Hati yang Dipenjara oleh Bulan

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Oktober 2016
Hati yang Dipenjara oleh Bulan

Bukan tanpa sebab Zahira menyukai bulan, apalagi purnama. Bulan telah mengajarkan Zahira banyak hal, tentang pengabdian, penyerahan total, dan bahasa semesta. Ketika Zahira genap berusia sepuluh tahun, ia merenung sendiri di teras rumahnya sembari memandang senyum purnama, tak sadar ia berceloteh sendiri.

 

“Bulan,

apa jadinya seorang Zahira tanpa tujuan?

Terombang-ambing kah?

Atau, saya akan lebih menyatu dengan aliran semesta menuju ke Hakikat?”

Zahira masih menancapkan pandangannya ke semburat wajah purnama. Ia merasa pencarian tujuan seakan sangat berat dan membingungkan. Desahan napasnya terdengar berat.

 

Bagi anak usia sepuluh tahun, mungkin, belum saatnya mereka merenungi sesuatu yang berat seperti tujuan hidup, namun berbeda dengan Zahira, kematangan pikirnya melaju cepat dibanding usianya. Kata ayahnya, “Zahira berbakat menjadi Filsuf.  Ia selalu mencari dasar dari segala dasar.”

Biasanya bulan tak menjawab pertanyaan Zahira. Tentu saja. Akan tetapi malam itu sedikit berbeda, bulan tampak bersolek, senyumnya dibuat seindah mungkin, dan wajahnya sangat meneduhkan penghuni langit bahkan Zahira pun terhipnotis oleh kecantikan ratu malam itu.

 

“Bulan,

kau mendengarnya?

Saya mohon jawab dengan jelas dan tegas. Kau tampak berbeda malam ini, terlihat sempurna.

Beri saya pertanda.”

Tak berapa lama Zahira berjalan menuju ke halaman rumahnya, ia mencari pertanda yang akan diberikan bulan kepadanya. Ia percaya semua makhluk dapat berkomunikasi bila mereka satu ‘frekuensi’. Walau mungkin bahasanya tak pernah sama. Zahira menyebutnya ‘Bahasa Semesta’.

 

Bulan tersentuh oleh kesungguhan hati Zahira, wajahnya kali ini terlihat nyata, seperti manusia. Kedua matanya membuncah keluar, begitupula hidung, mulut, alis, dan sepasang telinga. Awan kelabu pun bersahabat dengan Zahira dan bulan, ia menutupi kepala bulan. Mirip rambut wanita. Terlukislah ratu malam yang cantik. Sangat cantik. Matanya bulat jernih, alisnya tebal, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Kedua sudut bibir Zahira terangkat ke atas. Ia tersenyum. Jantung Zahira tiba-tiba saja berdegup kencang. Ini peristiwa langkah, pikirnya.

Kulit Zahira tak merasakan angin malam sedikit pun, ruang dan waktu seakan berhenti. Statis. Semesta seakan bepusat pada satu poros, pesona purnama malam ini. Zahira berusaha menggerakkan bibirnya, ia berteriak semampunya.

 

“Bulan,

jangan ragu, saya percaya padamu. Kau adalah salah satu hamba Tuhan yang setia.

Pasti ucapanmu bagai kalam Ilahi yang bersumber dari ke-universalan.

Saya menanti ucapmu…”

Tangan Zahira menyentuh jantungnya, ia berusaha menenangkan gejolak dalam dirinya. Ia mengusap dengan lembut seraya berkata dalam hati, sabar… sebentar lagi kau akan berbahasa semesta.

 

Entah dari mana datangnya gemuruh di  langit malam itu, langsung membahana dan memporak-porandakan kesunyian langit. Bulan terlihat takut, matanya tertutup seketika begitupula Zahira. Awan sibuk menutupi kedua telinga bulan agar ia tak ketakukan. Akhirnya saat yang ditunggu tiba, bulan membuka mulutnya, ia seperti mengucap sesuatu tapi Zahira tak mendengar sedikit pun. Hanya ada kesunyiaan. Zahira protes dalam hati, saya mohon keraskan suaramu, bulan. Sang purnama mendengar jeritan hati Zahira, ia berusaha mengeraskan suaranya, sayang, Zahira masih belum dapat mendengarnya.

