Lahan Kering

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Agustus 2016
Lahan Kering

Ilustrasi gambar diambil dari sini

 

Perkataan Syam menghambur di lahan itu. Ia selalu menyumpahi lahan kering itu, hampir tiap hari. Sepeninggal orang tuanya setahun lalu Syam sangat terpukul. Kedua orang tuanya menghilang entah ke mana. Yang ia tahu, jejak terakhir mereka ada di lahan itu. Sore itu, ia meneriakkan kemalangannya dengan lantang.

 

Apa hakmu menelan orang tuaku?

kau hanya sebidang tanah tua di pelosok kampungku

kering, gersang, dan tak layak di jadikan kebun

sedang kau bersinggasana dengan anggun.

 

Bila kau menjawab getirku

jawablah sekarang juga bukan esok apalagi lusa

sedang aku bertamu tak kenal waktu

kau hanya diam membisu.

 

Baiklah, akan kuberi kau tenggang sampai purnama menghias langit

terserah kau menjawab dengan cara apa,

yang jelas,

kau memberiku petunjuk.

 

Ingat sampai purnama selanjutnya

bisumu tak akan menyelamatkan napasmu

akan kubakar kulitmu

sampai kau terbaring lesu.

 

Teriakan Syam hanya berbalas angin yang berhembus kencang, menerpa kulit halusnya dengan lembut. Saat Syam ingin ke luar lahan, ia menyaksikan sepasang pohon jati yang berdiri kokoh. Seharusnya, pohon jati tak mungkin tumbuh di lahan kering seperti ini. Kedua pohon itu berdiri dengan tegaknya di pinggiran pagar kawat, seperti figura yang menyambut tamunya. Saat ayah dan ibunya masih hidup, pohon itu tidak ada.

Langkahnya gontai menyusuri setapak kecil, Syam mendekati kedua pohon jati itu. Dielusnya perlahan kulit pohon jati yang pertama, entah kulitnya yang salah atau ia terbawa perasaan sedih, kulit pohon jati itu berdenyut.

Tidak mungkin! Syam bergumam dalam hati.

Karena penasaran Syam menyentuh kulit pohon jati yang kedua, sama. Berdenyut seperti jantung manusia. Ia pun melangkah ke belakang beberapa meter, ditatapnya dengan seksama kedua pohon jati itu. Daun dan batangnya tumbuh dengan baik, padahal lahan ini sangat kering. Sudah puluhan kali orang tuanya mencoba menanam sayuran dan buah di sini, tidak berhasil walau sekali.

“Kalian siapa?” Syam kembali berteriak.

**

“Syam, ayo ke lahan,” teriak ayahnya.

Syam tak memperdulikan ajakan ayahnya, ia masih sibuk bermain gasing bersama teman-temannya di halaman depan. Ibunya ke luar dari rumah, dengan baju lengan panjang, celana olahraga dan topi pemberian salah satu pasangan calon bupati pada PILKADA kemarin, sudah tak disangsikan lagi mereka akan kembali menggarap lahan kering itu. Syam melirik dari sudut matanya, ia seolah-olah tak melihat ibunya apalagi mendengar perkataan ayahnya.

“Ayo Syam, sudah mau maghrib nih.” Ucap ibunya sambil memasukkan bekal ala kadarnya ke dalam kantong plastik berwarna hitam.

Ayah dan Ibunya akhirnya mengalah, mereka mendekati Syam lalu Ibunya berbisik, “Syam, ibu bawa ta’ba-ta’ba, lengkap dengan sambalnya.” Mata Syam tampak berbinar, ta’ba-ta’ba salah satu kue favoritnya. “Ibu juga bawa teh manis?” Ibunya menggangguk pelan.

“Boleh saya bawa gasing, Bu?” Ibunya menggangguk lagi.

 

Jarak dari rumah Syam ke lahan itu tidak terlalu jauh, cukup menyusuri dua bidang sawah dan menyeberangi sungai kecil dengan jembatan kayu yang sebentar lagi rubuh. Syam yang masih berusia sepuluh tahun kala itu, jiwa kritisnya mulai berkembang, selalu saja menanyakan pada ayahnya, mengapa Pak Lurah tak pernah memperbaiki jembatan kayu itu? Ayahnya tak pernah bosan menjawab dengan jawaban yang sama, Kelurahan kita masih membangun jembatan di dusun lain, Nak. Mungkin tahun depan. Tiap ayahnya menjawab dengan jawaban yang sama, Syam hanya mengerutkan dahi.

