir darimu, Nayla. Caramu membuat kopi susu yang jauh dari harapanku. Sudah dua setengah tahun kita bersama, tak pernah sekalipun kamu membuat kopi yang bisa membuat lidahku berdecak. Tidak. Sangat parah. Tetap saja aku akan meminumnya sampai tetes terakhir, karena bila tidak, maka jatah makan malamku akan berubah menjadi lembar-lembar buku Aristoleles, Plato, Imam Al Ghazali, bahkan sampai Umar Bin Khatab. Dan itu, akan membuatku kelaparan sampai pagi hari.

Hari ini semua itu tinggallah kenangan, Nayla. Aku tak mampu lagi melanjutkan cerita tentangmu. Tiap aku berusaha menulis cerita tentangmu di atas kertas putih itu, ideku lenyap di makan oleh raksasa hijau itu. Ia melahapnya bersama dengan bumi milikku. Sebab di bumi itu hanya ada aku seorang. Tak ada manusia lain. Walau kenangan tentangmu hanya sebatas dunia ideku, itu sudah lebih dari cukup.
 
Bukan begitu, Nayla?
 
     
*Ilustrasi


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Pertama-tama, selamat aktif kembali menulis di sini, Dinan. Tulisan ini khas karya Dinan yang mengajak pembaca menikmati tulisannya yang disajikan dengan teknik penceritaan deskriptif. Mengalun indah dan lekat secara emosi sebab Dinan banyak memasukkan metafora.

    Tak ayal, karya ini sukses sekali menyampaikan kesedihan yang dialami sang penulis, apalagi ini tentang anak perempuan yang ia sayangi. Berbagai kenangan tentangnya terasa pedih untuk dituliskan kembali jika penceritaannya lewat hal-hal kecil seperti yang kita baca dalam tulisan ini. Karya ini juga mengajarkan kita sebagai orang dewasa agar sesungguhnya belajar banyak dari anak kecil, terutama bagaimana menghadapi hidup dengan sudut pandang positif. Mellow sekali tetapi tulisan ini bagus.

    • Lihat 1 Respon

  • Rendy Setya Pratama
    Rendy Setya Pratama
    1 bulan yang lalu.
    keren

  • Farid Tri Wicaksono
    Farid Tri Wicaksono
    1 bulan yang lalu.
    baguuuus