Virus B-J17

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Oktober 2016
Virus B-J17

 

Ada kalanya suatu penyakit disebabkan oleh keinginan pribadi. Keegosian, lebih tepat dikatakan demikian. Namun berbeda dengan penyakit yang mewabah di dusun Jaya, konon menurut sebagian ‘orang pintar’ dusun itu terinfeksi oleh sebuah virus. Namanya Virus B-J17.

Penamaan virus B-J17 hanya diketahui oleh sekelompok orang, karena ketika nama itu disebutkan seakan dusun Jaya akan terkena gempa. Gempar dari pagi hingga malam bukan hanya sehari, tapi berhari-hari. Oleh karenanya, sebagian orang yang mengetahui nama virus itu memilih berdiam diri di pinggiran sungai yang penuh dengan sampah. Mereka merasa di sana tak mungkin virus itu datang. B-J17 sangat membenci sampah. Sangat unik memang. Dusun Jaya bertumbuh menjadi daerah yang diakui oleh dusun disekitarnya bahkan sampai ujung dunia sekalipun.

Bermula dua tahun yang lalu, saat itu, semua berjalan normal dan apaadanya. Tak ada keriuhan, tak ada emosi, bahkan tak ada caci maki. Suku asli dusun Jaya adalah Barkadi, mereka hidup dengan mengandalkan hasil karya mereka di bidang seni, memahat patung, mementaskan drama, adapula yang menjajakan lukisan naturalis ke para pendatang. Mereka aman dan sentosa tanpa ada kendala yang berarti. Semua berubah saat udara menerbangkan virus dari dusun seberang. Ia datang bersama dengan hembusan angin laut, kala itu malam hari, tak ada yang sadar akan kedatangannya.

Selayaknya jenis virus yang lain, B-J17 tak pantas dikatakan sel. Dipanggil sel tunggal pun ia belum layak. Ia akan mencari sel inang agar ia mampu berkembang biak. Lama ia menyusuri dusun mencari inang yang pas untuknya. Tak ada yang lebih sabar dari virus. Mereka hanya makhluk mikroskopik. Sangat kecil, hanya mata mikroskop yang mampu memandang wajah mereka. Sedang mata telanjang kita, tak mungkin mampu melihatnya berjibaku dalam memperjuangkan dirinya. Mempertahankan diri, beradaptasi, sampai berkembang biak.

Mungkin, disitulah letak keadilan Tuhan bermain. Semakin kecil sesuatu maka semakin besar daya juangnya untuk bertahan hidup. Begitupula virus B-J17. Sebaliknya, semakin mayoritas sesuatu maka semakin pongah mereka dan malas untuk meningkatkan kemampuan dirinya walau sekadar bertahan. Yah, bertahan dari amukan makhluk mikroskopik.

Sudah sebulan B-J17 telah menyusuri rumah orang-orang kaya untuk mencari inang di tubuh mereka, akhirnya ia berhasil. Ia menginvasi jaringan tubuh seorang pria berusia lima puluh satu tahun. Pria itu bernama Jimbaran.

Jimbaran, begitulah ia sering disapa oleh persekitarannya. Nama aslinya Jimbaran Kusmowardoyo. Ia seorang pengusaha terkenal di dusun Jaya. Orang-orang mengenalnya sebagai pribadi yang bersahaja dan tak mengenal lelah dalam bekerja. Apa yang menurutnya A ia katakan A. Ia bukan seorang yang suka berbohong demi kepentingan pribadi. Betapa sangat disayangkan, virus B-J17 mulai mengalir dalam darahnya. Berhari-hari sampai berbulan-bulan B-J17 mulai asyik bermain di seluruh jaringan tubuh Jimbaran. Kadang B-J17 merayap pada aliran darah di betis Jimbaran, kemudian melompat menuju ususnya, di sana B-J17 mulai berkembang biak dengan tenang. Dipenuhinya usus Jimbaran dengan anak-anaknya lalu menyebar ke otak. Dan, ‘tubuh’ asli B-J17 memeluk hati Jimbaran. Sangat erat.