Sesampainya di lahan, Ayah  mulai mencangkul di sisi barat, sedang ibu mengambil kayu berukuran satu setengah meter lalu membuat lubang-lubang kecil untuk ditanami sayuran.

“Kali ini kita akan mencoba menanam apalagi, Bu?” Tanya Syam yang masih mengelus gasingnya, ia tak tahu akan bermain gasing di mana.

“Kacang hijau,” Ibu menunjuk kantong plastik berwarna putih, “Syam yang tanam kacang hijaunya, yah. Cukup empat sampai enam biji saja, jangan terlalu banyak.” Syam mendengus, dalam hati ia sangat protes dengan perintah ibu. Artinya, ia tak bisa bermain gasing.

“Aahhh…” Napas Syam terdengar berat.

“Ayo Syam, bantu ibu.” Perintah Ayah.

 

Syam meletakkan gasingnya di pinggir lahan lalu mulai menanam kacang hijau. Ia menghitung satu persatu biji kacang hijau, satu, dua, tiga, empat kemudian ditaruhnya pada lubang kecil yang telah dibuat ibunya, tak lupa ia menutup lubang dengan segenggam tanah. Terus seperti itu, sampai matahari mulai menampakkan jingga di ufuk barat.

“Ayah, saya lelah dan lapar,” keluh Syam sambil terduduk lemas di tanah.

“Baiklah, untuk hari ini cukup.” Ucap ayah sembari menyeka keringat di wajahnya.

Ibu menyiapkan bekal yang dibawa dari rumah, tak berapa lama tiga cangkir teh manis dan sepiring ta’ba-ta’ba telah tersaji di pinggir lahan. “Ayah, Syam mari minum teh.” Teriak ibunya.

“Horee…” Syam berlari mendekati kue favoritnya.

 

Sambil menikmati secangkir  teh dan ta’ba-ta’ba Syam mulai bertanya tak tentu arah, ia menanyakan banyak hal, salah satunya sejarah lahan kering ini. Ayahnya mulai bercerita.

“Pada zaman penjajahan, lahan ini dijadikan tempat berlindung para pejuang kita, Syam. Tekstur tanah di sekitar sini berbukit, sehingga sangat cocok dijadikan markas. Dulu lahan ini subur, sampai suatu kejadian,” Ayah menghela napas, ia nampak berat menceritakan penggalan cerita selanjutnya.

“Kejadian apa, Ayah?” Tanya Syam penasaran.

“Hmmm…” Ayah membuang pandangannya entah ke mana, matanya menjelajah langit. Syam mengikuti sudut pandang ayahnya, mereka menemukan telaga awan jingga di sisi barat. Akhirnya, ayah melanjutkan ceritanya. “Sang Panglima sedang frustasi akan kekalahannya, ia terus mengurung diri di dalam tenda. Ia merenungkan strategi terbaik bagaimana cara mengalahkan penjajah kala itu. Taapiii…”

Angin sepoi-sepoi menyambut senja, menerbangkan debu-debu di lahan kering itu. Syam menahan napas, menunggu kelanjutan cerita ayahnya.

Cepat Ayah, tapi apa? Syam protes dalam hati.

“Taapiii…Iblis mulai membisikkan niat jahat di hati sang panglima, pasukanmu tak sebanding dengan pasukan penjajah, hanya satu caranya, bakar semua tenda dan pulangkan seluruh pasukanmu ke rumah mereka. Keluarga mereka sudah sangat rindu.” Muka ayah menegang, begitu pula dengan Syam. Sedang ibu, asyik menikmati teh manis. Cerita itu telah ia dengar puluhan kali dari suaminya.

“Apa sang panglima memenuhi bisikan iblis, Ayah?”

“Hati yang lemah akan dirasuki dan dikuasai iblis, Nak. Saat itu, hati sang panglima jatuh pada titik terendah, ia tak tahu harus berbuat apa, dengan terpaksa ia memenuhi bisikan iblis.”

“Terus… terus… Bagaimana nasib sang panglima, Ayah?”

“Setelah seluruh pasukannya pulang ke rumah masing-masing, semua tenda bersama dengan pohon di lahan dibakar habis. Lalu sang panglima berteriak lantang, lahan ini akan terus kering sampai suatu ketika ada orang bersama dengan keturunannya merawat lahan ini dengan ikhlas. Tentu saja, setelah mereka menyerahkan tumbal yang pantas.

