Kota Tanpa Huruf ‘A’

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Oktober 2016
Kota Tanpa Huruf ‘A’

 

Kota itu bernama Ornu. Pada zaman sebelum kemerdekaan Ornu adalah pusat perdagangan yang ramai dikunjungi oleh pedagang dari negara lain. Ada yang menjual rempah-rempah, kain sutra, dan lain sebagainya. Ornu bukanlah kota biasa, di tempat itu merupakan sentra perubahan baik pendidikan dan ekonomi. Namun, saat ini warganya kurang bahagia, hal itu disebabkan oleh titah pemimpinnya yang mengeluarkan kebijakan tidak boleh mengucap huruf ‘A’ selama pemerintahannya. Konon menurut beliau, huruf ‘A’ adalah huruf yang tabu dan menyebabkan kekerasan. Itu subjektifitas beliau, walau itu sangat ditentang seluruh warganya, apa hendak dikata mereka hanya rakyat jelata yang harus manut pada penguasa.

Bukan hanya ucapan yang tak boleh ada huruf ‘A’ bahkan ditiap kata yang dicetak di surat kabar dan buku-buku yang diterbitkan di kota Ornu tidak boleh ada huruf ‘A’. Intinya, ‘A’ adalah huruf yang tabu dan pembawa sial.

Titah kontroversi itu telah berlangsung selama satu tahun lima bulan, selama selang waktu itu warga Ornu sangat sulit menyesuaikan diri agar tiap kata yang mereka ucap dan tulis tanpa huruf ‘A’. Sangat membingungkan memang, kala suatu kebiasaan dan pengetahuan yang selama ini tertanam di benak kita tiba-tiba saja dicabut dengan alasan yang tidak masuk akal. Bayi yang lahir setelah kebijakan itu bernama aneh-aneh, ada yang bernama Uun Kurni, Oxtopus, Xixi Ciyini, dan bagi orang tua yang tak kreatif anaknya diberi nama Oon Dodol. Aneh!

Sejak diberlakukannya titah itu, pemimpin Ornu membentuk satgas yang diberi nama Komisi Pemberantas ‘A’. KPA. Pada stasiun tv lokal sang pemimpin membuat suatu konfrensi pers, ia berkata, KPA diberi tugas untuk mengawasi tiap warga dalam perbincangannya sehari-hari, bila ditemukan seorang warga menyebut huruf ‘A’ sebanyak tiga kali dalam sehari maka akan dimasukkan ke dalam penjara selama sehari. Dan, KPA juga mengawasi tiap buku dan surat kabar yang diterbitkan di kota Ornu bila ditemukan surat kabar atau percetakan yang memuat huruf ‘A’ maka pemimpin redaksi dan direktur penerbit buku tersebut didenda sebanyak 100 juta dan akan dibuih selama sebulan. Sang pemberi titah terbebas dari larangan, unik memang. Begitulah kota Ornu.

Warga Ornu sangat takut dan khawatir akan ditangkap oleh KPA, mereka irit berbicara dan sangat jarang menulis. Mereka sudah tahu, tak akan mungkin bercakap dan menulis tanpa huruf ‘A’. Hampir setengah jumlah warga yang telah dipenjara karena mengucapkan huruf ‘A’ lebih dari tiga dalam sehari. Sedangkan untuk pemimpin redaksi surat kabar semuanya telah ditilang oleh KPA. Mereka mengalami kerugian dan tak bertahan lama. Akhirnya, semua perusahaan surat kabar gulung tikar. Tak ada lagi media cetak di kota Ornu. Perusahaan penerbit buku lebih kreatif, mereka memilih untuk menganti huruf ‘A’ dengan ‘*’ dan KPA tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Suatu sore di pinggiran kota Ornu, seorang kepala desa bernama Ahdan mengumpulkan seluruh tokoh masyarakat untuk membahas tentang titah kontroversi itu. Ahdan terkenal sangat kritis, ia sudah puluhan kali masuk buih karena berteriak mengucap namanya A-H-D-A-N di depan para satgas KPA yang sedang bertugas. Ia tak menggubrisnya. Ia terus meneriakkan kata yang sama. Namanya sendiri. Ahdan diperlakukan ‘khusus’ di dalam penjara, ia disiksa dan diperintahkan untuk bungkam dan manut dengan aturan yang telah dibuat oleh pemimpin Ornu. Ia hanya terkekeh. Ahdan tak pernah kapok melawan dan memberontak. Menurutnya, titah itu adalah pelanggaran hak asasi manusia yang selalu dilindungi oleh Negara dan Tuhan.

