Portal

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Januari 2017
Portal

Anak itu terdiam sesaat. Napasnya terdengar berat dan jantungnya memompa darah dengan sangat cepat. Lama ia menunggu peristiwa penting itu, akhirnya, malam ini, ia bisa menyaksikan dengan mata telanjang.

Portal rahasia itu terbuka, melalui dinding kamarnya yang bercat biru. Sebuah portal yang selama ini menjadi rahasia dirinya dengan Tuhan. Ia percaya portal yang kasat mata itu menjadi penghubung dengan dunia lain, dunia para malaikat.

Dinding kamarnya seketika berubah menjadi lubang hitam, terbuka perlahan. Disaksikannya dunia cosmos di luar lubang hitam itu. Seketika muncul sosok seorang pemuda tampan keluar dari portal tersebut. Anak itu hanya bisa mematung dan tak tahu berbuat apa, antara senang dan takut bercampur aduk jadi satu. Ia menunggu, lamat-lamat, kesunyian malam serta suara ayam berkokok di luar rumah membuatnya semakin merinding. Tetes keringat membasahi keningnya.

Tak butuh waktu lama, pemuda tampan itu duduk di kursi belajarnya. Anak itu masih membelalak, diperhatikannya dengan seksama tamu misteriusnya dari kasur tempat ia duduk. Dari rambut hingga kaki, anak itu menelanjangi dengan nanar tamunya. Mengenakan baju gamis berwarna hitam dengan celana panjang berwarna senada. Penampilan tamu misterius itu mirip pemuda Palestina yang sering ia saksikan di tv. Menilik dari wajahnya, usia mereka tak terpaut jauh, pikir anak itu.

Namun, ada yang sedikit berbeda, wajah tamu misteriusnya sangat bening seperti embun pagi. Tiap orang yang memandangnya pasti akan terpana. Tak pernah ia melihat wajah sebening itu. Pasti pemuda ini bukan pemuda biasa.

Sebagai tuan rumah, tak sopan rasanya bila ia tak menyapa tamunya, “siapakah Anda?” tanya anak itu dengan suara pelan.

Sang tamu tak langsung menjawab, matanya berputar, memperhatikan sekeliling. Dua menit kemudian bertanya, “apakah kau ingin mendengar kisah saya, Said?”

Said mengangguk sekali.

Dari mana ia tahu nama saya Said?

“Said …  saya harap kau tidak bosan dengan cerita saya,” pemuda tampan itu menghela napas sejenak sembari memperbaiki posisi duduknya. Said hanya bisa menjawab pendek, “tentu saja saya tidak akan bosan.”

Manamungkin Said bosan dengan cerita tamunya, momen ini adalah momen yang sudah dinantikannya sejak lima tahun belakangan, sejak ia tahu, di kamarnya ada portal penghubung dengan dunia lain. Detik ini di hadapanya duduk seorang pemuda yang berasal dari portal itu.

“Dunia saya berbeda jauh dengan duniamu, Said. Sangat berbeda. Hampir tiap hari kami harus kehilangan orang yang kami sayangi. Nyawa tak punya label harga, sangat murah, bahkan tak berharga sedikitpun.”  

Said tak berkedip, ia fokus mendengarkan cerita tamunya.

“Kami tak tahu harus ke mana, yang kami tahu, bila kami pergi ke tempat lain maka seluruh tanah kelahiran kami akan dirampas oleh penjajah yang tak pernah puas merampok harta benda,  tanah, nyawa, saudara bahkan kebebasan kami. Mereka merampasnya, tak tersisa walau hanya secuil.”

“Bukankah di dunia malaikat tak ada lagi perang?”

“hahaha…perang ada di mana saja, Said. Termasuk di dunia saya, yang konon menurut sebagian besar manusia dunia saya adalah dunia para malaikat dilahirkan.”

Suasana hening sejenak, Said tak habis pikir mengapa dunia yang menjadi tempat dilahirkannya para malaikat masih terjadi perang. Ia tak langsung percaya dengan tamu dihadapannya.

Mungkin saja pemuda di depannya bukan dari portal para malaikat tapi berasal dari portal yang dipenuhi dengan perang dan perang. Pikir Said dalam hatinya, ia terlihat kecewa. Wajahnya tak lagi semringah seperti delapan menit yang lalu.

“Tak usah kecewa, Said. Para malaikat tak mungkin lahir di dunia yang damai, mereka lahir dari janin keikhlasan dan tentusaja di kandung oleh ibu pengorbanan.”