Ayah terdiam beberapa saat. Puluhan pertanyaan menghimpit mulut Syam, tak sabar ia tumpahkan pada ayah, tapi ia ikut terdiam. Tak berani menanyakan tumbal yang dibutuhkan oleh lahan kering ini. Kemudian ayah melanjutkan ceritanya, “sang panglima sangat malu pulang ke istana, ia adalah seorang putra mahkota, akhirnya ia meminta pada iblis untuk menjaga lahan ini, tapi dalam bentuk yang berbeda. Ia ingin menjaganya sebagai pohon jati.”

Syam menelan ludahnya, ia tak mampu berkata-kata. Ia masih berusia sepuluh tahun, namun ia percaya kekuatan komitmen. Warna jingga mulai ditelan kelam, malam sudah menyelimuti bumi. Ayah kemudian menyelesaikan ceritanya, “saat malam bulan purnama, sang panglima berdiri di tengah lahan, sekejap kemudian, ia berubah menjadi pohon jati. Kau melihat akar besar itu, Syam?” Ayah menunjuk akar besar yang masih menancap di tengah lahan itu.

Syam mengarahkan pandangannya, “Iya, Ayah.”

“Dia adalah sang panglima!”

**

Waktu yang ditentukan akhirnya tiba, Syam mendatangi lagi lahan kering itu. Malam ini, purnama menampakkan wajahnya dengan riang. Tersenyum manis di langit hitam bersama bintang-bintang yang terdiam kalem, malu akan pesona purnama. Angin malam menyapu seonggok tubuh kurus kering yang merinding di balik kemeja tipis karena digrogoti tangis. Sebatang kara Syam melawan dunia, ia sudah tak mampu bersua dengan tanya yang semakin membuncah dalam jiwa. Kali ini, Syam kembali menagih janji lahan kering itu.

 

Aku tak mampu lagi menunggu

semoga kau tak lagi membisu

purnama telah menghias panggung malam

keluarkan suaramu wahai lahan.

 

Kisahkan padaku,

aku takut menduga

aku takut menerka

dugaanku, terkaanku menusuk jiwa.

 

Suasana sunyi membuat teriakan Syam memantul di sana-sini, tiap ia berteriak, tiap itu pula teriakannya kembali ke telinganya. Mengema. Aneh? Padahal lahan ini terbuka, tak ada dinding seperti dalam sebuah ruangan atau gua. Apakah lahan ini mempunyai dinding? Syam bertanya dalam hati.

Lama Syam menunggu, tiba-tiba saja, akar pohon yang berada di tengah lahan tumbuh menjadi pohon jati besar. Syam mendongak, dari atas turun seorang pria, berjalan di dahan pohon dengan santai,  berpakaian mirip pakaian seorang raja, mahkota kecil menghias kepalanya dan badik tersemat rapi pada sarung yang diikat di perutnya. Sesampainya di bawah tanah, sang panglima mendekati Syam yang gemetar. Ia terpaku di tempatnya berdiri.

“Apa yang kau cari anak muda?” Tanya sang panglima.

Syam belum mampu berbicara, kedua bibirnya merapat. Takut membunuh rasa penasarannya.

“Kau mencari orang tuamu?”

Syam mengangguk cepat, secepat kedipan matanya.

“Mereka telah menemani saya, menjaga lahan ini. Markasku.”

 

Syam tersungkur ke tanah, duganya benar, sepasang pohon jati itu adalah kedua orang tuanya. Air matanya mengalir deras tanpa ia sadari, membanjiri wajahnya yang berubah warna menjadi merah. Ia marah, ia sedih, ia ingin memberontak pada sang panglima. Namun ia takut atau mungkin ia tak tahu harus berbuat apa.

“Sesuai dengan sumpahku, puluhan tahun yang lalu, lahan ini akan kembali subur bila ada yang merawatnya dengan ikhlas, tentu saja saya butuh tumbal. Dan, mereka dengan senang hati menumbalkan dirinya, agar lahan ini menjadi subur, agar kelak kau mampu menghasilkan buah dan sayuran yang segar dari lahan ini. Mereka berkorban untuk kamu, anaknya.”

“Tapi mengapa lahan ini masih kering?” Suara Syam akhirnya tumpah juga, walau suaranya seperti sedang berbisik. Rasa takut dan sedih meredam teriakannya.

“Kau mau tahu alasannya, Nak?” Sang Panglima mengangkat kedua tangganya lebar-lebar, “karena kamu tak pernah ikhlas merawat lahan kering ini.”