Ahdan membuka pertemuan dengan berapi-api, ia berucap lantang, “Kesewenangan ini tidak bisa lagi kita biarkan, kita harus memberontak!” Para tokoh masyarakat hanya terdiam tak berani mengucap sepatah kata pun. “Kenapa?” Mata Ahdan melotot ke seluruh tokoh masyarakat. “Apa kalian hanya kumpulan pecundang belaka dan membiarkan generasi kita kelak tak mengenal huruf ‘A’. Ini harus dihentikan. Harus!” Tak berapa lama setelah ia mengucap kalimat terakhir, beberapa pria mendobrak pintu rumah Ahdan, tokoh masyarakat berlarian kocar-kacir tak tentu arah. Mereka menyelamatkan diri. Ahdan masih duduk dengan wajah geram dan memerah. Setelah sekumpulan pria itu masuk ke rumahnya dan mendapati Ahdan dengan wajah merahnya, seorang perwakilan berkata, “Ahdan, kau ditangkap karena diduga ingin melakukan tindakan makar melawan kebijakan pemimpin Ornu.” Ahdan menatap mereka tajam lalu berteriak kencang. “A-H-D-A-N”. Sejak saat itu, Ahdan tak pernah lagi terlihat.

Gosip tentang keberadaan Ahdan menyeruak ke seluruh sisi Ornu, ada yang beranggapan Ahdan telah dibunuh, ada pula yang menganggap Ahdan telah diasingkan ke kota lain, dan adapula yang menyebar gosip bahwa Ahdan dipenjara seumur hidup. Tak ada yang tahu kepastian gosip-gosip itu sampai suatu ketika seorang petani menemukan perkampungan kecil di sudut hutan. Perkampungan itu tertata dengan rapi. Ia melihat alun-alun dengan papan bertuliskan huruf ‘A’ sangat besar. Huruf ‘A’ itu dipahat di atas kayu berukuran lima kali lima meter. Anehnya, perkampungan itu seperti tak berpenghuni. Tak ada bangunan lain yang terlihat, hanya alun-alun. Petani itu mencari penghuninya tapi ia tak menemukan seorang pun. Huruf tabu itu terpahat rapi, sang petani takut dan memutuskan untuk pergi menjauh. Ia takut KPA memergokinya.

Sudah tiga tahun kota Ornu tanpa huruf ‘A’. Pemimpin Ornu ingin merayakan ulang tahun ketiga kebijakan kesayangannya. Ia membuat perayaan di pusat kota. Seluruh warga di undang, ia menyediakan minuman dan makanan yang enak serta tarian-tarian tradisional dari para penari yang cantik-cantik. Seluruh warga berpesta termasuk pemimpin Ornu beserta jajaranya. Mereka mabuk sampai kesadaran mereka menguap ke langit.

Malam pun tiba, pesta semakin meriah. Tiba-tiba seorang pria bertopeng muncul di depan pemimpin Ornu. Pria itu mengeluarkan pisau kecil dari saku celananya. Pemimpin Ornu kaget bukan kepalang, tapi ia sudah terlalu mabuk untuk berteriak memanggil pengawalnya yang sebagian besar tertidur di tanah karena mabuk. Mata pria bertopeng dan pemimpin Ornu bersinggungan. Pisau kecil itu bergerak cepat menghujam ke dada pemimpin Ornu. Semenit kemudian, dada pemimpin Ornu bersimbah darah dengan pola yang sedikit aneh. Di dadanya tertulis huruf ‘A’. Pemimpin Ornu mengeram kesakitan.

Pria bertopeng itu tersenyum sinis lalu membuka topengnya dengan angkuh.  Sekejap kemudian, ia berdiri tegak lalu berteriak lantang, “A-H-D-A-N”…

 

* Gambar ilustrasi dipinjam dari sini


  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    1 tahun yang lalu.
    Masih belum paham dengan ditemukannya perkampungan kecil, alun-alun, huruf A besar. Ini aeperti misteri yang belum terpecah sampe akhir cerita

    • Lihat 3 Respon

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Pak dinan..ini bagus ceritanya..
    Agak buru-buru sih..mungkin karena ada maksud cerita yang ingin diungkap segera dibalik cerpen ini..
    *padahal saya yang komen kalau bikin cerpen lebih parah hehe

    • Lihat 5 Respon