Keunikan lain dari virus B-J17, ia tak menyebabkan demam pada tubuh yang dijadikan inang. Tak ada bercak merah, wajah masih tampak cerah, tapi jiwa dan perangai tubuh yang terjangkit oleh B-J17 mulai berubah. Ia akan mulai melupakan dirinya. Bukan hanya identitasnya tapi juga jiwanya.

Sejak dijadikan inang B-J17, Jimbaran mulai bertingkah aneh. Ia sering bertemu dan menjalin kerjasama dengan pengusaha-pengusaha nakal. Jimbaran tak sadar akan hal itu. Tubuh, pikiran, dan jiwanya tak mampu lagi ia kuasai. Sekarang, B-J17 telah menjadikan Jimbaran sebagai robot, bukan, lebih tepatnya boneka. Untuk apa? Tentu saja untuk memuluskan tujuan hidup dari B-J17, menguasai dusun Jaya. 

Melihat perangai Jimbaran yang mulai berubah, istrinya mulai sadar dan menegur Jimbaran dengan lembut.

“Ada apa denganmu, Mas? Kau terlihat berubah akhir-akhir ini,” kata istrinya suatu malam.

“Memangnya saya kenapa?” kata Jimbaran sinis.

“Kau seperti bukan Jimbaran Kusmowardoyo yang saya kenal dulu. Kau mulai melupakan dirimu…” Lirih istrinya.

Jimbaran tak menggubris perkataan istrinya. Ia melepas baju batik yang dikenakannya. Menuju kasur dan terlelap sampai pagi.

Hari berganti hari, Jimbaran semakin terlihat aneh. Pernah pada suatu rapat yang dihadiri oleh seluruh karyawannya, ia berkata, “jangan pernah mengatakan hanya Tuhanmu yang benar sedang Tuhan yang lain salah. Semua Tuhan punya surga, kan?” Para karyawan hanya berdiam dan menundukkan wajah mereka. Sebenarnya di hati mereka ada yang mengutuk perkataan bosnya, hanya saja, mereka cuma bawahan dan takut kehilangan mata pencaharian mereka.

Hampir setengah dari karyawan Jimbaran tak lagi kagum padanya, tak lagi simpatik padanya. Mereka telah menyadari perubahan sikap dan tingkah laku Jimbaran. Tapi tidak semua karyawannya, ada sekelompok kecil yang masih simpatik kepadanya, itu pun karena mereka telah terjangkit oleh virus B-J17. Yah, virus B-J17 menular sangat cepat. Sangat mengkhawatirkan. Warga dusun Jaya terlambat menyadari itu semua.

Begitupula dengan warga dusun Jaya, beberapa orang masih senang bertamu ke rumah Jimbaran, ternyata mereka juga telah terinfeksi B-J17. Singkat kata, dusun Jaya terbelah menjadi dua, kelompok yang terinfeksi oleh B-J17 dan kelompok yang masih memiliki ketahanan tubuh yang kuat dan menolak dengan sepenuh hati darah serta jaringan tubuh mereka diberangus oleh B-J17.

Akhirnya, bagi warga yang masih tak terinfeksi oleh virus B-J17 mulai sadar bahwa orang-orang yang digrogoti oleh B-J17 akan berperangai aneh dan memiliki pandangan serta pemikiran yang pragmatis, selama itu menguntungkan dan membuat perubahan positif untuk dusun Jaya tak usah pedulikan itu hitam atau putih yang jelas kebenaran hanya milik langit. Semua serba abu-abu.

Betapa cerdiknya virus B-J17, ia tak menyerang jaringan tubuh inangnya tapi menyerang pemikirannya. Orang-orang yang terinfeksi seakan tak memiliki lagi ideologi yang telah tertanam lama dalam dirinya, mereka seakan ikhlas melepasnya terbang bersama angin.

Dikotomi antara yang terinfeksi B-J17 dan tidak terinfeksi semakin meruncing. Terjadi perselisihan di mana-mana. Namun, bagi mereka yang masih sadar akan ketentraman dusun Jaya, mereka memilih menyepi di pinggir sungai dekat tempat pembuangan sampah.

