Apa Warna DKI Jakarta Tahun 2017-2022?

Dinan
Karya Dinan  Kategori Politik
dipublikasikan 24 September 2016
Apa Warna DKI Jakarta Tahun 2017-2022?

 

Sebagai seorang yang bukan merupakan warga DKI Jakarta, saya merasa cukup netral untuk memberikan sekeping opini tentang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk periode 2017-2022. Pada hari Jum’at tanggal 23 September 2016, Calon Gubernur dan Wakil Gubernur telah terpolarisasi menjadi tiga warna. Adapun warna yang akan mewarnai Ibu Kota Negara kita adalah sebagai berikut:

Merah

Warna ini sangat kuat, berani, dan memiliki elektabilitas tinggi. Sebenarnya ada warna-warna campuran lain, hanya saja warna ini sangat dominan karena didominasi oleh PDIP. Tentu kawan-kawan sudah bisa menebak siapa Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang berlatar merah. Yah, Sang Petahana. Basuki Tjahaja Purnama(Ahok) dan Djarot Syaiful Hidayat (Djarot).

Biru

Seharusnya warna ini menjadi warna yang bisa mengayomi, sayang, terlalu dipaksakan. Warna ini diwakili oleh Partai Demokrat dan koalisinya (PPP, PAN, dan PKB). Adapun yang menjadi jagoan mereka adalah sang putra mahkota dari dinasti cikeas, Agus Harimurti Yudhoyono (Agus) didampingi oleh seorang ibu yang profesional pada bidang birokrasi, Sylviana Murni (Sylviana).

Putih

Warna yang adem, sopan, humanis, dan menyimbolkan kesucian. Bagi saya warna ini sangat sesuai dengan calon yang mereka usung untuk maju dalam pertarungan Cagub dan Cawagub DKI Jakarta, mereka adalah Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Anies-Sandi. Dibelakang mereka sudah siap para kader setia Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Pertarungan ketiga warna di atas bukan pertarungan biasa, di balik semua langkah-langkah politik para calon di atas ada tiga nama besar yang bersedia menyokong dengan sekuat tenaga. Ketiga politisi itu bukan sembarang orang, mereka adalah para King Maker di Negara kita. Sang Ratu Megawati Soekarno Putri yang selalu siap memerahkan Jakarta. Susilo Bambang Yudhoyono yang tak pernah lelah mempromosikan Klan Yudhoyono dengan warna birunya. Dan yang terakhir, Prabowo Subianto yang senantiasa menunggangi kudanya dengan gagah dan tentu saja tubuhnya dibaluti baju kemeja putih andalannya.

Pertanyaannya kemudian,

siapa yang akan mengalahkan Sang Petahana?

apakah Jakarta akan tetap berlatar merah tahun depan?

ataukah sudah saatnya warga Jakarta beralih ke warna yang lebih humanis dan menjanjikan sebuah perkembangan yang lebih baik?

 

Bagi saya yang tak mengerti tentang politik dan hanya bisa beropini seadanya, saya percaya Jakarta periode 2017-2022 akan berubah warna.

Mengapa demikian?

Bukankah Sang Petahana adalah dewa kecil, ia memiliki sumber kekuatan yang mendekati adikuasa. Ada PDIP, Golkar, NasDem, Hanura dan jangan lupa ‘sahabat lamanya’. Sumber-sumber kekuatan itu menguasai media nasional, mampu memblow up seorang Ahok menjadi sangat berbinar seperti selama ini yang telah mereka lakukan. Dan tentu saja, para pendukung Sang Petahana adalah kaum yang bermodal dan tak tanggung-tanggung mendukung 100% bahkan sampai 1.000% agar Ahok tetap duduk di singgasananya.

Namun, dewa ini akan tumbang bila saatnya tiba. Siapakah lawan yang pantas untuk Ahok? Mari kita bicarakan kedua cagub dan cawagub lainnya.

 

Si Biru dari Cikeas

Politik penuh dengan kejutan dan senda gurau. Satu lagi guraun yang membuat saya tersenyum kecut kemarin pagi. Deklarasi cagub dan cawagub dari Poros Yudhoyono (saya lebih senang menyebutnya seperti itu) yang tak lain adalah Putra Sulungnya sendiri, Agus Harimurti Yudhoyono. Setelah mengubrak-abrik beberapa sumber, akhirnya saya sedikit mengetahui latar belakang suami dari Anisa Pohan ini. Dengan perjalanan karir yang masih polos dalam hal politik bukan tidak mungkin ia akan sulit bersaing dalam pertarungan pada tanggal 15 Februari 2017 mendatang. Untung saja, Agus didampingi seorang birokrat senior Provinsi DKI Jakarta, Ibu Sylviana.