 

“Bulan,

apakah tingkatan saya belum sampai untuk bisa menggunakan Bahasa Semesta?

Mendengarmu saja saya tak mampu.

Bagaimana saya mengetahui apa keinginanmu,  saranmu, dan tentu saja pesan dari Penciptamu?”

Setetes air mata tumpah dari mata Zahira, ia sangat sedih dengan ketidakmampuannya memahami Bahasa Semesta.

 

Bulan sangat mengerti kesedihan Zahira, ia pun berusaha menyampaikan pesannya, tapi tetap saja Zahira tak mampu mendengarnya. Beberapa saat kemudian, bulan tampak bercakap dengan bintang yang berada di sampingnya. Mereka seperti sedang berbisik. Zahira hanya mampu melihat tanpa tahu apa yang mereka bicarakan. Setelah percakapan mereka selesai, wajah bulan kembali seperti sediakala. Tak ada mulut, mata, telinga, alis, dan awan kelabu menjauh dari kepala bulan. Bulan seperti sebagaimana bulan biasanya. Tidak ada lagi keistimewaan. Zahira semakin gundah.

Zahira sudah menyerah, ia melangkahkan kakinya menjauh dari tempatnya berada. Sebelum ia sampai di dalam rumah, bintang tiba-tiba saja mendekat ke bumi lalu mengirim sedikit cahayanya ke bumi. Cahaya itu mendekati Zahira. Tepat di belakangnya.

Betapa kagetnya Zahira menyadari cahaya bintang itu. Ia menoleh ke belakang, cahaya itu pun bergerak mendekatinya, Zahira hanya bisa terpaku. Mematung tak tahu berbuat apa. Cahaya itu mendekatinya dengan perlahan, semakin ia dekat dengan Zahira semakin memudar cahaya itu. Saat jarak antara cahaya dan Zahira tinggal satu sentimeter, cahaya itu tinggal satu titik saja kemudian masuk ke dalam dada Zahira. Tepat di hati Zahira.

Angin mulai berhembus, malam semakin larut. Hati Zahira seperti dipenuhi cahaya semesta. Kemudian, dalam relung hati Zahira terdengar suara lembut, “bila kau ingin mendengar Bahasa Semesta, kau harus menyerahkan hatimu pada bulan. Bersediakah kau, Zahira?”

Wajah Zahira memucat. Ia tersadar, ilmu apapun itu pasti butuh pengorbanan.

Haruskah saya serahkan hati ini padamu, Bulan?

*

Sudah dua hari berlalu sejak Zahira berusaha menggunakan Bahasa Semesta. Ia belum tahu apakah ia harus menyerahkan hatinya pada bulan. Ia tak tahu. Semakin ia bertanya dalam hatinya, semakin sulit menemukan jawaban. Bunyi detak jam mengganggu kantuk Zahira, ia tak mampu memejamkan matanya malam ini. Sepertinya bukan detak jam yang membuatnya sulit tertidur tapi syarat yang diajukan oleh bulan, Zahira harus menyerahkan hatinya.

Bangkit dari pembaringannya, Zahira menuju halaman depan rumahnya. Malam ini, bulan tak lagi purnama. Peredarannya mengunyah sebagian wajah bulan hingga hanya tampak sabit di atas langit.

 

“Bulan,

saat wajahmu sempurna nanti, ambillah hati saya. Ambillah!

Saya ikhlas, Bulan.

Ingat kau harus membisikkan saya tujuan sebenarnya, mengapa Zahira harus terlahir ke dunia?”

Beban berat Zahira akhirnya berkurang setelah mengucap ikrar akan mengikhlaskan hatinya di penjara oleh bulan. Semoga dengan keikhlasannya itu, bulan akan menjawab kegundahannya.

*

Purnama berikutnya pun terlukis di langit. Zahira kembali memandanganya dengan tatapan menyejukkan. Ia membuka jaketnya, seakan merelakan hatinya dibawa oleh bulan. Dipenjara di atas sana.