Sore ini, di atas sana langit terlihat mendung. Awan-awan hitam mulai lelah menampung air. Sekejap kemudian, tumpahlah tangisan langit. Tetes-tetes air hujan menghantam bumi dengan derasnya. Warga dusun Jaya sebagian besar memilih bersantai bersama keluarga di dalam rumah. Ada yang nonton tv, tertidur pulas, serta tak sedikit yang menikmati kopi atau teh hangat di teras rumahnya. Jimbaran tampak asyik menikmati kopi hangat buatan istrinya di teras rumah. Ia menulis catatan di note kecil, seakan membuat rencana tuk mengisi sisa hidupnya.

Saya harus jadi Kepala Dusun Jaya tahun depan!

Tulis Jimbaran pada note itu. Hanya kalimat itu. Ia menulisnya dengan tulisan miring yang indah lalu dibingkai dengan kotak yang dibuatnya sebagus mungkin. Jimbaran berencana ikut pemilihan Kepala Dusun tahun depan. Entah itu murni rencana Jimbaran atau virus B-J17 turut andil dalam penetapan rencana itu. Hanya mereka yang tahu.

Sedang di bantaran sungai, air sungai mulai meluap. Genangan air terlihat di sana-sini. Warga yang tinggal di pinggiran sungai hanya tersisa sepuluh orang saja. Sedang yang lain memilih pindah, mereka telah terinfeksi dengan virus B-J17. Penyebaran virus ini memang sangat cepat. Dari kesepuluh orang yang masih ‘sehat’ itu ada satu orang yang mereka angkat sebagai tetua. Mereka memanggilnya Hasbih.

Seiring berjalannya waktu, Hasbih merasa semakin sulit membendung penyebaran virus B-J17. Ia tak tahu apa obat dari virus itu. B-J17 ada di mana-mana, di udara, air, tanah, dan benda-benda di sekitarnya. B-J17 bukan sembarang virus kemampuan berkembang biaknya sangat cepat. Bukan tidak mungkin dusun Jaya sebentar lagi akan dikuasainya.

Hasbih berjalan keluar dari rumahnya, disusurinya jalan-jalan becek di pinggiran sungai. Ia mengikhlaskan kepalanya dipijat oleh tetes-tetes air hujan. Semoga pijatan alam itu membantu melancarkan peredaran darah di otaknya. Usahanya tak berhasil kali ini. Ia lalu duduk bersila di tanah. Ditatapnya genangan air di depannya. Bayangan dirinya memantul dari genangan air itu, walau tampak sedikit buram. Wajahnya bertambah keriput dimakan usia begitupula dengan rambutnya yang terlihat tinggal beberapa helai saja yang berwarna hitam. Tiba-tiba, mata Hasbih melolot. Hasbih terkenal memiliki mata hati yang jernih, beberapa makhluk astral dapat ia lihat dengan mata telanjang. Tanpa sadar di sekitarnya tampak ‘wajah-wajah’ yang sangat kecil, seperti debu. Wajah-wajah itu tersenyum sinis. Ada banyak di belakangnya. Mereka menunggu waktu masuk ke tubuh Hasbih. Beberapa menit kemudian, Hasbih menengok ke belakang. Ia sangat kaget, jantungnya berdegup semakin kencang. Dilihatnya milyaran ‘wajah’ kecil itu di udara. Bermain dengan hujan dan angin.

“Virus B-J17, siapa kau sebenarnya?” Tanya Hasbih setengah bergumam.


  • 31 
    31 
    10 bulan yang lalu.
    Seru..virusnya unik..
    Anti virusnya belum ada ya?
    Bagus pak dinan..
    *maaf mau nanya pak..kalau cerpen pakai kalimat "singkat kata" bikin cerpennya jadi terkesan harus cepat di selesaikan ga ya?
    Karena saya sering baca kalimat itu di pidato..
    Maaf pak saya beneran awam ..

    • Lihat 2 Respon