Tapi jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, seorang Susilo Bambang Yudhoyono bukan politikus kacangan. Ia memiliki segudang pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan dan tentu saja dibarengi dengan strategi jitu agar kepentingannya berjalan mulus. Nilai positif Agus, ia belum ‘kotor’ atau public belum menemukan boroknya. Seorang mantan Mayor Infantri dengan prestasi mumpuni di bidang akedemik adalah sesuatu yang harus kita pertimbangkan. Pengalamannya selama menjadi prajurit telah menimpanya menjadi pribadi yang mampu mengambil keputusan dengan baik dan tepat. Ditambah dukungan ‘artis’ atau lebih tepatnya mantan artis seperti Anisa Pohan bukan tidak mungkin akan mendulang suara yang cukup menjanjikan. Coba kalian bayangkan bila seorang Anisa Pohan menjadi ‘Ratu Jakarta’ betapa mempesonanya. Sedangkan urusan pemerintahan dan birokrasi diserahkan sepenuhnya pada sang ibu cawagub.

Namun menurut saya, ini hanya trik Klan Yudhoyono untuk tetap menggurita pada kekuasaan di negeri ini. Semacam batu pijakan awal untuk menciptakan ‘Yudhoyono Baru’. Tentu tahun 2017 sang putra mahkota cikeas belum matang tuk menantang suami dari Veronica Tan.

 

Sang Inspirator yang Pintar

Betapa bahagianya saya ketika tadi siang membaca berita online, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno shalat jum’at bersama dan akan dideklarasikan menjadi cagub dan cawagub DKI Jakarta oleh Partai Gerindra dan PKS. Muncul lagi politikus yang menginspirasi banyak kaum muda: pintar, berpendidikan, santun, bersih, dan cinta keluarga. Duet ini bagai duet maut yang akan menggetarkan Ahok-Djarot. Diantara ketiga pasangan, Anies-Sandi adalah pasangan yang akan klop dan saling melengkapi.

Sepak terjang mantan Rektor Paramadina tak usah disanksikan lagi, bermodal rasa haus akan pendidikan ia telah banyak menggagas program yang mencerahkan dunia pendidikan, diantaranya: Indonesia Mengajar, Indonesia Menyala, Gerakan Membaca 15 Menit pada awal jam pelajaran, materi anti korupsi di sekolah, penghapusan segala bentuk perpeloncoan bagi siswa baru, dan berbagai gagasan dan tindakan dalam dunia pendidikan. Ia selalu mendengungkan sebuah janji, ia menyebutnya ‘Janji Kemerdekaan’ yang secara singkat saya artikan sebagai melindungi, menyejahterakan, mencerdaskan, dan membuat keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Kerja Jokowi-JK ini adalah seorang yang humanis dan demokratis. Ia selalu merubah sesuatu dari akar masalah, pendidikan. Dan saya juga percaya, pondasi yang harus diletakkan terlebih dahulu adalah pendidikan baik di sekolah maupun di rumah. Wajah beningnya menyiratkan kebijakasanaan akan pentingnya sebuah demokrasi yang santun dan menghargai kebhinekaan. Menurutnya, pertarungan kali ini adalah pertarungan gagasan dan seluruh pasangan cagub dan cawagub adalah partner bukan lawan. Saat beliau diberhentikan secara terhormat pada reshuffle ke-dua oleh Presiden, ia menuliskan sebuah surat untuk para siswa, guru, dan masyarakat Indonesia secara umum. Surat yang ditulisnya menjadi viral di dunia maya, bahkan beberapa ibu guru yang saya kenal meneteskan air matanya. Mereka kehilangan seorang yang ‘disayangi’.

Suami dari Fery Farhati Ganis ini didampingi oleh seorang pengusaha muda yang inspiratif, Sandiaga Uno. Pada tahun 2011 Forbes merilis daftar orang terkaya di Indonesia dan Sandiaga bertengker pada peringkat ke-37 dengan kekayaan 660 juta Dollar. Tak disanksikan lagi Sandiaga typical calon pemimpin masa depan dengan gaya humanis dan visioner.

Hingga saat ini, menurut saya, hanya pasangan Anies-Sandi yang akan menjadi lawan yang pas untuk pasangan Ahok-Djarot dengan tidak mengesampingkan pasangan Agus-Sylviana.   

Survey Poltracking Indonesia (www.poltracking.com) yang dirilis pada tanggal 15 September 2016, disimulasikan dua pasangan (head to head pasangan), elektabilitas pasangan Ahok-Djarot sebesar 37,95% sedang untuk pasangan Anies-Sandi sebesar 36,38% dan sebesar 25,67% menjawab tidak tahu. Kita dapat berandai atau paling tidak berasumsi bahwa nilai 25,67% adalah elektabilitas untuk pasangan Agus-Sylviana maka dapat dipastikan PILKADA DKI Jakarta akan berlangsung sebanyak dua putaran. Bila putaran kedua terjadi maka Jakarta pada tahun 2017-2022 akan berwarna putih. Warna yang menginspirasi, adem, humanis, dan tentu saja suci.

Semoga!

 

Salam Hormat Untuk Ahok,

Dinan

 

 Gambar Ilustrasi dipinjam dari sini

 

***

Opini ini  saya buat murni dari pandangan saya sebagai seorang pemerhati belaka tak ada maksud sedikit pun untuk menjatuhkan seorang Ahok. Semua saya tuliskan berdasarkan beberapa sumber yang telah saya olah sedemikian rupa.

#HanyaOpini

 #HargaiKeberagaman

***