 

Air mata Syam kembali jatuh, ia tak menahannya. Ia terisak. Pengorbanan ayah dan ibu ternyata sia-sia. Pikir Syam. Ia lalu menguatkan dirinya, menghapus air mata dengan punggung tangannya. Berdiri tegak. Menghadapi sang panglima. Matanya menatap lurus ke wajah sang panglima.

“Apa yang harus saya lakukan agar orang tuaku hidup kembali?”

“Tak ada, mereka sudah damai di dunia lain.”

“Bagaimana denganku, saya tak bisa hidup seperti ini. Hidup diselimuti rasa bersalah.”

 

Langit berubah kelabu, awan hitam menyarungi purnama. Bintang tak lagi nampak. Sejurus kemudian, gerimis mulai turun. Syam menunggu jawaban dari sang panglima. Tubuhnya basah kuyup, sedang sang panglima tak tersentuh air hujan walau setetes.

“Lihatlah, air hujan telah membasahi lahan ini. Sudah puluhan tahun lahan ini tak pernah disirami langit. Sepertinya, penyesalanmu, tangismu, sedihmu membuat iba penghuni langit. Tapi tidak denganku,” sang panglima melangkah kecil menuju ke arah Syam, ia lalu berbisik. “Saya butuh kamu menggantikanku tepat di tengah lahan ini. Sebagai poros. Bila tidak, maka saya akan terus berada di sini, saya harus kembali ke pemilik jiwaku.”

Syam menggeleng beberapa kali, ia tak terima permintaan sang panglima. Hujan kemudian berhenti, purnama dan bintang-bintang kecil kembali mengintip malu. Sang panglima melangkah mundur, menjauh dari tempat Syam berdiri. “Kau memang anak yang durhaka dan tak pernah ikhlas berkorban. Baiklah…” Kalimat sang panglima menggantung di sana. Tetiba, pohon jati di tengah lahan itu menghilang, begitu pula sepasang pohon jati di pintu masuk, kedua orang tuanya.

Sang Panglima menatap langit, ia seperti merapalkan mantra. Angin kencang hadir begitu saja, membawa sang panglima terbang ke langit. Sedang Syam mematung, kakinya berubah seperti akar, menghujam ke bawah tanah. Tubuhnya mengeras, kulitnya berubah menjadi kulit pohon. Tangannya memanjang, membentuk dahan pohon. Syam berubah  menjadi pohon jati. Menjaga lahan yang kembali kering, entah sampai kapan.

 

___

Ta’ba-ta’ba : nama kue kering, terbuat dari potongan pisang yang digoreng dengan adonan tepung terigu. Di wilayah timur, ta’ba-ta’ba disajikan dengan sambal tomat. Maknyuzz, hehehe..

___


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Hehe... Makasi krisannya Anis. Itu berarti kau membacanya.

    1. 'Bertentangan' , mungkin saja. Tapi menurutku, Syam menganggap lahan itu hanya sebidang tanah tua yang kering tapi sang lahan tetap 'menyinggasana dgn anggun di situ' maksudnya, dia (lahan) tetap 'duduk' santai dan anggun tanpa mempedulikan pemiliknya. Itu maksud saya, tapi sepertinya saya salah menyampaikan. Hehe.....

    2. Cerpen ini saya buat, minggu (7/8/16) pukul 14.00 - 15.00, seharusnya masih panjang, karakter Syam harus diperkuat lagi, dan itu berarti akan paaanjaaang. Ada sepenggal cerita yang hilang, saat org tua Syam menghilang. Satu tahun sebelum kejadian bagian pertama di atas. Di mana Syam, tak ikhlas merawat lahan itu.
    Masukannya benar, Anis. #salim

    3. Ta'ba-ta'ba? Cepat selesaikan kuliahmu, jadi orang sukses dan berliburlah ke sul-sel, insya Allah akan kujamu kue2 favoritku.

    Sekali lagi, Makasi Anis. Maaf cerpennya masih kurang greget.

    Salam dari timur,
    Dinan_____

    • Lihat 2 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    saya menangkap kata yang bertentangan, antara 'kau hanya sebidang tanah tua' dengan 'kau bersinggasana dengan anggun'. (?)


    Syam tidak ikhlas merawat lahan itu?
    apa indikasinya dari dia berkata lelah dan lapar?
    mungkin bisa dikuatkan lagi karakternya.

    *eh, ini saya ngomen apa sih. sok tau bgt ya. maaf Pak


    kapan2 boleh lah itu ta'ba-ta'banya dikirim ke sini Pak