Tak menunggu lama, wajah bulan kembali seperti manusia. Mirip dengan wajah bulan yang pernah mempesona Zahira. Semesta kembali berhenti berputar, semuanya terfokus pada sang ratu malam. Mata Zahira melotot, tak ingin ia kehilangan sedetik pun momen itu. Kemudian, pendar-pendar cahaya beterbangan di langit. Hujan cahaya. Hanya saja ini berbeda dengan hujan normal, pendar-pendar cahaya itu berasal dari bumi menuju ke langit. Titik pertemuannya tepat di pusat malam, Bulan.

Dari dada Zahira keluar cahaya lalu terbang menuju bulan.

Selamat tinggal hati. Selamat tinggal!

Proses hujan cahaya itu tak begitu lama. Semua cahaya-cahaya itu telah sampai pada tujuannya.

 

“Bulan,

saya telah menyerahkan hati untuk kau penjarakan di atas sana.

Berbicaralah pada saya, Bulan.

Apa tujuan hidup seorang Zahira?”

Napas Zahira terpotong-potong. Ia merasa sebagian dirinya telah menghilang. Ia bukan Zahira yang dulu lagi. Bukan. Sekarang, ia adalah ‘Zahira tak berhati’.

 

Bulan telah menghisap semua hati manusia di bumi, tentu saja, bagi mereka yang bersedia menyerahkannya dengan ikhlas. Hati-hati itu seperti sumber chakra bagi bulan, wujudnya tiba-tiba saja berubah. Bulan bermetamorfosis menjadi malaikat. Badan, tangan, kaki, kepala dengan mahkota indah, dan tentu saja sepasang sayap yang memenuhi langit malam dari timur hingga barat.  

 

Inikah wujud aslimu, Bulan?

Belum selesai Zahira terperangah oleh wujud asli bulan, angin kencang tetiba menghempas bumi dengan kencangnya, sangat kencang. Seperti topan. Angin itu berasal dari kepakan sayap bulan, bukan, malaikat. Kedua lutut Zahira gemetar, wajahnya dipenuhi keringat dingin, dan bulu kuduknya seketika berdiri. Ia sangat takut dengan perwujudan sempurna dari sang ratu malam.

 

Kau …Malaikat atau Iblis, Bulan?

Pikiran Zahira dibanjiri tanya, ia kalut dan tak tahu harus berbuat apa. Angin kencang tak lagi menghempas bumi. Suara bagai gemuruh di langit mulai terdengar.

 

“Hai sekalian manusia,

tujuan kalian tercipta hanya satu, menghamba pada hawa nafsumu.

Tuhan hanya khayal belaka.

Sebarlah kebencian di muka bumi maka kalian akan bahagia.”

Suara itu mengusir bintang-bintang, awan, dan binatang-binatang malam. Langit bertambah hitam kelam. Gempa kecil terasa di sekitar Zahira, ia lalu memberanikan diri menatap wajah bulan. Zahira semakin ketakutan, mata bulan berwarna merah darah. Ia tak sanggup lagi, Zahira berlari menuju kamar, mengurung diri.

*

Sejak kejadian itu, tiap malam tiba, Zahira tak pernah lagi ke luar rumah. Ia lebih memilih mengurung diri di kamar, sambil membungkus dirinya dengan selimut. Ayah dan ibunya tak pernah tahu mengapa anak tunggalnya seperti itu. Zahira sudah diobati oleh banyak ‘orang pintar’ tapi tetap saja tak berubah. Tak ada lagi Zahira yang ceria, penuh tanya, dan bersahabat.

Empat bulan telah berlalu, Zahira menjadikan siang jadi malam dan malam jadi siang. Ia terlelap saat siang hari dan terjaga di malam hari. Ia tak pernah lagi ke sekolah, mengaji, apalagi shalat.

Malam ini purnama lagi-lagi menghiasi langit, Zahira masih menyelimuti badannya dengan selimut. Angin masuk di sela-sela jendela Zahira lalu menggoyangkan tirai jendelanya nampaklah sosok bulan di mata Zahira melalui kaca jendela. Ia kalap, tubuhnya semakin menggigil lalu berteriak keras,

“I…B…L…I…S…”

 

 

*Gambar Ilustrasi dipinjam dari sini