Said tertunduk menatap lantai kamarnya.

“Pernah suatu ketika, sang fajar masih malu-malu menampakkan senyumnya di ufuk timur, dentuman keras menghantam bangunan di samping rumah kami. Saya terperanjak dari renungan pagi itu. Dengan cepat saya menutup Al Qur’an di tangan saya kemudian menuju halaman rumah. Sesampainya di sana, api sudah memberangus bangunan suci dan kebanggaan kami. Beberapa orang terlihat menangis di samping bangunan, dari dalam bangunan itu keluar beberapa orang laki-laki dengan api di sekujur tubuhnya. Mereka mencari pertolongan.” Pemuda itu terdiam sejenak sambil menghapus air dari matanya.

“Apakah bangunan yang kau maksud itu adalah masjid?” Tanya Said penasaran.

“Iya,” pemuda itu menatap Said dengan sendu. “Di dunia saya, masjid adalah sasaran empuk para penjajah. Mereka menganggap masjid adalah tempat menyusun strategi untuk melawan mereka. Padahal kami hanya melakukan ibadah di masjid, tak ada tujuan lain. Tiap hari, bukan, tiap jam, banyak wanita yang kehilangan suami atau anak kesayangannya. Ratapan menyelimuti tiap sudut dinding rumah, seakan tak ada seinci pun kebebasan untuk kami.”

Di dinding kamar, portal itu masih terbuka lebar. Di dalam sana tak terlihat perang dan darah walau setetes, yang ada hanya bintang gemintang serta planet yang bersinar terang. Tapi mengapa pemuda ini bercerita tentang perang?

“Setelah saya menelisik sekitar, ternyata bom yang menghantam masjid di samping rumah saya berasal dari pesawat tempur yang terbang di atas kota kami, mencari sasaran selanjutnya. Kami tak punya senjata untuk bisa menjatuhkan pesawat tempur secanggih itu. Seketika, gema takbir membahana, naluri jihad dalam hati saya membuncah. Dari atas, di jendela rumah saya, ibu meneriaki saya dengan lantang, Fatahillah kuikhlaskan kau menjadi malaikat hari ini… pergi nak, jemput surgamu!”

“Tak berapa lama, sekompi pasukan bersenjata lengkap menghampiri rumah saya, di belakang mereka satu tank perang siap menghadang kami yang berniat melawan. Moncong meriamnya tak mengenal anak kecil, wanita atau orang tua sekalipun. Siapa yang berani maju maka bersiaplah menghembuskan napas terakhir.”

Said lagi-lagi hanya bisa terdiam, ia tersadar betapa manjanya ia saat ini. Di dunianya yang penuh dengan kedamaian tak pernah sekalipun ia melihat tank perang apalagi mendengar dentuman bom dari pesawat tempur. Ia hanya bisa menatap penuh belas kasihan kepada tamu di depannya. Dalam hati ia berbisik perlahan, kau memang berasal dari dunia para malaikat. Maafkan saya yang tak pernah sedikitpun membantu dan mendoakan kalian.

“Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya, Said?”

Said menggeleng, wajahnya terlihat pucat. Ia tak ingin membayangkan apa yang terjadi selanjutnya.

“Saya memperhatikan sekeliling, mencari ‘senjata’ seadanya, di samping saya, dua langkah dari tempat saya berdiri ada batu sebesar genggaman tangan kecil saya. Kuraih batu itu kemudian dengan langkah pasti menghadang sekompi tentara bersenjata lengkap. Sesuai dugaan, tank itu berjalan perlahan mendekati saya sedang para tentara berlindung di belakang tank. Semenit kemudian, moncong meriam tank itu tepat berada satu meter di depan wajah saya.”

“Apakah kau tidak takut sedikitpun?” Said memotong cerita tamunya.

“Tentu saja saya takut, tapi di dalam hati, saya percaya janji surga bagi para mujahidin itu pasti. Ketakutan saya berganti rindu akan surgaNya…”

Suasana lengang sejenak, said tak bisa berkata apa-apa lagi. Di hadapannya duduk seorang pemuda yang sangat berani melawan penjajah, perampas tanah kelahirannya. Ia tak sedikitpun setara dengannya. Salat berjamaah di masjid saja ia sering lalai apatahlagi panggilan jihad. Ia merasa malu.

“Allahu Akbar… Saya berteriak lantang di hadapan mereka. Moncong meriam itu tak bergeser seinci pun. Matahari sudah mulai bergerak, cahayanya mulai menyinari dengan lembut. Beberapa pemuda di belakang saya turut maju menghadang tank, para wanita dan anak kecil masuk ke dalam rumah.”

“Ibu saya masih melihat dari atas jendela rumah, sekali lagi ia meneriakkan takbir lalu berkata, Fatahillah jemputlah surgamu! Mendengar teriakan ibu untuk kedua kalinya tak setitik pun rasa takut di hati saya. Semenit kemudian, tangan saya bersiap melempar batu ke salah satu tentara di belakang tank, saya membidik dengan seksama, lalu saya lemparkan sekuat tenaga. Batu itu mengenai wajahnya, darahnya bercucuran di tanah. Saya tersenyum puas.”

“Benarkah kau mengenai salah satu tentara?”

“Yah, tentu saja saya mengenainya, Said. Tak butuh waktu lama, moncong meriam tank itu bersiap menembak diikuti tentara di belakangnya, membidik sasaran. Angin berhembus kencang, debu-debu beterbangan di sana-sini. Komandan mereka memberikan perintah tegas, TEMBAK!”

Pemuda itu mengehela napas sejenak, Said mengelus tangannya. Tak terasa bulu kuduknya berdiri. Cerita tamunya membuatnya merinding ketakutan. Di usia yang masih tergolong muda, pemuda itu berani melawan tentara bersenjata lengkap.

“Kau pasti sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya, Said?”

Said terdiam. Ia hanya menggeleng beberapa kali.

“Hahaha… Kau betul-betul tak tahu atau pura-pura tak mau tahu kelanjutannya cerita saya?”

Hening. Hembusan angin malam memasuki sela-sela jendela, memecah kebisuan mereka beberapa detik.

“Baiklah, akan saya ceritakan, Said. Seperti yang telah kau duga, salah satu tentara membidik saya dengan tepat dengan sekali tembak peluru itu menembus kepala saya. Kesadaran saya menguap ke angkasa. Saya terjatuh ke tanah, darah membanjiri tanah. Mata saya terasa berat, namun saya berusaha menatap sekali lagi ibu saya di atas jendela rumah. Susah payah mata saya menemukan sosoknya, di atas sana ia menangis tersedu. Samar-samar saya mendengar lagi teriakannya… ALLAHU AKBAR!”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Setelah mendengar teriakan ibu saya, mata saya tak mampu lagi melihat… gelap. Napas saya semakin berat dan akhirnya saya masuk ke portal lain yang penuh dengan bintang gemintang dan cahaya langit yang terus saja menghangatkan jasad saya. Akhirnya tibalah saya di kamar kau ini, Said.”

Tiba-tiba airmata menggantung di mata Said, ia tak mampu lagi menahannya. Ia biarkan airmata itu membasahi pipinya. Selama ini, Said tak pernah mau memikirkan perang di belahan dunia lain, ia hanya mengurusi dirinya dan sekolahnya. Namun malam ini ia tersadar, betapa di belahan dunia lain para pemuda yang seusia dengannya mati tanpa mengenal rasa takut, mereka menjemput surganya bergabung dengan para malaikat di portal yang penuh dengan cahaya.

“Maafkan saya…” Suara lembut Said membelah keheningan malam.

Fatahillah menyunggingkan senyum manis, “tak ada yang salah, Said. Terimakasih telah bersimpati kepada kami. Sudah waktunya saya kembali ke dunia para malaikat, tempat para syuhada membaringkan ruhnya dengan damai.” Fatahillah berdiri, berjalan mendekati portal yang masih terbuka lebar.

“Tapi…” Said berniat mengahalangi tamunya.

Fatahillah tetap masuk ke dalam portal, beberapa saat kemudian ia menghilang, ditelan portal yang mulai tertutup rapat. Ia meninggalkan Said yang masih terpaku di kasurnya.

Setelah kepergian Fatahillah, malam itu Said tak dapat memejamkan matanya. Ia bangkit mendekati meja belajarnya, mencari Al Qur’an yang selama ini jarang ia buka. Tak butuh waktu lama, Said membukanya dengan hati-hati. Ia mencari  ayat yang sempat ia dengar dari gurunya beberapa bulan lalu.

Said melantunkan dengan lembut Surah Ali Imran Ayat  169-170. Suaranya membelah kesunyian malam, ia menangis…

“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”  

 *Gambar ilustrasi dipinjam dari sini